3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Virus Corona, Insting Pelestarian dan Sejarah Manusia

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
February 1, 2020
in Esai
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Dari sisi manusia, munculnya virus Corona tipe baru, jelas merupakan horor penebar rasa ngeri bagi seluruh manusia di dunia. Ia bahkan membuat ciut nyali negara-negara yang selama ini mengaku hebat dan suka bikin ribut. Virus ini telah memberi pelajaran kepada mereka, sehebat apapun sebuah bangsa, dapat saja binasa oleh musuh yang kecil dan tak terlihat.

Mereka, boleh saja melumpuhkan ekonomi musuh-musuhnya dengan perang dagang yang tak punya rasa solidaritas. Atau membasmi prajurit lawan tanpa belas kasihan mengandalkan kecanggihan pesawat pembom nirawak, juga strategi politik licik untuk menguras kekayaan negeri kaya minyak dengan membuat mereka tercerai berai dalam perang saudara. Namun satu mutasi virus yang tak tampak oleh mata membuat kepanikan global, mengingatkan umat manusia soal kerukunan dan kebersamaan, meski untuk itu perlu rasa takut kolektif. Haruskah dari rasa takut? Kenapa kebersamaan tak dibangun saja dari rasa bahagia sejahtera kolektif? 

Bagi virus Corona tipe baru yang diberi nama novel coronavirus (2019-nCov), peristiwa ini bisa saja merupakan pencapaian sebuah misi sakral, satu mekanisme pelestarian yang esensial bagi setiap spesies. Mari kita kilas balik sepak terjang virus Corona. Di tahun 2002 ia mengacak-acak dunia dengan wabah SARS (Severe acute respiratory syndrome-related coronavirus) yang telah membunuh tak kurang dari 777 orang dari sekitar sembilan ribu orang terinfeksi.

Sepuluh tahun kemudian, sekitar tahun 2012, merebak kasus MERS (Middle-east respiratory syndrome-related coronavirus). Tipe lain virus Corona yang terjadi di Timur Tengah ini, telah memakan korban jiwa sekitar 22 orang dari 44 kasus yang terjadi di Arab Saudi. MERS disebut angka fatalitasnya lebih tinggi daripada SARS. Di akhir 2019, dunia kembali kalang kabut akibat 2019-nCov. Sebanyak 259 orang telah dikabarkan tewas dan sekitar 12 ribu orang terinfeksi berada dalam berbagai derajat keparahan penyakit. Dalam beberapa rekaman video, suasana kota Wuhan, Propinsi Hubei, China, tempat pertama kali virus ini diidentifikasi, tampak seperti kejadian dalam film-film zombie, penularan sedemikian cepat dan penderitanya berjatuhan di jalanan.

Virus ini awalnya adalah penyakit pada binatang, lalu menular kepada manusia dan menimbulkan gejala penyakit bahkan kematian. Proses ini di kenal sebagai zoonosis, seperti juga penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola atau HIV. Seperti subtipe virus Corona sebelumnya, 2019-nCov terutama menimbulkan proses patologi (penyakit) pada saluran pernafasan atas yang dapat menyebar ke paru-paru mengakibatkan infeksi berat dan gagal nafas.

Kenapa menular kepada manusia? Secara ilmiah tentu karena ada kontak antara manusia dengan hewan penderita virus bersangkutan. Kembali pada teori penyakit infeksi, masih relevan interaksi antara 3 faktor ini, host, agent dan environtment. Host terkait dengan sistem kekebalan tubuh penderita yang juga dipengaruhi banyak hal, meliputi usia, gender, ras, penyakit penyerta dan riwayat imunisasi. Agent, dalam kasus ini adalah virus itu sendiri. Bisa juga bakteri, jamur atau mikroorganisme lain yang terkait dengan jumlah dan mutasinya. Terakhir adalah lingkungan yang dengan mudah kita maklumi menjadi faktor risiko infeksi, terutama lingkungan yang tak bersih. Penyakit infeksi bakal terjadi saat keseimbangan ketiga faktor ini terganggu.

Penularan dari binatang ke manusia, sesuai data ilmiah terjadi memang karena kontak antara binatang dengan manusia. Lalu kenapa ia perlu berpindah, menginvasi lalu membunuh manusia? Akan ada berbagai hipotesis untuk menjelaskannya. Sel tubuh manusia yang tak betul-betul sama dengan sel-sel tubuh binatang, setidaknya mengharuskan virus tersebut untuk beradaptasi dengan sel baru, mungkin saja akan diikuti dengan sebuah atau berbagai mutasi. Apapun itu, virus-virus itu harus melakukan sesuatu demi kelestariannya. Bukankah manusia pun begitu? Melakukan berbagai cara untuk kelestariannya. Bahkan kadangkala, demi kelestarian golongannya sendiri, manusia setuju melenyapkan yang lain. Entah itu golongan ras atau agama.

Bukanlah sebuah mimpi atau khayal, telah terjadi kemusnahan berbagai spesies manusia dalam sejarah yang disebabkan akibat peperangan. Dalam buku bestseller karya sejarawan Israel, Yuval Noah Harari, berjudul, Sapiens:A Brief History of Humankind (2014), hal ini cukup terang dijelaskan. Sekitar 50 ribu tahun lalu, Homo soloensis dan Homo denisova terakhir mati. Selang 20 ribu tahun, Neanderthal menyusul. Dan 12 ribu tahun yang lalu, manusia-manusia Flores, yang bertubuh lebih kecil daripada saudara-saudaranya, turut berakhir.

Temuan data-data ilmiah cukup untuk membuktikan bahwa perkawinan silang antar spesies manusia memang terjadi dan keturunannya dapat berkembang-biak dengan baik. Namun, di sisi lain, kadar warisan genetik spesies-spesies yang telah punah itu terlalu kecil dalam tubuh manusia modern, untuk dapat menyimpulkan bahwa Homo sapiens menjadi penguasa tunggal planet ini sepenuhnya lewat jalan damai. Maka bukan hal aneh jika dalam dunia modern telah terjadi holocoust oleh NAZI terhadap etnis Yahudi, juga genosida yang menimpa muslim Bosnia serta pembersihan suku Tutsi dan Hutu di Rwanda.

Virus Corona tipe baru yang menyerang manusia, mungkin sesungguhnya tak berbeda dengan air bah yang menenggelamkan peradaban dan hidup manusia atau macan tutul India (Panthera pardus fusca) yang telah memangsa warga Mumbai. Air yang telah kehilangan akar-akar sebagai dam alaminya atau macan tutul yang tak punya lagi gua untuk bersembunyi. Sebuah fenomena yang telah terjadi akibat kegagalan manusia menjaga keseimbangan bumi yang penuh misteri. Kabut misteri yang kian menebal akibat ketamakan umat manusia. 2019-nCov sepertinya tak hanya datang untuk mengingatkan kita segera mengenakan masker standar, mencuci tangan dengan benar atau kesiagaan sarana kesehatan optimal, juga mengajak kita untuk kembali membaca sejarah. [T]

Tags: dokterkesehatanvirusvirus corona
Share137TweetSendShareSend
Previous Post

Sesederhana Mencinta – [Ulasan Buku “Nyujuh Langit Duur Bukit”]

Next Post

Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co