24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu, Kau Menyesal Mengandungku?

Satria Aditya by Satria Aditya
March 16, 2020
in Cerpen
Ibu, Kau Menyesal Mengandungku?

Cerpen: Satria Aditya

Hari sudah nampak gelap, lampu-lampu di depan rumah sudah dimatikan. Beberapa anjing nampak berkeliaran seperti saling menyapa anjing-anjing lainnya. Di sudut gang nampak seorang wanita muda yang tertunduk lesu dengan raut wajah pucat dan air mata yang terus mengalir, ia berdiri di bawah lampu jalan yang remang. Ia masih menangis, kakinya kotor entah dari mana. Ia terus saja menangis sampai kakinya gemetar dan tersungkur di bawah tiang lampu itu.

Beberapa waktu sebelumnya, nampak seorang lelaki menemuinya di depan rumah kontrakan. Entah apa yang mereka bicarakan, namun nadanya sangat tinggi sampai si wanita itu menangis sejadi-jadinya. Lalu, mereka pergi ke suatu tempat.

Di sudut kota, sangat dekat dengan laut. Mereka berhenti di suatu tempat yang sangat kotor, bau dan belatung di mana-mana. Plastik, dedaunan sampai bangkai ada di sana. Wanita itu lalu membuang sebuah kantong plastik dengan darah yang memenuhi kantong plastik itu. Baunya sangat amis. Dengan raut muka yang sangat pucat dan air mata yang terus membasahi pipi wanita itu sejak tadi.

Pria itu langsung mengajaknya pergi dari tempat itu dengan kecepatan motornya yang sangat kencang. Lalu, wanita itu ditinggalkan di depan gang yang sudah sunyi tak ada orang atau kendaraan yang lalu lalang. Hanya ada suara lolongan anjing dari kejauhan. Wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sedangkan pria itu pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata.

Wanita itu masih saja duduk tersungkur di bawah tiang lampu. Dengan tubuh yang sudah tampak lemas wanita itu berusaha berdiri namun tetap saja tersungkur kembali. Ia mencoba kembali, sampai akhirnya ia bangun dan berjalan ke rumahnya dengan tubuh yang masih gemetar. Anjing-anjing di sana menggonggong wanita itu, tetapi ia tidak menghiraukan sama sekali. Sampai di rumahnya, wanita itu kembali tersungkur di atas kasurnya dan kembali menangis sejadi-jadinya. Tiba- tiba saja dengan tidak sadar wanita itu tertidur pulas setelah tangisnya yang tak kunjung selesai.

Di tengah pulasnya, seseorang mengetuk pintu dari luar.

“Siapa?” tanya wanita itu sedikit ragu. Ia berjalan pelan menuju pintu.

Pintu masih terketuk, tapi tidak ada siapapun yang menjawab pertanyaan wanita itu. Ia lantas gemetar, ada sekelebat bayangan dipikirannya; antara itu maling atau pria yang mengajaknya ke tempat dimana bangkai, belatung dan sampah-sampah busuk bercampur menjadi satu. Wanita itu kian takut, tangannya gemetar untuk membukakan pintu.

“Si.. si.. siapa?” Wanita itu terbata-bata.

Dengan tangan gemetar wanita itu memberanikan diri membukakan pintu. Seorang anak dengan tubuh yang kotor dan penuh lumpur dengan muka yang sangat pucat berdiri di depan pintu. Darah melekat di sekujur tubuhnya dan tali pusar yang masih melekat.

“Kau siapa?” tanya wanita itu dengan tubuh gemetar.

“I…buu… ibuu..”  anak itu menjawab lirih.

Kakinya lemas seperti mati rasa, ia tak bisa melakukan apapun, wanita itu  jatuh tersungkur ke lantai. Menangis, hanya itu yang bisa dilakukannya.

“Kenapa, Bu? Kenapa kau membuangku di tempat itu?”

Wanita itu semakin ketakutan, ia terus menangis dan tubuhnya membeku. Ingin sekali wanita itu berkata, tapi tak sepatah kata pun bisa terucap dari bibirnya. Mulutnya seperti dibekap oleh tangan yang sangat besar.

“Ibu…, aku anakmu, yang kau buang di tempat pembuang sampah yang besar di sudut kota itu, Bu, tepat setelah kau meminta maaf padaku. Bu, kenapa kau membuangku? Apa kau tidak menyayangiku? Kau menyesal telah mengandungku, Bu?” lanjut anak itu sembari mendekatinya.

Rasa bersalah seperti menampar di kiri kanan wajahnya. Ia semakin ketakutan melihat anak itu mendekatinya. Tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali—tangisnya semakin menjadi-jadi. Sampai anak itu memegang tangannya dan duduk di depannya.

“Bu, sayangi aku. Aku belum sempat memeluk dan menyayangi kau, Bu.” Katanya sambil melihat wajah wanita itu.

“Maafkan aku,” jawabnya lirih sembari menundukkan kepalanya.

Tangan wanita itu masih gemetar merasakan begitu dinginnya tangan anak itu. Ia menghela nafas lalu mencoba berbicara dengan anak itu.

Wanita itu menatap wajah anak itu. Ia menangis dan memberanikan diri mengusap wajah anak itu. Anak itu tersenyum, seperti menunjukkan giginya yang hanya satu dan matanya yang sipit karena tersenyum.

“Maafkan aku. Aku menyayangimu. Aku tidak bermaksud membuangmu di tempat busuk itu. Anjing busuk yang tidak mau bertanggung jawab itu yang tak ingin kau dilahirkan!” Sambil menangis ia memeluk tubuh anak itu.

“Aku tahu, Bu. Aku tahu semuanya. Aku bisa melihatmu, meskipun masih menjadi gumpalan darah di rahimmu.”

“Kau tau betapa sakitnya aku harus membuangmu? Aku tahu perbuatanku itu salah. Dia mengajakku ke rumahnya. Aku terhasut rayuan, kedua mata dan telingaku seakan ditutup oleh cinta, oleh sesuatu yang begitu indah di bayanganku. Hingga aku tak bisa menolaknya.”

“Bu, jangan menyesal.  Itu adalah perbuatanmu. Aku tahu kau menyayangiku, sampai tubuhmu memar untuk mempertahankanku. Bu, aku akan selalu menyayangimu. Walaupun kau terpaksa membuangku di tempat yang tak semestinya.”

Wanita itu masih memeluk erat tubuh anak itu. Ia masih menangis dan penyesalan yang tak akan pernah ia lupakan dalam hidupnya adalah telah membuang orok yang belum sempat merasakan kebahagiaan pelukan ibu.

“Anakku, maafkan ibumu ini. Sampai kapanpun aku tak akan pernah berhenti menyesal. Kau anak laki-laki yang sangat manis. Entah kau tidak dilahirkan atau dilahirkanpun aku akan tetap menyayangimu.”

“Bu, aku akan datang setiap hari. Memelukmu, tidur di sampingmu dan menjagamu, Bu.”

“Maafkan aku, maafkan aku!” Ia mengulang kata itu beberapa kali sembari menangis semakin keras.

Ketika wanita itu membuka matanya, anak itu telah menghilang dari pelukannya. Wanita itu kebingungan, matanya bergerak ke berbagai arah memastikan ke mana anak itu. Wanita itu menangis terus menerus seperti air matanya tak akan pernah habis-habis. Tiba-tiba wanita itu terbangun, menangis setiap memimpikan hal yang sama. Penyesalan seperti jalan panjang yang tak pernah ada ujung pangkal yang selalu menghampirinya, di setiap hari yang ia lewati.

Sesekali ia seperti menimang sambil tertawa lalu menangis kembali lalu seperti menyusui lalu menangis kembali lalu bernyanyi-nyanyi lalu menangis kembali lalu, begitu seterusnya. [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
Share52TweetSendShareSend
Previous Post

Prank

Next Post

Penguatan Bahasa Nasional Indonesia di Era Disrupsi: Dominasi, Infiltrasi dan Dialogisasi

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Penguatan Bahasa Nasional Indonesia di Era Disrupsi: Dominasi, Infiltrasi dan Dialogisasi

Penguatan Bahasa Nasional Indonesia di Era Disrupsi: Dominasi, Infiltrasi dan Dialogisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co