2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beda Gaya Sama Rasa: Disparitas Komunitas Sastra dalam Ekosistem Sastra di Bali Hari Ini

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
November 10, 2019
in Esai
Beda Gaya Sama Rasa: Disparitas Komunitas Sastra dalam Ekosistem Sastra di Bali Hari Ini

Juli Sastrawan (pegang mik) saat bicara soal komunitas sastra pada Festival Seni Bali Jani 2019 di Taman Budaya Denpasar

Komunitas sastra dan karya sastra merupakan satu rantai kebudayaan yang takdapat dipisahkan. Tidak ada yang lebih penting atau lebih tidak penting. Ketika salah satunya hilang, rantai ini takakan benar utuh, rusak, dan bahkan takberbentuk. Kepaduan karya sastra dan komunitasnya bisa dilihat salah satunya melalui keberadaan komunitas sastra sebagai wadah yang penting bagi para sastrawan dalam penciptaan karya maupun proses menuju penciptaan itu sendiri. 

Keberadaan komunitas bukan hanya menjadi penaung proses kreatif sastrawan, melainkan juga wadah mereka dalam olah wacana. Hadirnya penulis di dalam sebuah komunitas membuat kesempatan karyanya terus dibicarakan dalam berbagai sudut pandang dan profesi masing-masing anggota komunitas. Secara tidak langsung, komunitas ini menjadi wadah untuk penulis (baca: anggotanya) selalu berada di sirkuit kekaryaan yang sama dan positif. Daya dukung dari setiap anggota komunitas menjadi stimulus dalam memacu diri dan kelompok untuk terus berkarya.

Parasastrawan—terutama sastrawan muda Bali—hampir sebagian besar kisah kepengarangannya beririsan dan berawal dari keterlibatan mereka dalam aktivitas pada komunitas sastra. Akibatnya, sebagian besar juga karyanya terlahir dari aktivitas yang diadakan dalam komunitas sastra. Dengan demikian, keberadaan komunitas sastra memiliki arti penting sebagai sebuah “wadah” untuk belajar dan memproduksi karya karena di dalam komunitas sastra inilah secara tidak langsung terjadi interaksi dan sinergi proses kreatif.

Komunitas Sastra dan Peran Pentingnya di Masyarakat

Escarpit dalam Triadnyani (2019) menguraikan secara panjang lebar perihal sastra sebagai benda budaya yang dihasilkan sastrawan sebagai bagian dari kegiatan industri modern. Sastra bukan hanya milik sastrawan. Sekali sebuah karya (baca: buku) diluncurkan, ia mencakup sederet kegiatan dan lembaga yang berada di antara pencipta dan penikmatnya, terutama menyangkut produksi, distribusi, dan konsumen. Komunitas sastra menjadi salah satu ajang sirkuit sastra; tempat berputarnya roda kreativitas tersebut.

Keberadaan komunitas sastra di Bali memegang peranan penting dalam memasyarakatkan sastra. Dengan adanya komunitas sastra, sastra taklagi terkesan eksklusif dan hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Hadirnya komunitas sastra memberi cara pandang baru dan bentuk lain dalam mengakses sastra. Sastra, selain ditemui di kehidupan-kehidupan kampus dalam diskusi, seminar, jurnal dan penelitian, sastra juga menjadi bagian dari masyarakat di mana sastra itu bisa diakses di jalanan, lapangan, atau bahkan di warung kopi.  

Komunitas sastra inilah yang menjadi motor penggerak yang mewacanakan karya sastra dan perkembangannya melalui berbagai kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi diskusi sastra, bedah buku, baca puisi, slam puisi, musikalisasi puisi, pentas teater dan lain sebagainya.

Peran komunitas sastra bagi perkembangan sastra kini memang taklagi bisa dipandang sebelah mata, atau hanya dipandang sekadar sebagai sebuah kelompok atau perkumpulan orang yang menyukai sebuah kesamaan akan sesuatu. Komunitas sastra di Bali kian hari bertransformasi dan mencari bentuk-bentuk baru sinergi kerja-kerja kebudayaan. Memang, takpernah terlihat dengan jelas komunitas sastra menyebutkan dan mendaku diri begitu, tetapi hal ini terlihat dari berbagai program dan kegiatan-kegiatan kesastraan yang segar terjadi.

Bentuk Komunitas Sastra di Bali Hari Ini

Ahmad Farid (2017) juga melakukan penelitian tentang komunitas sastra di Purwakarta. Di dalam tulisannya yang berjudul “Komunitas Sastra dan Dunia Baru”, ia mengutip pendapat June Jordan bahwa sebuah kota sebaiknya fokus membangun kekayaannya yang sejati dengan model pembangunan yang endogen (pembangunan dari dalam). Salah satu dari kekayaan sejati itu adalah keberadaan komunitas kreatifnya. June menyebutnya “aset kreatif dan intelektual.” Menurutnya aset kreatif ini merupakan intisari masa depan suatu wilayah yang harus dipelihara. Hal-hal seperti inilah yang dapat kita lihat di kota-kota kreatif, seperti Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar.

Ketika berbicara perihal komunitas kreatif, tentunya komunitas sastra adalah salah satu bagiannya. Setelah dilakukan pengamatan tentang komunitas sastra di Bali hari ini, dapat dilihat adanya tiga bentuk komunitas sastra di Bali. Tiga bentuk komunitas sastra tersebut, yaitu komunitas yang dibentuk oleh sastrawan lama, komunitas sastra kampus/ sekolah/ instansi, dan komunitas sastra tanpa patron.



Di Bali, sastrawan lama [1] yang berkecimpung di dunia sastra tidak berhenti dalam membangun ekosistem sastra. Pascabubarnya Sanggar Minum Kopi (SMK), beberapa sastrawan yang sempat tergabung di dalamnya membentuk komunitas-komunitas sastra baru. Terbentuknya pun tidak serta merta terjadi seketika pascabubarnya Sanggar Minum Kopi. Namun, beberapa tahun setelahnya.

Sebut saja Made Adnyana Ole yang mendirikan Komunitas Mahima di Singaraja bersama dengan Kadek Sonia Piscayanti. Ada juga Nanoq Da Kansas yang turut mendirikan Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya di Negara. Dua nama di atas ada sastrawan yang sempat dan pernah beririsan maupun berproses dengan Sanggar Minum Kopi.

Keberadaan komunitas sastra di Bali juga perlahan semakin semarak dengan adanya komunitas-komunitas sastra yang lahir dari kampus, sekolah, pun instansi. Lahirnya komunitas sastra di sekolah dan lembaga seakan memberi harapan pada sastra akan masa-masa di depan yang lebih semarak. Adapun komunitas sastra tersebut adalah Komunitas Cakrawala (Universitas  Udayana), Cemara Angin (Universitas Pendidikan Ganesha), Komunitas Lentera (SMAN 2 Semarapura) dan Komunitas Genta Malini (SMAN 1 Gianyar). Terlepas dari nama-nama yang disebutkan di atas, ada beberapa sekolah yang juga turut memiliki komunitas sastra di mana kegiatannya lebih banyak dalam pentas teater seperti Komunitas Teater Jineng (Kabupaten Tabanan), Komunitas Teater Bisma (Kabupaten Badung), dan Komunitas Galang Kangin di Karangasem.

Selain dua bentuk komunitas sastra di atas, di Bali hari ini terdapat satu lagi bentuk komunitas sastra, yaitu komunitas sastra tanpa patron. Patron, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti suri atau tauladan. Berpatron adalah masih berdasarkan senior atau tauladan-tauladan yang terdapat dalam komunitasnya. Inilah yang terjadi di Bali hari ini: adanya bentuk komunitas sastra yang tidak lahir dari sastrawan lama, tidak terbentuk karena satu kesatuan almamater atau tingkat Pendidikan, tetapi semacam bentuk liyan yang terlahir dari kesadaran-kedasaran kolektif dalam membentuk komunitas sastra.

Sebut saja Pu.I.See. Ia lahir dari beberapa anak-anak SMA, kuliahan, dan umum yang takada irisannya dengan “orang-orang sastra” di Bali. Mereka membentuk kelompok kecil, membuat puisinya sendiri, dan membacakan puisi yang mereka tulis sendiri. Kelompok ini seakan membuktikan bahwa sesuatu terjadi (baca: berkomunitas) takmesti ada tokoh/ketokohan di dalamnya sehingga takakan ada tokoh pusat/ tokoh yang dianggap paling berperan dalam membentuk atau menjalankan kelompok ini.

Mungkin saja, kelompok tanpa patron semacam ini yang akan berpotensi paling lama bertahan di masa depan ketika membicarakan bentuk komunitas sastra. Hal ini karena ia merupakan bentuk paling liyan dari dua bentuk komunitas sebelumnya. Bisa saja kelompok yang dibentuk oleh sastrawan lama akan hilang ketika “tokoh sastrawan lama” tersebut taklagi bisa melanjutkan komunitas karena suatu dan lain hal semacam umur yang menua dan faktor lainnya. Begitu pun dengan komunitas sastra yang terikat oleh almamater dan jenjang pendidikan yang sama. Ketika menamatkan studi atau sekolah, mungkin saja orang-orang yang tergabung dalam satu komunitas ini takakan lagi melanjutkan usaha-usanya terdahulu, atau jika pun takbegitu, kemungkinan orang dalam komunitas itu akan membentuk kelompoknya yang baru di luar kelompoknya yang terdahulu.

Disparitas dan Konteksnya

Bentuk paling purba atau langkah pertama untuk mengetahui sesuatu mungkin adalah dengan cara melihat definisinya. Kata disparitas merujuk pada definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berarti perbedaan; jarak. Tentu, meneropong berbagai komunitas sastra di Bali takakan pernah bisa lepas dari segenap perbedaan dan jaraknya (baca; jarak umur, lokasi dan pengalaman). Disparitas ini seakan menjadi hal-hal yang membuat komunitas sastra di Bali sebagai sebuah lingkar-lingkar kecil yang terjadi di sebagian daerah. Perbedaan yang terjadi memang takbisa dipungkiri. Namun, hal ini bukan berarti bahwa perbedaan itu buruk, tetapi justru sebaliknya.

Perbedaan-perbedaan tersebut lahir dari berbagai hal, seperti bagaimana meregenerasi komunitasnya, program yang dilakukan, serta gerakan-gerakan lain yang pada dasarnya masih kontekstual dengan sastra itu sendiri. Namun, perbedaan tersebut bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan karena bagaimana pun juga perbedaan ini seperti arus-arus sungai yang nantinya akan bermuara pada satu tempat. Jika seumpama segenap perbedaan ini merupakan arus sungai, tujuan perbedaan itu akan bermuara pada satu tempat, yaitu sastra itu sendiri.

Menyoal komunitas sastra di Bali hari ini, ada fenomena baru yang lahir dari gerakan arus bawah. Gerakan ini adalah penyebaran informasi sastra maupun kekaryaan melalui zine. Zine merupakan sebuah media cetak alternatif yang biasanya diterbitkan secara personal atau kelompok kecil dan diproduksi terbatas dengan cara difotokopi. Zine ini mengusung semangat pada publikasinya. Ketika zaman dulu sastrawan dikenal melalui karya-karyanya di media cetak arus utama, hari ini mungkin takmelulu soal itu.

Hal ini karena dulu publikasi satu-satunya adalah media cetak mainstream yang diketahui banyak orang. Dengan munculnya nama sastrawan di media cetak, sudah barang tentu sastrawan itu akan dikenal oleh banyak orang dan secara langsung didaku sebagai sastrawan. Namun, hal itu sudah menjadi cerita lampau. Kini, dengan berkembangnya zaman dan teknologi, siapapun bisa memproduksi informasinya sendiri, dan siapapun bisa membuat medianya sendiri.

Zine inilah yang memberi ruang sebesar-besarnya kepada siapapun, termasuk penulis itu sendiri untuk mengenalkan dirinya, mengenalkan karyanya, serta sebagai wadah karyanya bisa dibicarakan oleh orang lain. Saat media arus utama menampilkan nama-nama sastrawan yang itu-itu saja, zine ini membawa wacana tanding dan kesempatan lebih untuk penulis muda. Kendati zine ini kebanyakan diproduksi oleh perorangan, secara taksadar orang-orang ini membuat semacam “komunitas virtual”. Mungkin pada bagian ini kita perlu bertanya atau bahkan meredefinisi arti komunitas itu sendiri. Apakah komunitas itu mesti memiliki bangunan fisik? Apakah komunitas tersebut mesti memiliki kesepakatan atau aturan-aturan baku di dalam komunitasnya? Apakah mungkin komunitas tersebut terbentuk dari ketaksadaran berkomunitas? Seperti kita yang sebenarnya tidak dalam satu komunitas, atau ikut dalam kesepakatan-kesepakatan yang dilakukan sama seperti di komunitas, tetapi ketika ada sesuatu (terbitan zine baru dari orang lain) secara naluriah kita akan mendukung, merespons, dan membicarakannya selayaknya kita berkomunitas? Tidakkah ini bentuk dan potensi lain yang kuat yang terjadi di arus bawah dan takbanyak kita sadari keberadaannya?

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, menelisik dan melihat komunitas sastra di Bali serta melihat konteksnya hari ini, sepertinya kita sedang bergerak ke depan. Pergerakan dengan cara-cara berbeda nan beragam yang kita yakini masing-masing. Dengan cara-cara ini pula, dari setiap perbedaan cara yang kita yakini, kita merasakan adanya sebuah kesamaan; kebahagiaan menjalani sastra. Atau bahkan sebaliknya? Beragamnya cara dan laku yang dilakukan akan semakin menjauhkan kita dari kesadaran bahwa sejatinya kita merasakan hal yang sama?


[1] Yang dijadikan pijakan dalam melihat sastrawan lama adalah Sanggar Minum Kopi (1984-1994). Meskipun pra-Sanggar Minum Kopi terdapat beberapa tokoh sastra Indonesia di Bali, hanya saja titik balik terbentuknya beberapa komunitas sastra di sejumlah kabupaten di Bali adalah pasca-Sanggar Minum Kopi.

Tags: Festival Seni Bali JanikomunitasKomunitas Cemara AnginKomunitas MahimaKomunitas Senja
Share186TweetSendShareSend
Previous Post

Menakar Puisi, Menapaki Sunyi Kelompok Sekali Pentas

Next Post

Gambaran Ringkas Sastra di Media Cetak dan Digital di Bali

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Gambaran Ringkas Sastra di Media Cetak dan Digital di Bali

Gambaran Ringkas Sastra di Media Cetak dan Digital di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co