14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
February 1, 2020
in Esai
Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Foto ilustrasi dari penulis

Sejak 2019 lalu, Februari bagi masyarakat Bali bukan sekadar bulan berhari 28 atau 29. Bulan penentu tahun kabisat ini telah dipilih Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali sebagai bulan memperingati bahasa Bali –meski hanya memperingati, sewajarnya ia dapat digunakan untuk berpesta, dalam tataran formal maupun nonformal.

Di tahun perdana penetapan Peringatan Bulan Bahasa Bali, berbagai acara terkait upaya pelestarian, pemertahanan, dan pengembangan bahasa Bali dihelat. Bahkan, Gubernur Koster turun langsung nyastra, menulis aksara Bali di atas daun lontar. Sementara, di tahun 2020 peringatan digelar semakin dahsyat. Peringatan dilaksanakan sebulan penuh dengan berbagai kegiatan, mulai dari lomba, workshop, hingga diskusi.

Entitas bahasa, aksara, dan sastra Bali di era kepemimpinan Gubernur-Wakil Gubernur Bali, Koster-Ace, memang mendapat banyak perhatian. Kehadiran Peraturan Gubernur (Pergub) 80/2018 menjadi monumen cukup penting dalam upaya tersebut. Melalui pergub ini bahasa Bali diarahkan dapat digunakan sebagai sarana komunikasi hingga ke ruang-ruang formal. Tentunya, hanya pada hari-hari tertentu.

Kepada aksara Bali, pergub ini mengamanatkan agar setiap institusi pemerintah maupun swasta di Bali wajib memasang aksara Bali pada papan namanya. Tempatnya harus di atas aksara Latin, besarnya juga harus sama. Konon, ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mencipta aksara Bali. Penciptaan aksara ini bukan perkara gampang, sebab dari 600-an bahasa daerah di Indonesia, yang memiliki aksara hanya sebagian kecil.

Nasib sastra Bali di tangan gubernur asal Sembiran juga tak kalah mengembirakan. Sastra dan sastrawan Bali setahun belakangan lebih banyak diberikan ruang untuk tumbuh, termasuk dalam Festival Seni Bali Jani 2019. Dalam bidang penerbitan buku sastra Bali, melalui proses kurasi yang dilakukan Prof. Darma Putra (Universitas Udayana) untuk Penghargaan Sastra Rancage 2019, tercatat ada 13 buku sastra Bali terbit sepanjang tahun.

Melihat upaya-upaya itu, perlu sekiranya kita mengangkat topi kepada pemerintah atas segala usahanya. Namun, membanggakan berlebihan sama dengan racun. Nalar harus terus menakar dan mengakar, berupaya bersama agar apa yang dilakukan ke depan semakin baik dan mengembang.

Tentang Etis

Menyoal penggunaan bahasa Bali era ini, saya mendapati dua cabang kemungkinan. Dalam lingkar pergaulan yang saya hadapi, pada satu sisi saya melihat bahasa Bali semakin tertata dan semakin percaya diri digunakan. Namun, di sisi yang lain saya melihat ada kosakata yang terhimpit, lantaran adanya standar anggah-ungguhing basa Bali.

Lingkungan kelahiran saya adalah kawasan pegunungan yang eksis dengan dialek Bali Aga. Salah satu karakter awalnya, tak banyak klaster kata. Saya masih ingat betul, ketika masih kecil, kata-kata yang mendapat predikat sebagai kata kasar dalam ranah bahasa Bali “baku” seperti ngamah ‘makan’, mamecek ‘tidur’, poles ‘tidur’, dan lain-lain sangat biasa digunakan dalam percakapan.

Lantaran dianggap kasar, kata-kata ini kini menjadi tabu untuk digunakan. Mereka tampak kalah bersaing seiring adanya mitos etika komunikasi yang diproduksi melalui hubungan dengan masyarakat Bali yang lebih luas. Persoalan etis juga diproduksi melalui pendidikan yang diterima anak-anak kami sedari kecil. Alhasil, jika sekarang seorang anak berujar, poles malu ma! ‘tidur dulu sana’, orang tuanya akan turun tangan melarangnya dengan segera. Terlebih, jika kalimat itu keluar dalam keramaian.

Kegelisahan saya tentang kata-kata terhimpit itu semakin meluas. Dalam pengamatan saya, kata-kata yang semakin jarang digunakan telah merasuk pada sejumlah kata yang menjadi ciri khas daerah kami, yakni kata ganti oke dan bee.

Oke adalah kata ganti untuk orang pertama tunggal, sedangkan bee digunakan untuk kata ganti orang kedua tunggal. Keduanya sangat khas di daerah saya. Saking khasnya, kedua kata ini sering digunakan bahan lelucon, entah dalam panggung bebondresan, maupun dalam ranah pertemanan.

Oke-bee mulai tampak semakin jarang digunakan dalam pergaulan, meskipun dalam komunikasi antar personal yang sepadan. Jika membandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, kadarnya tampak menurun. Mungkin saya salah melihat, atau jangan-jangan lingkungan pergaulan saya yang justru mendesrupsi kata itu.

Penyebabnya kembali terkait persoalan etis. Penggunakan kata oke-bee dalam paradigma masyarakat saat ini dipandang tak cukup sopan. Hal ini didukung dengan semakin banyak orang di desa saya yang mawinten. Ketika seorang warga telah melakukan proses mawinten, ia dipandang atu taraf lebih suci, seakan-akan ia tak boleh lagi dipanggil dengan bee atau menyatakan dirinya oke.

Sebagai gantinya, kata oke kini diarahkan dengan penggunaan tiang, sedangkan untuk merujuk makna bee diarahkan menggunakan kata ragane atau memanggil nama langsung. Langkah itu dipandang lebih netral dan tak menabrak tatanan etis yang tengah terbangun sedemikian rupa.

Maju atau Mundur?

Menemui fenomena yang tampak, saya jadi banyak berpikir. Apakah yang kami lakukan sebuah lompatan atau jangan-jangan keterperosokan?

Merenungkan hal tersebut, saya jadi ingat sejumlah kata yang juga sudah sangat jarang digunakan dalam tatanan komunikasi, namun ada dalam teks yang kami warisi dan junjung tinggi. Tiga kata yang saya ingat diantaranya adalah mel ‘ladang’, ceheng ‘alat ukur beras’, dan kalu ‘tembat barang dari anyaman bambu’.

Ketika saya pertama kali berjumpa dengan mereka, saya benar-benar merasa asing. Gawatnya, kata-kata ini banyak digunakan untuk mengacu hal-hal penting dalam teks. Akibatnya, saya harus bertanya apa itu mel, ceheng, dan kalu kepada orang tua. Dan, saya masih cukup beruntung karena mereka masih mengetahui. Bayangkan jika yang bertanya itu anak atau cucu saya kelak, dan saya tak pernah menanyakannya.

Persoalan ini bisa dianggao penting atau tak penting. Bisa dipandang penting lantaran kita percaya bahwa setiap kata ada untuk merujuk makna tertentu. Pun, jika ada padanannya dalam bahasa yang sama, dalam bahasa serumpun, maupun dalam bahasa yang lain, tampaknya makna yang dihadirkan tak akan sama persis. Contoh, coba bandingkan kata-kata nyrokcok, nyrekcek, dan nyrikcik dalam bahasa Bali. Jika kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia semuanya mengarah pada pergerakan air, namun ketiganya mengandung makna yang lebih spesifik satu sama lain.

Kembali pada persoalan kata-kata mel, ceheng, dan kalu. Seandainya, suatu saat pembaca teks itu tidak paham makna ketiganya kata itu. Pembaca ini telah bertanya ke seseorang, namun orang itu juga tak tahu. Karena mengalami kebuntuan, pembaca ini akhirnya menafsir sendiri. Saat inilah perkara besar bisa lahir.

Di desa saya contoh yang telah tempak terkait kata mel. Ada sebuah ritus bernama Ngusaba Dimel yang saya curigai berasal dari kata usaba, di, dan mel. Ketika dirangkai, dapat merujuk makna ‘upacara selamatan di ladang’. Makna ini tampaknya cocok dengan pola ritusnya yang memang dirayakan di sebuah pura yang berada di perladangan desa dan secara mitologis tirta-nya diyakini sebagai tirta pertanian.

Namun, dalam perkembangannya, Ngusaba Dimel telah ditafsir dengan berbagai penafsiran. Saya tak menyatakan itu liar, tapi terkesan dicocokologi, dengan mencarikan padanan dalam bahasa lain yang mirip. Satu diantaranya menafsir dimel sebagai dobel ‘ganda’, sebab realitanya upacara ini memang digelar dua tahun sekali. Sehingga, Ngusaba Dimel adalah upacara yang ganda.

Melihat itu, kegelisahan saya membuncah. Saya sok menerawang masa depan. Tampaknya bukan tak mungkin jika suatu saat setelah lama kata oke tak digunakan, kata oke nanti akan dimaknai sebagai ‘ya’ selayaknya ok dalam bahasa Inggris. Lalu, kira-kira makna apa yang  akan ditujukan untuk merujuk kata bee?

Selamat memperingati bahasa Bali. [T]

Tags: Bahasa BaliBangliBulan Bahasa Bali
Share109TweetSendShareSend
Previous Post

Virus Corona, Insting Pelestarian dan Sejarah Manusia

Next Post

Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co