23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dermaga Tua Banjar Nyuh di Nusa Penida: Gagal Melabuhkan Kapal, Sukses Melabuhkan Cinta

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
March 10, 2020
in Opini
Dermaga Tua Banjar Nyuh di Nusa Penida: Gagal Melabuhkan Kapal, Sukses Melabuhkan Cinta

Dermaga Banjar Nyuh Nusa Penida [Foto: Serawan]

Sebagai daerah kepulauan, salah satu impian masyarakat Nusa Penida (sejak lama) sesungguhnya ialah pelabuhan modern. Pelabuhan yang mampu menyandarkan kapal besar sekelas ferry atau roro. Sebab, sebelumnya NP hanya memiliki pelabuhan tradisional dengan mengandalkan transportasi perahu atau jukung. Bisa dibayangkan bukan biayanya? Naik turun di darat dan di laut, serba ada ongkosnya. Ujung-ujungnya, harga barang di NP bisa mencapai dua kali lipat lebih dari Bali daratan. Kalau dengan kapal besar, tentu harga barang relatif murah, kan?

Sayangnya, impian pelabuhan modern mungkin terlalu mahal bagi masyarakat NP. Pasalnya, APBD Klungkung (dulu) relatif sangat rendah. Belum lagi, cara pandang masyarakat dari daratan yang mengganggap masyarakat NP sebagai kelas dua. Akibatnya, kebijakan Pemda Klungkung (dulu) seringkali deskriminatif terhadap pembangunan di NP. Cara pandang ini berlangsung cukup lama.

Namun entah kenapa, tahun 1992, Pemda Klungkung (era Bupati Tjokorda Gde Agung) berbaik hati. Impian tentang pelabuhan modern terwujud. Untuk pertama kalinya, Pemda Klungkung membangun dermaga kapal di NP. Tepatnya, di Banjar Nyuh, Desa Ped. Saya tidak tahu, apakah ini sebagai wujud rasa kasihan, pencintraan, atau murni komitmen memajukan NP? Entahlah. Yang jelas, Dermaga Banjar Nyuh (sebutannya) membentang panjang kurang lebih 150 m menjorok ke laut. Dermaga inilah yang semula ingin dijadikan starter bagi masyarakat NP untuk keluar dari kondisi terisolir secara perlahan-lahan.

Namun sayang, mimpi hanya tinggal mimpi. Dermaga tersebut tak bisa difungsikan dengan maksimal. Dermaga Banjar Nyuh (DBN) tak mampu melabuhkan kapal, karena arus laut di seputar dermaga begitu kuat. Padamlah mimpi masyarakat NP. BDN hanya mampu menjulurkan diri, tetapi tak mampu menjinakkan kapal. “Sia-sia,” itulah kata singkat yang sering diucapkan oleh masyarakat NP. Selanjutnya, dapat dibaca. BDN dibiarkan terbelengkai dan tak mampu menarik kepedulian bupati-bupati berikutnya.

Memasuki tahun 2007, impian kedua datang kembali. Di bawah kepimpinan Bupati Chandra, NP kembali dihadiahi pelabuhan modern (kapal besar). Bukan di Banjar Nyuh, melainkan di Sampalan. Namanya Pelabuhan Penyeberangan Nusa Penida. Pelabuhan ini dilengkapi dengan pemecah gelombang (breakwater) sehingga aman bagi kapal untuk berlabuh. Namun, masalah muncul ketika Klungkung daratan tidak memiliki pelabuhan yang representatif. Akibatnya, kapal Roro Nusa Jaya Abadi harus berlabuh di Padang Bay (Karangasem) dengan status dermaga pinjaman.

Dengan bodi yang mungil (kecil) dan status dermaga pinjaman (di Bali daratan) membuat trip kapal roro milik Pemda Klungkung ini menjadi sangat terbatas. Hingga sekarang, kapal ini belum mampu mengakomodir jumlah sirkulasi kendaraan dan barang terutama dari Bali daratan ke NP dengan optimal. Antrian kendaraan (dengan muatan) di Padang Bay menuju NP bukan cerita baru. Lalu, sampai kapan cerita antrian ini akan berakhir?

Mungkin menunggu pelabuhan eks galian C Klungkung difungsikan. Kalau yang ini, saya tidak berani berargumentasi. Sebab, pelabuhan eks galian C ini sangat seru di tataran perdebatan kaum elit. Pelabuhannya sudah ada, tetapi saling lempar tanggung jawab masih seru hingga sekarang. Terus terang, saya tidak tahu ujung pangkal masalahnya. Pun saya tidak tahu siapa yang benar atau menang. Namun, saya pasti tahu siapa yang kalah. Ya, masyarakat, terutama masyarakat NP.

Dibandingkan dengan DBN, Pelabuhan Penyeberangan Nusa Penida jelas lebih sukseslah. Setidaknya, Pelabuhan Penyeberangan Nusa Penida mampu melabuhkan kapal dengan aman. Ia mampu difungsikan secara normal. Sebaliknya, Pelabuhan DBN adalah pelabuhan mandul. Inilah yang mungkin disebut sebagai pembangunan yang teledor. Besar kemungkinan, kurang melalui kajian yang matang.

Gagal Melabuhkan Kapal, Sukses Melabuhkan Cinta

Konsekuensinya, DBN gagal sebagai pelabuhan. Karena itu, masyarakat setempat justru memanfaatkan dermaga ini sebagai tempat memancing, kegiatan (musiman) upacara keagamaan yaitu nganyut atau prosesi melarungkan sebagai rangkaian ngaben, nongkrong, dan terutama tempat pacaran.

Tahun 1990-an hingga 200-an, sebelum pariwisata melejit di NP, DBN menjadi titik senter berkumpulnya para muda-mudi, baik dari wilayah timur, barat dan selatan Pulau NP. Tak ada tongkrongan yang paling keren pada waktu itu, selain DBN.

Seingat saya, setiap Galungan dan Kuningan terutama umanisnya, DBN menjadi serbuan muda-mudi dari berbagai arah, yang ganteng-cantik dan dengan bau parfum yang khas. Karena itu, setiap umanis Galungan dan Kuningan, DBN sesak oleh muda-mudi mulai dari pangkal hingga ujung jembatan. Biasanya, pemandangan ini terlihat pada sore hari hingga malam. Para jomblo mencari pasangan, sedangkan yang sudah punya pasangan memadu cinta di tempat ini.

Apa menariknya DBN bagi muda-mudi NP? Secara geografis, DBN cukup strategis. Ia sangat mudah dijangkau dari berbagai belahan pulau di NP. Kedua, DBN kondusif dan nyaman karena cukup jauh dari pemukiman warga. Ketiga, memiliki panorama yang eksotis. Dari depan (barat), tampak hutan bakau di Pulau Nusa Lembongan—dan sekaligus tempat sajian sunset yang eksotis. Depan agak barat (BD), mengalir air laut yang mirip sungai membelah daratan NP dan Pulau Nusa Ceningan. Sebelah selatan, menjulang tinggi puncak Bukit Mundi. Sedangkan, sebelah utara membentang lautan dengan barisan pegunungan dan perbukitan di Bali daratan. Sementara, di sekelilingnya terdengar gemericik air laut dan sesekali debur ombak yang menghantam badan dermaga dan bibir pantai.

Latar belakang inilah, yang menguatkan kesan romantisme di DBN. Tidak salah jika muda-mudi memilih tempat ini sebagai tempat sekadar mencari kenalan, nongkrong-nongkrong, maupun pacaran. Jika dihitung jumlah yang jadian hingga ke pelaminan, mungkin jumlahnya banyak. Anda mungkin salah satunya? Ayo, ngaku, nggak?

Jadi, walaupun gagal menjalani peran sebagai dermaga pelabuhan, tetapi DBN cukup sukses menjembati rasa cinta para muda-mudi di NP. Prestasi kecil ini tentu saja tak perlu legitimasi. Tak perlu piagam atau trofi penghargaan. Nanti malah menjadi serem. Ya, nggak? Masak ada kategori penghargaan “Dermaga Paling Sukses Melabuhkan Cinta”. Ah, ada-ada saja. Tentu akan membuat orang-orang menjadi senyum-senyum sendiri mendengarnya.

Meski bukan penghargaan yang sah, mungkin apresiasi secara lisan pantas kita sematkan kepada DBN. Ya, karena setidaknya dapat diberdayakan oleh masyarakat lokal sebagai pelabuhan cinta walaupun bersifat musiman. Namun, sukses membuat pasangan muda-mudi NP menuju pelaminan. Puncaknya pada era 200-an. Setelah itu, prestasi ini terus menurun seiring dengan melejitnya pariwisata di NP.

Ketika pariwisata berkembang, pemanfaatan DBN sebagai tempat nongkrong kian meredup. DBN menjadi sepi dari tongkrongan anak muda. Muda-mudi NP sekarang lebih memilih nongkrong di objek-objek wisata terkenal, misalnya Crystal Bay, Kelingking Beach, Atuh Beach dan lain-lainnya.

Seiring dengan usia yang semakin menua, DBN kian mengalami kesepian. DBN telah kehilangan pamor untuk menarik hati muda-mudi milenial. Mungkin karena anak muda merasa gengsi atau daya tarik BDN yang memang kalah dengan objek wisata-wisata yang ada di NP. Di tengah kesepiannya, justru muncul jembatan-jembatan ponton baru sebagai tempat melabuhkan Fast Boat yang mengantar para wisatawan. Efeknya, DBN malah dijadikan tempat parkir roda empat ketika hendak menjemput atau setelah mengantar para wisatawan.

Kini keberadaan BDN, juga cukup mengkhawatirkan. Besi pada ujung dermaga (yang berbentuk L) sudah mengalami kerenggangan (retak). Semoga cinta anak muda era 90-an dan 2000-an tidak ikut-ikutan renggang, ya! Apalagi sampai bercerai-berai. Nggaklah!

Justru saya berharap cintanya makin kukuh dan mantap. Karena ada isu bahwa  DBN akan direnovasi. Isu ini saya dapatkan dari salah satu petugas Dinas Perhubungan setempat. Konon, DBN akan direnovasi dan dirancang menjadi pelabuhan satu pintu di NP. Semua transportasi laut di NP akan dikondisikan di tempat ini. Entah kapan? Saya tidak tahu. Terus, Pelabuhan Penyeberangan Nusa Penida diapain?

Tidak usah bingung dengan perubah-perubahan tersebut. Biarkan waktu yang akan menjawab semua itu. Yang penting cinta kalian (terutama anak muda era 90-an/ 200-an) tidak pernah berubah, ya! Tetap langgeng sampai kakek-nenek. Heh! [T]

Tags: KlungkungNusa PenidaPariwisata
Share561TweetSendShareSend
Previous Post

Sebuah Karya Seni dari Guwang untuk Rimba Kalimantan

Next Post

Wayang

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Kekuasaan

Wayang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co