2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 7, 2019
in Esai
Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Di mana puisi kita hari ini? Bagaimana bentuk puisinya ? Dari penyair seperti apa puisi tercipta ? Untuk apa puisi ? Apakah puisi mampu mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik ? Siapa saja yang membaca puisi ? Apakah puisi hanya hadir di perlombaan saja? Di tengah realitas bahasa Indonesia hari ini yang oleh Joko Pinurbo katakan lingkungan vandalisme Bahasa, pada tataran mana puisi berada ?

Dan banyak lagi pertanyaan lainnya, yang tentu saja jika kita diskusikan dengan segelas kopi di beranda rumah, akan menjadi bahan yang menyenangkan dan mengasyikkan. Tapi maafkan, saya tidak akan membicarakan hal-hal berat dalam tulisan ini terkait menjawab pertanyaan di atas, apalagi mencari sejarah perkembangan puisi. Aiiiih..

Saya ditugaskan menulis catatan kecil terkait proses kreatif pementasan Apresiasi Sastra di Festival Seni Bali Jani 2019. Saya dan dua kawan lainnya yakni Dharma Putra dan Virginia Alenzka mendapat amanah yang cukup menantang, mencampur baurkan bentuk puisi yang kami amini, mempertemukan mereka dalam satu meja makan, di panggung pentas.

Dharma Putra dan Virginia Alenzka gemar menulis dan membaca puisi. Dharma Putra menulis puisinya dalam Bahasa Bali dan sering mendiskusikan karya-karya puisinya bersama kelompok Bali Sastra Komala, Bangli. Kelompok ini cukup aktif dan produktif dalam gerakan kesusastraan Jawa Kuna, menelurkan sejumlah penulis berbahasa Bali termasuk dirinya.

Sementara Virgi menulis dalam Bahasa Inggris, berama kawan-kawannya  mendirikan kelompok Unspokenpoetry yang sering menghelat acara membaca puisi di sejumlah café di Bali. Wajah Virgi tidak asing jika kawan-kawan mengunjungi UWRF Ubud Writer and Reader Festival setiap tahunnya, ia biasanya mejadi panitia atau perancang satu dua acara pada festival berskala International tersebut. Jadi memang sewajarnya dia menulis dalam Bahasa Inggris terlebih lagi ia lulusan Sastra Inggris di UNDKSHA, serta berkegiatan  kreatif di Komunitas Mahima Buleleng.

Sementara saya menulis Puisi Bahasa Indonesia, yang tidak berat-brat amat. Bersama kawan-kawan serasa suka menyusun metode-metode eksperimen kepenulisan puisi di Kelompok Belajar Bareng Pu. I. SEE – Canasta Creative Space. Serta aktif di kelompok Teater Kalangan, beberapa karya pertunjukan saya, berbasis puisi.

Kami bertiga dipertemukan untuk merangkai satu pertunjukan, menggabungkan kebiasaan kami dalam menulis puisi kemudian menghadirkannya ke ruang pentas. Sebelumnya kami menjabarkan bentuk puisi yang kami yakini dan kerjakan selama ini. Dharma Putra yang sering bersentuhan dengan tembang-tembang Bali, seperti mepalawakya, mesloka dan mekidung, kerap membacakan puisi dengan merubah bait-bait puisi menjadi tembang.

Dengan suara beratnya yang menggema, puisi seolah memiliki aura magis yang kental. Mungkin karena metembang dan sejenisnya itu sering saya saksikan di pura, hal ini melekat sekali dengan identitas ruang capaian yang ditujukan ke pendengar.  Dharma Putra meletakkan kata pada susunan bunyi yang saling tumpang tindih, tapi masih asyik untuk didengar, jika tidak hati-hati kata-kata bisa lenyap seketika, karena kita dihipnotis dengan rapal mantra yang ia dendangkan.

Sementara  Virgi membaca puisi seperti mengobrol, tidak ada tedensi melebih-lebihkan makna lewat ekspresi, gerakan ini saya kenal dengan Puisi Slam. Puisi Slam sangat jauh dengan pembacaan puisi Bahasa Indonesia, dalam Puisi Slam kejarannya adalah peristiwa puitis yang dinarasikan berdasarka kehidupan sehari-hari, yang mungkin saja luput dari pandangan orang  awam. Jadi kawan-kawan akan menyaksikan seseorang menceritakan kisah dirinya sendiri, seperti curhat kepada kawan, namun dengan sentuhan metafora di beberapa bagiannya.

Virgi fasih menggunakan Bahasa Inggris dalam menyajikan Puisi Slam, hal ini sangat berjarak bagi keseharian saya (kendati saya hidup di Bali dalam hiruk pikuk pulau pariwisata). Satu kata saja belum tertangkap maksudnya – belum menggambarkan sesuatu dalam imaji saya, kemudian dijejal kata lainnya dengan cepat. Aaargh bingung.

Melihat Virgi di atas panggung seperti menyaksikan kebudayaan luar yang sedang membicarakan dirinya yang asing di pulau ekspansi, sementara saya berada pada ketegangan kebudayaan tersebut. Tarik ulur makna di benak penonton adalah ruang tegang yang saya maksud, sebab kata dan metafor dalam satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya memiliki perbedaan yang harus dipahami secara mendalam.

Sementara saya, suka menerjemahkan puisi dengan cara mengobrak-abrik tubuh puisi kemudian mencari padanannya di realitas pengalaman sehari-hari. Kemudian hadir dalam peristiwa panggung dengan simbol, objek, tubuh aktor, gerak fragmen, serta kemungkinan bunyi. Bagi saya tubuh puisi memiliki ruang sublim yang kaya intrepretasi, bias intrepretasi inilah menjadi batasan eksplorasinya. Jadi kehadiran kata-kata porsinya lebih sedikit, paling hanya berupa tegasan untuk memperkuat aktifitas aktor. 

Prok-prok-prok jadi apa ?

Kami hendak meramu rasa puisi masing-masing, Dharma Putra akan membawakan puisi terkait pencaharian dirinya. Antara kepala hingga ke kaki, Dije Sirah Dije Batis.  Bagaimana manusia hari ini dihadapkan dengan banyak pilihan, namun sering salah pilih. Sementara Virgi akan membawakan puisi terkait tubuhnya di masyarakat atas segala pranata identitas yang melekat.  Harus sesuai pada umumnya, namun tidak sesuai pada kehendak nurani. Sementara saya akan membahas perjalanan ke Jembrana dan Buleleng, perjalanan yang cukup kontemplatif dalam mengenali suara dalam diri, cakeeeep !!! Saya mengajewantahkan kata-kata ke objek semisal ban, sandal, kursi, tv, suara bising di jalan, batu, helm gojek dan lain sebagainya.

Kemudian kami hendak mencari kemungkinan rekontruksi bahasa dalam puisi, di tengah realitas bahasa hari ini pada carut marutnya kebudayaan lisan kita. Bahasa merupakan unsur pertama dalam sistem masyarakat yang paling rentan terkena paparan dari luar. Namun dari bahasalah kita memahami bagaimana satu kebudayaan berdialektika hingga berkembang ke arah mana. Apakah kata-kata perlahan hilang lalu punah atau terbuka menerima serapan luar kemudian diadaptasi menjadi milik. Dalam hal ini saya membicarakan puisi yah.

Jika dikaitkan dengan Bali, betapa berseterunya itu, Bali yang separiwisata ini harus membuka lebar-kebar bahasa asing yang masuk, namun juga harus mempertahankan diri sebagai identitas Bahasa Balinya kemudian lebih jauh  memperjuangkan nasionalisme dalam Bahasa Indonesia.

Seorang kawan yang kebetulan bekerja di Daerah Canggu-Bali, daerah yang sedang berkembang dan gencar membangun sana-sini, sawah-sawahnya hanya estetik semata dalam menyambut tamu mancanegara, papan-papan iklan tanah di jual atau disewakan memenuhi setiap tikung jalannya. Kata dia kawan-kawannya yang asli jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat yang menetap di Canggu, jika bertemu pasti berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

“Apa yang sedang terjadi yah, seolah-olah mereka tengah mencari identitas baru dalam menggunakan bahasa inggris, kenapa tidak bangga dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerahnya saja” tanyanya kepada saya.

Sementara seorang kawan dekat, yang saat ini menempuh pendidikan pasca Sarjana UNUD, Linguistik mengatakan hari ini kita kehilangan beberapa kata-kata. Ada sejumlah kata-kata yang tidak pernah kita pakai atau dengar lagi, semisal tunggang langgang, pongah, tedeng aling-aling.

“Ke mana perginya kata-kata itu yah?” ujarnya dengan heran

Nah Lo, bahasa tengah galau lo ini.

NB :

Namun jangan galau juga ketika menonton pementasan kami bertiga, kata-kata akan dilagukan, kata Bahasa Inggris akan dinyanyikan dengan teknik mekidung, kada bahasa Indonesia akan berlari menjadi ban-ban mobil, kata-kata akan menjelma helm gojek yang tengah mencari alamat untuk pulang, kata-kata saling silang tanpa makna yang jelas, kata-kata akan mencari maknanya sendiri dalam bunyi, kata-kata akan menghilang lalu menjadi teriakan, kata-kata akan menyatu dengan bangunan di pura, kata-kata akan bercumbu dalam realitas kita sehari-hari. [T]

Salam .

Tags: Festival Seni Pelajar Jembrana
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Judicial Review: Kelompok Musik Penyerak Kata-kata

Next Post

Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co