14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Kadek Jenitha Ayunda by Kadek Jenitha Ayunda
November 7, 2019
in Esai
Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Ilustrasi: Jro Adit Alamsta

Tentunya masih teringat gelombang aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa di berbagai daerah yang puncaknya pada 24 September 2019. Khususnya di DKI Jakarta, mahasiswa bersua di depan gedung MPR/DPR RI, berharap untuk didengar. Pada hari itu, saya yang notabene mahasiswa yang tak vokal tentang politik dan hukum tak turun ke jalan. Apatis? Bukan. Saya turut mengikuti perkembangan berita aksi demonstrasi ini. Iya, saya mengikuti dari balik layar ponsel pintar dan juga laptop.

Generasi Z Tidak Melek Politik?

Otoritas untuk menyampaikan aspirasi dimiliki oleh semua orang di era Demokrasi apa lagi setelah Reformasi. Caranya pun beragam, ada yang secara tertulis maupun lisan. Salah satu contohnya adalah demonstrasi. Sesungguhnya, aksi demonstrasi 24 September 2019 ini merupakan fenomena yang langka dan patut dianalisis. Pertama, aksi ini memiliki skala yang besar, menandakan bahwa keresahan masyarakat khususnya mahasiswa sudah tidak tersalur dan tertampung lagi. Kedua, dari segi partisipannya, mahasiswa, generasi Z. Membuat generasi Z melek politik bukanlah hal yang mudah. Generasi Z (sebutan populer untuk mereka yang lahir pada 1995-2010) cenderung tidak tertarik dengan politik.

Aksi ini menyadarkan saya bahwa sedikitnya minat generasi Z terhadap politik dipengaruhi oleh terbatasnya kebebasan sipil. Era Demokrasi katanya, bebas tapi tak bebas. Kebebasan berpendapat merupakan hak asasi manusia, bukan hal sekunder yang bisa ditunda-tunda pemenuhannya. Tapi, nyatanya ada penekanan oleh pemerintah. Contoh saja aktivis-aktivis senior yang membagi isi pikirannya di media sosial, ditangkap pula. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi generasi muda Indonesia. Yang berani bersua bukannya diapresiasi, malah digerogoti. Tapi beruntungnya, masih ada mahasiswa-mahasiswa yang tak gentar dalam menyuarakan kegundahannya. Oleh karena itu, mungkin pemerintah Indonesia patut diacungi jempol karena membuat generasi Z keluar dari zona nyamannya.

Begitupun dengan saya, keresahan saya muncul ketika mahasiswa lainnya berhasil menggapai kepedulian saya yang belum pernah tersentuh. Aspirasi yang teman-teman sebarkan lewat media sosial seperti instagram dan twitter membuat saya mengerti bahwa Indonesia berada di fase krisis. Di hari itu, untuk pertama kalinya saya merasakan atmosfer demonstrasi yang sejak dulu hanya saya temui di televisi. Saya tidak berdemonstrasi, namun suasana di kampus benar-benar menggambarkan dukungan untuk teman-teman yang sedang berjuang di luar sana.

Dipandang Sebelah Mata

Berbagai pro dan kontra ditujukan pada aksi demonstrasi mahasiswa. Aksi demonstrasi ini dituding merusak layanan umum dan menyebabkan kemacetan. Iya, saya juga melihat semua itu. Orang-orang mengomel, “kenapa harus demonstrasi? Merusak saja. Ada cara yang lebih aman dan efisien, dialog langsung dengan DPR.” Namun, saya juga melihat sesungguhnya mahasiswa sudah menyampaikan aspirasinya dengan caranya sendiri, berintelektual dan juga modern. Menulis artikel opini di surat kabar, mengunggah video yang berisikan pendapat, visualisasi apik nan kreatif lainnya di media sosial adalah contoh-contohnya. Mahasiswa juga sudah berusaha melakukan dialog dengan DPR. Sayangnya, tidak ditanggapi. Bisa dilihat bukan? Lagi-lagi DPR tidak tergugah hatinya hanya dengan cara halus yang ditawarkan oleh mahasiswa. Aksi demonstrasi lah yang membangunkan DPR dari tidurnya.

Barulah bermulai pada hari itu beberapa saluran televisi membantu untuk membuka jalur mediasi bagi mahasiswa untuk bertatap muka langsung dengan DPR dan jajaran pemerintah lainnya. Mata Najwa dan Indonesia Lawyer Club merupakan contoh gelar wicara yang mempertemukan mahasiswa dengan pemerintah Indonesia. Aktivis-aktivis politik dan hukum pun turut hadir di mediasi ini. Di acara ini pula saya melihat beberapa kali mahasiswa disudutkan, diremehkan. Hal ini membuat saya berpikir bahwa pemerintah Indonesia menganggap mahasiswa belum punya ilmu yang mumpuni terkait dengan tuntutan yang diajukan. Padahal, mahasiswa merupakan tonggak penerus bangsa ini. Jika terus diperlakukan seperti ini bisa jadi menimbulkan pergolakan yang lebih besar dari mahasiswa itu sendiri.

Pemerintah Indonesia perlu mengkaji lagi tentang fenomena aksi demonstrasi mahasiswa pada 24 September 2019. Seperti pidato Presiden RI Pertama, Soekarno, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kini, mahasiswa lah yang merupakan pemuda-pemudi itu. Ketika mahasiswa resah dengan kondisi Indonesia, ia pasti akan bertindak. Tindakannya pun bukan tanpa arti. Mahasiswa itu hidup berdampingan dengan masyarakat. Mereka membangun rasa kemanusiaan yang berdasarkan kemasyarakatan, menjadi jembatan di tengah masyarakat yang terbelah. Jembatan ini bisa berarti pro dan kontra terhadap pemerintah. Tentunya mahasiswa tak akan diam jika hak-hak masyarakat diambil dengan semena-mena oleh pemerintah, begitu pula jika pemerintah memiliki prestasi yang patut dibanggakan dan diapresiasi. Begitu lah fungsi mahasiswa Indonesia. [T]

Tags: Generasi ZGenerasi Zaman Now
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Next Post

Menakar Puisi, Menapaki Sunyi Kelompok Sekali Pentas

Kadek Jenitha Ayunda

Kadek Jenitha Ayunda

Penulis lahir di Denpasar, 30 Juni 1999. Saat ini penulis sedang menempuh pendidikan di Jakarta Selatan sebagai mahasiswi Universitas Sampoerna jurusan Akuntansi. Penulis juga ikut berpartisipasi aktif dalam kepengurusan organisasi mahasiswa Universitas Sampoerna dan memiliki ketertarikan di bidang seni tari.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Menakar Puisi, Menapaki Sunyi Kelompok Sekali Pentas

Menakar Puisi, Menapaki Sunyi Kelompok Sekali Pentas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co