23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertempuran Menghadapi Rasa Takut – [Sebuah Pengalaman Menangani Pasien Covid-19]

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 29, 2020
in Esai
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

“Kelahiran dan kematian, kita tak pernah adil untuk keduanya. Meski keduanya adalah sebuah keniscayaan.” (Merayakan Ingatan, Mahima 2019)

___

Teori Infeksi dan Anomalinya

Saat ini kita semua terkurung dalam gulag rasa takut kolektif yang mencekam dan tak satupun bisa memberi sebuah kabar baik yang meyakinkan. Kapan kita terbebas dari gulag yang kian menyesakkan ini? Sekalipun kami, para dokter yang paham teori penyakit infeksi dan secara langsung menangani pesien-pasien tersebut.

Sampai sekarang jumlah kasus positif di Bali adalah sembilan orang, dengan kematian dua orang, salah satunya WNA, seorang lansia yang sudah diketahui memiliki riwayat banyak penyakit kronis sebelumnya. Jika dicermati, kematian pada kasus Covid-19 terutama terjadi pada mereka yang memang telah memiliki “modal yang cukup” untuk kematiannya. Modal tersebut umumnya faktor usia lanjut, penyakit menahun sebelumnya seperti paru-paru, jantung, diabetes, kanker atau pada anak-anak.

Lalu kenapa kita sangat ngeri? Karena kita melihat keganasan wabah ini di negeri lain, saat ini terutama Italia yang telah membunuh ribuan warganya. Juga Iran, Korsel dan tentu saja China (kota Wuhan, propinsi Hubei) sebagai episentrum pandemi ini. Kita ngeri, karena seakan-akan, seharusnya, kita pun seburuk itu, atau bahkan lebih. Kita telah berperang, tak hanya melawan virus Corona yang tak kasat mata, pun bertempur menghadapi rasa takut kita sendiri yang juga tak tampak, namun lebih cepat mencekik ketimbang Covid-19 itu sendiri.

Namun ngeri itu bukanlah berada pada ruang kosong. Provokasinya sedemikian kuat, yaitu sebuah anomali. Indonesia yang sedemikian dekat dengan China, seakan-akan dilompati oleh wabah ini ke Italia atau Iran. Dekat karena, mobilitas masa kedua negeri yang kontak erat karena jalur penerbangan, TKW, pariwisata dan pendidikan mahasiswa Indonesia di China. Membingungkan karena kita percaya Italia adalah negara modern yang hebat dalam bidang medis dan sistem pelayanan kesehatannya, hieginitas masyarakatnya yang baik dan jumlah penduduknya yang tak sepadat Indonesia.

Anomali ini selalu menjadi mimpi buruk yang setiap saat akan menjadi kenyataan, saat kita terbangun dari tidur kita. Maka, baiklah mari kita tetap tidur saja dalam suasana social distancing sembari mengingat teori penyakit infeksi. Mugkin ini dapat menjelaskan anomali yang sesungguhnya alami itu. Infeksi akan terjadi saat tiga faktor ini terganggu keseimbangannya, yaitu host (inang), agent (kuman/virus Corona) dan lingkungan.

Kita, orang-orang Nusantara yang lebih terpapar antigen dibandingkan orang-orang yang “selalu bersih” sejak lahir, seperti Italia, dapat saja telah menimbulkan kekebalan alami lebih banyak dalam tubuh kita. Berurusan dengan banyak antigen jelas merupakan sebuah permainan berbahaya, bila tepat dosisnya ia bisa memberi kekebalan namun jika berlebihan ia tentu saja akan membunuh. Secara alami keadaan seperti ini akan terjadi pada negara-negara miskin yang padat penduduknya. Sir Charles Darwin menyebutnya sebagai survival for the fittest. Mungkin saja dekat dengan alam adalah sebuah peanrsahabat dengan virus.

Iklim (lingkungan) kita yang tropis, sinar surya yang berlimpah jelas menguntungkan. Ini merupakan desinfektan alami, terutama sinar ultra violet (UV) yang dipancarkannya. Telah diketahui pula, sinar matahari dapat memacu sistem imun dan tentu saja aktivasi vitamin D. Keduanya, meskipun tak secara langsung, akan menyulitkan invasi mikroorganisme patogen ke dalam tubuh.

Yang terakhir, virus itu sendiri. Akan takdirnya sebagai organisme hidup, ia berkepentingan akan kelestariannya. Entah kita suka atau tidak, ia punya kepentingannya sendiri, meski harus menjalani tugas pahit yang bernama mutasi. Coba pikirkan, maukah satupun di antara kita yang bermutasi? Mungkin saja kita tak ingin, namun percayalah, tanpa kita sadari, kita telah menjalaninya. Sudah tentu ini karena bumi yang tak lagi bersahabat, akibat alam yang telah kita cabik-cabik sendiri.

Melawan Virus dan Rasa Takut

Sekitar lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya pernah berhadapan dengan satu wabah bernama epidemi Swine flu atau flu babi. Hampir selama dua bulan lamanya saya “terbenam” dalam ruang isolasi infeksi RSUP Sanglah, Denpasar untuk menangani pasien-pasien lokal dan asing yang terindikasi mengidap flu babi. Ruang isolasi, modelnya saja sudah seperti ruang tahanan, merampas rasa bahagia kita. Itu ruangan kecil yang bertekanan negatif, agar virus yang keluar dari tubuh pasien memenuhi udara (airborne) atau menempel pada sarana medis di dalam ruangan (droplet) akan terserap semua dan binasa.

Jika masuk ke sana, kami harus mandi dulu, memakai pakaian model astronot di luarnya, di dalamnya masih memakai pakaian cover all hingga menutupi kaki nyambung, kacamata goggle, penutup kepala, face shield (helm khusus pelindung wajah), dua lapis sarung tangan, sepatu boot yang saat keluar semuanya dibuang kecuali helm, kaca mata goggle dan sepatu boot bisa di-reuse. Dan tentu saja kami harus mandi dulu sebelum keluar ruang isolasi.

Maka, taruhlah jika ada empat orang pasien baru selain yang sudah ada, maka kami harus mandi plus keramas sepuluh kali seringnya. Itulah, akhirnya saya tak pernah mandi saat pagi-pagi berangkat dari rumah ke RS. Lebih lucu lagi, saat pertama kali memakai “seragam perang” itu, karena cemas dan nafas menjadi tak teratur, timbullah embun berlebih dalam kaca mata goggle saya, apapun di sekitar, sedikit pun tak terlihat. Jadilah saya sebuah patung seorang astronot, karena tak tahu harus bergerak ke mana.

Minggu-minggu ini, seakan sebuah deja vu. Saya kembali bergelut menangani wabah Covid-19 di RSUD Buleleng. Modal pengalaman ikut bekerja dalam team wabah flu babi dulu setidaknya telah membantu untuk beradaptasi terhadap rasa takut. Rasa yang selalu kita anak tirikan. Rasa yang jauh dari suasana ceria kebersamaan. Itulah mungkin kita begitu sulit mematuhi program social distancing dari pemerintah.

Padahal, jika kita mau memahami, pandemi ini sangat efektif dibasmi hanya dengan memutus rantai penularannya, bukan dengan obat-obatan, karena  obatnya memang tak pernah ada. Virus ini sesungguhnya sedemikian tak berdaya, hingga untuk bertahan hidup saja meminjam satu tubuh manusia ke tubuh yang lain. Ia hanya ingin lestari, sama seperti manusia. Dan membawa pesan, hadapilah rasa takut itu, sendirian, agar kita pun lestari. [T]

Tags: covid 19dokter
Share269TweetSendShareSend
Previous Post

Gugur Bunga – [Saat Corona Ingat Gatotkaca]

Next Post

Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja

Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co