3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertempuran Menghadapi Rasa Takut – [Sebuah Pengalaman Menangani Pasien Covid-19]

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 29, 2020
in Esai
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

“Kelahiran dan kematian, kita tak pernah adil untuk keduanya. Meski keduanya adalah sebuah keniscayaan.” (Merayakan Ingatan, Mahima 2019)

___

Teori Infeksi dan Anomalinya

Saat ini kita semua terkurung dalam gulag rasa takut kolektif yang mencekam dan tak satupun bisa memberi sebuah kabar baik yang meyakinkan. Kapan kita terbebas dari gulag yang kian menyesakkan ini? Sekalipun kami, para dokter yang paham teori penyakit infeksi dan secara langsung menangani pesien-pasien tersebut.

Sampai sekarang jumlah kasus positif di Bali adalah sembilan orang, dengan kematian dua orang, salah satunya WNA, seorang lansia yang sudah diketahui memiliki riwayat banyak penyakit kronis sebelumnya. Jika dicermati, kematian pada kasus Covid-19 terutama terjadi pada mereka yang memang telah memiliki “modal yang cukup” untuk kematiannya. Modal tersebut umumnya faktor usia lanjut, penyakit menahun sebelumnya seperti paru-paru, jantung, diabetes, kanker atau pada anak-anak.

Lalu kenapa kita sangat ngeri? Karena kita melihat keganasan wabah ini di negeri lain, saat ini terutama Italia yang telah membunuh ribuan warganya. Juga Iran, Korsel dan tentu saja China (kota Wuhan, propinsi Hubei) sebagai episentrum pandemi ini. Kita ngeri, karena seakan-akan, seharusnya, kita pun seburuk itu, atau bahkan lebih. Kita telah berperang, tak hanya melawan virus Corona yang tak kasat mata, pun bertempur menghadapi rasa takut kita sendiri yang juga tak tampak, namun lebih cepat mencekik ketimbang Covid-19 itu sendiri.

Namun ngeri itu bukanlah berada pada ruang kosong. Provokasinya sedemikian kuat, yaitu sebuah anomali. Indonesia yang sedemikian dekat dengan China, seakan-akan dilompati oleh wabah ini ke Italia atau Iran. Dekat karena, mobilitas masa kedua negeri yang kontak erat karena jalur penerbangan, TKW, pariwisata dan pendidikan mahasiswa Indonesia di China. Membingungkan karena kita percaya Italia adalah negara modern yang hebat dalam bidang medis dan sistem pelayanan kesehatannya, hieginitas masyarakatnya yang baik dan jumlah penduduknya yang tak sepadat Indonesia.

Anomali ini selalu menjadi mimpi buruk yang setiap saat akan menjadi kenyataan, saat kita terbangun dari tidur kita. Maka, baiklah mari kita tetap tidur saja dalam suasana social distancing sembari mengingat teori penyakit infeksi. Mugkin ini dapat menjelaskan anomali yang sesungguhnya alami itu. Infeksi akan terjadi saat tiga faktor ini terganggu keseimbangannya, yaitu host (inang), agent (kuman/virus Corona) dan lingkungan.

Kita, orang-orang Nusantara yang lebih terpapar antigen dibandingkan orang-orang yang “selalu bersih” sejak lahir, seperti Italia, dapat saja telah menimbulkan kekebalan alami lebih banyak dalam tubuh kita. Berurusan dengan banyak antigen jelas merupakan sebuah permainan berbahaya, bila tepat dosisnya ia bisa memberi kekebalan namun jika berlebihan ia tentu saja akan membunuh. Secara alami keadaan seperti ini akan terjadi pada negara-negara miskin yang padat penduduknya. Sir Charles Darwin menyebutnya sebagai survival for the fittest. Mungkin saja dekat dengan alam adalah sebuah peanrsahabat dengan virus.

Iklim (lingkungan) kita yang tropis, sinar surya yang berlimpah jelas menguntungkan. Ini merupakan desinfektan alami, terutama sinar ultra violet (UV) yang dipancarkannya. Telah diketahui pula, sinar matahari dapat memacu sistem imun dan tentu saja aktivasi vitamin D. Keduanya, meskipun tak secara langsung, akan menyulitkan invasi mikroorganisme patogen ke dalam tubuh.

Yang terakhir, virus itu sendiri. Akan takdirnya sebagai organisme hidup, ia berkepentingan akan kelestariannya. Entah kita suka atau tidak, ia punya kepentingannya sendiri, meski harus menjalani tugas pahit yang bernama mutasi. Coba pikirkan, maukah satupun di antara kita yang bermutasi? Mungkin saja kita tak ingin, namun percayalah, tanpa kita sadari, kita telah menjalaninya. Sudah tentu ini karena bumi yang tak lagi bersahabat, akibat alam yang telah kita cabik-cabik sendiri.

Melawan Virus dan Rasa Takut

Sekitar lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya pernah berhadapan dengan satu wabah bernama epidemi Swine flu atau flu babi. Hampir selama dua bulan lamanya saya “terbenam” dalam ruang isolasi infeksi RSUP Sanglah, Denpasar untuk menangani pasien-pasien lokal dan asing yang terindikasi mengidap flu babi. Ruang isolasi, modelnya saja sudah seperti ruang tahanan, merampas rasa bahagia kita. Itu ruangan kecil yang bertekanan negatif, agar virus yang keluar dari tubuh pasien memenuhi udara (airborne) atau menempel pada sarana medis di dalam ruangan (droplet) akan terserap semua dan binasa.

Jika masuk ke sana, kami harus mandi dulu, memakai pakaian model astronot di luarnya, di dalamnya masih memakai pakaian cover all hingga menutupi kaki nyambung, kacamata goggle, penutup kepala, face shield (helm khusus pelindung wajah), dua lapis sarung tangan, sepatu boot yang saat keluar semuanya dibuang kecuali helm, kaca mata goggle dan sepatu boot bisa di-reuse. Dan tentu saja kami harus mandi dulu sebelum keluar ruang isolasi.

Maka, taruhlah jika ada empat orang pasien baru selain yang sudah ada, maka kami harus mandi plus keramas sepuluh kali seringnya. Itulah, akhirnya saya tak pernah mandi saat pagi-pagi berangkat dari rumah ke RS. Lebih lucu lagi, saat pertama kali memakai “seragam perang” itu, karena cemas dan nafas menjadi tak teratur, timbullah embun berlebih dalam kaca mata goggle saya, apapun di sekitar, sedikit pun tak terlihat. Jadilah saya sebuah patung seorang astronot, karena tak tahu harus bergerak ke mana.

Minggu-minggu ini, seakan sebuah deja vu. Saya kembali bergelut menangani wabah Covid-19 di RSUD Buleleng. Modal pengalaman ikut bekerja dalam team wabah flu babi dulu setidaknya telah membantu untuk beradaptasi terhadap rasa takut. Rasa yang selalu kita anak tirikan. Rasa yang jauh dari suasana ceria kebersamaan. Itulah mungkin kita begitu sulit mematuhi program social distancing dari pemerintah.

Padahal, jika kita mau memahami, pandemi ini sangat efektif dibasmi hanya dengan memutus rantai penularannya, bukan dengan obat-obatan, karena  obatnya memang tak pernah ada. Virus ini sesungguhnya sedemikian tak berdaya, hingga untuk bertahan hidup saja meminjam satu tubuh manusia ke tubuh yang lain. Ia hanya ingin lestari, sama seperti manusia. Dan membawa pesan, hadapilah rasa takut itu, sendirian, agar kita pun lestari. [T]

Tags: covid 19dokter
Share269TweetSendShareSend
Previous Post

Gugur Bunga – [Saat Corona Ingat Gatotkaca]

Next Post

Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja

Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co