7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beda Gaya Sama Rasa: Disparitas Komunitas Sastra dalam Ekosistem Sastra di Bali Hari Ini

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
November 10, 2019
in Esai
Beda Gaya Sama Rasa: Disparitas Komunitas Sastra dalam Ekosistem Sastra di Bali Hari Ini

Juli Sastrawan (pegang mik) saat bicara soal komunitas sastra pada Festival Seni Bali Jani 2019 di Taman Budaya Denpasar

Komunitas sastra dan karya sastra merupakan satu rantai kebudayaan yang takdapat dipisahkan. Tidak ada yang lebih penting atau lebih tidak penting. Ketika salah satunya hilang, rantai ini takakan benar utuh, rusak, dan bahkan takberbentuk. Kepaduan karya sastra dan komunitasnya bisa dilihat salah satunya melalui keberadaan komunitas sastra sebagai wadah yang penting bagi para sastrawan dalam penciptaan karya maupun proses menuju penciptaan itu sendiri. 

Keberadaan komunitas bukan hanya menjadi penaung proses kreatif sastrawan, melainkan juga wadah mereka dalam olah wacana. Hadirnya penulis di dalam sebuah komunitas membuat kesempatan karyanya terus dibicarakan dalam berbagai sudut pandang dan profesi masing-masing anggota komunitas. Secara tidak langsung, komunitas ini menjadi wadah untuk penulis (baca: anggotanya) selalu berada di sirkuit kekaryaan yang sama dan positif. Daya dukung dari setiap anggota komunitas menjadi stimulus dalam memacu diri dan kelompok untuk terus berkarya.

Parasastrawan—terutama sastrawan muda Bali—hampir sebagian besar kisah kepengarangannya beririsan dan berawal dari keterlibatan mereka dalam aktivitas pada komunitas sastra. Akibatnya, sebagian besar juga karyanya terlahir dari aktivitas yang diadakan dalam komunitas sastra. Dengan demikian, keberadaan komunitas sastra memiliki arti penting sebagai sebuah “wadah” untuk belajar dan memproduksi karya karena di dalam komunitas sastra inilah secara tidak langsung terjadi interaksi dan sinergi proses kreatif.

Komunitas Sastra dan Peran Pentingnya di Masyarakat

Escarpit dalam Triadnyani (2019) menguraikan secara panjang lebar perihal sastra sebagai benda budaya yang dihasilkan sastrawan sebagai bagian dari kegiatan industri modern. Sastra bukan hanya milik sastrawan. Sekali sebuah karya (baca: buku) diluncurkan, ia mencakup sederet kegiatan dan lembaga yang berada di antara pencipta dan penikmatnya, terutama menyangkut produksi, distribusi, dan konsumen. Komunitas sastra menjadi salah satu ajang sirkuit sastra; tempat berputarnya roda kreativitas tersebut.

Keberadaan komunitas sastra di Bali memegang peranan penting dalam memasyarakatkan sastra. Dengan adanya komunitas sastra, sastra taklagi terkesan eksklusif dan hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Hadirnya komunitas sastra memberi cara pandang baru dan bentuk lain dalam mengakses sastra. Sastra, selain ditemui di kehidupan-kehidupan kampus dalam diskusi, seminar, jurnal dan penelitian, sastra juga menjadi bagian dari masyarakat di mana sastra itu bisa diakses di jalanan, lapangan, atau bahkan di warung kopi.  

Komunitas sastra inilah yang menjadi motor penggerak yang mewacanakan karya sastra dan perkembangannya melalui berbagai kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi diskusi sastra, bedah buku, baca puisi, slam puisi, musikalisasi puisi, pentas teater dan lain sebagainya.

Peran komunitas sastra bagi perkembangan sastra kini memang taklagi bisa dipandang sebelah mata, atau hanya dipandang sekadar sebagai sebuah kelompok atau perkumpulan orang yang menyukai sebuah kesamaan akan sesuatu. Komunitas sastra di Bali kian hari bertransformasi dan mencari bentuk-bentuk baru sinergi kerja-kerja kebudayaan. Memang, takpernah terlihat dengan jelas komunitas sastra menyebutkan dan mendaku diri begitu, tetapi hal ini terlihat dari berbagai program dan kegiatan-kegiatan kesastraan yang segar terjadi.

Bentuk Komunitas Sastra di Bali Hari Ini

Ahmad Farid (2017) juga melakukan penelitian tentang komunitas sastra di Purwakarta. Di dalam tulisannya yang berjudul “Komunitas Sastra dan Dunia Baru”, ia mengutip pendapat June Jordan bahwa sebuah kota sebaiknya fokus membangun kekayaannya yang sejati dengan model pembangunan yang endogen (pembangunan dari dalam). Salah satu dari kekayaan sejati itu adalah keberadaan komunitas kreatifnya. June menyebutnya “aset kreatif dan intelektual.” Menurutnya aset kreatif ini merupakan intisari masa depan suatu wilayah yang harus dipelihara. Hal-hal seperti inilah yang dapat kita lihat di kota-kota kreatif, seperti Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar.

Ketika berbicara perihal komunitas kreatif, tentunya komunitas sastra adalah salah satu bagiannya. Setelah dilakukan pengamatan tentang komunitas sastra di Bali hari ini, dapat dilihat adanya tiga bentuk komunitas sastra di Bali. Tiga bentuk komunitas sastra tersebut, yaitu komunitas yang dibentuk oleh sastrawan lama, komunitas sastra kampus/ sekolah/ instansi, dan komunitas sastra tanpa patron.



Di Bali, sastrawan lama [1] yang berkecimpung di dunia sastra tidak berhenti dalam membangun ekosistem sastra. Pascabubarnya Sanggar Minum Kopi (SMK), beberapa sastrawan yang sempat tergabung di dalamnya membentuk komunitas-komunitas sastra baru. Terbentuknya pun tidak serta merta terjadi seketika pascabubarnya Sanggar Minum Kopi. Namun, beberapa tahun setelahnya.

Sebut saja Made Adnyana Ole yang mendirikan Komunitas Mahima di Singaraja bersama dengan Kadek Sonia Piscayanti. Ada juga Nanoq Da Kansas yang turut mendirikan Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya di Negara. Dua nama di atas ada sastrawan yang sempat dan pernah beririsan maupun berproses dengan Sanggar Minum Kopi.

Keberadaan komunitas sastra di Bali juga perlahan semakin semarak dengan adanya komunitas-komunitas sastra yang lahir dari kampus, sekolah, pun instansi. Lahirnya komunitas sastra di sekolah dan lembaga seakan memberi harapan pada sastra akan masa-masa di depan yang lebih semarak. Adapun komunitas sastra tersebut adalah Komunitas Cakrawala (Universitas  Udayana), Cemara Angin (Universitas Pendidikan Ganesha), Komunitas Lentera (SMAN 2 Semarapura) dan Komunitas Genta Malini (SMAN 1 Gianyar). Terlepas dari nama-nama yang disebutkan di atas, ada beberapa sekolah yang juga turut memiliki komunitas sastra di mana kegiatannya lebih banyak dalam pentas teater seperti Komunitas Teater Jineng (Kabupaten Tabanan), Komunitas Teater Bisma (Kabupaten Badung), dan Komunitas Galang Kangin di Karangasem.

Selain dua bentuk komunitas sastra di atas, di Bali hari ini terdapat satu lagi bentuk komunitas sastra, yaitu komunitas sastra tanpa patron. Patron, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti suri atau tauladan. Berpatron adalah masih berdasarkan senior atau tauladan-tauladan yang terdapat dalam komunitasnya. Inilah yang terjadi di Bali hari ini: adanya bentuk komunitas sastra yang tidak lahir dari sastrawan lama, tidak terbentuk karena satu kesatuan almamater atau tingkat Pendidikan, tetapi semacam bentuk liyan yang terlahir dari kesadaran-kedasaran kolektif dalam membentuk komunitas sastra.

Sebut saja Pu.I.See. Ia lahir dari beberapa anak-anak SMA, kuliahan, dan umum yang takada irisannya dengan “orang-orang sastra” di Bali. Mereka membentuk kelompok kecil, membuat puisinya sendiri, dan membacakan puisi yang mereka tulis sendiri. Kelompok ini seakan membuktikan bahwa sesuatu terjadi (baca: berkomunitas) takmesti ada tokoh/ketokohan di dalamnya sehingga takakan ada tokoh pusat/ tokoh yang dianggap paling berperan dalam membentuk atau menjalankan kelompok ini.

Mungkin saja, kelompok tanpa patron semacam ini yang akan berpotensi paling lama bertahan di masa depan ketika membicarakan bentuk komunitas sastra. Hal ini karena ia merupakan bentuk paling liyan dari dua bentuk komunitas sebelumnya. Bisa saja kelompok yang dibentuk oleh sastrawan lama akan hilang ketika “tokoh sastrawan lama” tersebut taklagi bisa melanjutkan komunitas karena suatu dan lain hal semacam umur yang menua dan faktor lainnya. Begitu pun dengan komunitas sastra yang terikat oleh almamater dan jenjang pendidikan yang sama. Ketika menamatkan studi atau sekolah, mungkin saja orang-orang yang tergabung dalam satu komunitas ini takakan lagi melanjutkan usaha-usanya terdahulu, atau jika pun takbegitu, kemungkinan orang dalam komunitas itu akan membentuk kelompoknya yang baru di luar kelompoknya yang terdahulu.

Disparitas dan Konteksnya

Bentuk paling purba atau langkah pertama untuk mengetahui sesuatu mungkin adalah dengan cara melihat definisinya. Kata disparitas merujuk pada definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berarti perbedaan; jarak. Tentu, meneropong berbagai komunitas sastra di Bali takakan pernah bisa lepas dari segenap perbedaan dan jaraknya (baca; jarak umur, lokasi dan pengalaman). Disparitas ini seakan menjadi hal-hal yang membuat komunitas sastra di Bali sebagai sebuah lingkar-lingkar kecil yang terjadi di sebagian daerah. Perbedaan yang terjadi memang takbisa dipungkiri. Namun, hal ini bukan berarti bahwa perbedaan itu buruk, tetapi justru sebaliknya.

Perbedaan-perbedaan tersebut lahir dari berbagai hal, seperti bagaimana meregenerasi komunitasnya, program yang dilakukan, serta gerakan-gerakan lain yang pada dasarnya masih kontekstual dengan sastra itu sendiri. Namun, perbedaan tersebut bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan karena bagaimana pun juga perbedaan ini seperti arus-arus sungai yang nantinya akan bermuara pada satu tempat. Jika seumpama segenap perbedaan ini merupakan arus sungai, tujuan perbedaan itu akan bermuara pada satu tempat, yaitu sastra itu sendiri.

Menyoal komunitas sastra di Bali hari ini, ada fenomena baru yang lahir dari gerakan arus bawah. Gerakan ini adalah penyebaran informasi sastra maupun kekaryaan melalui zine. Zine merupakan sebuah media cetak alternatif yang biasanya diterbitkan secara personal atau kelompok kecil dan diproduksi terbatas dengan cara difotokopi. Zine ini mengusung semangat pada publikasinya. Ketika zaman dulu sastrawan dikenal melalui karya-karyanya di media cetak arus utama, hari ini mungkin takmelulu soal itu.

Hal ini karena dulu publikasi satu-satunya adalah media cetak mainstream yang diketahui banyak orang. Dengan munculnya nama sastrawan di media cetak, sudah barang tentu sastrawan itu akan dikenal oleh banyak orang dan secara langsung didaku sebagai sastrawan. Namun, hal itu sudah menjadi cerita lampau. Kini, dengan berkembangnya zaman dan teknologi, siapapun bisa memproduksi informasinya sendiri, dan siapapun bisa membuat medianya sendiri.

Zine inilah yang memberi ruang sebesar-besarnya kepada siapapun, termasuk penulis itu sendiri untuk mengenalkan dirinya, mengenalkan karyanya, serta sebagai wadah karyanya bisa dibicarakan oleh orang lain. Saat media arus utama menampilkan nama-nama sastrawan yang itu-itu saja, zine ini membawa wacana tanding dan kesempatan lebih untuk penulis muda. Kendati zine ini kebanyakan diproduksi oleh perorangan, secara taksadar orang-orang ini membuat semacam “komunitas virtual”. Mungkin pada bagian ini kita perlu bertanya atau bahkan meredefinisi arti komunitas itu sendiri. Apakah komunitas itu mesti memiliki bangunan fisik? Apakah komunitas tersebut mesti memiliki kesepakatan atau aturan-aturan baku di dalam komunitasnya? Apakah mungkin komunitas tersebut terbentuk dari ketaksadaran berkomunitas? Seperti kita yang sebenarnya tidak dalam satu komunitas, atau ikut dalam kesepakatan-kesepakatan yang dilakukan sama seperti di komunitas, tetapi ketika ada sesuatu (terbitan zine baru dari orang lain) secara naluriah kita akan mendukung, merespons, dan membicarakannya selayaknya kita berkomunitas? Tidakkah ini bentuk dan potensi lain yang kuat yang terjadi di arus bawah dan takbanyak kita sadari keberadaannya?

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, menelisik dan melihat komunitas sastra di Bali serta melihat konteksnya hari ini, sepertinya kita sedang bergerak ke depan. Pergerakan dengan cara-cara berbeda nan beragam yang kita yakini masing-masing. Dengan cara-cara ini pula, dari setiap perbedaan cara yang kita yakini, kita merasakan adanya sebuah kesamaan; kebahagiaan menjalani sastra. Atau bahkan sebaliknya? Beragamnya cara dan laku yang dilakukan akan semakin menjauhkan kita dari kesadaran bahwa sejatinya kita merasakan hal yang sama?


[1] Yang dijadikan pijakan dalam melihat sastrawan lama adalah Sanggar Minum Kopi (1984-1994). Meskipun pra-Sanggar Minum Kopi terdapat beberapa tokoh sastra Indonesia di Bali, hanya saja titik balik terbentuknya beberapa komunitas sastra di sejumlah kabupaten di Bali adalah pasca-Sanggar Minum Kopi.

Tags: Festival Seni Bali JanikomunitasKomunitas Cemara AnginKomunitas MahimaKomunitas Senja
Share186TweetSendShareSend
Previous Post

Menakar Puisi, Menapaki Sunyi Kelompok Sekali Pentas

Next Post

Gambaran Ringkas Sastra di Media Cetak dan Digital di Bali

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Gambaran Ringkas Sastra di Media Cetak dan Digital di Bali

Gambaran Ringkas Sastra di Media Cetak dan Digital di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co