2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terimakasih Kelapa

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
September 10, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Tunggu selama beberapa tahun, pohon kelapa yang kita tanam bisa berbuah dan nikmati hasilnya. Hati-hati menanam kelapa, karena tempatnya haruslah benar. Tempat yang benar berarti tidak menghalangi jalan, dan jauh dari kamar-kamar. Bayangkan beberapa tahun setelah kita mati, pohon-pohon kelapa itu masih terus tumbuh, tumbuh, dan tumbuh. Dia menjadi sangat tinggi-tinggih-tinggi sekali. Siapakah yang akan mewarisi pohon kelapa yang tinggi itu?

Anak dan cucu. Kepada kedua tingkat keturunan itu kita titipkan pohon kelapa yang tinggi. Semakin tinggi pohon kelapa, semakin buanyak angin yang meniup-niupnya. Semakin banyak yang meniup, semakin goyanglah dia. Karena ukurannya yang tinggi itu pula, buah dan daunnya sulit untuk didapat. Maka hati-hati jika ada kelapa tua, sukur-sukur buah kelapa tidak beradu dengan kepala. Buah kelapa yang beradu itu, tidak bisa disebut sebagai kelapa adu muka.

So, apakah kelapa yang kita tanam hari ini sudah dalam posisi yang benar? Sangat penting menentukan posisi yang tepat dari sekarang. Sebab posisi turut menentukan apa yang akan terjadi di masa depan. Pengetahuan tentang masa depan, bukanlah sesuatu yang baru bagi para tetua-tetua pendahulu. Masa depan, disebutnya sebagai nagata. Tidak tanggung-tanggung, pengetahuan tentang waktu dimuat dalam kitab berjudul Sang Hyang Kamahayanikan pada bagian awal.

Tentu sangat penting memahami perihal waktu, gunanya agar orang memikirkan segala hal yang sudah dilaluinya atau dilalui kerabat dan sahabat sekelilingnya. Segala hal itu yang mestinya menjadi gambaran untuk kehidupan kelak. Sekarang adalah penghubung antara masa lalu dan masa depan. Jadi, jika di masa depan terjadi sesuatu, itu adalah hasil dari yang dilakukan sekarang. Waktu dilihat dari sudut pandang itu, mirip seperti tali yang siap mengikat dan menjerat. Kebanyakan, orang tidak sadar sedang diikat. Dia mulai sadar diikat, saat tali itu sudah menjerat leher dan membuat nafas sesak. Artinya, saat orang dalam bahaya, barulah mereka sadar.

Saat itu terjadi, maka carilah perlindungan. Apa perlindungan dari kemungkinan yang terjadi di masa depan? Jawabannya adalah cara menjalaninya sekarang. Sekaranglah masa depan itu ditentukan. Dengan begitu, meyakini karma phala tidak hanya sampai pada batas kata. Tetapi sudah menyusup sampai ke sumsum tulang. Sayangnya, tidak semua yang dilakukan sekarang dapat mengendalikan masa depan. Disinilah letak tegangnya. Setidaknya, ada suatu usaha yang sudah dilakukan untuk merencanakan dan memperbaiki masa depan. Jika tidak demikian, orang hanya akan larut dalam aliran lembut waktu yang menghanyutkan.

Maka, atas dasar kebijaksanaan, saya sarankan agar menanam pohon kelapa dengan cara yang benar. Benar waktunya, benar posisinya, benar peruntukannya. Semua itu mestilah diperhitungkan dengan matang. Tidak mungkin memindahkan begitu saja pohon kelapa yang terlanjur tinggi. Tidak sembarang orang pula yang bisa memanjatnya. Haruslah orang itu memiliki keahlian dan pengalaman yang cukup. Jika tidak, jangan bayangkan apa yang akan terjadi.

Menaiki pohon kelapa yang tinggi, tidak cukup dengan teori. Seorang teoritikus, boleh bertumpu pada teori-teori yang diamininya. Tetapi di hadapan seorang yang berpengalaman, teori itu seperti coretan di kertas buram yang sudah lecek untuk bungkus kacang goreng. Maka hati-hati pula berteori. Pada batas tertentu, teori bisa jadi tidak berguna. Dalam bahasa sastra di Bali, seratus teori kalah oleh satu bukti.

Dari pohon kelapa itu pula, helai nyiur diproduksi dan mencukupi keperluan upakara. Ya, tentu saja upakara yang kita elu-elukan sebagai warisan kebudayaan yang adiluhur itu bergantung kepada kelapa. Tidak hanya kelapa, tapi juga kepala.

Saya pernah berkata demikian kepada segerombolan ikan-ikan yang sedang khusyuk menyembah-nyembah. Mereka harus tahu, kalau budaya — yang telah diwarisi oleh entah siapa yang dengan singkat kita sebut leluhur – berasal dari pohon kelapa. Mereka bahkan mestinya memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya, semulia-mulianya kepada kelapa. Sebab kelapa merelakan dirinya menjadi salah satu bagian dari bumi yang dijadikan pengorbanan atas nama ritual dan keikhlasan. Bayangkan bagaimana jadinya kalau kelapa tidak ada!

Barangkali sebuah upacara ngantukang batari sri yang digelar untuk “memindahkan” dewi kemakmuran itu dari sawah-sawah yang akan dibanguni villa, tidak akan berjalan mulus. Jika ritual itu tidak mulus, konon bangunan yang dibangun di atas tanah sawah tidak akan bisa ditempati dengan nyaman. Dengan begitu, kemakmuran tidak akan ada pada tanah yang dewinya belum dipindahkan dan ditindih batu bata dan batako.

Bisa jadi, upacara caru tidak bisa berjalan dengan baik karena kelapa tidak ada. Bagaimana caranya membuat daksina yang bahannya adalah buah kelapa? Dalam banyak sekali ceramah, konon kelapa adalah bulatan bumi yang mengandung amerta. Tidak ada kelapa, lalu mana amertanya?

Saya sungguh sangat sulit membayangkan, bagaimana upacara besar bisa dilangsungkan tanpa peran serta pohon kelapa. Agar jelas, bisa saja kita lihat perlengkapan yang disebutkan oleh Stuart-Fox dalam bukunya “Pura Besakih: Pura, Agama dan Masyarakat Bali”. Di dalamnya, Stuart-Fox menyediakan gambar-gambar peralatan upacara caru.

Tidak hanya daunnya, kelapa juga menyerahkan buahnya. Dari yang paling kecil, sampai yang paling tua. Jika kelapa adalah manusia, saya bayangkan kelapa memiliki hati dan perasaan. Buah-buah yang telah dirampas dari hak-haknya untuk hidup, adalah bakal anaknya. Orang tua mana yang rela memberikan anaknya untuk dijadikan bahan ritual?

Maka melalui tulisan ini saya ucapkan, terimakasih kelapa. Kepadamu saya menundukkan kepala. Sayangnya, banyak pohon kelapa yang sudah terlalu tua, dan tidak banyak lagi yang menanamnya. Meskipun ada, mereka tidak tahu lagi cara menanam dengan baik. Agar dijauhi dari hama, juga keisengan tetangga. Singkatnya, menanam kelapa mirip seperti menitipkan tugas kepada anak dan cucu. Jika anak cucu tidak mendapatkan sesuatu yang layak dan menyusahkan, siap-siaplah menjadi pelaku yang dipersalahkan. Lalu siapakah kelapa? Menurut orang tua saya, kelapa adalah leluhur. Leluhur itu bernama Nini. [T]

Kacang [Kamus Cangak]:

Mulai edisi ini, saya berusaha menyediakan beberapa kata yang diartikan menurut pemikiran saya yang dipengaruhi oleh banyak hal. Kata-kata itu saya himpun dalam suatu kamus bernama “Kacang” [Kamus Cangak]. Daftar kata itu ditulis tidak berurutan dan tidak sesuai abjad. Singkatnya, kamus itu disusun menurut keinginan saya sendiri.

Jarak  : cara alam mengajarkan arti rindu.

Waktu : sesuatu yang memisahkan dan menghubungkan tanpa terasa.

Tags: filsafatfilsafat balifloraritualsastraSpiritual
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata Nusa Penida: Antara Broken Beach dan “Broken-Broken” Lainnya

Next Post

Menjaga dan Merawat Ibu Rupa Batuan

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga dan Merawat Ibu Rupa Batuan

Menjaga dan Merawat Ibu Rupa Batuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co