3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 7, 2019
in Esai
Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Di mana puisi kita hari ini? Bagaimana bentuk puisinya ? Dari penyair seperti apa puisi tercipta ? Untuk apa puisi ? Apakah puisi mampu mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik ? Siapa saja yang membaca puisi ? Apakah puisi hanya hadir di perlombaan saja? Di tengah realitas bahasa Indonesia hari ini yang oleh Joko Pinurbo katakan lingkungan vandalisme Bahasa, pada tataran mana puisi berada ?

Dan banyak lagi pertanyaan lainnya, yang tentu saja jika kita diskusikan dengan segelas kopi di beranda rumah, akan menjadi bahan yang menyenangkan dan mengasyikkan. Tapi maafkan, saya tidak akan membicarakan hal-hal berat dalam tulisan ini terkait menjawab pertanyaan di atas, apalagi mencari sejarah perkembangan puisi. Aiiiih..

Saya ditugaskan menulis catatan kecil terkait proses kreatif pementasan Apresiasi Sastra di Festival Seni Bali Jani 2019. Saya dan dua kawan lainnya yakni Dharma Putra dan Virginia Alenzka mendapat amanah yang cukup menantang, mencampur baurkan bentuk puisi yang kami amini, mempertemukan mereka dalam satu meja makan, di panggung pentas.

Dharma Putra dan Virginia Alenzka gemar menulis dan membaca puisi. Dharma Putra menulis puisinya dalam Bahasa Bali dan sering mendiskusikan karya-karya puisinya bersama kelompok Bali Sastra Komala, Bangli. Kelompok ini cukup aktif dan produktif dalam gerakan kesusastraan Jawa Kuna, menelurkan sejumlah penulis berbahasa Bali termasuk dirinya.

Sementara Virgi menulis dalam Bahasa Inggris, berama kawan-kawannya  mendirikan kelompok Unspokenpoetry yang sering menghelat acara membaca puisi di sejumlah café di Bali. Wajah Virgi tidak asing jika kawan-kawan mengunjungi UWRF Ubud Writer and Reader Festival setiap tahunnya, ia biasanya mejadi panitia atau perancang satu dua acara pada festival berskala International tersebut. Jadi memang sewajarnya dia menulis dalam Bahasa Inggris terlebih lagi ia lulusan Sastra Inggris di UNDKSHA, serta berkegiatan  kreatif di Komunitas Mahima Buleleng.

Sementara saya menulis Puisi Bahasa Indonesia, yang tidak berat-brat amat. Bersama kawan-kawan serasa suka menyusun metode-metode eksperimen kepenulisan puisi di Kelompok Belajar Bareng Pu. I. SEE – Canasta Creative Space. Serta aktif di kelompok Teater Kalangan, beberapa karya pertunjukan saya, berbasis puisi.

Kami bertiga dipertemukan untuk merangkai satu pertunjukan, menggabungkan kebiasaan kami dalam menulis puisi kemudian menghadirkannya ke ruang pentas. Sebelumnya kami menjabarkan bentuk puisi yang kami yakini dan kerjakan selama ini. Dharma Putra yang sering bersentuhan dengan tembang-tembang Bali, seperti mepalawakya, mesloka dan mekidung, kerap membacakan puisi dengan merubah bait-bait puisi menjadi tembang.

Dengan suara beratnya yang menggema, puisi seolah memiliki aura magis yang kental. Mungkin karena metembang dan sejenisnya itu sering saya saksikan di pura, hal ini melekat sekali dengan identitas ruang capaian yang ditujukan ke pendengar.  Dharma Putra meletakkan kata pada susunan bunyi yang saling tumpang tindih, tapi masih asyik untuk didengar, jika tidak hati-hati kata-kata bisa lenyap seketika, karena kita dihipnotis dengan rapal mantra yang ia dendangkan.

Sementara  Virgi membaca puisi seperti mengobrol, tidak ada tedensi melebih-lebihkan makna lewat ekspresi, gerakan ini saya kenal dengan Puisi Slam. Puisi Slam sangat jauh dengan pembacaan puisi Bahasa Indonesia, dalam Puisi Slam kejarannya adalah peristiwa puitis yang dinarasikan berdasarka kehidupan sehari-hari, yang mungkin saja luput dari pandangan orang  awam. Jadi kawan-kawan akan menyaksikan seseorang menceritakan kisah dirinya sendiri, seperti curhat kepada kawan, namun dengan sentuhan metafora di beberapa bagiannya.

Virgi fasih menggunakan Bahasa Inggris dalam menyajikan Puisi Slam, hal ini sangat berjarak bagi keseharian saya (kendati saya hidup di Bali dalam hiruk pikuk pulau pariwisata). Satu kata saja belum tertangkap maksudnya – belum menggambarkan sesuatu dalam imaji saya, kemudian dijejal kata lainnya dengan cepat. Aaargh bingung.

Melihat Virgi di atas panggung seperti menyaksikan kebudayaan luar yang sedang membicarakan dirinya yang asing di pulau ekspansi, sementara saya berada pada ketegangan kebudayaan tersebut. Tarik ulur makna di benak penonton adalah ruang tegang yang saya maksud, sebab kata dan metafor dalam satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya memiliki perbedaan yang harus dipahami secara mendalam.

Sementara saya, suka menerjemahkan puisi dengan cara mengobrak-abrik tubuh puisi kemudian mencari padanannya di realitas pengalaman sehari-hari. Kemudian hadir dalam peristiwa panggung dengan simbol, objek, tubuh aktor, gerak fragmen, serta kemungkinan bunyi. Bagi saya tubuh puisi memiliki ruang sublim yang kaya intrepretasi, bias intrepretasi inilah menjadi batasan eksplorasinya. Jadi kehadiran kata-kata porsinya lebih sedikit, paling hanya berupa tegasan untuk memperkuat aktifitas aktor. 

Prok-prok-prok jadi apa ?

Kami hendak meramu rasa puisi masing-masing, Dharma Putra akan membawakan puisi terkait pencaharian dirinya. Antara kepala hingga ke kaki, Dije Sirah Dije Batis.  Bagaimana manusia hari ini dihadapkan dengan banyak pilihan, namun sering salah pilih. Sementara Virgi akan membawakan puisi terkait tubuhnya di masyarakat atas segala pranata identitas yang melekat.  Harus sesuai pada umumnya, namun tidak sesuai pada kehendak nurani. Sementara saya akan membahas perjalanan ke Jembrana dan Buleleng, perjalanan yang cukup kontemplatif dalam mengenali suara dalam diri, cakeeeep !!! Saya mengajewantahkan kata-kata ke objek semisal ban, sandal, kursi, tv, suara bising di jalan, batu, helm gojek dan lain sebagainya.

Kemudian kami hendak mencari kemungkinan rekontruksi bahasa dalam puisi, di tengah realitas bahasa hari ini pada carut marutnya kebudayaan lisan kita. Bahasa merupakan unsur pertama dalam sistem masyarakat yang paling rentan terkena paparan dari luar. Namun dari bahasalah kita memahami bagaimana satu kebudayaan berdialektika hingga berkembang ke arah mana. Apakah kata-kata perlahan hilang lalu punah atau terbuka menerima serapan luar kemudian diadaptasi menjadi milik. Dalam hal ini saya membicarakan puisi yah.

Jika dikaitkan dengan Bali, betapa berseterunya itu, Bali yang separiwisata ini harus membuka lebar-kebar bahasa asing yang masuk, namun juga harus mempertahankan diri sebagai identitas Bahasa Balinya kemudian lebih jauh  memperjuangkan nasionalisme dalam Bahasa Indonesia.

Seorang kawan yang kebetulan bekerja di Daerah Canggu-Bali, daerah yang sedang berkembang dan gencar membangun sana-sini, sawah-sawahnya hanya estetik semata dalam menyambut tamu mancanegara, papan-papan iklan tanah di jual atau disewakan memenuhi setiap tikung jalannya. Kata dia kawan-kawannya yang asli jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat yang menetap di Canggu, jika bertemu pasti berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

“Apa yang sedang terjadi yah, seolah-olah mereka tengah mencari identitas baru dalam menggunakan bahasa inggris, kenapa tidak bangga dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerahnya saja” tanyanya kepada saya.

Sementara seorang kawan dekat, yang saat ini menempuh pendidikan pasca Sarjana UNUD, Linguistik mengatakan hari ini kita kehilangan beberapa kata-kata. Ada sejumlah kata-kata yang tidak pernah kita pakai atau dengar lagi, semisal tunggang langgang, pongah, tedeng aling-aling.

“Ke mana perginya kata-kata itu yah?” ujarnya dengan heran

Nah Lo, bahasa tengah galau lo ini.

NB :

Namun jangan galau juga ketika menonton pementasan kami bertiga, kata-kata akan dilagukan, kata Bahasa Inggris akan dinyanyikan dengan teknik mekidung, kada bahasa Indonesia akan berlari menjadi ban-ban mobil, kata-kata akan menjelma helm gojek yang tengah mencari alamat untuk pulang, kata-kata saling silang tanpa makna yang jelas, kata-kata akan mencari maknanya sendiri dalam bunyi, kata-kata akan menghilang lalu menjadi teriakan, kata-kata akan menyatu dengan bangunan di pura, kata-kata akan bercumbu dalam realitas kita sehari-hari. [T]

Salam .

Tags: Festival Seni Pelajar Jembrana
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Judicial Review: Kelompok Musik Penyerak Kata-kata

Next Post

Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co