6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
February 1, 2020
in Esai
Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Foto ilustrasi dari penulis

Sejak 2019 lalu, Februari bagi masyarakat Bali bukan sekadar bulan berhari 28 atau 29. Bulan penentu tahun kabisat ini telah dipilih Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali sebagai bulan memperingati bahasa Bali –meski hanya memperingati, sewajarnya ia dapat digunakan untuk berpesta, dalam tataran formal maupun nonformal.

Di tahun perdana penetapan Peringatan Bulan Bahasa Bali, berbagai acara terkait upaya pelestarian, pemertahanan, dan pengembangan bahasa Bali dihelat. Bahkan, Gubernur Koster turun langsung nyastra, menulis aksara Bali di atas daun lontar. Sementara, di tahun 2020 peringatan digelar semakin dahsyat. Peringatan dilaksanakan sebulan penuh dengan berbagai kegiatan, mulai dari lomba, workshop, hingga diskusi.

Entitas bahasa, aksara, dan sastra Bali di era kepemimpinan Gubernur-Wakil Gubernur Bali, Koster-Ace, memang mendapat banyak perhatian. Kehadiran Peraturan Gubernur (Pergub) 80/2018 menjadi monumen cukup penting dalam upaya tersebut. Melalui pergub ini bahasa Bali diarahkan dapat digunakan sebagai sarana komunikasi hingga ke ruang-ruang formal. Tentunya, hanya pada hari-hari tertentu.

Kepada aksara Bali, pergub ini mengamanatkan agar setiap institusi pemerintah maupun swasta di Bali wajib memasang aksara Bali pada papan namanya. Tempatnya harus di atas aksara Latin, besarnya juga harus sama. Konon, ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mencipta aksara Bali. Penciptaan aksara ini bukan perkara gampang, sebab dari 600-an bahasa daerah di Indonesia, yang memiliki aksara hanya sebagian kecil.

Nasib sastra Bali di tangan gubernur asal Sembiran juga tak kalah mengembirakan. Sastra dan sastrawan Bali setahun belakangan lebih banyak diberikan ruang untuk tumbuh, termasuk dalam Festival Seni Bali Jani 2019. Dalam bidang penerbitan buku sastra Bali, melalui proses kurasi yang dilakukan Prof. Darma Putra (Universitas Udayana) untuk Penghargaan Sastra Rancage 2019, tercatat ada 13 buku sastra Bali terbit sepanjang tahun.

Melihat upaya-upaya itu, perlu sekiranya kita mengangkat topi kepada pemerintah atas segala usahanya. Namun, membanggakan berlebihan sama dengan racun. Nalar harus terus menakar dan mengakar, berupaya bersama agar apa yang dilakukan ke depan semakin baik dan mengembang.

Tentang Etis

Menyoal penggunaan bahasa Bali era ini, saya mendapati dua cabang kemungkinan. Dalam lingkar pergaulan yang saya hadapi, pada satu sisi saya melihat bahasa Bali semakin tertata dan semakin percaya diri digunakan. Namun, di sisi yang lain saya melihat ada kosakata yang terhimpit, lantaran adanya standar anggah-ungguhing basa Bali.

Lingkungan kelahiran saya adalah kawasan pegunungan yang eksis dengan dialek Bali Aga. Salah satu karakter awalnya, tak banyak klaster kata. Saya masih ingat betul, ketika masih kecil, kata-kata yang mendapat predikat sebagai kata kasar dalam ranah bahasa Bali “baku” seperti ngamah ‘makan’, mamecek ‘tidur’, poles ‘tidur’, dan lain-lain sangat biasa digunakan dalam percakapan.

Lantaran dianggap kasar, kata-kata ini kini menjadi tabu untuk digunakan. Mereka tampak kalah bersaing seiring adanya mitos etika komunikasi yang diproduksi melalui hubungan dengan masyarakat Bali yang lebih luas. Persoalan etis juga diproduksi melalui pendidikan yang diterima anak-anak kami sedari kecil. Alhasil, jika sekarang seorang anak berujar, poles malu ma! ‘tidur dulu sana’, orang tuanya akan turun tangan melarangnya dengan segera. Terlebih, jika kalimat itu keluar dalam keramaian.

Kegelisahan saya tentang kata-kata terhimpit itu semakin meluas. Dalam pengamatan saya, kata-kata yang semakin jarang digunakan telah merasuk pada sejumlah kata yang menjadi ciri khas daerah kami, yakni kata ganti oke dan bee.

Oke adalah kata ganti untuk orang pertama tunggal, sedangkan bee digunakan untuk kata ganti orang kedua tunggal. Keduanya sangat khas di daerah saya. Saking khasnya, kedua kata ini sering digunakan bahan lelucon, entah dalam panggung bebondresan, maupun dalam ranah pertemanan.

Oke-bee mulai tampak semakin jarang digunakan dalam pergaulan, meskipun dalam komunikasi antar personal yang sepadan. Jika membandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, kadarnya tampak menurun. Mungkin saya salah melihat, atau jangan-jangan lingkungan pergaulan saya yang justru mendesrupsi kata itu.

Penyebabnya kembali terkait persoalan etis. Penggunakan kata oke-bee dalam paradigma masyarakat saat ini dipandang tak cukup sopan. Hal ini didukung dengan semakin banyak orang di desa saya yang mawinten. Ketika seorang warga telah melakukan proses mawinten, ia dipandang atu taraf lebih suci, seakan-akan ia tak boleh lagi dipanggil dengan bee atau menyatakan dirinya oke.

Sebagai gantinya, kata oke kini diarahkan dengan penggunaan tiang, sedangkan untuk merujuk makna bee diarahkan menggunakan kata ragane atau memanggil nama langsung. Langkah itu dipandang lebih netral dan tak menabrak tatanan etis yang tengah terbangun sedemikian rupa.

Maju atau Mundur?

Menemui fenomena yang tampak, saya jadi banyak berpikir. Apakah yang kami lakukan sebuah lompatan atau jangan-jangan keterperosokan?

Merenungkan hal tersebut, saya jadi ingat sejumlah kata yang juga sudah sangat jarang digunakan dalam tatanan komunikasi, namun ada dalam teks yang kami warisi dan junjung tinggi. Tiga kata yang saya ingat diantaranya adalah mel ‘ladang’, ceheng ‘alat ukur beras’, dan kalu ‘tembat barang dari anyaman bambu’.

Ketika saya pertama kali berjumpa dengan mereka, saya benar-benar merasa asing. Gawatnya, kata-kata ini banyak digunakan untuk mengacu hal-hal penting dalam teks. Akibatnya, saya harus bertanya apa itu mel, ceheng, dan kalu kepada orang tua. Dan, saya masih cukup beruntung karena mereka masih mengetahui. Bayangkan jika yang bertanya itu anak atau cucu saya kelak, dan saya tak pernah menanyakannya.

Persoalan ini bisa dianggao penting atau tak penting. Bisa dipandang penting lantaran kita percaya bahwa setiap kata ada untuk merujuk makna tertentu. Pun, jika ada padanannya dalam bahasa yang sama, dalam bahasa serumpun, maupun dalam bahasa yang lain, tampaknya makna yang dihadirkan tak akan sama persis. Contoh, coba bandingkan kata-kata nyrokcok, nyrekcek, dan nyrikcik dalam bahasa Bali. Jika kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia semuanya mengarah pada pergerakan air, namun ketiganya mengandung makna yang lebih spesifik satu sama lain.

Kembali pada persoalan kata-kata mel, ceheng, dan kalu. Seandainya, suatu saat pembaca teks itu tidak paham makna ketiganya kata itu. Pembaca ini telah bertanya ke seseorang, namun orang itu juga tak tahu. Karena mengalami kebuntuan, pembaca ini akhirnya menafsir sendiri. Saat inilah perkara besar bisa lahir.

Di desa saya contoh yang telah tempak terkait kata mel. Ada sebuah ritus bernama Ngusaba Dimel yang saya curigai berasal dari kata usaba, di, dan mel. Ketika dirangkai, dapat merujuk makna ‘upacara selamatan di ladang’. Makna ini tampaknya cocok dengan pola ritusnya yang memang dirayakan di sebuah pura yang berada di perladangan desa dan secara mitologis tirta-nya diyakini sebagai tirta pertanian.

Namun, dalam perkembangannya, Ngusaba Dimel telah ditafsir dengan berbagai penafsiran. Saya tak menyatakan itu liar, tapi terkesan dicocokologi, dengan mencarikan padanan dalam bahasa lain yang mirip. Satu diantaranya menafsir dimel sebagai dobel ‘ganda’, sebab realitanya upacara ini memang digelar dua tahun sekali. Sehingga, Ngusaba Dimel adalah upacara yang ganda.

Melihat itu, kegelisahan saya membuncah. Saya sok menerawang masa depan. Tampaknya bukan tak mungkin jika suatu saat setelah lama kata oke tak digunakan, kata oke nanti akan dimaknai sebagai ‘ya’ selayaknya ok dalam bahasa Inggris. Lalu, kira-kira makna apa yang  akan ditujukan untuk merujuk kata bee?

Selamat memperingati bahasa Bali. [T]

Tags: Bahasa BaliBangliBulan Bahasa Bali
Share109TweetSendShareSend
Previous Post

Virus Corona, Insting Pelestarian dan Sejarah Manusia

Next Post

Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co