23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terimakasih Kelapa

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
September 10, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Tunggu selama beberapa tahun, pohon kelapa yang kita tanam bisa berbuah dan nikmati hasilnya. Hati-hati menanam kelapa, karena tempatnya haruslah benar. Tempat yang benar berarti tidak menghalangi jalan, dan jauh dari kamar-kamar. Bayangkan beberapa tahun setelah kita mati, pohon-pohon kelapa itu masih terus tumbuh, tumbuh, dan tumbuh. Dia menjadi sangat tinggi-tinggih-tinggi sekali. Siapakah yang akan mewarisi pohon kelapa yang tinggi itu?

Anak dan cucu. Kepada kedua tingkat keturunan itu kita titipkan pohon kelapa yang tinggi. Semakin tinggi pohon kelapa, semakin buanyak angin yang meniup-niupnya. Semakin banyak yang meniup, semakin goyanglah dia. Karena ukurannya yang tinggi itu pula, buah dan daunnya sulit untuk didapat. Maka hati-hati jika ada kelapa tua, sukur-sukur buah kelapa tidak beradu dengan kepala. Buah kelapa yang beradu itu, tidak bisa disebut sebagai kelapa adu muka.

So, apakah kelapa yang kita tanam hari ini sudah dalam posisi yang benar? Sangat penting menentukan posisi yang tepat dari sekarang. Sebab posisi turut menentukan apa yang akan terjadi di masa depan. Pengetahuan tentang masa depan, bukanlah sesuatu yang baru bagi para tetua-tetua pendahulu. Masa depan, disebutnya sebagai nagata. Tidak tanggung-tanggung, pengetahuan tentang waktu dimuat dalam kitab berjudul Sang Hyang Kamahayanikan pada bagian awal.

Tentu sangat penting memahami perihal waktu, gunanya agar orang memikirkan segala hal yang sudah dilaluinya atau dilalui kerabat dan sahabat sekelilingnya. Segala hal itu yang mestinya menjadi gambaran untuk kehidupan kelak. Sekarang adalah penghubung antara masa lalu dan masa depan. Jadi, jika di masa depan terjadi sesuatu, itu adalah hasil dari yang dilakukan sekarang. Waktu dilihat dari sudut pandang itu, mirip seperti tali yang siap mengikat dan menjerat. Kebanyakan, orang tidak sadar sedang diikat. Dia mulai sadar diikat, saat tali itu sudah menjerat leher dan membuat nafas sesak. Artinya, saat orang dalam bahaya, barulah mereka sadar.

Saat itu terjadi, maka carilah perlindungan. Apa perlindungan dari kemungkinan yang terjadi di masa depan? Jawabannya adalah cara menjalaninya sekarang. Sekaranglah masa depan itu ditentukan. Dengan begitu, meyakini karma phala tidak hanya sampai pada batas kata. Tetapi sudah menyusup sampai ke sumsum tulang. Sayangnya, tidak semua yang dilakukan sekarang dapat mengendalikan masa depan. Disinilah letak tegangnya. Setidaknya, ada suatu usaha yang sudah dilakukan untuk merencanakan dan memperbaiki masa depan. Jika tidak demikian, orang hanya akan larut dalam aliran lembut waktu yang menghanyutkan.

Maka, atas dasar kebijaksanaan, saya sarankan agar menanam pohon kelapa dengan cara yang benar. Benar waktunya, benar posisinya, benar peruntukannya. Semua itu mestilah diperhitungkan dengan matang. Tidak mungkin memindahkan begitu saja pohon kelapa yang terlanjur tinggi. Tidak sembarang orang pula yang bisa memanjatnya. Haruslah orang itu memiliki keahlian dan pengalaman yang cukup. Jika tidak, jangan bayangkan apa yang akan terjadi.

Menaiki pohon kelapa yang tinggi, tidak cukup dengan teori. Seorang teoritikus, boleh bertumpu pada teori-teori yang diamininya. Tetapi di hadapan seorang yang berpengalaman, teori itu seperti coretan di kertas buram yang sudah lecek untuk bungkus kacang goreng. Maka hati-hati pula berteori. Pada batas tertentu, teori bisa jadi tidak berguna. Dalam bahasa sastra di Bali, seratus teori kalah oleh satu bukti.

Dari pohon kelapa itu pula, helai nyiur diproduksi dan mencukupi keperluan upakara. Ya, tentu saja upakara yang kita elu-elukan sebagai warisan kebudayaan yang adiluhur itu bergantung kepada kelapa. Tidak hanya kelapa, tapi juga kepala.

Saya pernah berkata demikian kepada segerombolan ikan-ikan yang sedang khusyuk menyembah-nyembah. Mereka harus tahu, kalau budaya — yang telah diwarisi oleh entah siapa yang dengan singkat kita sebut leluhur – berasal dari pohon kelapa. Mereka bahkan mestinya memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya, semulia-mulianya kepada kelapa. Sebab kelapa merelakan dirinya menjadi salah satu bagian dari bumi yang dijadikan pengorbanan atas nama ritual dan keikhlasan. Bayangkan bagaimana jadinya kalau kelapa tidak ada!

Barangkali sebuah upacara ngantukang batari sri yang digelar untuk “memindahkan” dewi kemakmuran itu dari sawah-sawah yang akan dibanguni villa, tidak akan berjalan mulus. Jika ritual itu tidak mulus, konon bangunan yang dibangun di atas tanah sawah tidak akan bisa ditempati dengan nyaman. Dengan begitu, kemakmuran tidak akan ada pada tanah yang dewinya belum dipindahkan dan ditindih batu bata dan batako.

Bisa jadi, upacara caru tidak bisa berjalan dengan baik karena kelapa tidak ada. Bagaimana caranya membuat daksina yang bahannya adalah buah kelapa? Dalam banyak sekali ceramah, konon kelapa adalah bulatan bumi yang mengandung amerta. Tidak ada kelapa, lalu mana amertanya?

Saya sungguh sangat sulit membayangkan, bagaimana upacara besar bisa dilangsungkan tanpa peran serta pohon kelapa. Agar jelas, bisa saja kita lihat perlengkapan yang disebutkan oleh Stuart-Fox dalam bukunya “Pura Besakih: Pura, Agama dan Masyarakat Bali”. Di dalamnya, Stuart-Fox menyediakan gambar-gambar peralatan upacara caru.

Tidak hanya daunnya, kelapa juga menyerahkan buahnya. Dari yang paling kecil, sampai yang paling tua. Jika kelapa adalah manusia, saya bayangkan kelapa memiliki hati dan perasaan. Buah-buah yang telah dirampas dari hak-haknya untuk hidup, adalah bakal anaknya. Orang tua mana yang rela memberikan anaknya untuk dijadikan bahan ritual?

Maka melalui tulisan ini saya ucapkan, terimakasih kelapa. Kepadamu saya menundukkan kepala. Sayangnya, banyak pohon kelapa yang sudah terlalu tua, dan tidak banyak lagi yang menanamnya. Meskipun ada, mereka tidak tahu lagi cara menanam dengan baik. Agar dijauhi dari hama, juga keisengan tetangga. Singkatnya, menanam kelapa mirip seperti menitipkan tugas kepada anak dan cucu. Jika anak cucu tidak mendapatkan sesuatu yang layak dan menyusahkan, siap-siaplah menjadi pelaku yang dipersalahkan. Lalu siapakah kelapa? Menurut orang tua saya, kelapa adalah leluhur. Leluhur itu bernama Nini. [T]

Kacang [Kamus Cangak]:

Mulai edisi ini, saya berusaha menyediakan beberapa kata yang diartikan menurut pemikiran saya yang dipengaruhi oleh banyak hal. Kata-kata itu saya himpun dalam suatu kamus bernama “Kacang” [Kamus Cangak]. Daftar kata itu ditulis tidak berurutan dan tidak sesuai abjad. Singkatnya, kamus itu disusun menurut keinginan saya sendiri.

Jarak  : cara alam mengajarkan arti rindu.

Waktu : sesuatu yang memisahkan dan menghubungkan tanpa terasa.

Tags: filsafatfilsafat balifloraritualsastraSpiritual
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata Nusa Penida: Antara Broken Beach dan “Broken-Broken” Lainnya

Next Post

Menjaga dan Merawat Ibu Rupa Batuan

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga dan Merawat Ibu Rupa Batuan

Menjaga dan Merawat Ibu Rupa Batuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co