12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Kadek Jenitha Ayunda by Kadek Jenitha Ayunda
November 7, 2019
in Esai
Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Ilustrasi: Jro Adit Alamsta

Tentunya masih teringat gelombang aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa di berbagai daerah yang puncaknya pada 24 September 2019. Khususnya di DKI Jakarta, mahasiswa bersua di depan gedung MPR/DPR RI, berharap untuk didengar. Pada hari itu, saya yang notabene mahasiswa yang tak vokal tentang politik dan hukum tak turun ke jalan. Apatis? Bukan. Saya turut mengikuti perkembangan berita aksi demonstrasi ini. Iya, saya mengikuti dari balik layar ponsel pintar dan juga laptop.

Generasi Z Tidak Melek Politik?

Otoritas untuk menyampaikan aspirasi dimiliki oleh semua orang di era Demokrasi apa lagi setelah Reformasi. Caranya pun beragam, ada yang secara tertulis maupun lisan. Salah satu contohnya adalah demonstrasi. Sesungguhnya, aksi demonstrasi 24 September 2019 ini merupakan fenomena yang langka dan patut dianalisis. Pertama, aksi ini memiliki skala yang besar, menandakan bahwa keresahan masyarakat khususnya mahasiswa sudah tidak tersalur dan tertampung lagi. Kedua, dari segi partisipannya, mahasiswa, generasi Z. Membuat generasi Z melek politik bukanlah hal yang mudah. Generasi Z (sebutan populer untuk mereka yang lahir pada 1995-2010) cenderung tidak tertarik dengan politik.

Aksi ini menyadarkan saya bahwa sedikitnya minat generasi Z terhadap politik dipengaruhi oleh terbatasnya kebebasan sipil. Era Demokrasi katanya, bebas tapi tak bebas. Kebebasan berpendapat merupakan hak asasi manusia, bukan hal sekunder yang bisa ditunda-tunda pemenuhannya. Tapi, nyatanya ada penekanan oleh pemerintah. Contoh saja aktivis-aktivis senior yang membagi isi pikirannya di media sosial, ditangkap pula. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi generasi muda Indonesia. Yang berani bersua bukannya diapresiasi, malah digerogoti. Tapi beruntungnya, masih ada mahasiswa-mahasiswa yang tak gentar dalam menyuarakan kegundahannya. Oleh karena itu, mungkin pemerintah Indonesia patut diacungi jempol karena membuat generasi Z keluar dari zona nyamannya.

Begitupun dengan saya, keresahan saya muncul ketika mahasiswa lainnya berhasil menggapai kepedulian saya yang belum pernah tersentuh. Aspirasi yang teman-teman sebarkan lewat media sosial seperti instagram dan twitter membuat saya mengerti bahwa Indonesia berada di fase krisis. Di hari itu, untuk pertama kalinya saya merasakan atmosfer demonstrasi yang sejak dulu hanya saya temui di televisi. Saya tidak berdemonstrasi, namun suasana di kampus benar-benar menggambarkan dukungan untuk teman-teman yang sedang berjuang di luar sana.

Dipandang Sebelah Mata

Berbagai pro dan kontra ditujukan pada aksi demonstrasi mahasiswa. Aksi demonstrasi ini dituding merusak layanan umum dan menyebabkan kemacetan. Iya, saya juga melihat semua itu. Orang-orang mengomel, “kenapa harus demonstrasi? Merusak saja. Ada cara yang lebih aman dan efisien, dialog langsung dengan DPR.” Namun, saya juga melihat sesungguhnya mahasiswa sudah menyampaikan aspirasinya dengan caranya sendiri, berintelektual dan juga modern. Menulis artikel opini di surat kabar, mengunggah video yang berisikan pendapat, visualisasi apik nan kreatif lainnya di media sosial adalah contoh-contohnya. Mahasiswa juga sudah berusaha melakukan dialog dengan DPR. Sayangnya, tidak ditanggapi. Bisa dilihat bukan? Lagi-lagi DPR tidak tergugah hatinya hanya dengan cara halus yang ditawarkan oleh mahasiswa. Aksi demonstrasi lah yang membangunkan DPR dari tidurnya.

Barulah bermulai pada hari itu beberapa saluran televisi membantu untuk membuka jalur mediasi bagi mahasiswa untuk bertatap muka langsung dengan DPR dan jajaran pemerintah lainnya. Mata Najwa dan Indonesia Lawyer Club merupakan contoh gelar wicara yang mempertemukan mahasiswa dengan pemerintah Indonesia. Aktivis-aktivis politik dan hukum pun turut hadir di mediasi ini. Di acara ini pula saya melihat beberapa kali mahasiswa disudutkan, diremehkan. Hal ini membuat saya berpikir bahwa pemerintah Indonesia menganggap mahasiswa belum punya ilmu yang mumpuni terkait dengan tuntutan yang diajukan. Padahal, mahasiswa merupakan tonggak penerus bangsa ini. Jika terus diperlakukan seperti ini bisa jadi menimbulkan pergolakan yang lebih besar dari mahasiswa itu sendiri.

Pemerintah Indonesia perlu mengkaji lagi tentang fenomena aksi demonstrasi mahasiswa pada 24 September 2019. Seperti pidato Presiden RI Pertama, Soekarno, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kini, mahasiswa lah yang merupakan pemuda-pemudi itu. Ketika mahasiswa resah dengan kondisi Indonesia, ia pasti akan bertindak. Tindakannya pun bukan tanpa arti. Mahasiswa itu hidup berdampingan dengan masyarakat. Mereka membangun rasa kemanusiaan yang berdasarkan kemasyarakatan, menjadi jembatan di tengah masyarakat yang terbelah. Jembatan ini bisa berarti pro dan kontra terhadap pemerintah. Tentunya mahasiswa tak akan diam jika hak-hak masyarakat diambil dengan semena-mena oleh pemerintah, begitu pula jika pemerintah memiliki prestasi yang patut dibanggakan dan diapresiasi. Begitu lah fungsi mahasiswa Indonesia. [T]

Tags: Generasi ZGenerasi Zaman Now
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Next Post

Menakar Puisi, Menapaki Sunyi Kelompok Sekali Pentas

Kadek Jenitha Ayunda

Kadek Jenitha Ayunda

Penulis lahir di Denpasar, 30 Juni 1999. Saat ini penulis sedang menempuh pendidikan di Jakarta Selatan sebagai mahasiswi Universitas Sampoerna jurusan Akuntansi. Penulis juga ikut berpartisipasi aktif dalam kepengurusan organisasi mahasiswa Universitas Sampoerna dan memiliki ketertarikan di bidang seni tari.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Menakar Puisi, Menapaki Sunyi Kelompok Sekali Pentas

Menakar Puisi, Menapaki Sunyi Kelompok Sekali Pentas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co