12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beda Gaya Sama Rasa: Disparitas Komunitas Sastra dalam Ekosistem Sastra di Bali Hari Ini

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
November 10, 2019
in Esai
Beda Gaya Sama Rasa: Disparitas Komunitas Sastra dalam Ekosistem Sastra di Bali Hari Ini

Juli Sastrawan (pegang mik) saat bicara soal komunitas sastra pada Festival Seni Bali Jani 2019 di Taman Budaya Denpasar

Komunitas sastra dan karya sastra merupakan satu rantai kebudayaan yang takdapat dipisahkan. Tidak ada yang lebih penting atau lebih tidak penting. Ketika salah satunya hilang, rantai ini takakan benar utuh, rusak, dan bahkan takberbentuk. Kepaduan karya sastra dan komunitasnya bisa dilihat salah satunya melalui keberadaan komunitas sastra sebagai wadah yang penting bagi para sastrawan dalam penciptaan karya maupun proses menuju penciptaan itu sendiri. 

Keberadaan komunitas bukan hanya menjadi penaung proses kreatif sastrawan, melainkan juga wadah mereka dalam olah wacana. Hadirnya penulis di dalam sebuah komunitas membuat kesempatan karyanya terus dibicarakan dalam berbagai sudut pandang dan profesi masing-masing anggota komunitas. Secara tidak langsung, komunitas ini menjadi wadah untuk penulis (baca: anggotanya) selalu berada di sirkuit kekaryaan yang sama dan positif. Daya dukung dari setiap anggota komunitas menjadi stimulus dalam memacu diri dan kelompok untuk terus berkarya.

Parasastrawan—terutama sastrawan muda Bali—hampir sebagian besar kisah kepengarangannya beririsan dan berawal dari keterlibatan mereka dalam aktivitas pada komunitas sastra. Akibatnya, sebagian besar juga karyanya terlahir dari aktivitas yang diadakan dalam komunitas sastra. Dengan demikian, keberadaan komunitas sastra memiliki arti penting sebagai sebuah “wadah” untuk belajar dan memproduksi karya karena di dalam komunitas sastra inilah secara tidak langsung terjadi interaksi dan sinergi proses kreatif.

Komunitas Sastra dan Peran Pentingnya di Masyarakat

Escarpit dalam Triadnyani (2019) menguraikan secara panjang lebar perihal sastra sebagai benda budaya yang dihasilkan sastrawan sebagai bagian dari kegiatan industri modern. Sastra bukan hanya milik sastrawan. Sekali sebuah karya (baca: buku) diluncurkan, ia mencakup sederet kegiatan dan lembaga yang berada di antara pencipta dan penikmatnya, terutama menyangkut produksi, distribusi, dan konsumen. Komunitas sastra menjadi salah satu ajang sirkuit sastra; tempat berputarnya roda kreativitas tersebut.

Keberadaan komunitas sastra di Bali memegang peranan penting dalam memasyarakatkan sastra. Dengan adanya komunitas sastra, sastra taklagi terkesan eksklusif dan hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Hadirnya komunitas sastra memberi cara pandang baru dan bentuk lain dalam mengakses sastra. Sastra, selain ditemui di kehidupan-kehidupan kampus dalam diskusi, seminar, jurnal dan penelitian, sastra juga menjadi bagian dari masyarakat di mana sastra itu bisa diakses di jalanan, lapangan, atau bahkan di warung kopi.  

Komunitas sastra inilah yang menjadi motor penggerak yang mewacanakan karya sastra dan perkembangannya melalui berbagai kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi diskusi sastra, bedah buku, baca puisi, slam puisi, musikalisasi puisi, pentas teater dan lain sebagainya.

Peran komunitas sastra bagi perkembangan sastra kini memang taklagi bisa dipandang sebelah mata, atau hanya dipandang sekadar sebagai sebuah kelompok atau perkumpulan orang yang menyukai sebuah kesamaan akan sesuatu. Komunitas sastra di Bali kian hari bertransformasi dan mencari bentuk-bentuk baru sinergi kerja-kerja kebudayaan. Memang, takpernah terlihat dengan jelas komunitas sastra menyebutkan dan mendaku diri begitu, tetapi hal ini terlihat dari berbagai program dan kegiatan-kegiatan kesastraan yang segar terjadi.

Bentuk Komunitas Sastra di Bali Hari Ini

Ahmad Farid (2017) juga melakukan penelitian tentang komunitas sastra di Purwakarta. Di dalam tulisannya yang berjudul “Komunitas Sastra dan Dunia Baru”, ia mengutip pendapat June Jordan bahwa sebuah kota sebaiknya fokus membangun kekayaannya yang sejati dengan model pembangunan yang endogen (pembangunan dari dalam). Salah satu dari kekayaan sejati itu adalah keberadaan komunitas kreatifnya. June menyebutnya “aset kreatif dan intelektual.” Menurutnya aset kreatif ini merupakan intisari masa depan suatu wilayah yang harus dipelihara. Hal-hal seperti inilah yang dapat kita lihat di kota-kota kreatif, seperti Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar.

Ketika berbicara perihal komunitas kreatif, tentunya komunitas sastra adalah salah satu bagiannya. Setelah dilakukan pengamatan tentang komunitas sastra di Bali hari ini, dapat dilihat adanya tiga bentuk komunitas sastra di Bali. Tiga bentuk komunitas sastra tersebut, yaitu komunitas yang dibentuk oleh sastrawan lama, komunitas sastra kampus/ sekolah/ instansi, dan komunitas sastra tanpa patron.



Di Bali, sastrawan lama [1] yang berkecimpung di dunia sastra tidak berhenti dalam membangun ekosistem sastra. Pascabubarnya Sanggar Minum Kopi (SMK), beberapa sastrawan yang sempat tergabung di dalamnya membentuk komunitas-komunitas sastra baru. Terbentuknya pun tidak serta merta terjadi seketika pascabubarnya Sanggar Minum Kopi. Namun, beberapa tahun setelahnya.

Sebut saja Made Adnyana Ole yang mendirikan Komunitas Mahima di Singaraja bersama dengan Kadek Sonia Piscayanti. Ada juga Nanoq Da Kansas yang turut mendirikan Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya di Negara. Dua nama di atas ada sastrawan yang sempat dan pernah beririsan maupun berproses dengan Sanggar Minum Kopi.

Keberadaan komunitas sastra di Bali juga perlahan semakin semarak dengan adanya komunitas-komunitas sastra yang lahir dari kampus, sekolah, pun instansi. Lahirnya komunitas sastra di sekolah dan lembaga seakan memberi harapan pada sastra akan masa-masa di depan yang lebih semarak. Adapun komunitas sastra tersebut adalah Komunitas Cakrawala (Universitas  Udayana), Cemara Angin (Universitas Pendidikan Ganesha), Komunitas Lentera (SMAN 2 Semarapura) dan Komunitas Genta Malini (SMAN 1 Gianyar). Terlepas dari nama-nama yang disebutkan di atas, ada beberapa sekolah yang juga turut memiliki komunitas sastra di mana kegiatannya lebih banyak dalam pentas teater seperti Komunitas Teater Jineng (Kabupaten Tabanan), Komunitas Teater Bisma (Kabupaten Badung), dan Komunitas Galang Kangin di Karangasem.

Selain dua bentuk komunitas sastra di atas, di Bali hari ini terdapat satu lagi bentuk komunitas sastra, yaitu komunitas sastra tanpa patron. Patron, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti suri atau tauladan. Berpatron adalah masih berdasarkan senior atau tauladan-tauladan yang terdapat dalam komunitasnya. Inilah yang terjadi di Bali hari ini: adanya bentuk komunitas sastra yang tidak lahir dari sastrawan lama, tidak terbentuk karena satu kesatuan almamater atau tingkat Pendidikan, tetapi semacam bentuk liyan yang terlahir dari kesadaran-kedasaran kolektif dalam membentuk komunitas sastra.

Sebut saja Pu.I.See. Ia lahir dari beberapa anak-anak SMA, kuliahan, dan umum yang takada irisannya dengan “orang-orang sastra” di Bali. Mereka membentuk kelompok kecil, membuat puisinya sendiri, dan membacakan puisi yang mereka tulis sendiri. Kelompok ini seakan membuktikan bahwa sesuatu terjadi (baca: berkomunitas) takmesti ada tokoh/ketokohan di dalamnya sehingga takakan ada tokoh pusat/ tokoh yang dianggap paling berperan dalam membentuk atau menjalankan kelompok ini.

Mungkin saja, kelompok tanpa patron semacam ini yang akan berpotensi paling lama bertahan di masa depan ketika membicarakan bentuk komunitas sastra. Hal ini karena ia merupakan bentuk paling liyan dari dua bentuk komunitas sebelumnya. Bisa saja kelompok yang dibentuk oleh sastrawan lama akan hilang ketika “tokoh sastrawan lama” tersebut taklagi bisa melanjutkan komunitas karena suatu dan lain hal semacam umur yang menua dan faktor lainnya. Begitu pun dengan komunitas sastra yang terikat oleh almamater dan jenjang pendidikan yang sama. Ketika menamatkan studi atau sekolah, mungkin saja orang-orang yang tergabung dalam satu komunitas ini takakan lagi melanjutkan usaha-usanya terdahulu, atau jika pun takbegitu, kemungkinan orang dalam komunitas itu akan membentuk kelompoknya yang baru di luar kelompoknya yang terdahulu.

Disparitas dan Konteksnya

Bentuk paling purba atau langkah pertama untuk mengetahui sesuatu mungkin adalah dengan cara melihat definisinya. Kata disparitas merujuk pada definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berarti perbedaan; jarak. Tentu, meneropong berbagai komunitas sastra di Bali takakan pernah bisa lepas dari segenap perbedaan dan jaraknya (baca; jarak umur, lokasi dan pengalaman). Disparitas ini seakan menjadi hal-hal yang membuat komunitas sastra di Bali sebagai sebuah lingkar-lingkar kecil yang terjadi di sebagian daerah. Perbedaan yang terjadi memang takbisa dipungkiri. Namun, hal ini bukan berarti bahwa perbedaan itu buruk, tetapi justru sebaliknya.

Perbedaan-perbedaan tersebut lahir dari berbagai hal, seperti bagaimana meregenerasi komunitasnya, program yang dilakukan, serta gerakan-gerakan lain yang pada dasarnya masih kontekstual dengan sastra itu sendiri. Namun, perbedaan tersebut bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan karena bagaimana pun juga perbedaan ini seperti arus-arus sungai yang nantinya akan bermuara pada satu tempat. Jika seumpama segenap perbedaan ini merupakan arus sungai, tujuan perbedaan itu akan bermuara pada satu tempat, yaitu sastra itu sendiri.

Menyoal komunitas sastra di Bali hari ini, ada fenomena baru yang lahir dari gerakan arus bawah. Gerakan ini adalah penyebaran informasi sastra maupun kekaryaan melalui zine. Zine merupakan sebuah media cetak alternatif yang biasanya diterbitkan secara personal atau kelompok kecil dan diproduksi terbatas dengan cara difotokopi. Zine ini mengusung semangat pada publikasinya. Ketika zaman dulu sastrawan dikenal melalui karya-karyanya di media cetak arus utama, hari ini mungkin takmelulu soal itu.

Hal ini karena dulu publikasi satu-satunya adalah media cetak mainstream yang diketahui banyak orang. Dengan munculnya nama sastrawan di media cetak, sudah barang tentu sastrawan itu akan dikenal oleh banyak orang dan secara langsung didaku sebagai sastrawan. Namun, hal itu sudah menjadi cerita lampau. Kini, dengan berkembangnya zaman dan teknologi, siapapun bisa memproduksi informasinya sendiri, dan siapapun bisa membuat medianya sendiri.

Zine inilah yang memberi ruang sebesar-besarnya kepada siapapun, termasuk penulis itu sendiri untuk mengenalkan dirinya, mengenalkan karyanya, serta sebagai wadah karyanya bisa dibicarakan oleh orang lain. Saat media arus utama menampilkan nama-nama sastrawan yang itu-itu saja, zine ini membawa wacana tanding dan kesempatan lebih untuk penulis muda. Kendati zine ini kebanyakan diproduksi oleh perorangan, secara taksadar orang-orang ini membuat semacam “komunitas virtual”. Mungkin pada bagian ini kita perlu bertanya atau bahkan meredefinisi arti komunitas itu sendiri. Apakah komunitas itu mesti memiliki bangunan fisik? Apakah komunitas tersebut mesti memiliki kesepakatan atau aturan-aturan baku di dalam komunitasnya? Apakah mungkin komunitas tersebut terbentuk dari ketaksadaran berkomunitas? Seperti kita yang sebenarnya tidak dalam satu komunitas, atau ikut dalam kesepakatan-kesepakatan yang dilakukan sama seperti di komunitas, tetapi ketika ada sesuatu (terbitan zine baru dari orang lain) secara naluriah kita akan mendukung, merespons, dan membicarakannya selayaknya kita berkomunitas? Tidakkah ini bentuk dan potensi lain yang kuat yang terjadi di arus bawah dan takbanyak kita sadari keberadaannya?

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, menelisik dan melihat komunitas sastra di Bali serta melihat konteksnya hari ini, sepertinya kita sedang bergerak ke depan. Pergerakan dengan cara-cara berbeda nan beragam yang kita yakini masing-masing. Dengan cara-cara ini pula, dari setiap perbedaan cara yang kita yakini, kita merasakan adanya sebuah kesamaan; kebahagiaan menjalani sastra. Atau bahkan sebaliknya? Beragamnya cara dan laku yang dilakukan akan semakin menjauhkan kita dari kesadaran bahwa sejatinya kita merasakan hal yang sama?


[1] Yang dijadikan pijakan dalam melihat sastrawan lama adalah Sanggar Minum Kopi (1984-1994). Meskipun pra-Sanggar Minum Kopi terdapat beberapa tokoh sastra Indonesia di Bali, hanya saja titik balik terbentuknya beberapa komunitas sastra di sejumlah kabupaten di Bali adalah pasca-Sanggar Minum Kopi.

Tags: Festival Seni Bali JanikomunitasKomunitas Cemara AnginKomunitas MahimaKomunitas Senja
Share186TweetSendShareSend
Previous Post

Menakar Puisi, Menapaki Sunyi Kelompok Sekali Pentas

Next Post

Gambaran Ringkas Sastra di Media Cetak dan Digital di Bali

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Gambaran Ringkas Sastra di Media Cetak dan Digital di Bali

Gambaran Ringkas Sastra di Media Cetak dan Digital di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co