4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perihal Corona, Tubuh yang Bersin dan Batuk-Batuk di Atas Panggung

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
March 30, 2020
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Beberapa waktu lalu, sempat beredar video parodi tentang virus corona. Diperlihatkan seorang pria yang tengah mencuci tangan di sebuah toilet umum. Ia cuci bersih tangannya, mulai dari kuku, sela jari, punggung dan telapak tangan. Sebersih-bersihnya. Pada tangan yang dikucek itu saya bayangkan takkan ada satupun virus yang bakal bercokol. Tak ada tangan penuh virus yang menyentuh wajah. Tak ada virus masuk ke dalam tubuh. Tak ada corona.

Masalah kemudian terjadi ketika pria itu hendak mematikan keran air yang dirasa mungkin saja ada virus tengah menempel disana. Maka ia bersihkan juga keran air dengan sabun. Lalu kembali ia cuci bersih tangannya. Saat sampai di muka pintu, gagang pintupun dicurigai tak bersih. Lagi ia bersihkan gagang pintu dengan sabun. Tiba-tiba sabunpun tak lepas dari kecurigaan. Dicucinya juga sabun itu dengan sabun lain. Kecurigaan terus berlanjut sampai pria itu depresi terhadap benda-benda di sekitarnya. Bahkan untuk depresi sekalipun untuk menggeletakan dirinya di lantai toilet, ia mesti beranjak dulu sebentar, sekadar membersihkan lantai dengan sabun.

Demikian video ini menyimpan ironi tentang corona. Di sisi lain mampu membuat kita tersenyum barang sedikit di tengah rasa takut akan wabah yang mengancam. Menyaksikan video, membuat saya pribadi berpikir, mungkin pada masa-masa corona inilah manusia benar-benar diberi kesempatan untuk kian mengetatkan kesadaran terhadap tubuh. Yang sehari-hari biasa kita gerakan sesuka hati dengan penuh kesadaran atau kita biarkan refleks bergerak begitu saja sebagai sebuah keniscayaan (luar kesadaran).

Pemahaman akan kesadaran tubuh dan keniscayaan tubuh merupakan wujud tubuh primordial manusia yang dibawa dan dihayati sejak awal kelahiran. Pemahaman tubuh, yang notabene belum diinterpretasi dengan berbagai macam ilmu semacam kedokteran, agama, sosial, dan lain-lain. Pemahaman yang lahir dari pengalaman empiris sehari-hari. Namun karena rutinitas sehari-hari yang kita jalani pula, seringkali kesadaran dan keniscayaan akan tubuh jadi kian terbengkalai.

Lebih jauh, video parodi ini menyiratkan pemahaman akan kesadaran dan keniscayaan tubuh yang berdampak pada orientasi kita memandang tubuh. Manusia dikatakan berada pada dua kutub ketegangan tubuh, antara pandangan bahwa manusia memiliki tubuh dengan manusia adalah tubuh itu sendiri. Pandangan tentang manusia memiliki tubuh dapat dirasakan ketika ia sadar atas kontrol terhadap tubuh. Ada kehendak yang dibangun dengan kesadaran penuh atas berbagai gerak tubuh yang dilakukan.

Sementara pada pandangan tentang manusia adalah tubuh itu sendiri, tak ada kehendak. Yang ada hanya keniscayaan. Saatnya bernafas ya bernafas saja. Tanpa memperhitungkan kapan baiknya menarik nafas, kapan menahan, kapan menghembuskan. Saatnya berjalan ya berjalan saja, tanpa menyoal kaki manakah yang bergerak lebih dahulu. Pun demikian dengan saatnya membuka keran air, membuka pintu, duduk, dan tergeletak sebagaimana adegan yang hadir pada video, ya lakukan saja. Tanpa harus berpikir berapa banyak kuman dan viruskah yang menempel disana. Adakah corona tengah berdiam di sekitarnya?

Dalam pemahaman tentang manusia adalah tubuh itu sendiri, secara tidak langsung menjadikan manusia mampu berkoneksi dengan alam sekitar. Karena tubuh, kita mampu bersetubuh dengan hal-hal di luar tubuh. Bersetubuh dengan pasangan misalnya, merupakan hubungan yang dibangun lewat persentuhan antartubuh. Bahkan karena tubuh jugalah, kita bisa bersetubuh dengan motor, mobil dan sebangsanya. Acapkali mengendarai, tubuh kita seakan menyatu dengan kendaraan. Begitupun dengan dengan lantai yang kita pijak atau gagang pintu yang kita buka setiap hari. Tanpa disadari, semua menjadi bagian tubuh sendiri. Maka tubuh dalam konteks ini bisa dikatakan sebagai sebab manusia mendunia. Jika tak ada tubuh, tentu kita tak akan ada di dunia, bukan?

Saking pentingnya keberadaan tubuh, menjadikan manusia takut kehilangan tubuh. Takut jika terjadi sesuatu dengan tubuh. Maka diciptakanlah rumah untuk melindungi diri dari gejala buruk cuaca, serangan binatang liar, dan hal-hal sekitar yang dirasa membahayakan tubuh. Saat takut badan terluka, aurat terbuka, kita jahit kain jadi pakaian. Saat takut kaki lecet, kita rancang sandal dan sepatu. Kita bentangkan jalan, trotoar dan rambu lalu lintas untuk menjaga tubuh dari kecelakaan. Kita bangun gedung besar dan tinggi, untuk menjaga diri saat bekerja. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Semua dibuat agar hilang takut manusia pada segala sekitar yang dapat melukai tubuh. Ironisnya, corona sebagai virus berukuran mikro, justru masuk lewat lubang-lubang kecil manusia yang tak terlindungi. Bagaimanakah mesti menutup lubang-lubang kecil ini? Sedang lubanglah yang berperan sebagai keluar masuk udara dalam tubuh. Ruang keluar masuk kehidupan. Ruang alam memberi daya hidup pada tubuh. Ruang tubuh memberi daya hidup pada alam. Bagaimana mesti menutup lubang hidung, lubang telinga, lubang mata, lubang mulut, lubang kulit, dan segala macam lubang lainnya pada tubuh kita? Bahkan lubang ketakutan yang lekat di ceruk hati terdalam manusia, dengan cara apa bisa ditutupi?

Suatu kali dalam perjalanan ke Tegalalang Gianyar, karena ada kerja yang harus diselesaikan, jalanan menjadi sesuatu yang menakutkan. Berapa banyak debu yang lintas, berapa virus bertebaran? Diantara tourist-tourist yang melintas menaiki sepeda motor, tubuh dibuat waspada. Menjaga jarak dengan mereka. Bagaimana jika sewaktu-waktu tourist-tourist itu bersin dan batuk-batuk? Bagaimana jika bersin dan ludah batuk paling kecil dari sisa-sisa terkecilnya tak sengaja menempel di tangan? Tangan menyentuh hidung yang gatal karena debu, mengucek mata, menyentuh tubuh, menyentuh sekitar.

Sebab menyentuh dan tak tersentuh, hari ini jadi persoalan yang dilematis. Karena corona, kita jadi sadar dengan segala yang bersentuhan dengan tubuh. Bahkan tempat-tempat yang jarang tersentuh tubuhpun jadi tutup karena corona. Di facebook, tempat-tempat seperti Gedong Kertiya dan Museum Denpasar diberitakan tutup oleh pemerintah. Seolah-olah setiap harinya banyak tubuh yang lalu lalang berkunjung ke sana. Banyak bersin dan ludah menempel di dalamnya. Padahal tanpa pengumuman itupun, jangan-jangan sejak semula jarang ada orang yang singgah ke sana. Berbanding terbalik dengan tempat-tempat wisata lainnya di Bali, yang biasanya ramai pengunjung, namun jarang diberitakan telah ditutup. Apakah sudah benar-benar ditutup? Atau malah tetap terbuka dan sengaja ditutupi keterbukaanya?

Jika ingin menyebut satu tempat lagi yang terhindar dari corona, barangkali salah satu yang aman adalah panggung teater. Panggung tempat para aktor bermain. Yang senantiasa dibersihkan oleh tim produksi, yang berjarak dengan tempat duduk para penonton. Di panggung inilah, pandangan terhadap kesadaran dan keniscayaan tubuh sering diotak-atik jadi bahan eksplorasi pertunjukan. Namun tampaknya, dari sekian pertunjukan yang pernah saya tonton, jarang ada tubuh yang mengeksplorasi bersin dan batuk-batuk. Jikapun ada, bersin dan batuk hanya jadi stereotipe yang biasa digunakan untuk menunjukan adegan sakit atau tokoh yang lanjut usia.

Apakah saya yang kelewatan menonton pentas semacam ini? Atau bersin dan batuk memang bukan hal yang menarik untuk digali kemungkinannya dalam konteks kesadaran dan keniscayaan tubuh?  Ah, Corona.. Gara-gara kau, segalanya jadi tampak begitu berjarak. Antara aku, tubuhku, dan dunia sekitar. Bahkan bersin dan batukpun kini jadi tampak begitu dramatis. Ingin sekali rasanya membuat pentas dimana para aktornya bersin-bersin dan batuk-batuk sepanjang pertunjukan. Tentu tak sekarang, Nanti. Jika tiba saatnya corona enyah dari dunia ini. [T]

Denpasar, 2020

Tags: covid 19panggungTeaterTubuhvirus corona
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Sambiroto, Si Pahit dengan Khasiat Melimpah

Next Post

Kepada Alit Joule “Sampai Jumpa di Rumah”

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kepada Alit Joule “Sampai Jumpa di Rumah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co