2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 7, 2019
in Esai
Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Di mana puisi kita hari ini? Bagaimana bentuk puisinya ? Dari penyair seperti apa puisi tercipta ? Untuk apa puisi ? Apakah puisi mampu mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik ? Siapa saja yang membaca puisi ? Apakah puisi hanya hadir di perlombaan saja? Di tengah realitas bahasa Indonesia hari ini yang oleh Joko Pinurbo katakan lingkungan vandalisme Bahasa, pada tataran mana puisi berada ?

Dan banyak lagi pertanyaan lainnya, yang tentu saja jika kita diskusikan dengan segelas kopi di beranda rumah, akan menjadi bahan yang menyenangkan dan mengasyikkan. Tapi maafkan, saya tidak akan membicarakan hal-hal berat dalam tulisan ini terkait menjawab pertanyaan di atas, apalagi mencari sejarah perkembangan puisi. Aiiiih..

Saya ditugaskan menulis catatan kecil terkait proses kreatif pementasan Apresiasi Sastra di Festival Seni Bali Jani 2019. Saya dan dua kawan lainnya yakni Dharma Putra dan Virginia Alenzka mendapat amanah yang cukup menantang, mencampur baurkan bentuk puisi yang kami amini, mempertemukan mereka dalam satu meja makan, di panggung pentas.

Dharma Putra dan Virginia Alenzka gemar menulis dan membaca puisi. Dharma Putra menulis puisinya dalam Bahasa Bali dan sering mendiskusikan karya-karya puisinya bersama kelompok Bali Sastra Komala, Bangli. Kelompok ini cukup aktif dan produktif dalam gerakan kesusastraan Jawa Kuna, menelurkan sejumlah penulis berbahasa Bali termasuk dirinya.

Sementara Virgi menulis dalam Bahasa Inggris, berama kawan-kawannya  mendirikan kelompok Unspokenpoetry yang sering menghelat acara membaca puisi di sejumlah café di Bali. Wajah Virgi tidak asing jika kawan-kawan mengunjungi UWRF Ubud Writer and Reader Festival setiap tahunnya, ia biasanya mejadi panitia atau perancang satu dua acara pada festival berskala International tersebut. Jadi memang sewajarnya dia menulis dalam Bahasa Inggris terlebih lagi ia lulusan Sastra Inggris di UNDKSHA, serta berkegiatan  kreatif di Komunitas Mahima Buleleng.

Sementara saya menulis Puisi Bahasa Indonesia, yang tidak berat-brat amat. Bersama kawan-kawan serasa suka menyusun metode-metode eksperimen kepenulisan puisi di Kelompok Belajar Bareng Pu. I. SEE – Canasta Creative Space. Serta aktif di kelompok Teater Kalangan, beberapa karya pertunjukan saya, berbasis puisi.

Kami bertiga dipertemukan untuk merangkai satu pertunjukan, menggabungkan kebiasaan kami dalam menulis puisi kemudian menghadirkannya ke ruang pentas. Sebelumnya kami menjabarkan bentuk puisi yang kami yakini dan kerjakan selama ini. Dharma Putra yang sering bersentuhan dengan tembang-tembang Bali, seperti mepalawakya, mesloka dan mekidung, kerap membacakan puisi dengan merubah bait-bait puisi menjadi tembang.

Dengan suara beratnya yang menggema, puisi seolah memiliki aura magis yang kental. Mungkin karena metembang dan sejenisnya itu sering saya saksikan di pura, hal ini melekat sekali dengan identitas ruang capaian yang ditujukan ke pendengar.  Dharma Putra meletakkan kata pada susunan bunyi yang saling tumpang tindih, tapi masih asyik untuk didengar, jika tidak hati-hati kata-kata bisa lenyap seketika, karena kita dihipnotis dengan rapal mantra yang ia dendangkan.

Sementara  Virgi membaca puisi seperti mengobrol, tidak ada tedensi melebih-lebihkan makna lewat ekspresi, gerakan ini saya kenal dengan Puisi Slam. Puisi Slam sangat jauh dengan pembacaan puisi Bahasa Indonesia, dalam Puisi Slam kejarannya adalah peristiwa puitis yang dinarasikan berdasarka kehidupan sehari-hari, yang mungkin saja luput dari pandangan orang  awam. Jadi kawan-kawan akan menyaksikan seseorang menceritakan kisah dirinya sendiri, seperti curhat kepada kawan, namun dengan sentuhan metafora di beberapa bagiannya.

Virgi fasih menggunakan Bahasa Inggris dalam menyajikan Puisi Slam, hal ini sangat berjarak bagi keseharian saya (kendati saya hidup di Bali dalam hiruk pikuk pulau pariwisata). Satu kata saja belum tertangkap maksudnya – belum menggambarkan sesuatu dalam imaji saya, kemudian dijejal kata lainnya dengan cepat. Aaargh bingung.

Melihat Virgi di atas panggung seperti menyaksikan kebudayaan luar yang sedang membicarakan dirinya yang asing di pulau ekspansi, sementara saya berada pada ketegangan kebudayaan tersebut. Tarik ulur makna di benak penonton adalah ruang tegang yang saya maksud, sebab kata dan metafor dalam satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya memiliki perbedaan yang harus dipahami secara mendalam.

Sementara saya, suka menerjemahkan puisi dengan cara mengobrak-abrik tubuh puisi kemudian mencari padanannya di realitas pengalaman sehari-hari. Kemudian hadir dalam peristiwa panggung dengan simbol, objek, tubuh aktor, gerak fragmen, serta kemungkinan bunyi. Bagi saya tubuh puisi memiliki ruang sublim yang kaya intrepretasi, bias intrepretasi inilah menjadi batasan eksplorasinya. Jadi kehadiran kata-kata porsinya lebih sedikit, paling hanya berupa tegasan untuk memperkuat aktifitas aktor. 

Prok-prok-prok jadi apa ?

Kami hendak meramu rasa puisi masing-masing, Dharma Putra akan membawakan puisi terkait pencaharian dirinya. Antara kepala hingga ke kaki, Dije Sirah Dije Batis.  Bagaimana manusia hari ini dihadapkan dengan banyak pilihan, namun sering salah pilih. Sementara Virgi akan membawakan puisi terkait tubuhnya di masyarakat atas segala pranata identitas yang melekat.  Harus sesuai pada umumnya, namun tidak sesuai pada kehendak nurani. Sementara saya akan membahas perjalanan ke Jembrana dan Buleleng, perjalanan yang cukup kontemplatif dalam mengenali suara dalam diri, cakeeeep !!! Saya mengajewantahkan kata-kata ke objek semisal ban, sandal, kursi, tv, suara bising di jalan, batu, helm gojek dan lain sebagainya.

Kemudian kami hendak mencari kemungkinan rekontruksi bahasa dalam puisi, di tengah realitas bahasa hari ini pada carut marutnya kebudayaan lisan kita. Bahasa merupakan unsur pertama dalam sistem masyarakat yang paling rentan terkena paparan dari luar. Namun dari bahasalah kita memahami bagaimana satu kebudayaan berdialektika hingga berkembang ke arah mana. Apakah kata-kata perlahan hilang lalu punah atau terbuka menerima serapan luar kemudian diadaptasi menjadi milik. Dalam hal ini saya membicarakan puisi yah.

Jika dikaitkan dengan Bali, betapa berseterunya itu, Bali yang separiwisata ini harus membuka lebar-kebar bahasa asing yang masuk, namun juga harus mempertahankan diri sebagai identitas Bahasa Balinya kemudian lebih jauh  memperjuangkan nasionalisme dalam Bahasa Indonesia.

Seorang kawan yang kebetulan bekerja di Daerah Canggu-Bali, daerah yang sedang berkembang dan gencar membangun sana-sini, sawah-sawahnya hanya estetik semata dalam menyambut tamu mancanegara, papan-papan iklan tanah di jual atau disewakan memenuhi setiap tikung jalannya. Kata dia kawan-kawannya yang asli jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat yang menetap di Canggu, jika bertemu pasti berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

“Apa yang sedang terjadi yah, seolah-olah mereka tengah mencari identitas baru dalam menggunakan bahasa inggris, kenapa tidak bangga dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerahnya saja” tanyanya kepada saya.

Sementara seorang kawan dekat, yang saat ini menempuh pendidikan pasca Sarjana UNUD, Linguistik mengatakan hari ini kita kehilangan beberapa kata-kata. Ada sejumlah kata-kata yang tidak pernah kita pakai atau dengar lagi, semisal tunggang langgang, pongah, tedeng aling-aling.

“Ke mana perginya kata-kata itu yah?” ujarnya dengan heran

Nah Lo, bahasa tengah galau lo ini.

NB :

Namun jangan galau juga ketika menonton pementasan kami bertiga, kata-kata akan dilagukan, kata Bahasa Inggris akan dinyanyikan dengan teknik mekidung, kada bahasa Indonesia akan berlari menjadi ban-ban mobil, kata-kata akan menjelma helm gojek yang tengah mencari alamat untuk pulang, kata-kata saling silang tanpa makna yang jelas, kata-kata akan mencari maknanya sendiri dalam bunyi, kata-kata akan menghilang lalu menjadi teriakan, kata-kata akan menyatu dengan bangunan di pura, kata-kata akan bercumbu dalam realitas kita sehari-hari. [T]

Salam .

Tags: Festival Seni Pelajar Jembrana
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Judicial Review: Kelompok Musik Penyerak Kata-kata

Next Post

Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co