2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Judicial Review: Kelompok Musik Penyerak Kata-kata

Agus Wiratama by Agus Wiratama
November 7, 2019
in Esai
Judicial Review: Kelompok Musik Penyerak Kata-kata

Suatu hari saya ke Art Center Denpasar untuk berkumpul dan latihan Bersama teman-teman Teater kalangan. Rencananya kami berkumpul di sekitaran wantilan. Tapi yang saya jumpai justru orang-orang yang rata-rata lebih muda dan tak saya kenal. Mereka membuat lingkaran-lingkaran kecil dan bermain musik. “Mungkin lagi senang-senang,” pikir saya. Ternyata dugaan saya salah. Mereka tidak sekadar senang-senang, ada satu orang gadis yang berdiri dan membaca puisi. Sementara yang lain mengiringi dengan gitar dan berbagai alat musik.

Raut wajah merekalah yang menunjukkan bahwa mereka tidak sekedar senang-senang, tapi ada seriusnya. Dengan malu-malu dan penuh ragu dalam hati saya berkata, “mereka latihan muspus (musikalisasi puisi)”. Kelompok yang saya bicarakan itu sedang latihan muspus di bawah tangga. Tidak salah lagi, di bawah tangga.

Fenomena seperti ini tentu bukan hal yang terlalu mengejutkan terutama di lingkungan Art Center. Cobalah cari informasi mengenai lomba musikalilasi puisi di Balai Bahasa atau ikutilah media sosial fakultas-fakultas atau jurusan-jurusan Universitas di Bali. Kalau beruntung kita bisa berjumpa dengan informasi lomba muspus di sana. Datanglah ke sana saat lomba berlangsung. Saya yakin selalu ada peserta yang berkontribusi. Saya pikir ada banyak kelompok yang juga menggarap musikalisasi puisi di Bali. Barangkali mulai dari SMA hingga ke lingkup kelompok umum.

Namun barangkali, hanya beberapa kelompok yang sudah menentukan bentuk musik. Menentukan kacamata. Menentukan bentuk yang akrab dengan telingan anak-anak zaman sekarang. Kelompok Judicial Review contohnya. Kelompok ini bisa dikatakan kelompok yang ingin melompat dari bentuk musikalisasi puisi kebanyakan. Mereka memilih dan menentukan tempatnya sendiri. Dengan musik yang barangkali dapat dikatakan dekat dengan telinga anak-anak zaman sekarang itu, kelompok ini memberanikan diri mengisi teriakan, dan musik-musik seperti ketika kita menonton konser musik bergendre metal, rock, dan sebaginya yang dekat dengan telinga anak-anak muda. Saya pikir, hal ini menjadi pendekatan kelompok satu ini. Sebab, Latar belakang kelompok ini adalah kelompok band, bukan komunitas sastra, apalagi kelompok teater.

Latar belakang yang dipegang teguh seperti ini menjadi kacamata dengan warna dan posisi yang berbeda dengan kelompok muspus pada umumnya. Kelompok band yang menyentuh sastra dengan pandangan bahwa sastra tidak sekadar makna, pun tidak sekedar bunyi. Puisi misalnya, bila dimusikalisasikan, tidak sekadar membicarakan perihal makna hingga berlarut hanyut. Tapi, ada hal lain yang mereka pegang yaitu puisi bisa menjadi satu hal yang sangat menyenangkan di kalangan anak muda. Puisi jangan dulu dilabeleratkan dengan mitos akan keangkerannya sebagai karya sastra, dan hal-hal sejenisnya yang membuat orang justru memitoskan puisi. Terkadang, puisi mereka pandang sebagai lirik. Sebagai bentuk yang tidak beku, sebagai karya yang bisa membuat senang.

Dalam Festival Bali jani, kelompok Judicial Review turut andil dalam ranah apresiasi sastra. Bersama kelompok Capung Hantu Project pada tanggal 8 Nopember 2019. Pada pentas sebelumnya yang sudah pernah saya tonton, Judicial Review seolah ingin menunjukkan dan meledek saya yang hanya tau beberapa bentuk musikalisasi puisi dengan berkata pada saya bahwa “musikalisasi puisi juga bisa seperti ini, nih!” Mungkin angkuh, tapi semangat inilah yang saya terjemahkan sebagai sikap anak muda yang perlu ditiru. Ya memang mestinya seperti itu.

Kali ini Judicial Review lebih angkuh lagi. Pada apresiasi sastra di Festival Bali Jani ini, Mereka tidak akan memusikalisasikan puisi. Mereka akan memusikalisasikan cerpen. Bagi saya hal ini terbilang segar. Apresiasi sastra khususnya prosa dalam bentuk musik jarang saya dengar dengungnya.

Kelompok ini sepertinya berniat membuat jembatan antara sastra dengan orang-orang yang lebih luas lagi. Bersenang-senang lebih serius dengan lebih banyak orang. Sehingga walaupun cerpen menjadi pilihannya, namun musik yang kelak dihadirkan barangkali membuat jidat mengkerut, atau bibir tersenyum rapi.

Orang-orang yang terlibat dalam kelompok ini yaitu, Gara, Quito, Obe, dan trisna dapat dikatakan sebagai kelompok yang tepat. Meskipun berlatarbelakang sebagai kelompok band, mereka bukannya tidak mengenal sastra, tetapi orang-orang ini sudah melalui tahap mengenali sastra secara personal. Saya kenal betul beberapa anggotanya, mereka adalah orang yang dekat dengan naskah sastra. Seseorang dari mereka pernah berkata, “Jenuh jika membawakan muspus gitu-gitu aja. Aku bosan,” dan bagi saya itu memang sangat sah. Dan usaha seperti ini adalah apresiasi yang bagi saya berusaha mencabut sehingga melampaui karya sastra hanya sebagai mitos yang angker.

Untuk persiapan di Festival Seni Bali Jani, mereka melakukan pertemuan beberapa kali. Paling sering memang melalui group Whatsapp. Mereka beranggapan bahwa memusikalisasikan cerpen bukan suatu hal yang gampang. Tetapi, tetap hal ini harus menyenangkan dan menunjukkan bahwa karya sastra yang bisa dialihwahanakan tidak cuma puisi. Itulah yang menyebabkan, proses yang paling banyak dilakukan adalah diskusi. Mencari poin atau hal-hal yang kelak berpotensi untuk dimusikkan. Kawan-kawan di kelompok Judicial Review berkata bahwa yang akan dicari dari cerpen adalah tafsiran mengenai inti sehingga mereka tidak terjebak pada musik sebagai ilustrasi cerpen.   

Cerpen yang dipilih untuk dimusikalisasikan kali ini adalah cerpen karya Dwi S. Wibowo yang berjudul Khotbah. Penggarapan cerpen karya Dwi S. Wibowo dalam bentuk musik ini menjadi hal menarik sebab, kelompok hepi-hepi tapi serius ini biasanya mengangkat “puisi kiri” untuk dimusikalisasikan. Dari hasil diskusi kelompok ini mereka memilih akan merespon inti dalam cerita yaitu perihal doktrin agama dan dampaknya.

Cerpen yang berbau agama ini menurut kawan-kawan Judicial Review adalah hal yang sangat menarik. Bagaimana tidak, anggota kelompok ini tidak semua berasal dari agama yang sama. Namun, hal itulah yang menarik. Perihal sudut pandang yang menjadi semakin kaya dengan tafsir dengan latar belakang yang berbeda itu adalah sebuah keuntungan. Kekayaan tafsir yang memperluas kemungkinan transformasi untuk tema itu.

Judicial Review adalah kelompok band yang telah berpegang pada terali yang disediakan Roland Barthes. Barthes pernah berkata bahwa pengarang sudah mati.  Ketika karya sudah dilepas ke publik, Judicial Review ini menafsir dan membicarakan tafsirannya ke publik dengan musik gaya kelompok ini. Dengan senang-senang, dengan serius. [T]

Tags: Festival Seni Bali Jani
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Bandara Bali Utara: Apakah Ide Baik?

Next Post

Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Ketegangan Bahasa pada Baca Puisi vs Poetry Slam vs Palawakya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co