4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
February 1, 2020
in Esai
Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Foto ilustrasi dari penulis

Sejak 2019 lalu, Februari bagi masyarakat Bali bukan sekadar bulan berhari 28 atau 29. Bulan penentu tahun kabisat ini telah dipilih Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali sebagai bulan memperingati bahasa Bali –meski hanya memperingati, sewajarnya ia dapat digunakan untuk berpesta, dalam tataran formal maupun nonformal.

Di tahun perdana penetapan Peringatan Bulan Bahasa Bali, berbagai acara terkait upaya pelestarian, pemertahanan, dan pengembangan bahasa Bali dihelat. Bahkan, Gubernur Koster turun langsung nyastra, menulis aksara Bali di atas daun lontar. Sementara, di tahun 2020 peringatan digelar semakin dahsyat. Peringatan dilaksanakan sebulan penuh dengan berbagai kegiatan, mulai dari lomba, workshop, hingga diskusi.

Entitas bahasa, aksara, dan sastra Bali di era kepemimpinan Gubernur-Wakil Gubernur Bali, Koster-Ace, memang mendapat banyak perhatian. Kehadiran Peraturan Gubernur (Pergub) 80/2018 menjadi monumen cukup penting dalam upaya tersebut. Melalui pergub ini bahasa Bali diarahkan dapat digunakan sebagai sarana komunikasi hingga ke ruang-ruang formal. Tentunya, hanya pada hari-hari tertentu.

Kepada aksara Bali, pergub ini mengamanatkan agar setiap institusi pemerintah maupun swasta di Bali wajib memasang aksara Bali pada papan namanya. Tempatnya harus di atas aksara Latin, besarnya juga harus sama. Konon, ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mencipta aksara Bali. Penciptaan aksara ini bukan perkara gampang, sebab dari 600-an bahasa daerah di Indonesia, yang memiliki aksara hanya sebagian kecil.

Nasib sastra Bali di tangan gubernur asal Sembiran juga tak kalah mengembirakan. Sastra dan sastrawan Bali setahun belakangan lebih banyak diberikan ruang untuk tumbuh, termasuk dalam Festival Seni Bali Jani 2019. Dalam bidang penerbitan buku sastra Bali, melalui proses kurasi yang dilakukan Prof. Darma Putra (Universitas Udayana) untuk Penghargaan Sastra Rancage 2019, tercatat ada 13 buku sastra Bali terbit sepanjang tahun.

Melihat upaya-upaya itu, perlu sekiranya kita mengangkat topi kepada pemerintah atas segala usahanya. Namun, membanggakan berlebihan sama dengan racun. Nalar harus terus menakar dan mengakar, berupaya bersama agar apa yang dilakukan ke depan semakin baik dan mengembang.

Tentang Etis

Menyoal penggunaan bahasa Bali era ini, saya mendapati dua cabang kemungkinan. Dalam lingkar pergaulan yang saya hadapi, pada satu sisi saya melihat bahasa Bali semakin tertata dan semakin percaya diri digunakan. Namun, di sisi yang lain saya melihat ada kosakata yang terhimpit, lantaran adanya standar anggah-ungguhing basa Bali.

Lingkungan kelahiran saya adalah kawasan pegunungan yang eksis dengan dialek Bali Aga. Salah satu karakter awalnya, tak banyak klaster kata. Saya masih ingat betul, ketika masih kecil, kata-kata yang mendapat predikat sebagai kata kasar dalam ranah bahasa Bali “baku” seperti ngamah ‘makan’, mamecek ‘tidur’, poles ‘tidur’, dan lain-lain sangat biasa digunakan dalam percakapan.

Lantaran dianggap kasar, kata-kata ini kini menjadi tabu untuk digunakan. Mereka tampak kalah bersaing seiring adanya mitos etika komunikasi yang diproduksi melalui hubungan dengan masyarakat Bali yang lebih luas. Persoalan etis juga diproduksi melalui pendidikan yang diterima anak-anak kami sedari kecil. Alhasil, jika sekarang seorang anak berujar, poles malu ma! ‘tidur dulu sana’, orang tuanya akan turun tangan melarangnya dengan segera. Terlebih, jika kalimat itu keluar dalam keramaian.

Kegelisahan saya tentang kata-kata terhimpit itu semakin meluas. Dalam pengamatan saya, kata-kata yang semakin jarang digunakan telah merasuk pada sejumlah kata yang menjadi ciri khas daerah kami, yakni kata ganti oke dan bee.

Oke adalah kata ganti untuk orang pertama tunggal, sedangkan bee digunakan untuk kata ganti orang kedua tunggal. Keduanya sangat khas di daerah saya. Saking khasnya, kedua kata ini sering digunakan bahan lelucon, entah dalam panggung bebondresan, maupun dalam ranah pertemanan.

Oke-bee mulai tampak semakin jarang digunakan dalam pergaulan, meskipun dalam komunikasi antar personal yang sepadan. Jika membandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, kadarnya tampak menurun. Mungkin saya salah melihat, atau jangan-jangan lingkungan pergaulan saya yang justru mendesrupsi kata itu.

Penyebabnya kembali terkait persoalan etis. Penggunakan kata oke-bee dalam paradigma masyarakat saat ini dipandang tak cukup sopan. Hal ini didukung dengan semakin banyak orang di desa saya yang mawinten. Ketika seorang warga telah melakukan proses mawinten, ia dipandang atu taraf lebih suci, seakan-akan ia tak boleh lagi dipanggil dengan bee atau menyatakan dirinya oke.

Sebagai gantinya, kata oke kini diarahkan dengan penggunaan tiang, sedangkan untuk merujuk makna bee diarahkan menggunakan kata ragane atau memanggil nama langsung. Langkah itu dipandang lebih netral dan tak menabrak tatanan etis yang tengah terbangun sedemikian rupa.

Maju atau Mundur?

Menemui fenomena yang tampak, saya jadi banyak berpikir. Apakah yang kami lakukan sebuah lompatan atau jangan-jangan keterperosokan?

Merenungkan hal tersebut, saya jadi ingat sejumlah kata yang juga sudah sangat jarang digunakan dalam tatanan komunikasi, namun ada dalam teks yang kami warisi dan junjung tinggi. Tiga kata yang saya ingat diantaranya adalah mel ‘ladang’, ceheng ‘alat ukur beras’, dan kalu ‘tembat barang dari anyaman bambu’.

Ketika saya pertama kali berjumpa dengan mereka, saya benar-benar merasa asing. Gawatnya, kata-kata ini banyak digunakan untuk mengacu hal-hal penting dalam teks. Akibatnya, saya harus bertanya apa itu mel, ceheng, dan kalu kepada orang tua. Dan, saya masih cukup beruntung karena mereka masih mengetahui. Bayangkan jika yang bertanya itu anak atau cucu saya kelak, dan saya tak pernah menanyakannya.

Persoalan ini bisa dianggao penting atau tak penting. Bisa dipandang penting lantaran kita percaya bahwa setiap kata ada untuk merujuk makna tertentu. Pun, jika ada padanannya dalam bahasa yang sama, dalam bahasa serumpun, maupun dalam bahasa yang lain, tampaknya makna yang dihadirkan tak akan sama persis. Contoh, coba bandingkan kata-kata nyrokcok, nyrekcek, dan nyrikcik dalam bahasa Bali. Jika kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia semuanya mengarah pada pergerakan air, namun ketiganya mengandung makna yang lebih spesifik satu sama lain.

Kembali pada persoalan kata-kata mel, ceheng, dan kalu. Seandainya, suatu saat pembaca teks itu tidak paham makna ketiganya kata itu. Pembaca ini telah bertanya ke seseorang, namun orang itu juga tak tahu. Karena mengalami kebuntuan, pembaca ini akhirnya menafsir sendiri. Saat inilah perkara besar bisa lahir.

Di desa saya contoh yang telah tempak terkait kata mel. Ada sebuah ritus bernama Ngusaba Dimel yang saya curigai berasal dari kata usaba, di, dan mel. Ketika dirangkai, dapat merujuk makna ‘upacara selamatan di ladang’. Makna ini tampaknya cocok dengan pola ritusnya yang memang dirayakan di sebuah pura yang berada di perladangan desa dan secara mitologis tirta-nya diyakini sebagai tirta pertanian.

Namun, dalam perkembangannya, Ngusaba Dimel telah ditafsir dengan berbagai penafsiran. Saya tak menyatakan itu liar, tapi terkesan dicocokologi, dengan mencarikan padanan dalam bahasa lain yang mirip. Satu diantaranya menafsir dimel sebagai dobel ‘ganda’, sebab realitanya upacara ini memang digelar dua tahun sekali. Sehingga, Ngusaba Dimel adalah upacara yang ganda.

Melihat itu, kegelisahan saya membuncah. Saya sok menerawang masa depan. Tampaknya bukan tak mungkin jika suatu saat setelah lama kata oke tak digunakan, kata oke nanti akan dimaknai sebagai ‘ya’ selayaknya ok dalam bahasa Inggris. Lalu, kira-kira makna apa yang  akan ditujukan untuk merujuk kata bee?

Selamat memperingati bahasa Bali. [T]

Tags: Bahasa BaliBangliBulan Bahasa Bali
Share109TweetSendShareSend
Previous Post

Virus Corona, Insting Pelestarian dan Sejarah Manusia

Next Post

Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co