3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepada Alit Joule “Sampai Jumpa di Rumah”

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 30, 2020
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Awalnya saya tidak berniat menulis sesuatu apapun. Tapi setelah membaca salah satu tulisan Alit Joule di tatkala.co, saya merasa ada sesuatu yang harus diketik. Saat dia bilang “salam dari samudra”, saya membayangkan situasi yang melahirkan kata-kata itu. Barangkali saat dia ketik kata-kata itu, kapal yang ditumpanginya belum berlabuh. Dia mengetiknya di tengah hamparan laut super luas.

 Entah kepada siapa dia tujukan salam itu. Saya menduga, dia sedang memberi salam kepada semua pembacanya. Tapi saya juga tidak bisa berhenti menduga, kalau dia sesungguhnya sedang memberi salam pada dirinya sendiri.

Dalam bayangan saya, dia sedang berada di tengah lautan yang luas, di dalam sebuah kapal. Seberapa besarnya kapal itu, saya tak tahu. Mungkin sebesar satu banjar adat. Atau mungkin lebih besar lagi. Mungkin sebesar desa adat tapi dengan peraturan yang tidak lebih rumit. Kapal itu goyang-goyang karena air laut tidak tenang. Langit di atas bersuara pelan meniru-niru gemuruh laut. Mungkin begitu keadaannya sebagaimana saya bayangkan dari dalam kamar.

Apa yang bisa dilakukan dalam situasi seperti itu? Alit Joule memilih untuk menulis. Itu karena dia memang penulis. Tak usah diragukan lagi. Menulis adalah cara yang ditempuhnya untuk mengusir kecemasan dan kebosanan. Saya tidak yakin kalau dia penganut jargon ‘menulis untuk keabadiaan’ sebagaimana ditulis oleh Pram. Sebab jauh sebelum saya belajar menulis, dialah yang menjerumuskan saya pada dunia paling membahagiakan ini. Suatu saat seingat saya, dia pernah berpesan ‘lanturang, meskipun iraga sing di Bali tapi raga lakar terus nulis’ [lanjutkan, meskipun saya tidak di Bali, tapi saya akan terus menulis]. Saya yakin itu murni dari pemikirannya sendiri. Lalu belakangan saya menemukan kata-kata serupa dari Pram.

Pesan itu selalu saya ingat saat tidak menulis. Lalu saya lupakan saat menulis saya lakukan. Menulis adalah pekerjaan. Dari pekerjaan itu didapat kebahagiaan. Kebahagiaan yang didapat adalah kebahagiaan yang disebut wahyadhyatmika suka. Artinya kebahagiaan lahir dan batin.

Salah satu jenis kebahagiaan lahir adalah kekayaan, pengakuan, kesehatan. Kebahagiaan jenis ini konon bisa berbalik menjadi duka, kesedihan. Karena kekayaan bisa hilang, pengakuan bisa lenyap, dan kesehatan bisa sirna. Oleh sebab itu, para yogi mengajarkan untuk mencapai kebahagiaan yang penuh. Penuh berbeda dengan banyak. Karena penuh, tidak lagi ada sesuatu yang diinginkan. Tidak ada kesedihan yang terlalu. Tidak ada kebahagiaan yang sangat. Semua ada pada takaran yang pas.

Ada kebahagiaan yang tidak putus-putus. Keadaan semacam itu disebut menikmati amerta. Amerta adalah air kehidupan yang memberikan keabadian. Bukan hidup yang abadi, tapi kebahagiaan. Kebahagiaan dianalogikan seperti makanan. Bisa membuat perut kenyang tanpa harus makan. Makanan jenis ini dinikmati oleh mereka yang melakukan yoga. Dan menulis adalah salah satu bentuknya, salah satu caranya. Metodenya.

Begitulah menulis dalam pandangan saya sekarang. Kegiatan ini tidak lagi sesederhana memindahkan suara-suara pikiran ke dalam simbol-simbol aksara. Menulis kini bermakna berbeda. Karena itu, pesan dari Alit Joule kini tidak lagi saya maknai sebagai menulis dalam artian menuangkan isi pikiran dalam simbol tertulis. Menulis adalah metode yang bisa ditempuh untuk mendapatkan kebahagiaan. Menulis adalah yoga.

Alit Joule dalam posisinya yang sekarang, bahkan memberikan saya inspirasi untuk menulis. Kepada laut yang ia pandangi ia ucapkan terimakasih. Juga kepada ‘sepi’ yang diterimanya sebagai anugerah. Karena keadaan sepi itu, ia mendapatkan energy lebih untuk menulis.

Situasi yang dipaksakan oleh suatu wabah telah memberikan energi positif kepada seorang penulis di tengah laut. Situasi dan kondisi jelas mempengaruhi inspirasi. Kali ini dia benar, kesenyapan yang dihadiahkan oleh wabah bisa diisi dengan melakukan permenungan. Cukup sendiri, tanpa bantuan siapa-siapa. Atau dalam istilah Jawa Kuno disebut nirasraya. Hasil dari permenungan adalah keheningan pikiran yang bisa dibagikan kepada orang lain. Kebeningan demi kebeningan yang dialirkan pada banyak pikiran yang sedang keruh. Jarang sekali ada hasil permenungan yang didedikasikan demi mengajak pikiran-pikiran yang dikeruhkan oleh kecemasan, untuk kembali kepada keheningan buddhi. Buddhi adalah intelek yang bisa menimbang baik dan buruk. Buddhi bening inilah yang konon bisa menjadi lampu penerang di tengah kegelapan yang pekat. Sastra adalah nama lain dari buddhi bening itu. Bukankah dengan menggunakan sastra sebagai lampu penerang, kebahagiaan di dunia bisa didapat?

Wrettasancaya adalah salah satu puisi berbahasa Jawa Kuno yang dilahirkan dari permenungan, dari buddhi yang bening. Anehnya, kebeningan buddhi itu lahir saat pengarangnya konon menyendiri di tepi laut. Mungkin memang benar, kesendirian memberikan anugerah lain yang tidak pernah kita berikan tempat spesial. Jika direnung-renungkan sesungguhnya manusia tidak pernah sendiri karena setiap saat selalu ada yang menyaksikan segala yang dipikir, dikata, dan dilakukan. Saat terang, saksinya adalah matahari. Saat gelap, saksinya rembulan. Saat malam paling gelap, saksinya kegelapan. Saat ramai ada banyak mata jadi saksi. Saat sendiri, ada jiwa yang jadi saksi. Karena itu, manusia tidak pernah sendiri. Tidak ada kesendirian yang sesungguhnya sendiri.

Saat saya mulai mengetik kata-kata ini, saya seolah mengerti kalau di pikiran orang-orang sedang merasa cemas karena wabah virus. Wabah virus adalah wabah. Saya mengertikannya sesederhana itu. Saya tidak tahu cara paling tepat menghilangkan wabah ini. Saya hanya mendengar banyak peneliti, pembicara, perenung, pembaca, penulis yang menulis dan bicara tentang virus ini. Katanya harus begitu dalam situasi begini. Mestinya begini dalam situasi begitu-begitu. Begini dan begitu itu, saya pikir-pikir semuanya benar.

Kebenaran ternyata tidak hanya satu, tapi ada banyak kebenaran. Terus terang kenyataan itu bertolak belakang dengan konsep kebenaran yang pernah saya dengar. Katanya, kebenaran hanya satu, yang banyak adalah pembenaran. Bagaimana membedakan kebenaran dengan pembenaran? Saya jadi bingung dibuatnya. Lahir sebagai manusia adalah kebingungan. Jadi saya menerima kebingungan itu sebagai kewajaran. Lebih dari itu, kebingungan tadi saya terima bukan karena tidak mengerti, tapi karena saya bodoh.

Kebodohan yang saya miliki jika digunakan untuk memikirkan sesuatu yang sulit saya mengerti, hanya akan melahirkan kekeruhan yang lain. Jadi saya menyerahkan sepenuhnya kelanjutan dari putaran bumi yang tidak pernah saya rasakan berputar [kecuali mabuk] ini kepada para pemikir dan penindaklanjut yang berbaris menjaga keamaan pada baris paling depan. Barisan-barisan itu saya yakini akan menjaga saya yang rakyat jelata ini dari kesakitan dan kemiskinan.

Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tidak tahu harus melakukan apa. Saya sekarang hanya diam di rumah sebagaimana dianjurkan oleh banyak orang. Jika pergi hanya lewat satu tembok saja ke rumah saudara. Melihat nenek yang sedang nglocok base, dan mendengar orang-orang tua membicarakan ingatan mereka tentang kejadian lampau-lampau. Juga membaca beberapa tulisan yang menarik. Salah satunya adalah salam dari samudra milik sahabat saya.

Kepada Alit Joule saya ucapkan terimakasih. Karena ia membuat saya punya keinginan menulis sesuatu di tengah kegamangan. Kegamangan yang lahir dari kecemasan-kecemasan. Tidak hanya virus, tapi juga pikiran-pikiran semerawut karena terlalu banyak masalah yang dipikirkan dengan terlalu sedikit kekuatan untuk menyelesaikan.

Lit, sampai jumpa di rumah. Benar, sastra selalu menemukan jalannya [T]

Tags: kapal pesiarsastrasastra bali modern
Share69TweetSendShareSend
Previous Post

Perihal Corona, Tubuh yang Bersin dan Batuk-Batuk di Atas Panggung

Next Post

UN 2020 Ditiadakan, Sekolah Dimerdekakan?

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails
Next Post
UN 2020 Ditiadakan, Sekolah Dimerdekakan?

UN 2020 Ditiadakan, Sekolah Dimerdekakan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co