24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepada Alit Joule “Sampai Jumpa di Rumah”

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 30, 2020
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Awalnya saya tidak berniat menulis sesuatu apapun. Tapi setelah membaca salah satu tulisan Alit Joule di tatkala.co, saya merasa ada sesuatu yang harus diketik. Saat dia bilang “salam dari samudra”, saya membayangkan situasi yang melahirkan kata-kata itu. Barangkali saat dia ketik kata-kata itu, kapal yang ditumpanginya belum berlabuh. Dia mengetiknya di tengah hamparan laut super luas.

 Entah kepada siapa dia tujukan salam itu. Saya menduga, dia sedang memberi salam kepada semua pembacanya. Tapi saya juga tidak bisa berhenti menduga, kalau dia sesungguhnya sedang memberi salam pada dirinya sendiri.

Dalam bayangan saya, dia sedang berada di tengah lautan yang luas, di dalam sebuah kapal. Seberapa besarnya kapal itu, saya tak tahu. Mungkin sebesar satu banjar adat. Atau mungkin lebih besar lagi. Mungkin sebesar desa adat tapi dengan peraturan yang tidak lebih rumit. Kapal itu goyang-goyang karena air laut tidak tenang. Langit di atas bersuara pelan meniru-niru gemuruh laut. Mungkin begitu keadaannya sebagaimana saya bayangkan dari dalam kamar.

Apa yang bisa dilakukan dalam situasi seperti itu? Alit Joule memilih untuk menulis. Itu karena dia memang penulis. Tak usah diragukan lagi. Menulis adalah cara yang ditempuhnya untuk mengusir kecemasan dan kebosanan. Saya tidak yakin kalau dia penganut jargon ‘menulis untuk keabadiaan’ sebagaimana ditulis oleh Pram. Sebab jauh sebelum saya belajar menulis, dialah yang menjerumuskan saya pada dunia paling membahagiakan ini. Suatu saat seingat saya, dia pernah berpesan ‘lanturang, meskipun iraga sing di Bali tapi raga lakar terus nulis’ [lanjutkan, meskipun saya tidak di Bali, tapi saya akan terus menulis]. Saya yakin itu murni dari pemikirannya sendiri. Lalu belakangan saya menemukan kata-kata serupa dari Pram.

Pesan itu selalu saya ingat saat tidak menulis. Lalu saya lupakan saat menulis saya lakukan. Menulis adalah pekerjaan. Dari pekerjaan itu didapat kebahagiaan. Kebahagiaan yang didapat adalah kebahagiaan yang disebut wahyadhyatmika suka. Artinya kebahagiaan lahir dan batin.

Salah satu jenis kebahagiaan lahir adalah kekayaan, pengakuan, kesehatan. Kebahagiaan jenis ini konon bisa berbalik menjadi duka, kesedihan. Karena kekayaan bisa hilang, pengakuan bisa lenyap, dan kesehatan bisa sirna. Oleh sebab itu, para yogi mengajarkan untuk mencapai kebahagiaan yang penuh. Penuh berbeda dengan banyak. Karena penuh, tidak lagi ada sesuatu yang diinginkan. Tidak ada kesedihan yang terlalu. Tidak ada kebahagiaan yang sangat. Semua ada pada takaran yang pas.

Ada kebahagiaan yang tidak putus-putus. Keadaan semacam itu disebut menikmati amerta. Amerta adalah air kehidupan yang memberikan keabadian. Bukan hidup yang abadi, tapi kebahagiaan. Kebahagiaan dianalogikan seperti makanan. Bisa membuat perut kenyang tanpa harus makan. Makanan jenis ini dinikmati oleh mereka yang melakukan yoga. Dan menulis adalah salah satu bentuknya, salah satu caranya. Metodenya.

Begitulah menulis dalam pandangan saya sekarang. Kegiatan ini tidak lagi sesederhana memindahkan suara-suara pikiran ke dalam simbol-simbol aksara. Menulis kini bermakna berbeda. Karena itu, pesan dari Alit Joule kini tidak lagi saya maknai sebagai menulis dalam artian menuangkan isi pikiran dalam simbol tertulis. Menulis adalah metode yang bisa ditempuh untuk mendapatkan kebahagiaan. Menulis adalah yoga.

Alit Joule dalam posisinya yang sekarang, bahkan memberikan saya inspirasi untuk menulis. Kepada laut yang ia pandangi ia ucapkan terimakasih. Juga kepada ‘sepi’ yang diterimanya sebagai anugerah. Karena keadaan sepi itu, ia mendapatkan energy lebih untuk menulis.

Situasi yang dipaksakan oleh suatu wabah telah memberikan energi positif kepada seorang penulis di tengah laut. Situasi dan kondisi jelas mempengaruhi inspirasi. Kali ini dia benar, kesenyapan yang dihadiahkan oleh wabah bisa diisi dengan melakukan permenungan. Cukup sendiri, tanpa bantuan siapa-siapa. Atau dalam istilah Jawa Kuno disebut nirasraya. Hasil dari permenungan adalah keheningan pikiran yang bisa dibagikan kepada orang lain. Kebeningan demi kebeningan yang dialirkan pada banyak pikiran yang sedang keruh. Jarang sekali ada hasil permenungan yang didedikasikan demi mengajak pikiran-pikiran yang dikeruhkan oleh kecemasan, untuk kembali kepada keheningan buddhi. Buddhi adalah intelek yang bisa menimbang baik dan buruk. Buddhi bening inilah yang konon bisa menjadi lampu penerang di tengah kegelapan yang pekat. Sastra adalah nama lain dari buddhi bening itu. Bukankah dengan menggunakan sastra sebagai lampu penerang, kebahagiaan di dunia bisa didapat?

Wrettasancaya adalah salah satu puisi berbahasa Jawa Kuno yang dilahirkan dari permenungan, dari buddhi yang bening. Anehnya, kebeningan buddhi itu lahir saat pengarangnya konon menyendiri di tepi laut. Mungkin memang benar, kesendirian memberikan anugerah lain yang tidak pernah kita berikan tempat spesial. Jika direnung-renungkan sesungguhnya manusia tidak pernah sendiri karena setiap saat selalu ada yang menyaksikan segala yang dipikir, dikata, dan dilakukan. Saat terang, saksinya adalah matahari. Saat gelap, saksinya rembulan. Saat malam paling gelap, saksinya kegelapan. Saat ramai ada banyak mata jadi saksi. Saat sendiri, ada jiwa yang jadi saksi. Karena itu, manusia tidak pernah sendiri. Tidak ada kesendirian yang sesungguhnya sendiri.

Saat saya mulai mengetik kata-kata ini, saya seolah mengerti kalau di pikiran orang-orang sedang merasa cemas karena wabah virus. Wabah virus adalah wabah. Saya mengertikannya sesederhana itu. Saya tidak tahu cara paling tepat menghilangkan wabah ini. Saya hanya mendengar banyak peneliti, pembicara, perenung, pembaca, penulis yang menulis dan bicara tentang virus ini. Katanya harus begitu dalam situasi begini. Mestinya begini dalam situasi begitu-begitu. Begini dan begitu itu, saya pikir-pikir semuanya benar.

Kebenaran ternyata tidak hanya satu, tapi ada banyak kebenaran. Terus terang kenyataan itu bertolak belakang dengan konsep kebenaran yang pernah saya dengar. Katanya, kebenaran hanya satu, yang banyak adalah pembenaran. Bagaimana membedakan kebenaran dengan pembenaran? Saya jadi bingung dibuatnya. Lahir sebagai manusia adalah kebingungan. Jadi saya menerima kebingungan itu sebagai kewajaran. Lebih dari itu, kebingungan tadi saya terima bukan karena tidak mengerti, tapi karena saya bodoh.

Kebodohan yang saya miliki jika digunakan untuk memikirkan sesuatu yang sulit saya mengerti, hanya akan melahirkan kekeruhan yang lain. Jadi saya menyerahkan sepenuhnya kelanjutan dari putaran bumi yang tidak pernah saya rasakan berputar [kecuali mabuk] ini kepada para pemikir dan penindaklanjut yang berbaris menjaga keamaan pada baris paling depan. Barisan-barisan itu saya yakini akan menjaga saya yang rakyat jelata ini dari kesakitan dan kemiskinan.

Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tidak tahu harus melakukan apa. Saya sekarang hanya diam di rumah sebagaimana dianjurkan oleh banyak orang. Jika pergi hanya lewat satu tembok saja ke rumah saudara. Melihat nenek yang sedang nglocok base, dan mendengar orang-orang tua membicarakan ingatan mereka tentang kejadian lampau-lampau. Juga membaca beberapa tulisan yang menarik. Salah satunya adalah salam dari samudra milik sahabat saya.

Kepada Alit Joule saya ucapkan terimakasih. Karena ia membuat saya punya keinginan menulis sesuatu di tengah kegamangan. Kegamangan yang lahir dari kecemasan-kecemasan. Tidak hanya virus, tapi juga pikiran-pikiran semerawut karena terlalu banyak masalah yang dipikirkan dengan terlalu sedikit kekuatan untuk menyelesaikan.

Lit, sampai jumpa di rumah. Benar, sastra selalu menemukan jalannya [T]

Tags: kapal pesiarsastrasastra bali modern
Share69TweetSendShareSend
Previous Post

Perihal Corona, Tubuh yang Bersin dan Batuk-Batuk di Atas Panggung

Next Post

UN 2020 Ditiadakan, Sekolah Dimerdekakan?

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
UN 2020 Ditiadakan, Sekolah Dimerdekakan?

UN 2020 Ditiadakan, Sekolah Dimerdekakan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co