23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Virus Corona, Insting Pelestarian dan Sejarah Manusia

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
February 1, 2020
in Esai
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Dari sisi manusia, munculnya virus Corona tipe baru, jelas merupakan horor penebar rasa ngeri bagi seluruh manusia di dunia. Ia bahkan membuat ciut nyali negara-negara yang selama ini mengaku hebat dan suka bikin ribut. Virus ini telah memberi pelajaran kepada mereka, sehebat apapun sebuah bangsa, dapat saja binasa oleh musuh yang kecil dan tak terlihat.

Mereka, boleh saja melumpuhkan ekonomi musuh-musuhnya dengan perang dagang yang tak punya rasa solidaritas. Atau membasmi prajurit lawan tanpa belas kasihan mengandalkan kecanggihan pesawat pembom nirawak, juga strategi politik licik untuk menguras kekayaan negeri kaya minyak dengan membuat mereka tercerai berai dalam perang saudara. Namun satu mutasi virus yang tak tampak oleh mata membuat kepanikan global, mengingatkan umat manusia soal kerukunan dan kebersamaan, meski untuk itu perlu rasa takut kolektif. Haruskah dari rasa takut? Kenapa kebersamaan tak dibangun saja dari rasa bahagia sejahtera kolektif? 

Bagi virus Corona tipe baru yang diberi nama novel coronavirus (2019-nCov), peristiwa ini bisa saja merupakan pencapaian sebuah misi sakral, satu mekanisme pelestarian yang esensial bagi setiap spesies. Mari kita kilas balik sepak terjang virus Corona. Di tahun 2002 ia mengacak-acak dunia dengan wabah SARS (Severe acute respiratory syndrome-related coronavirus) yang telah membunuh tak kurang dari 777 orang dari sekitar sembilan ribu orang terinfeksi.

Sepuluh tahun kemudian, sekitar tahun 2012, merebak kasus MERS (Middle-east respiratory syndrome-related coronavirus). Tipe lain virus Corona yang terjadi di Timur Tengah ini, telah memakan korban jiwa sekitar 22 orang dari 44 kasus yang terjadi di Arab Saudi. MERS disebut angka fatalitasnya lebih tinggi daripada SARS. Di akhir 2019, dunia kembali kalang kabut akibat 2019-nCov. Sebanyak 259 orang telah dikabarkan tewas dan sekitar 12 ribu orang terinfeksi berada dalam berbagai derajat keparahan penyakit. Dalam beberapa rekaman video, suasana kota Wuhan, Propinsi Hubei, China, tempat pertama kali virus ini diidentifikasi, tampak seperti kejadian dalam film-film zombie, penularan sedemikian cepat dan penderitanya berjatuhan di jalanan.

Virus ini awalnya adalah penyakit pada binatang, lalu menular kepada manusia dan menimbulkan gejala penyakit bahkan kematian. Proses ini di kenal sebagai zoonosis, seperti juga penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola atau HIV. Seperti subtipe virus Corona sebelumnya, 2019-nCov terutama menimbulkan proses patologi (penyakit) pada saluran pernafasan atas yang dapat menyebar ke paru-paru mengakibatkan infeksi berat dan gagal nafas.

Kenapa menular kepada manusia? Secara ilmiah tentu karena ada kontak antara manusia dengan hewan penderita virus bersangkutan. Kembali pada teori penyakit infeksi, masih relevan interaksi antara 3 faktor ini, host, agent dan environtment. Host terkait dengan sistem kekebalan tubuh penderita yang juga dipengaruhi banyak hal, meliputi usia, gender, ras, penyakit penyerta dan riwayat imunisasi. Agent, dalam kasus ini adalah virus itu sendiri. Bisa juga bakteri, jamur atau mikroorganisme lain yang terkait dengan jumlah dan mutasinya. Terakhir adalah lingkungan yang dengan mudah kita maklumi menjadi faktor risiko infeksi, terutama lingkungan yang tak bersih. Penyakit infeksi bakal terjadi saat keseimbangan ketiga faktor ini terganggu.

Penularan dari binatang ke manusia, sesuai data ilmiah terjadi memang karena kontak antara binatang dengan manusia. Lalu kenapa ia perlu berpindah, menginvasi lalu membunuh manusia? Akan ada berbagai hipotesis untuk menjelaskannya. Sel tubuh manusia yang tak betul-betul sama dengan sel-sel tubuh binatang, setidaknya mengharuskan virus tersebut untuk beradaptasi dengan sel baru, mungkin saja akan diikuti dengan sebuah atau berbagai mutasi. Apapun itu, virus-virus itu harus melakukan sesuatu demi kelestariannya. Bukankah manusia pun begitu? Melakukan berbagai cara untuk kelestariannya. Bahkan kadangkala, demi kelestarian golongannya sendiri, manusia setuju melenyapkan yang lain. Entah itu golongan ras atau agama.

Bukanlah sebuah mimpi atau khayal, telah terjadi kemusnahan berbagai spesies manusia dalam sejarah yang disebabkan akibat peperangan. Dalam buku bestseller karya sejarawan Israel, Yuval Noah Harari, berjudul, Sapiens:A Brief History of Humankind (2014), hal ini cukup terang dijelaskan. Sekitar 50 ribu tahun lalu, Homo soloensis dan Homo denisova terakhir mati. Selang 20 ribu tahun, Neanderthal menyusul. Dan 12 ribu tahun yang lalu, manusia-manusia Flores, yang bertubuh lebih kecil daripada saudara-saudaranya, turut berakhir.

Temuan data-data ilmiah cukup untuk membuktikan bahwa perkawinan silang antar spesies manusia memang terjadi dan keturunannya dapat berkembang-biak dengan baik. Namun, di sisi lain, kadar warisan genetik spesies-spesies yang telah punah itu terlalu kecil dalam tubuh manusia modern, untuk dapat menyimpulkan bahwa Homo sapiens menjadi penguasa tunggal planet ini sepenuhnya lewat jalan damai. Maka bukan hal aneh jika dalam dunia modern telah terjadi holocoust oleh NAZI terhadap etnis Yahudi, juga genosida yang menimpa muslim Bosnia serta pembersihan suku Tutsi dan Hutu di Rwanda.

Virus Corona tipe baru yang menyerang manusia, mungkin sesungguhnya tak berbeda dengan air bah yang menenggelamkan peradaban dan hidup manusia atau macan tutul India (Panthera pardus fusca) yang telah memangsa warga Mumbai. Air yang telah kehilangan akar-akar sebagai dam alaminya atau macan tutul yang tak punya lagi gua untuk bersembunyi. Sebuah fenomena yang telah terjadi akibat kegagalan manusia menjaga keseimbangan bumi yang penuh misteri. Kabut misteri yang kian menebal akibat ketamakan umat manusia. 2019-nCov sepertinya tak hanya datang untuk mengingatkan kita segera mengenakan masker standar, mencuci tangan dengan benar atau kesiagaan sarana kesehatan optimal, juga mengajak kita untuk kembali membaca sejarah. [T]

Tags: dokterkesehatanvirusvirus corona
Share137TweetSendShareSend
Previous Post

Sesederhana Mencinta – [Ulasan Buku “Nyujuh Langit Duur Bukit”]

Next Post

Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co