2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertempuran Menghadapi Rasa Takut – [Sebuah Pengalaman Menangani Pasien Covid-19]

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 29, 2020
in Esai
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

“Kelahiran dan kematian, kita tak pernah adil untuk keduanya. Meski keduanya adalah sebuah keniscayaan.” (Merayakan Ingatan, Mahima 2019)

___

Teori Infeksi dan Anomalinya

Saat ini kita semua terkurung dalam gulag rasa takut kolektif yang mencekam dan tak satupun bisa memberi sebuah kabar baik yang meyakinkan. Kapan kita terbebas dari gulag yang kian menyesakkan ini? Sekalipun kami, para dokter yang paham teori penyakit infeksi dan secara langsung menangani pesien-pasien tersebut.

Sampai sekarang jumlah kasus positif di Bali adalah sembilan orang, dengan kematian dua orang, salah satunya WNA, seorang lansia yang sudah diketahui memiliki riwayat banyak penyakit kronis sebelumnya. Jika dicermati, kematian pada kasus Covid-19 terutama terjadi pada mereka yang memang telah memiliki “modal yang cukup” untuk kematiannya. Modal tersebut umumnya faktor usia lanjut, penyakit menahun sebelumnya seperti paru-paru, jantung, diabetes, kanker atau pada anak-anak.

Lalu kenapa kita sangat ngeri? Karena kita melihat keganasan wabah ini di negeri lain, saat ini terutama Italia yang telah membunuh ribuan warganya. Juga Iran, Korsel dan tentu saja China (kota Wuhan, propinsi Hubei) sebagai episentrum pandemi ini. Kita ngeri, karena seakan-akan, seharusnya, kita pun seburuk itu, atau bahkan lebih. Kita telah berperang, tak hanya melawan virus Corona yang tak kasat mata, pun bertempur menghadapi rasa takut kita sendiri yang juga tak tampak, namun lebih cepat mencekik ketimbang Covid-19 itu sendiri.

Namun ngeri itu bukanlah berada pada ruang kosong. Provokasinya sedemikian kuat, yaitu sebuah anomali. Indonesia yang sedemikian dekat dengan China, seakan-akan dilompati oleh wabah ini ke Italia atau Iran. Dekat karena, mobilitas masa kedua negeri yang kontak erat karena jalur penerbangan, TKW, pariwisata dan pendidikan mahasiswa Indonesia di China. Membingungkan karena kita percaya Italia adalah negara modern yang hebat dalam bidang medis dan sistem pelayanan kesehatannya, hieginitas masyarakatnya yang baik dan jumlah penduduknya yang tak sepadat Indonesia.

Anomali ini selalu menjadi mimpi buruk yang setiap saat akan menjadi kenyataan, saat kita terbangun dari tidur kita. Maka, baiklah mari kita tetap tidur saja dalam suasana social distancing sembari mengingat teori penyakit infeksi. Mugkin ini dapat menjelaskan anomali yang sesungguhnya alami itu. Infeksi akan terjadi saat tiga faktor ini terganggu keseimbangannya, yaitu host (inang), agent (kuman/virus Corona) dan lingkungan.

Kita, orang-orang Nusantara yang lebih terpapar antigen dibandingkan orang-orang yang “selalu bersih” sejak lahir, seperti Italia, dapat saja telah menimbulkan kekebalan alami lebih banyak dalam tubuh kita. Berurusan dengan banyak antigen jelas merupakan sebuah permainan berbahaya, bila tepat dosisnya ia bisa memberi kekebalan namun jika berlebihan ia tentu saja akan membunuh. Secara alami keadaan seperti ini akan terjadi pada negara-negara miskin yang padat penduduknya. Sir Charles Darwin menyebutnya sebagai survival for the fittest. Mungkin saja dekat dengan alam adalah sebuah peanrsahabat dengan virus.

Iklim (lingkungan) kita yang tropis, sinar surya yang berlimpah jelas menguntungkan. Ini merupakan desinfektan alami, terutama sinar ultra violet (UV) yang dipancarkannya. Telah diketahui pula, sinar matahari dapat memacu sistem imun dan tentu saja aktivasi vitamin D. Keduanya, meskipun tak secara langsung, akan menyulitkan invasi mikroorganisme patogen ke dalam tubuh.

Yang terakhir, virus itu sendiri. Akan takdirnya sebagai organisme hidup, ia berkepentingan akan kelestariannya. Entah kita suka atau tidak, ia punya kepentingannya sendiri, meski harus menjalani tugas pahit yang bernama mutasi. Coba pikirkan, maukah satupun di antara kita yang bermutasi? Mungkin saja kita tak ingin, namun percayalah, tanpa kita sadari, kita telah menjalaninya. Sudah tentu ini karena bumi yang tak lagi bersahabat, akibat alam yang telah kita cabik-cabik sendiri.

Melawan Virus dan Rasa Takut

Sekitar lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya pernah berhadapan dengan satu wabah bernama epidemi Swine flu atau flu babi. Hampir selama dua bulan lamanya saya “terbenam” dalam ruang isolasi infeksi RSUP Sanglah, Denpasar untuk menangani pasien-pasien lokal dan asing yang terindikasi mengidap flu babi. Ruang isolasi, modelnya saja sudah seperti ruang tahanan, merampas rasa bahagia kita. Itu ruangan kecil yang bertekanan negatif, agar virus yang keluar dari tubuh pasien memenuhi udara (airborne) atau menempel pada sarana medis di dalam ruangan (droplet) akan terserap semua dan binasa.

Jika masuk ke sana, kami harus mandi dulu, memakai pakaian model astronot di luarnya, di dalamnya masih memakai pakaian cover all hingga menutupi kaki nyambung, kacamata goggle, penutup kepala, face shield (helm khusus pelindung wajah), dua lapis sarung tangan, sepatu boot yang saat keluar semuanya dibuang kecuali helm, kaca mata goggle dan sepatu boot bisa di-reuse. Dan tentu saja kami harus mandi dulu sebelum keluar ruang isolasi.

Maka, taruhlah jika ada empat orang pasien baru selain yang sudah ada, maka kami harus mandi plus keramas sepuluh kali seringnya. Itulah, akhirnya saya tak pernah mandi saat pagi-pagi berangkat dari rumah ke RS. Lebih lucu lagi, saat pertama kali memakai “seragam perang” itu, karena cemas dan nafas menjadi tak teratur, timbullah embun berlebih dalam kaca mata goggle saya, apapun di sekitar, sedikit pun tak terlihat. Jadilah saya sebuah patung seorang astronot, karena tak tahu harus bergerak ke mana.

Minggu-minggu ini, seakan sebuah deja vu. Saya kembali bergelut menangani wabah Covid-19 di RSUD Buleleng. Modal pengalaman ikut bekerja dalam team wabah flu babi dulu setidaknya telah membantu untuk beradaptasi terhadap rasa takut. Rasa yang selalu kita anak tirikan. Rasa yang jauh dari suasana ceria kebersamaan. Itulah mungkin kita begitu sulit mematuhi program social distancing dari pemerintah.

Padahal, jika kita mau memahami, pandemi ini sangat efektif dibasmi hanya dengan memutus rantai penularannya, bukan dengan obat-obatan, karena  obatnya memang tak pernah ada. Virus ini sesungguhnya sedemikian tak berdaya, hingga untuk bertahan hidup saja meminjam satu tubuh manusia ke tubuh yang lain. Ia hanya ingin lestari, sama seperti manusia. Dan membawa pesan, hadapilah rasa takut itu, sendirian, agar kita pun lestari. [T]

Tags: covid 19dokter
Share269TweetSendShareSend
Previous Post

Gugur Bunga – [Saat Corona Ingat Gatotkaca]

Next Post

Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja

Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co