23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Judicial Review: Kelompok Musik Penyerak Kata-kata

Agus Wiratama by Agus Wiratama
November 7, 2019
in Esai
Judicial Review: Kelompok Musik Penyerak Kata-kata

Suatu hari saya ke Art Center Denpasar untuk berkumpul dan latihan Bersama teman-teman Teater kalangan. Rencananya kami berkumpul di sekitaran wantilan. Tapi yang saya jumpai justru orang-orang yang rata-rata lebih muda dan tak saya kenal. Mereka membuat lingkaran-lingkaran kecil dan bermain musik. “Mungkin lagi senang-senang,” pikir saya. Ternyata dugaan saya salah. Mereka tidak sekadar senang-senang, ada satu orang gadis yang berdiri dan membaca puisi. Sementara yang lain mengiringi dengan gitar dan berbagai alat musik.

Raut wajah merekalah yang menunjukkan bahwa mereka tidak sekedar senang-senang, tapi ada seriusnya. Dengan malu-malu dan penuh ragu dalam hati saya berkata, “mereka latihan muspus (musikalisasi puisi)”. Kelompok yang saya bicarakan itu sedang latihan muspus di bawah tangga. Tidak salah lagi, di bawah tangga.

Fenomena seperti ini tentu bukan hal yang terlalu mengejutkan terutama di lingkungan Art Center. Cobalah cari informasi mengenai lomba musikalilasi puisi di Balai Bahasa atau ikutilah media sosial fakultas-fakultas atau jurusan-jurusan Universitas di Bali. Kalau beruntung kita bisa berjumpa dengan informasi lomba muspus di sana. Datanglah ke sana saat lomba berlangsung. Saya yakin selalu ada peserta yang berkontribusi. Saya pikir ada banyak kelompok yang juga menggarap musikalisasi puisi di Bali. Barangkali mulai dari SMA hingga ke lingkup kelompok umum.

Namun barangkali, hanya beberapa kelompok yang sudah menentukan bentuk musik. Menentukan kacamata. Menentukan bentuk yang akrab dengan telingan anak-anak zaman sekarang. Kelompok Judicial Review contohnya. Kelompok ini bisa dikatakan kelompok yang ingin melompat dari bentuk musikalisasi puisi kebanyakan. Mereka memilih dan menentukan tempatnya sendiri. Dengan musik yang barangkali dapat dikatakan dekat dengan telinga anak-anak zaman sekarang itu, kelompok ini memberanikan diri mengisi teriakan, dan musik-musik seperti ketika kita menonton konser musik bergendre metal, rock, dan sebaginya yang dekat dengan telinga anak-anak muda. Saya pikir, hal ini menjadi pendekatan kelompok satu ini. Sebab, Latar belakang kelompok ini adalah kelompok band, bukan komunitas sastra, apalagi kelompok teater.

Latar belakang yang dipegang teguh seperti ini menjadi kacamata dengan warna dan posisi yang berbeda dengan kelompok muspus pada umumnya. Kelompok band yang menyentuh sastra dengan pandangan bahwa sastra tidak sekadar makna, pun tidak sekedar bunyi. Puisi misalnya, bila dimusikalisasikan, tidak sekadar membicarakan perihal makna hingga berlarut hanyut. Tapi, ada hal lain yang mereka pegang yaitu puisi bisa menjadi satu hal yang sangat menyenangkan di kalangan anak muda. Puisi jangan dulu dilabeleratkan dengan mitos akan keangkerannya sebagai karya sastra, dan hal-hal sejenisnya yang membuat orang justru memitoskan puisi. Terkadang, puisi mereka pandang sebagai lirik. Sebagai bentuk yang tidak beku, sebagai karya yang bisa membuat senang.

Dalam Festival Bali jani, kelompok Judicial Review turut andil dalam ranah apresiasi sastra. Bersama kelompok Capung Hantu Project pada tanggal 8 Nopember 2019. Pada pentas sebelumnya yang sudah pernah saya tonton, Judicial Review seolah ingin menunjukkan dan meledek saya yang hanya tau beberapa bentuk musikalisasi puisi dengan berkata pada saya bahwa “musikalisasi puisi juga bisa seperti ini, nih!” Mungkin angkuh, tapi semangat inilah yang saya terjemahkan sebagai sikap anak muda yang perlu ditiru. Ya memang mestinya seperti itu.

Kali ini Judicial Review lebih angkuh lagi. Pada apresiasi sastra di Festival Bali Jani ini, Mereka tidak akan memusikalisasikan puisi. Mereka akan memusikalisasikan cerpen. Bagi saya hal ini terbilang segar. Apresiasi sastra khususnya prosa dalam bentuk musik jarang saya dengar dengungnya.

Kelompok ini sepertinya berniat membuat jembatan antara sastra dengan orang-orang yang lebih luas lagi. Bersenang-senang lebih serius dengan lebih banyak orang. Sehingga walaupun cerpen menjadi pilihannya, namun musik yang kelak dihadirkan barangkali membuat jidat mengkerut, atau bibir tersenyum rapi.

Orang-orang yang terlibat dalam kelompok ini yaitu, Gara, Quito, Obe, dan trisna dapat dikatakan sebagai kelompok yang tepat. Meskipun berlatarbelakang sebagai kelompok band, mereka bukannya tidak mengenal sastra, tetapi orang-orang ini sudah melalui tahap mengenali sastra secara personal. Saya kenal betul beberapa anggotanya, mereka adalah orang yang dekat dengan naskah sastra. Seseorang dari mereka pernah berkata, “Jenuh jika membawakan muspus gitu-gitu aja. Aku bosan,” dan bagi saya itu memang sangat sah. Dan usaha seperti ini adalah apresiasi yang bagi saya berusaha mencabut sehingga melampaui karya sastra hanya sebagai mitos yang angker.

Untuk persiapan di Festival Seni Bali Jani, mereka melakukan pertemuan beberapa kali. Paling sering memang melalui group Whatsapp. Mereka beranggapan bahwa memusikalisasikan cerpen bukan suatu hal yang gampang. Tetapi, tetap hal ini harus menyenangkan dan menunjukkan bahwa karya sastra yang bisa dialihwahanakan tidak cuma puisi. Itulah yang menyebabkan, proses yang paling banyak dilakukan adalah diskusi. Mencari poin atau hal-hal yang kelak berpotensi untuk dimusikkan. Kawan-kawan di kelompok Judicial Review berkata bahwa yang akan dicari dari cerpen adalah tafsiran mengenai inti sehingga mereka tidak terjebak pada musik sebagai ilustrasi cerpen.   

Cerpen yang dipilih untuk dimusikalisasikan kali ini adalah cerpen karya Dwi S. Wibowo yang berjudul Khotbah. Penggarapan cerpen karya Dwi S. Wibowo dalam bentuk musik ini menjadi hal menarik sebab, kelompok hepi-hepi tapi serius ini biasanya mengangkat “puisi kiri” untuk dimusikalisasikan. Dari hasil diskusi kelompok ini mereka memilih akan merespon inti dalam cerita yaitu perihal doktrin agama dan dampaknya.

Cerpen yang berbau agama ini menurut kawan-kawan Judicial Review adalah hal yang sangat menarik. Bagaimana tidak, anggota kelompok ini tidak semua berasal dari agama yang sama. Namun, hal itulah yang menarik. Perihal sudut pandang yang menjadi semakin kaya dengan tafsir dengan latar belakang yang berbeda itu adalah sebuah keuntungan. Kekayaan tafsir yang memperluas kemungkinan transformasi untuk tema itu.

Judicial Review adalah kelompok band yang telah berpegang pada terali yang disediakan Roland Barthes. Barthes pernah berkata bahwa pengarang sudah mati.  Ketika karya sudah dilepas ke publik, Judicial Review ini menafsir dan membicarakan tafsirannya ke publik dengan musik gaya kelompok ini. Dengan senang-senang, dengan serius. [T]

Tags: Festival Seni Bali Jani
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Bandara Bali Utara: Apakah Ide Baik?

Next Post

Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co