13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepada Alit Joule “Sampai Jumpa di Rumah”

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 30, 2020
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Awalnya saya tidak berniat menulis sesuatu apapun. Tapi setelah membaca salah satu tulisan Alit Joule di tatkala.co, saya merasa ada sesuatu yang harus diketik. Saat dia bilang “salam dari samudra”, saya membayangkan situasi yang melahirkan kata-kata itu. Barangkali saat dia ketik kata-kata itu, kapal yang ditumpanginya belum berlabuh. Dia mengetiknya di tengah hamparan laut super luas.

 Entah kepada siapa dia tujukan salam itu. Saya menduga, dia sedang memberi salam kepada semua pembacanya. Tapi saya juga tidak bisa berhenti menduga, kalau dia sesungguhnya sedang memberi salam pada dirinya sendiri.

Dalam bayangan saya, dia sedang berada di tengah lautan yang luas, di dalam sebuah kapal. Seberapa besarnya kapal itu, saya tak tahu. Mungkin sebesar satu banjar adat. Atau mungkin lebih besar lagi. Mungkin sebesar desa adat tapi dengan peraturan yang tidak lebih rumit. Kapal itu goyang-goyang karena air laut tidak tenang. Langit di atas bersuara pelan meniru-niru gemuruh laut. Mungkin begitu keadaannya sebagaimana saya bayangkan dari dalam kamar.

Apa yang bisa dilakukan dalam situasi seperti itu? Alit Joule memilih untuk menulis. Itu karena dia memang penulis. Tak usah diragukan lagi. Menulis adalah cara yang ditempuhnya untuk mengusir kecemasan dan kebosanan. Saya tidak yakin kalau dia penganut jargon ‘menulis untuk keabadiaan’ sebagaimana ditulis oleh Pram. Sebab jauh sebelum saya belajar menulis, dialah yang menjerumuskan saya pada dunia paling membahagiakan ini. Suatu saat seingat saya, dia pernah berpesan ‘lanturang, meskipun iraga sing di Bali tapi raga lakar terus nulis’ [lanjutkan, meskipun saya tidak di Bali, tapi saya akan terus menulis]. Saya yakin itu murni dari pemikirannya sendiri. Lalu belakangan saya menemukan kata-kata serupa dari Pram.

Pesan itu selalu saya ingat saat tidak menulis. Lalu saya lupakan saat menulis saya lakukan. Menulis adalah pekerjaan. Dari pekerjaan itu didapat kebahagiaan. Kebahagiaan yang didapat adalah kebahagiaan yang disebut wahyadhyatmika suka. Artinya kebahagiaan lahir dan batin.

Salah satu jenis kebahagiaan lahir adalah kekayaan, pengakuan, kesehatan. Kebahagiaan jenis ini konon bisa berbalik menjadi duka, kesedihan. Karena kekayaan bisa hilang, pengakuan bisa lenyap, dan kesehatan bisa sirna. Oleh sebab itu, para yogi mengajarkan untuk mencapai kebahagiaan yang penuh. Penuh berbeda dengan banyak. Karena penuh, tidak lagi ada sesuatu yang diinginkan. Tidak ada kesedihan yang terlalu. Tidak ada kebahagiaan yang sangat. Semua ada pada takaran yang pas.

Ada kebahagiaan yang tidak putus-putus. Keadaan semacam itu disebut menikmati amerta. Amerta adalah air kehidupan yang memberikan keabadian. Bukan hidup yang abadi, tapi kebahagiaan. Kebahagiaan dianalogikan seperti makanan. Bisa membuat perut kenyang tanpa harus makan. Makanan jenis ini dinikmati oleh mereka yang melakukan yoga. Dan menulis adalah salah satu bentuknya, salah satu caranya. Metodenya.

Begitulah menulis dalam pandangan saya sekarang. Kegiatan ini tidak lagi sesederhana memindahkan suara-suara pikiran ke dalam simbol-simbol aksara. Menulis kini bermakna berbeda. Karena itu, pesan dari Alit Joule kini tidak lagi saya maknai sebagai menulis dalam artian menuangkan isi pikiran dalam simbol tertulis. Menulis adalah metode yang bisa ditempuh untuk mendapatkan kebahagiaan. Menulis adalah yoga.

Alit Joule dalam posisinya yang sekarang, bahkan memberikan saya inspirasi untuk menulis. Kepada laut yang ia pandangi ia ucapkan terimakasih. Juga kepada ‘sepi’ yang diterimanya sebagai anugerah. Karena keadaan sepi itu, ia mendapatkan energy lebih untuk menulis.

Situasi yang dipaksakan oleh suatu wabah telah memberikan energi positif kepada seorang penulis di tengah laut. Situasi dan kondisi jelas mempengaruhi inspirasi. Kali ini dia benar, kesenyapan yang dihadiahkan oleh wabah bisa diisi dengan melakukan permenungan. Cukup sendiri, tanpa bantuan siapa-siapa. Atau dalam istilah Jawa Kuno disebut nirasraya. Hasil dari permenungan adalah keheningan pikiran yang bisa dibagikan kepada orang lain. Kebeningan demi kebeningan yang dialirkan pada banyak pikiran yang sedang keruh. Jarang sekali ada hasil permenungan yang didedikasikan demi mengajak pikiran-pikiran yang dikeruhkan oleh kecemasan, untuk kembali kepada keheningan buddhi. Buddhi adalah intelek yang bisa menimbang baik dan buruk. Buddhi bening inilah yang konon bisa menjadi lampu penerang di tengah kegelapan yang pekat. Sastra adalah nama lain dari buddhi bening itu. Bukankah dengan menggunakan sastra sebagai lampu penerang, kebahagiaan di dunia bisa didapat?

Wrettasancaya adalah salah satu puisi berbahasa Jawa Kuno yang dilahirkan dari permenungan, dari buddhi yang bening. Anehnya, kebeningan buddhi itu lahir saat pengarangnya konon menyendiri di tepi laut. Mungkin memang benar, kesendirian memberikan anugerah lain yang tidak pernah kita berikan tempat spesial. Jika direnung-renungkan sesungguhnya manusia tidak pernah sendiri karena setiap saat selalu ada yang menyaksikan segala yang dipikir, dikata, dan dilakukan. Saat terang, saksinya adalah matahari. Saat gelap, saksinya rembulan. Saat malam paling gelap, saksinya kegelapan. Saat ramai ada banyak mata jadi saksi. Saat sendiri, ada jiwa yang jadi saksi. Karena itu, manusia tidak pernah sendiri. Tidak ada kesendirian yang sesungguhnya sendiri.

Saat saya mulai mengetik kata-kata ini, saya seolah mengerti kalau di pikiran orang-orang sedang merasa cemas karena wabah virus. Wabah virus adalah wabah. Saya mengertikannya sesederhana itu. Saya tidak tahu cara paling tepat menghilangkan wabah ini. Saya hanya mendengar banyak peneliti, pembicara, perenung, pembaca, penulis yang menulis dan bicara tentang virus ini. Katanya harus begitu dalam situasi begini. Mestinya begini dalam situasi begitu-begitu. Begini dan begitu itu, saya pikir-pikir semuanya benar.

Kebenaran ternyata tidak hanya satu, tapi ada banyak kebenaran. Terus terang kenyataan itu bertolak belakang dengan konsep kebenaran yang pernah saya dengar. Katanya, kebenaran hanya satu, yang banyak adalah pembenaran. Bagaimana membedakan kebenaran dengan pembenaran? Saya jadi bingung dibuatnya. Lahir sebagai manusia adalah kebingungan. Jadi saya menerima kebingungan itu sebagai kewajaran. Lebih dari itu, kebingungan tadi saya terima bukan karena tidak mengerti, tapi karena saya bodoh.

Kebodohan yang saya miliki jika digunakan untuk memikirkan sesuatu yang sulit saya mengerti, hanya akan melahirkan kekeruhan yang lain. Jadi saya menyerahkan sepenuhnya kelanjutan dari putaran bumi yang tidak pernah saya rasakan berputar [kecuali mabuk] ini kepada para pemikir dan penindaklanjut yang berbaris menjaga keamaan pada baris paling depan. Barisan-barisan itu saya yakini akan menjaga saya yang rakyat jelata ini dari kesakitan dan kemiskinan.

Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tidak tahu harus melakukan apa. Saya sekarang hanya diam di rumah sebagaimana dianjurkan oleh banyak orang. Jika pergi hanya lewat satu tembok saja ke rumah saudara. Melihat nenek yang sedang nglocok base, dan mendengar orang-orang tua membicarakan ingatan mereka tentang kejadian lampau-lampau. Juga membaca beberapa tulisan yang menarik. Salah satunya adalah salam dari samudra milik sahabat saya.

Kepada Alit Joule saya ucapkan terimakasih. Karena ia membuat saya punya keinginan menulis sesuatu di tengah kegamangan. Kegamangan yang lahir dari kecemasan-kecemasan. Tidak hanya virus, tapi juga pikiran-pikiran semerawut karena terlalu banyak masalah yang dipikirkan dengan terlalu sedikit kekuatan untuk menyelesaikan.

Lit, sampai jumpa di rumah. Benar, sastra selalu menemukan jalannya [T]

Tags: kapal pesiarsastrasastra bali modern
Share69TweetSendShareSend
Previous Post

Perihal Corona, Tubuh yang Bersin dan Batuk-Batuk di Atas Panggung

Next Post

UN 2020 Ditiadakan, Sekolah Dimerdekakan?

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
UN 2020 Ditiadakan, Sekolah Dimerdekakan?

UN 2020 Ditiadakan, Sekolah Dimerdekakan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co