24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menakar Puisi, Menapaki Sunyi Kelompok Sekali Pentas

Wendra Wijaya by Wendra Wijaya
November 10, 2019
in Ulasan
Menakar Puisi, Menapaki Sunyi Kelompok Sekali Pentas

Kelompok Sekali Pentas [Foto-foto: Ruang Hujan x Himatografi]

Seorang perempuan berjalan menunduk. Sekelilingnya sunyi, sawah sepi kini. Sendiri saja ia, dalam huma propaganda. Ia merindukan keriangan masa kanak-kanak. Di batas sunyi itulah, dengung terdengar memenuhi Kalangan Ayodya Art Center, Denpasar. Sore itu, ia mencari ketawa. Atau barangkali ia mencari tawanya yang telah lama hilang, dalam dirinya.

Bermula sunyi, pentas musikalisasi puisi bertajuk Di Dalam Dada Jalan Subak Nyepi oleh Kelompok Sekali Pentas, Denpasar digelar. Seperti kilasan, seperti bayang-bayang, suara-suara dan tawa mulai terdengar. Beberapa orang mendekat berlarian. Mereka bermain baling-baling, menghalau burung-burung. Sesaat kemudian, harmoni kesedihan tercipta bersama gitar dan biola yang menyayat jauh di kedalaman.

Musikalisasi puisi Jalan Subak yang Menanjak karya Made Adnyana Ole menjadi pembuka pentas tersebut. Puisi ini sekaligus menjadi dasar pijak pertunjukan, termasuk di dalam upaya membangun dimensi melalui art¬¬¬¬istik panggung yang ditata Gumi Gegirang. Secara gamblang, hal ini bisa dilihat dari baris-baris puisi berikut;

Jalan subak

Jauh menanjak

Meminang air di sangkar awan

Yang dijaga pawang muda

Pada jaman kilau cuaca

Sedang taman padi yang selalu berbunga

Dan isak penyesalan burung-burung

Kini terperangkap dalam bingkai lukisan

………………..

Bertahun-tahun, berbagai bentuk kesenian –termasuk musikalisasi puisi yang menjadi “anak kandung puisi”, telah menjadi media komunikasi yang jujur memotret sosiokultural masyarakat, setidaknya kondisi yang terjadi di seputaran diri si pencipta. Dan sudah sepatutnya, siapa pun yang mentransformasikannya menjadi bentuk baru, serumit atau sesederhana apa pun, mesti memiliki keberpihakan yang cukup untuk menjaga ruh yang melekat pada karya awal tersebut.


Kelompok Sekali Pentas [Foto: Ruang Hujan x Himatografi]

Berangkat dari puisi tentang sawah (yang telah banyak ditinggalkan), pertunjukan dilanjutkan dengan musikalisasi puisi Di Dalam Dada karya Subagio Sastrowardoyo. Puisi menggambarkan suasana dialogis antara “diri” dengan “sesuatu di luar diri”. Seolah mikrokosmos tengah mengikat janji dengan makrokosmos untuk bercengkrama di satu tempat dalam satu waktu tertentu, lalu saling mengingatkan.

Masih dalam kepedihan yang sama, sunyi yang nyaris tak berbeda, musikalisasi puisi Di Dalam Dada dibangun dengan menghadirkan suasana rimba raya, yang kental dengan nyanyian suku pedalaman. Inilah bentuk ketakjuban atas keunikan sekaligus pembacaan tanda-tanda yang dikandung puisi, untuk kemudian memberikan tawaran pencapaian yang berbeda dalam karya musikalisasi puisi yang diciptakan.

Meski sunyi dan kepedihan begitu mendominasi, pentas musikalisasi ini sesungguhnya berbicara tentang cinta sebagai awal dari segala kehidupan: kepedihan juga suka cita. Untuk menampilkan cinta yang berbeda, Kelompok Sekali Pentas menghadirkan puisi Satu Perahu milik W. Sunarta, berbicara tentang keikhlasan dan penyerahan diri yang utuh. Puisi ini disajikan secara sederhana dan begitu romantis, dibangun dengan instrumen gitar, keyboard dan biola. Mereka mencoba menyederhanakan segala kemungkinan notasi untuk menghidupkan kalimat paling cinta dalam puisi tersebut.

……………

Genggam tanganku lebih erat

Biarkan perahu kita hanyut

Menurut kehendak air

Bait terakhir dari puisi yang terdiri dari empat bait menjadi ruh bagi Satu Perahu. Dari tiga baris inilah kesadaran kelompok terbentuk sejak 1 Januari 2011 itu tumbuh untuk menciptakan sunyi dalam dimensi yang menggugah. Kesadaran akan cinta, juga keikhlasan untuk menyajikan puisi agar tetap tinggal dalam kesederhanaannya.


Kelompok Sekali Pentas [Foto: Ruang Hujan x Himatografi]

Pertarungan

Heri Windi Anggara sebagai motor Kelompok Sekali Pentas benar-benar tak menginginkan pertunjukan ini berhenti sebatas hiburan semata. Jauh melampauinya, ia berupaya menyusun mozaik-mozaik kemungkinan puisi menjadi sesuatu yang sarat pesan, menjadi kritik sekaligus otokritik. Seperti yang tertuang dalam sinopsis pertunjukan; maka apa lagi yang tersisa saat sawah telah lenyap dari pandangan mata? Selain menyerah pada sesal yang “Nyepi”.

Maka benarlah, hidup adalah pertarungan. Menang dan kalah menjadi hal yang biasa. Namun selama masih ada nafas, menyerah bukanlah pilihan. Upaya-upaya untuk meneguhkan keyakinan harus tetap diperjuangkan dengan penuh kesadaran.

Semangat ini begitu kental dalam musikalisi puisi Lagu Orang Kalah karya D Zawawi Imron. Dengan menggunakan teknik damp gitar dan biola yang melibas, intro musik yang dibangun merepresentasikan detak waktu yang bergegas, dalam ketertekanan. Begitu pedih lagu ini ketika bait pertama dinyanyikan. Namun kepedihan tak perlu berlama-lama. Dalam bait-bait berikutnya, musik berubah garang, mengobarkannya menjadi api yang menghapus goresan baja. Menjawab tantangan demi tantangan, meski dalam ketidakberdayaan sekalipun. Seperti yang tersurat dalam puisi; mayat-mayat yang mengaku kalah/senyumnya makin bergigi.


Kelompok Sekali Pentas [Foto: Ruang Hujan x Himatografi]

Sebagai puncak pertunjukan, kelompok yang terdiri dari Heri, Zico (gitar), Colby (bass), Chumani (keyboard), Monique, Tia (biola) dan Yustin, Tria, Nina (vocal) ini berkolaborasi dengan Kacak Kicak Puppet Theatre pimpinan “Jong” Santiasa Putra. Mereka mengeksplorasi puisi Nyepi karya Riki Dhamparan Putra dalam bentuk musik teaterikal. Pada puisi yang terdiri dari 1 (satu) kata Kukuuuruuyuuuuuuk ini, sepi disajikan dengan mengeksplorasi musik dalam puncak gemuruh. Maka hadirlah bunyi-bunyi noise yang menyelubung, permainan musik dalam birama yang tak sama, hingga eksplorasi vocal padat yang bersahutan.

Betapa kontradiktif, betapa menampar kesadaran. Nyepi yang begitu kontemplatif, dimaknai dengan suara-suara yang menggelegar. Mereka memotret suasana Nyepi hari ini yang begitu gemuruh dengan keinginan. Manekin dan televisi yang terkoneksi, hadir dalam pertunjukan seolah meledek siapa pun yang menyaksikannya. Bahwa kita semua, terlalu suntuk terhadap hal-hal yang berada di luar diri, kemudian abai terhadap sesuatu yang menjadi esensi.

Kelompok Sekali Pentas terasa benar menjaga keutuhan pertunjukan mereka, termasuk dalam pemilihan puisi untuk mendukung konsep serta gagasan yang ingin dimunculkan. Melalui kedekatan rasa dan tema, mereka membangun skenario secara perlahan dan sabar agar komunikasi yang dibangun benar-benar sampai dan bisa menjadi renungan bersama. Bahwa, Nyepi bagi diri adalah juga bentuk meditasi yang lain, manakala iklan dan propaganda begitu lihai menyurutkan intensitas interaksi sosial. Seperti hari ini, juga di waktu-waktu mendatang.

Noise masih liar terdengar. Satu per satu, mereka meninggalkan panggung pertunjukan, meninggalkan teror bagi penonton yang memadati Kalangan Ayodya. Suara-suara itu masih terus terdengar. Semakin kencang, lalu sunyi seketika mengakhiri pertunjukan, bersama hari yang mulai berangkat malam. [T]

Tags: musikalisasi puisiPuisi
Share64TweetSendShareSend
Previous Post

Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Next Post

Beda Gaya Sama Rasa: Disparitas Komunitas Sastra dalam Ekosistem Sastra di Bali Hari Ini

Wendra Wijaya

Wendra Wijaya

pengamat musik pengamat puisi, main musik juga menulis puisi

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Beda Gaya Sama Rasa: Disparitas Komunitas Sastra dalam Ekosistem Sastra di Bali Hari Ini

Beda Gaya Sama Rasa: Disparitas Komunitas Sastra dalam Ekosistem Sastra di Bali Hari Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co