24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perihal Corona, Tubuh yang Bersin dan Batuk-Batuk di Atas Panggung

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
March 30, 2020
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Beberapa waktu lalu, sempat beredar video parodi tentang virus corona. Diperlihatkan seorang pria yang tengah mencuci tangan di sebuah toilet umum. Ia cuci bersih tangannya, mulai dari kuku, sela jari, punggung dan telapak tangan. Sebersih-bersihnya. Pada tangan yang dikucek itu saya bayangkan takkan ada satupun virus yang bakal bercokol. Tak ada tangan penuh virus yang menyentuh wajah. Tak ada virus masuk ke dalam tubuh. Tak ada corona.

Masalah kemudian terjadi ketika pria itu hendak mematikan keran air yang dirasa mungkin saja ada virus tengah menempel disana. Maka ia bersihkan juga keran air dengan sabun. Lalu kembali ia cuci bersih tangannya. Saat sampai di muka pintu, gagang pintupun dicurigai tak bersih. Lagi ia bersihkan gagang pintu dengan sabun. Tiba-tiba sabunpun tak lepas dari kecurigaan. Dicucinya juga sabun itu dengan sabun lain. Kecurigaan terus berlanjut sampai pria itu depresi terhadap benda-benda di sekitarnya. Bahkan untuk depresi sekalipun untuk menggeletakan dirinya di lantai toilet, ia mesti beranjak dulu sebentar, sekadar membersihkan lantai dengan sabun.

Demikian video ini menyimpan ironi tentang corona. Di sisi lain mampu membuat kita tersenyum barang sedikit di tengah rasa takut akan wabah yang mengancam. Menyaksikan video, membuat saya pribadi berpikir, mungkin pada masa-masa corona inilah manusia benar-benar diberi kesempatan untuk kian mengetatkan kesadaran terhadap tubuh. Yang sehari-hari biasa kita gerakan sesuka hati dengan penuh kesadaran atau kita biarkan refleks bergerak begitu saja sebagai sebuah keniscayaan (luar kesadaran).

Pemahaman akan kesadaran tubuh dan keniscayaan tubuh merupakan wujud tubuh primordial manusia yang dibawa dan dihayati sejak awal kelahiran. Pemahaman tubuh, yang notabene belum diinterpretasi dengan berbagai macam ilmu semacam kedokteran, agama, sosial, dan lain-lain. Pemahaman yang lahir dari pengalaman empiris sehari-hari. Namun karena rutinitas sehari-hari yang kita jalani pula, seringkali kesadaran dan keniscayaan akan tubuh jadi kian terbengkalai.

Lebih jauh, video parodi ini menyiratkan pemahaman akan kesadaran dan keniscayaan tubuh yang berdampak pada orientasi kita memandang tubuh. Manusia dikatakan berada pada dua kutub ketegangan tubuh, antara pandangan bahwa manusia memiliki tubuh dengan manusia adalah tubuh itu sendiri. Pandangan tentang manusia memiliki tubuh dapat dirasakan ketika ia sadar atas kontrol terhadap tubuh. Ada kehendak yang dibangun dengan kesadaran penuh atas berbagai gerak tubuh yang dilakukan.

Sementara pada pandangan tentang manusia adalah tubuh itu sendiri, tak ada kehendak. Yang ada hanya keniscayaan. Saatnya bernafas ya bernafas saja. Tanpa memperhitungkan kapan baiknya menarik nafas, kapan menahan, kapan menghembuskan. Saatnya berjalan ya berjalan saja, tanpa menyoal kaki manakah yang bergerak lebih dahulu. Pun demikian dengan saatnya membuka keran air, membuka pintu, duduk, dan tergeletak sebagaimana adegan yang hadir pada video, ya lakukan saja. Tanpa harus berpikir berapa banyak kuman dan viruskah yang menempel disana. Adakah corona tengah berdiam di sekitarnya?

Dalam pemahaman tentang manusia adalah tubuh itu sendiri, secara tidak langsung menjadikan manusia mampu berkoneksi dengan alam sekitar. Karena tubuh, kita mampu bersetubuh dengan hal-hal di luar tubuh. Bersetubuh dengan pasangan misalnya, merupakan hubungan yang dibangun lewat persentuhan antartubuh. Bahkan karena tubuh jugalah, kita bisa bersetubuh dengan motor, mobil dan sebangsanya. Acapkali mengendarai, tubuh kita seakan menyatu dengan kendaraan. Begitupun dengan dengan lantai yang kita pijak atau gagang pintu yang kita buka setiap hari. Tanpa disadari, semua menjadi bagian tubuh sendiri. Maka tubuh dalam konteks ini bisa dikatakan sebagai sebab manusia mendunia. Jika tak ada tubuh, tentu kita tak akan ada di dunia, bukan?

Saking pentingnya keberadaan tubuh, menjadikan manusia takut kehilangan tubuh. Takut jika terjadi sesuatu dengan tubuh. Maka diciptakanlah rumah untuk melindungi diri dari gejala buruk cuaca, serangan binatang liar, dan hal-hal sekitar yang dirasa membahayakan tubuh. Saat takut badan terluka, aurat terbuka, kita jahit kain jadi pakaian. Saat takut kaki lecet, kita rancang sandal dan sepatu. Kita bentangkan jalan, trotoar dan rambu lalu lintas untuk menjaga tubuh dari kecelakaan. Kita bangun gedung besar dan tinggi, untuk menjaga diri saat bekerja. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Semua dibuat agar hilang takut manusia pada segala sekitar yang dapat melukai tubuh. Ironisnya, corona sebagai virus berukuran mikro, justru masuk lewat lubang-lubang kecil manusia yang tak terlindungi. Bagaimanakah mesti menutup lubang-lubang kecil ini? Sedang lubanglah yang berperan sebagai keluar masuk udara dalam tubuh. Ruang keluar masuk kehidupan. Ruang alam memberi daya hidup pada tubuh. Ruang tubuh memberi daya hidup pada alam. Bagaimana mesti menutup lubang hidung, lubang telinga, lubang mata, lubang mulut, lubang kulit, dan segala macam lubang lainnya pada tubuh kita? Bahkan lubang ketakutan yang lekat di ceruk hati terdalam manusia, dengan cara apa bisa ditutupi?

Suatu kali dalam perjalanan ke Tegalalang Gianyar, karena ada kerja yang harus diselesaikan, jalanan menjadi sesuatu yang menakutkan. Berapa banyak debu yang lintas, berapa virus bertebaran? Diantara tourist-tourist yang melintas menaiki sepeda motor, tubuh dibuat waspada. Menjaga jarak dengan mereka. Bagaimana jika sewaktu-waktu tourist-tourist itu bersin dan batuk-batuk? Bagaimana jika bersin dan ludah batuk paling kecil dari sisa-sisa terkecilnya tak sengaja menempel di tangan? Tangan menyentuh hidung yang gatal karena debu, mengucek mata, menyentuh tubuh, menyentuh sekitar.

Sebab menyentuh dan tak tersentuh, hari ini jadi persoalan yang dilematis. Karena corona, kita jadi sadar dengan segala yang bersentuhan dengan tubuh. Bahkan tempat-tempat yang jarang tersentuh tubuhpun jadi tutup karena corona. Di facebook, tempat-tempat seperti Gedong Kertiya dan Museum Denpasar diberitakan tutup oleh pemerintah. Seolah-olah setiap harinya banyak tubuh yang lalu lalang berkunjung ke sana. Banyak bersin dan ludah menempel di dalamnya. Padahal tanpa pengumuman itupun, jangan-jangan sejak semula jarang ada orang yang singgah ke sana. Berbanding terbalik dengan tempat-tempat wisata lainnya di Bali, yang biasanya ramai pengunjung, namun jarang diberitakan telah ditutup. Apakah sudah benar-benar ditutup? Atau malah tetap terbuka dan sengaja ditutupi keterbukaanya?

Jika ingin menyebut satu tempat lagi yang terhindar dari corona, barangkali salah satu yang aman adalah panggung teater. Panggung tempat para aktor bermain. Yang senantiasa dibersihkan oleh tim produksi, yang berjarak dengan tempat duduk para penonton. Di panggung inilah, pandangan terhadap kesadaran dan keniscayaan tubuh sering diotak-atik jadi bahan eksplorasi pertunjukan. Namun tampaknya, dari sekian pertunjukan yang pernah saya tonton, jarang ada tubuh yang mengeksplorasi bersin dan batuk-batuk. Jikapun ada, bersin dan batuk hanya jadi stereotipe yang biasa digunakan untuk menunjukan adegan sakit atau tokoh yang lanjut usia.

Apakah saya yang kelewatan menonton pentas semacam ini? Atau bersin dan batuk memang bukan hal yang menarik untuk digali kemungkinannya dalam konteks kesadaran dan keniscayaan tubuh?  Ah, Corona.. Gara-gara kau, segalanya jadi tampak begitu berjarak. Antara aku, tubuhku, dan dunia sekitar. Bahkan bersin dan batukpun kini jadi tampak begitu dramatis. Ingin sekali rasanya membuat pentas dimana para aktornya bersin-bersin dan batuk-batuk sepanjang pertunjukan. Tentu tak sekarang, Nanti. Jika tiba saatnya corona enyah dari dunia ini. [T]

Denpasar, 2020

Tags: covid 19panggungTeaterTubuhvirus corona
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Sambiroto, Si Pahit dengan Khasiat Melimpah

Next Post

Kepada Alit Joule “Sampai Jumpa di Rumah”

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kepada Alit Joule “Sampai Jumpa di Rumah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co