4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perihal Corona, Tubuh yang Bersin dan Batuk-Batuk di Atas Panggung

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
March 30, 2020
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Beberapa waktu lalu, sempat beredar video parodi tentang virus corona. Diperlihatkan seorang pria yang tengah mencuci tangan di sebuah toilet umum. Ia cuci bersih tangannya, mulai dari kuku, sela jari, punggung dan telapak tangan. Sebersih-bersihnya. Pada tangan yang dikucek itu saya bayangkan takkan ada satupun virus yang bakal bercokol. Tak ada tangan penuh virus yang menyentuh wajah. Tak ada virus masuk ke dalam tubuh. Tak ada corona.

Masalah kemudian terjadi ketika pria itu hendak mematikan keran air yang dirasa mungkin saja ada virus tengah menempel disana. Maka ia bersihkan juga keran air dengan sabun. Lalu kembali ia cuci bersih tangannya. Saat sampai di muka pintu, gagang pintupun dicurigai tak bersih. Lagi ia bersihkan gagang pintu dengan sabun. Tiba-tiba sabunpun tak lepas dari kecurigaan. Dicucinya juga sabun itu dengan sabun lain. Kecurigaan terus berlanjut sampai pria itu depresi terhadap benda-benda di sekitarnya. Bahkan untuk depresi sekalipun untuk menggeletakan dirinya di lantai toilet, ia mesti beranjak dulu sebentar, sekadar membersihkan lantai dengan sabun.

Demikian video ini menyimpan ironi tentang corona. Di sisi lain mampu membuat kita tersenyum barang sedikit di tengah rasa takut akan wabah yang mengancam. Menyaksikan video, membuat saya pribadi berpikir, mungkin pada masa-masa corona inilah manusia benar-benar diberi kesempatan untuk kian mengetatkan kesadaran terhadap tubuh. Yang sehari-hari biasa kita gerakan sesuka hati dengan penuh kesadaran atau kita biarkan refleks bergerak begitu saja sebagai sebuah keniscayaan (luar kesadaran).

Pemahaman akan kesadaran tubuh dan keniscayaan tubuh merupakan wujud tubuh primordial manusia yang dibawa dan dihayati sejak awal kelahiran. Pemahaman tubuh, yang notabene belum diinterpretasi dengan berbagai macam ilmu semacam kedokteran, agama, sosial, dan lain-lain. Pemahaman yang lahir dari pengalaman empiris sehari-hari. Namun karena rutinitas sehari-hari yang kita jalani pula, seringkali kesadaran dan keniscayaan akan tubuh jadi kian terbengkalai.

Lebih jauh, video parodi ini menyiratkan pemahaman akan kesadaran dan keniscayaan tubuh yang berdampak pada orientasi kita memandang tubuh. Manusia dikatakan berada pada dua kutub ketegangan tubuh, antara pandangan bahwa manusia memiliki tubuh dengan manusia adalah tubuh itu sendiri. Pandangan tentang manusia memiliki tubuh dapat dirasakan ketika ia sadar atas kontrol terhadap tubuh. Ada kehendak yang dibangun dengan kesadaran penuh atas berbagai gerak tubuh yang dilakukan.

Sementara pada pandangan tentang manusia adalah tubuh itu sendiri, tak ada kehendak. Yang ada hanya keniscayaan. Saatnya bernafas ya bernafas saja. Tanpa memperhitungkan kapan baiknya menarik nafas, kapan menahan, kapan menghembuskan. Saatnya berjalan ya berjalan saja, tanpa menyoal kaki manakah yang bergerak lebih dahulu. Pun demikian dengan saatnya membuka keran air, membuka pintu, duduk, dan tergeletak sebagaimana adegan yang hadir pada video, ya lakukan saja. Tanpa harus berpikir berapa banyak kuman dan viruskah yang menempel disana. Adakah corona tengah berdiam di sekitarnya?

Dalam pemahaman tentang manusia adalah tubuh itu sendiri, secara tidak langsung menjadikan manusia mampu berkoneksi dengan alam sekitar. Karena tubuh, kita mampu bersetubuh dengan hal-hal di luar tubuh. Bersetubuh dengan pasangan misalnya, merupakan hubungan yang dibangun lewat persentuhan antartubuh. Bahkan karena tubuh jugalah, kita bisa bersetubuh dengan motor, mobil dan sebangsanya. Acapkali mengendarai, tubuh kita seakan menyatu dengan kendaraan. Begitupun dengan dengan lantai yang kita pijak atau gagang pintu yang kita buka setiap hari. Tanpa disadari, semua menjadi bagian tubuh sendiri. Maka tubuh dalam konteks ini bisa dikatakan sebagai sebab manusia mendunia. Jika tak ada tubuh, tentu kita tak akan ada di dunia, bukan?

Saking pentingnya keberadaan tubuh, menjadikan manusia takut kehilangan tubuh. Takut jika terjadi sesuatu dengan tubuh. Maka diciptakanlah rumah untuk melindungi diri dari gejala buruk cuaca, serangan binatang liar, dan hal-hal sekitar yang dirasa membahayakan tubuh. Saat takut badan terluka, aurat terbuka, kita jahit kain jadi pakaian. Saat takut kaki lecet, kita rancang sandal dan sepatu. Kita bentangkan jalan, trotoar dan rambu lalu lintas untuk menjaga tubuh dari kecelakaan. Kita bangun gedung besar dan tinggi, untuk menjaga diri saat bekerja. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Semua dibuat agar hilang takut manusia pada segala sekitar yang dapat melukai tubuh. Ironisnya, corona sebagai virus berukuran mikro, justru masuk lewat lubang-lubang kecil manusia yang tak terlindungi. Bagaimanakah mesti menutup lubang-lubang kecil ini? Sedang lubanglah yang berperan sebagai keluar masuk udara dalam tubuh. Ruang keluar masuk kehidupan. Ruang alam memberi daya hidup pada tubuh. Ruang tubuh memberi daya hidup pada alam. Bagaimana mesti menutup lubang hidung, lubang telinga, lubang mata, lubang mulut, lubang kulit, dan segala macam lubang lainnya pada tubuh kita? Bahkan lubang ketakutan yang lekat di ceruk hati terdalam manusia, dengan cara apa bisa ditutupi?

Suatu kali dalam perjalanan ke Tegalalang Gianyar, karena ada kerja yang harus diselesaikan, jalanan menjadi sesuatu yang menakutkan. Berapa banyak debu yang lintas, berapa virus bertebaran? Diantara tourist-tourist yang melintas menaiki sepeda motor, tubuh dibuat waspada. Menjaga jarak dengan mereka. Bagaimana jika sewaktu-waktu tourist-tourist itu bersin dan batuk-batuk? Bagaimana jika bersin dan ludah batuk paling kecil dari sisa-sisa terkecilnya tak sengaja menempel di tangan? Tangan menyentuh hidung yang gatal karena debu, mengucek mata, menyentuh tubuh, menyentuh sekitar.

Sebab menyentuh dan tak tersentuh, hari ini jadi persoalan yang dilematis. Karena corona, kita jadi sadar dengan segala yang bersentuhan dengan tubuh. Bahkan tempat-tempat yang jarang tersentuh tubuhpun jadi tutup karena corona. Di facebook, tempat-tempat seperti Gedong Kertiya dan Museum Denpasar diberitakan tutup oleh pemerintah. Seolah-olah setiap harinya banyak tubuh yang lalu lalang berkunjung ke sana. Banyak bersin dan ludah menempel di dalamnya. Padahal tanpa pengumuman itupun, jangan-jangan sejak semula jarang ada orang yang singgah ke sana. Berbanding terbalik dengan tempat-tempat wisata lainnya di Bali, yang biasanya ramai pengunjung, namun jarang diberitakan telah ditutup. Apakah sudah benar-benar ditutup? Atau malah tetap terbuka dan sengaja ditutupi keterbukaanya?

Jika ingin menyebut satu tempat lagi yang terhindar dari corona, barangkali salah satu yang aman adalah panggung teater. Panggung tempat para aktor bermain. Yang senantiasa dibersihkan oleh tim produksi, yang berjarak dengan tempat duduk para penonton. Di panggung inilah, pandangan terhadap kesadaran dan keniscayaan tubuh sering diotak-atik jadi bahan eksplorasi pertunjukan. Namun tampaknya, dari sekian pertunjukan yang pernah saya tonton, jarang ada tubuh yang mengeksplorasi bersin dan batuk-batuk. Jikapun ada, bersin dan batuk hanya jadi stereotipe yang biasa digunakan untuk menunjukan adegan sakit atau tokoh yang lanjut usia.

Apakah saya yang kelewatan menonton pentas semacam ini? Atau bersin dan batuk memang bukan hal yang menarik untuk digali kemungkinannya dalam konteks kesadaran dan keniscayaan tubuh?  Ah, Corona.. Gara-gara kau, segalanya jadi tampak begitu berjarak. Antara aku, tubuhku, dan dunia sekitar. Bahkan bersin dan batukpun kini jadi tampak begitu dramatis. Ingin sekali rasanya membuat pentas dimana para aktornya bersin-bersin dan batuk-batuk sepanjang pertunjukan. Tentu tak sekarang, Nanti. Jika tiba saatnya corona enyah dari dunia ini. [T]

Denpasar, 2020

Tags: covid 19panggungTeaterTubuhvirus corona
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Sambiroto, Si Pahit dengan Khasiat Melimpah

Next Post

Kepada Alit Joule “Sampai Jumpa di Rumah”

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kepada Alit Joule “Sampai Jumpa di Rumah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co