23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 7, 2019
in Esai
Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Di mana puisi kita hari ini? Bagaimana bentuk puisinya ? Dari penyair seperti apa puisi tercipta ? Untuk apa puisi ? Apakah puisi mampu mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik ? Siapa saja yang membaca puisi ? Apakah puisi hanya hadir di perlombaan saja? Di tengah realitas bahasa Indonesia hari ini yang oleh Joko Pinurbo katakan lingkungan vandalisme Bahasa, pada tataran mana puisi berada ?

Dan banyak lagi pertanyaan lainnya, yang tentu saja jika kita diskusikan dengan segelas kopi di beranda rumah, akan menjadi bahan yang menyenangkan dan mengasyikkan. Tapi maafkan, saya tidak akan membicarakan hal-hal berat dalam tulisan ini terkait menjawab pertanyaan di atas, apalagi mencari sejarah perkembangan puisi. Aiiiih..

Saya ditugaskan menulis catatan kecil terkait proses kreatif pementasan Apresiasi Sastra di Festival Seni Bali Jani 2019. Saya dan dua kawan lainnya yakni Dharma Putra dan Virginia Alenzka mendapat amanah yang cukup menantang, mencampur baurkan bentuk puisi yang kami amini, mempertemukan mereka dalam satu meja makan, di panggung pentas.

Dharma Putra dan Virginia Alenzka gemar menulis dan membaca puisi. Dharma Putra menulis puisinya dalam Bahasa Bali dan sering mendiskusikan karya-karya puisinya bersama kelompok Bali Sastra Komala, Bangli. Kelompok ini cukup aktif dan produktif dalam gerakan kesusastraan Jawa Kuna, menelurkan sejumlah penulis berbahasa Bali termasuk dirinya.

Sementara Virgi menulis dalam Bahasa Inggris, berama kawan-kawannya  mendirikan kelompok Unspokenpoetry yang sering menghelat acara membaca puisi di sejumlah café di Bali. Wajah Virgi tidak asing jika kawan-kawan mengunjungi UWRF Ubud Writer and Reader Festival setiap tahunnya, ia biasanya mejadi panitia atau perancang satu dua acara pada festival berskala International tersebut. Jadi memang sewajarnya dia menulis dalam Bahasa Inggris terlebih lagi ia lulusan Sastra Inggris di UNDKSHA, serta berkegiatan  kreatif di Komunitas Mahima Buleleng.

Sementara saya menulis Puisi Bahasa Indonesia, yang tidak berat-brat amat. Bersama kawan-kawan serasa suka menyusun metode-metode eksperimen kepenulisan puisi di Kelompok Belajar Bareng Pu. I. SEE – Canasta Creative Space. Serta aktif di kelompok Teater Kalangan, beberapa karya pertunjukan saya, berbasis puisi.

Kami bertiga dipertemukan untuk merangkai satu pertunjukan, menggabungkan kebiasaan kami dalam menulis puisi kemudian menghadirkannya ke ruang pentas. Sebelumnya kami menjabarkan bentuk puisi yang kami yakini dan kerjakan selama ini. Dharma Putra yang sering bersentuhan dengan tembang-tembang Bali, seperti mepalawakya, mesloka dan mekidung, kerap membacakan puisi dengan merubah bait-bait puisi menjadi tembang.

Dengan suara beratnya yang menggema, puisi seolah memiliki aura magis yang kental. Mungkin karena metembang dan sejenisnya itu sering saya saksikan di pura, hal ini melekat sekali dengan identitas ruang capaian yang ditujukan ke pendengar.  Dharma Putra meletakkan kata pada susunan bunyi yang saling tumpang tindih, tapi masih asyik untuk didengar, jika tidak hati-hati kata-kata bisa lenyap seketika, karena kita dihipnotis dengan rapal mantra yang ia dendangkan.

Sementara  Virgi membaca puisi seperti mengobrol, tidak ada tedensi melebih-lebihkan makna lewat ekspresi, gerakan ini saya kenal dengan Puisi Slam. Puisi Slam sangat jauh dengan pembacaan puisi Bahasa Indonesia, dalam Puisi Slam kejarannya adalah peristiwa puitis yang dinarasikan berdasarka kehidupan sehari-hari, yang mungkin saja luput dari pandangan orang  awam. Jadi kawan-kawan akan menyaksikan seseorang menceritakan kisah dirinya sendiri, seperti curhat kepada kawan, namun dengan sentuhan metafora di beberapa bagiannya.

Virgi fasih menggunakan Bahasa Inggris dalam menyajikan Puisi Slam, hal ini sangat berjarak bagi keseharian saya (kendati saya hidup di Bali dalam hiruk pikuk pulau pariwisata). Satu kata saja belum tertangkap maksudnya – belum menggambarkan sesuatu dalam imaji saya, kemudian dijejal kata lainnya dengan cepat. Aaargh bingung.

Melihat Virgi di atas panggung seperti menyaksikan kebudayaan luar yang sedang membicarakan dirinya yang asing di pulau ekspansi, sementara saya berada pada ketegangan kebudayaan tersebut. Tarik ulur makna di benak penonton adalah ruang tegang yang saya maksud, sebab kata dan metafor dalam satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya memiliki perbedaan yang harus dipahami secara mendalam.

Sementara saya, suka menerjemahkan puisi dengan cara mengobrak-abrik tubuh puisi kemudian mencari padanannya di realitas pengalaman sehari-hari. Kemudian hadir dalam peristiwa panggung dengan simbol, objek, tubuh aktor, gerak fragmen, serta kemungkinan bunyi. Bagi saya tubuh puisi memiliki ruang sublim yang kaya intrepretasi, bias intrepretasi inilah menjadi batasan eksplorasinya. Jadi kehadiran kata-kata porsinya lebih sedikit, paling hanya berupa tegasan untuk memperkuat aktifitas aktor. 

Prok-prok-prok jadi apa ?

Kami hendak meramu rasa puisi masing-masing, Dharma Putra akan membawakan puisi terkait pencaharian dirinya. Antara kepala hingga ke kaki, Dije Sirah Dije Batis.  Bagaimana manusia hari ini dihadapkan dengan banyak pilihan, namun sering salah pilih. Sementara Virgi akan membawakan puisi terkait tubuhnya di masyarakat atas segala pranata identitas yang melekat.  Harus sesuai pada umumnya, namun tidak sesuai pada kehendak nurani. Sementara saya akan membahas perjalanan ke Jembrana dan Buleleng, perjalanan yang cukup kontemplatif dalam mengenali suara dalam diri, cakeeeep !!! Saya mengajewantahkan kata-kata ke objek semisal ban, sandal, kursi, tv, suara bising di jalan, batu, helm gojek dan lain sebagainya.

Kemudian kami hendak mencari kemungkinan rekontruksi bahasa dalam puisi, di tengah realitas bahasa hari ini pada carut marutnya kebudayaan lisan kita. Bahasa merupakan unsur pertama dalam sistem masyarakat yang paling rentan terkena paparan dari luar. Namun dari bahasalah kita memahami bagaimana satu kebudayaan berdialektika hingga berkembang ke arah mana. Apakah kata-kata perlahan hilang lalu punah atau terbuka menerima serapan luar kemudian diadaptasi menjadi milik. Dalam hal ini saya membicarakan puisi yah.

Jika dikaitkan dengan Bali, betapa berseterunya itu, Bali yang separiwisata ini harus membuka lebar-kebar bahasa asing yang masuk, namun juga harus mempertahankan diri sebagai identitas Bahasa Balinya kemudian lebih jauh  memperjuangkan nasionalisme dalam Bahasa Indonesia.

Seorang kawan yang kebetulan bekerja di Daerah Canggu-Bali, daerah yang sedang berkembang dan gencar membangun sana-sini, sawah-sawahnya hanya estetik semata dalam menyambut tamu mancanegara, papan-papan iklan tanah di jual atau disewakan memenuhi setiap tikung jalannya. Kata dia kawan-kawannya yang asli jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat yang menetap di Canggu, jika bertemu pasti berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

“Apa yang sedang terjadi yah, seolah-olah mereka tengah mencari identitas baru dalam menggunakan bahasa inggris, kenapa tidak bangga dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerahnya saja” tanyanya kepada saya.

Sementara seorang kawan dekat, yang saat ini menempuh pendidikan pasca Sarjana UNUD, Linguistik mengatakan hari ini kita kehilangan beberapa kata-kata. Ada sejumlah kata-kata yang tidak pernah kita pakai atau dengar lagi, semisal tunggang langgang, pongah, tedeng aling-aling.

“Ke mana perginya kata-kata itu yah?” ujarnya dengan heran

Nah Lo, bahasa tengah galau lo ini.

NB :

Namun jangan galau juga ketika menonton pementasan kami bertiga, kata-kata akan dilagukan, kata Bahasa Inggris akan dinyanyikan dengan teknik mekidung, kada bahasa Indonesia akan berlari menjadi ban-ban mobil, kata-kata akan menjelma helm gojek yang tengah mencari alamat untuk pulang, kata-kata saling silang tanpa makna yang jelas, kata-kata akan mencari maknanya sendiri dalam bunyi, kata-kata akan menghilang lalu menjadi teriakan, kata-kata akan menyatu dengan bangunan di pura, kata-kata akan bercumbu dalam realitas kita sehari-hari. [T]

Salam .

Tags: Festival Seni Pelajar Jembrana
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Judicial Review: Kelompok Musik Penyerak Kata-kata

Next Post

Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co