22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertempuran Menghadapi Rasa Takut – [Sebuah Pengalaman Menangani Pasien Covid-19]

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 29, 2020
in Esai
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

“Kelahiran dan kematian, kita tak pernah adil untuk keduanya. Meski keduanya adalah sebuah keniscayaan.” (Merayakan Ingatan, Mahima 2019)

___

Teori Infeksi dan Anomalinya

Saat ini kita semua terkurung dalam gulag rasa takut kolektif yang mencekam dan tak satupun bisa memberi sebuah kabar baik yang meyakinkan. Kapan kita terbebas dari gulag yang kian menyesakkan ini? Sekalipun kami, para dokter yang paham teori penyakit infeksi dan secara langsung menangani pesien-pasien tersebut.

Sampai sekarang jumlah kasus positif di Bali adalah sembilan orang, dengan kematian dua orang, salah satunya WNA, seorang lansia yang sudah diketahui memiliki riwayat banyak penyakit kronis sebelumnya. Jika dicermati, kematian pada kasus Covid-19 terutama terjadi pada mereka yang memang telah memiliki “modal yang cukup” untuk kematiannya. Modal tersebut umumnya faktor usia lanjut, penyakit menahun sebelumnya seperti paru-paru, jantung, diabetes, kanker atau pada anak-anak.

Lalu kenapa kita sangat ngeri? Karena kita melihat keganasan wabah ini di negeri lain, saat ini terutama Italia yang telah membunuh ribuan warganya. Juga Iran, Korsel dan tentu saja China (kota Wuhan, propinsi Hubei) sebagai episentrum pandemi ini. Kita ngeri, karena seakan-akan, seharusnya, kita pun seburuk itu, atau bahkan lebih. Kita telah berperang, tak hanya melawan virus Corona yang tak kasat mata, pun bertempur menghadapi rasa takut kita sendiri yang juga tak tampak, namun lebih cepat mencekik ketimbang Covid-19 itu sendiri.

Namun ngeri itu bukanlah berada pada ruang kosong. Provokasinya sedemikian kuat, yaitu sebuah anomali. Indonesia yang sedemikian dekat dengan China, seakan-akan dilompati oleh wabah ini ke Italia atau Iran. Dekat karena, mobilitas masa kedua negeri yang kontak erat karena jalur penerbangan, TKW, pariwisata dan pendidikan mahasiswa Indonesia di China. Membingungkan karena kita percaya Italia adalah negara modern yang hebat dalam bidang medis dan sistem pelayanan kesehatannya, hieginitas masyarakatnya yang baik dan jumlah penduduknya yang tak sepadat Indonesia.

Anomali ini selalu menjadi mimpi buruk yang setiap saat akan menjadi kenyataan, saat kita terbangun dari tidur kita. Maka, baiklah mari kita tetap tidur saja dalam suasana social distancing sembari mengingat teori penyakit infeksi. Mugkin ini dapat menjelaskan anomali yang sesungguhnya alami itu. Infeksi akan terjadi saat tiga faktor ini terganggu keseimbangannya, yaitu host (inang), agent (kuman/virus Corona) dan lingkungan.

Kita, orang-orang Nusantara yang lebih terpapar antigen dibandingkan orang-orang yang “selalu bersih” sejak lahir, seperti Italia, dapat saja telah menimbulkan kekebalan alami lebih banyak dalam tubuh kita. Berurusan dengan banyak antigen jelas merupakan sebuah permainan berbahaya, bila tepat dosisnya ia bisa memberi kekebalan namun jika berlebihan ia tentu saja akan membunuh. Secara alami keadaan seperti ini akan terjadi pada negara-negara miskin yang padat penduduknya. Sir Charles Darwin menyebutnya sebagai survival for the fittest. Mungkin saja dekat dengan alam adalah sebuah peanrsahabat dengan virus.

Iklim (lingkungan) kita yang tropis, sinar surya yang berlimpah jelas menguntungkan. Ini merupakan desinfektan alami, terutama sinar ultra violet (UV) yang dipancarkannya. Telah diketahui pula, sinar matahari dapat memacu sistem imun dan tentu saja aktivasi vitamin D. Keduanya, meskipun tak secara langsung, akan menyulitkan invasi mikroorganisme patogen ke dalam tubuh.

Yang terakhir, virus itu sendiri. Akan takdirnya sebagai organisme hidup, ia berkepentingan akan kelestariannya. Entah kita suka atau tidak, ia punya kepentingannya sendiri, meski harus menjalani tugas pahit yang bernama mutasi. Coba pikirkan, maukah satupun di antara kita yang bermutasi? Mungkin saja kita tak ingin, namun percayalah, tanpa kita sadari, kita telah menjalaninya. Sudah tentu ini karena bumi yang tak lagi bersahabat, akibat alam yang telah kita cabik-cabik sendiri.

Melawan Virus dan Rasa Takut

Sekitar lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya pernah berhadapan dengan satu wabah bernama epidemi Swine flu atau flu babi. Hampir selama dua bulan lamanya saya “terbenam” dalam ruang isolasi infeksi RSUP Sanglah, Denpasar untuk menangani pasien-pasien lokal dan asing yang terindikasi mengidap flu babi. Ruang isolasi, modelnya saja sudah seperti ruang tahanan, merampas rasa bahagia kita. Itu ruangan kecil yang bertekanan negatif, agar virus yang keluar dari tubuh pasien memenuhi udara (airborne) atau menempel pada sarana medis di dalam ruangan (droplet) akan terserap semua dan binasa.

Jika masuk ke sana, kami harus mandi dulu, memakai pakaian model astronot di luarnya, di dalamnya masih memakai pakaian cover all hingga menutupi kaki nyambung, kacamata goggle, penutup kepala, face shield (helm khusus pelindung wajah), dua lapis sarung tangan, sepatu boot yang saat keluar semuanya dibuang kecuali helm, kaca mata goggle dan sepatu boot bisa di-reuse. Dan tentu saja kami harus mandi dulu sebelum keluar ruang isolasi.

Maka, taruhlah jika ada empat orang pasien baru selain yang sudah ada, maka kami harus mandi plus keramas sepuluh kali seringnya. Itulah, akhirnya saya tak pernah mandi saat pagi-pagi berangkat dari rumah ke RS. Lebih lucu lagi, saat pertama kali memakai “seragam perang” itu, karena cemas dan nafas menjadi tak teratur, timbullah embun berlebih dalam kaca mata goggle saya, apapun di sekitar, sedikit pun tak terlihat. Jadilah saya sebuah patung seorang astronot, karena tak tahu harus bergerak ke mana.

Minggu-minggu ini, seakan sebuah deja vu. Saya kembali bergelut menangani wabah Covid-19 di RSUD Buleleng. Modal pengalaman ikut bekerja dalam team wabah flu babi dulu setidaknya telah membantu untuk beradaptasi terhadap rasa takut. Rasa yang selalu kita anak tirikan. Rasa yang jauh dari suasana ceria kebersamaan. Itulah mungkin kita begitu sulit mematuhi program social distancing dari pemerintah.

Padahal, jika kita mau memahami, pandemi ini sangat efektif dibasmi hanya dengan memutus rantai penularannya, bukan dengan obat-obatan, karena  obatnya memang tak pernah ada. Virus ini sesungguhnya sedemikian tak berdaya, hingga untuk bertahan hidup saja meminjam satu tubuh manusia ke tubuh yang lain. Ia hanya ingin lestari, sama seperti manusia. Dan membawa pesan, hadapilah rasa takut itu, sendirian, agar kita pun lestari. [T]

Tags: covid 19dokter
Share269TweetSendShareSend
Previous Post

Gugur Bunga – [Saat Corona Ingat Gatotkaca]

Next Post

Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja

Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co