26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perihal Corona, Tubuh yang Bersin dan Batuk-Batuk di Atas Panggung

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
March 30, 2020
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Beberapa waktu lalu, sempat beredar video parodi tentang virus corona. Diperlihatkan seorang pria yang tengah mencuci tangan di sebuah toilet umum. Ia cuci bersih tangannya, mulai dari kuku, sela jari, punggung dan telapak tangan. Sebersih-bersihnya. Pada tangan yang dikucek itu saya bayangkan takkan ada satupun virus yang bakal bercokol. Tak ada tangan penuh virus yang menyentuh wajah. Tak ada virus masuk ke dalam tubuh. Tak ada corona.

Masalah kemudian terjadi ketika pria itu hendak mematikan keran air yang dirasa mungkin saja ada virus tengah menempel disana. Maka ia bersihkan juga keran air dengan sabun. Lalu kembali ia cuci bersih tangannya. Saat sampai di muka pintu, gagang pintupun dicurigai tak bersih. Lagi ia bersihkan gagang pintu dengan sabun. Tiba-tiba sabunpun tak lepas dari kecurigaan. Dicucinya juga sabun itu dengan sabun lain. Kecurigaan terus berlanjut sampai pria itu depresi terhadap benda-benda di sekitarnya. Bahkan untuk depresi sekalipun untuk menggeletakan dirinya di lantai toilet, ia mesti beranjak dulu sebentar, sekadar membersihkan lantai dengan sabun.

Demikian video ini menyimpan ironi tentang corona. Di sisi lain mampu membuat kita tersenyum barang sedikit di tengah rasa takut akan wabah yang mengancam. Menyaksikan video, membuat saya pribadi berpikir, mungkin pada masa-masa corona inilah manusia benar-benar diberi kesempatan untuk kian mengetatkan kesadaran terhadap tubuh. Yang sehari-hari biasa kita gerakan sesuka hati dengan penuh kesadaran atau kita biarkan refleks bergerak begitu saja sebagai sebuah keniscayaan (luar kesadaran).

Pemahaman akan kesadaran tubuh dan keniscayaan tubuh merupakan wujud tubuh primordial manusia yang dibawa dan dihayati sejak awal kelahiran. Pemahaman tubuh, yang notabene belum diinterpretasi dengan berbagai macam ilmu semacam kedokteran, agama, sosial, dan lain-lain. Pemahaman yang lahir dari pengalaman empiris sehari-hari. Namun karena rutinitas sehari-hari yang kita jalani pula, seringkali kesadaran dan keniscayaan akan tubuh jadi kian terbengkalai.

Lebih jauh, video parodi ini menyiratkan pemahaman akan kesadaran dan keniscayaan tubuh yang berdampak pada orientasi kita memandang tubuh. Manusia dikatakan berada pada dua kutub ketegangan tubuh, antara pandangan bahwa manusia memiliki tubuh dengan manusia adalah tubuh itu sendiri. Pandangan tentang manusia memiliki tubuh dapat dirasakan ketika ia sadar atas kontrol terhadap tubuh. Ada kehendak yang dibangun dengan kesadaran penuh atas berbagai gerak tubuh yang dilakukan.

Sementara pada pandangan tentang manusia adalah tubuh itu sendiri, tak ada kehendak. Yang ada hanya keniscayaan. Saatnya bernafas ya bernafas saja. Tanpa memperhitungkan kapan baiknya menarik nafas, kapan menahan, kapan menghembuskan. Saatnya berjalan ya berjalan saja, tanpa menyoal kaki manakah yang bergerak lebih dahulu. Pun demikian dengan saatnya membuka keran air, membuka pintu, duduk, dan tergeletak sebagaimana adegan yang hadir pada video, ya lakukan saja. Tanpa harus berpikir berapa banyak kuman dan viruskah yang menempel disana. Adakah corona tengah berdiam di sekitarnya?

Dalam pemahaman tentang manusia adalah tubuh itu sendiri, secara tidak langsung menjadikan manusia mampu berkoneksi dengan alam sekitar. Karena tubuh, kita mampu bersetubuh dengan hal-hal di luar tubuh. Bersetubuh dengan pasangan misalnya, merupakan hubungan yang dibangun lewat persentuhan antartubuh. Bahkan karena tubuh jugalah, kita bisa bersetubuh dengan motor, mobil dan sebangsanya. Acapkali mengendarai, tubuh kita seakan menyatu dengan kendaraan. Begitupun dengan dengan lantai yang kita pijak atau gagang pintu yang kita buka setiap hari. Tanpa disadari, semua menjadi bagian tubuh sendiri. Maka tubuh dalam konteks ini bisa dikatakan sebagai sebab manusia mendunia. Jika tak ada tubuh, tentu kita tak akan ada di dunia, bukan?

Saking pentingnya keberadaan tubuh, menjadikan manusia takut kehilangan tubuh. Takut jika terjadi sesuatu dengan tubuh. Maka diciptakanlah rumah untuk melindungi diri dari gejala buruk cuaca, serangan binatang liar, dan hal-hal sekitar yang dirasa membahayakan tubuh. Saat takut badan terluka, aurat terbuka, kita jahit kain jadi pakaian. Saat takut kaki lecet, kita rancang sandal dan sepatu. Kita bentangkan jalan, trotoar dan rambu lalu lintas untuk menjaga tubuh dari kecelakaan. Kita bangun gedung besar dan tinggi, untuk menjaga diri saat bekerja. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Semua dibuat agar hilang takut manusia pada segala sekitar yang dapat melukai tubuh. Ironisnya, corona sebagai virus berukuran mikro, justru masuk lewat lubang-lubang kecil manusia yang tak terlindungi. Bagaimanakah mesti menutup lubang-lubang kecil ini? Sedang lubanglah yang berperan sebagai keluar masuk udara dalam tubuh. Ruang keluar masuk kehidupan. Ruang alam memberi daya hidup pada tubuh. Ruang tubuh memberi daya hidup pada alam. Bagaimana mesti menutup lubang hidung, lubang telinga, lubang mata, lubang mulut, lubang kulit, dan segala macam lubang lainnya pada tubuh kita? Bahkan lubang ketakutan yang lekat di ceruk hati terdalam manusia, dengan cara apa bisa ditutupi?

Suatu kali dalam perjalanan ke Tegalalang Gianyar, karena ada kerja yang harus diselesaikan, jalanan menjadi sesuatu yang menakutkan. Berapa banyak debu yang lintas, berapa virus bertebaran? Diantara tourist-tourist yang melintas menaiki sepeda motor, tubuh dibuat waspada. Menjaga jarak dengan mereka. Bagaimana jika sewaktu-waktu tourist-tourist itu bersin dan batuk-batuk? Bagaimana jika bersin dan ludah batuk paling kecil dari sisa-sisa terkecilnya tak sengaja menempel di tangan? Tangan menyentuh hidung yang gatal karena debu, mengucek mata, menyentuh tubuh, menyentuh sekitar.

Sebab menyentuh dan tak tersentuh, hari ini jadi persoalan yang dilematis. Karena corona, kita jadi sadar dengan segala yang bersentuhan dengan tubuh. Bahkan tempat-tempat yang jarang tersentuh tubuhpun jadi tutup karena corona. Di facebook, tempat-tempat seperti Gedong Kertiya dan Museum Denpasar diberitakan tutup oleh pemerintah. Seolah-olah setiap harinya banyak tubuh yang lalu lalang berkunjung ke sana. Banyak bersin dan ludah menempel di dalamnya. Padahal tanpa pengumuman itupun, jangan-jangan sejak semula jarang ada orang yang singgah ke sana. Berbanding terbalik dengan tempat-tempat wisata lainnya di Bali, yang biasanya ramai pengunjung, namun jarang diberitakan telah ditutup. Apakah sudah benar-benar ditutup? Atau malah tetap terbuka dan sengaja ditutupi keterbukaanya?

Jika ingin menyebut satu tempat lagi yang terhindar dari corona, barangkali salah satu yang aman adalah panggung teater. Panggung tempat para aktor bermain. Yang senantiasa dibersihkan oleh tim produksi, yang berjarak dengan tempat duduk para penonton. Di panggung inilah, pandangan terhadap kesadaran dan keniscayaan tubuh sering diotak-atik jadi bahan eksplorasi pertunjukan. Namun tampaknya, dari sekian pertunjukan yang pernah saya tonton, jarang ada tubuh yang mengeksplorasi bersin dan batuk-batuk. Jikapun ada, bersin dan batuk hanya jadi stereotipe yang biasa digunakan untuk menunjukan adegan sakit atau tokoh yang lanjut usia.

Apakah saya yang kelewatan menonton pentas semacam ini? Atau bersin dan batuk memang bukan hal yang menarik untuk digali kemungkinannya dalam konteks kesadaran dan keniscayaan tubuh?  Ah, Corona.. Gara-gara kau, segalanya jadi tampak begitu berjarak. Antara aku, tubuhku, dan dunia sekitar. Bahkan bersin dan batukpun kini jadi tampak begitu dramatis. Ingin sekali rasanya membuat pentas dimana para aktornya bersin-bersin dan batuk-batuk sepanjang pertunjukan. Tentu tak sekarang, Nanti. Jika tiba saatnya corona enyah dari dunia ini. [T]

Denpasar, 2020

Tags: covid 19panggungTeaterTubuhvirus corona
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Sambiroto, Si Pahit dengan Khasiat Melimpah

Next Post

Kepada Alit Joule “Sampai Jumpa di Rumah”

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kepada Alit Joule “Sampai Jumpa di Rumah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co