2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terimakasih Kelapa

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
September 10, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Tunggu selama beberapa tahun, pohon kelapa yang kita tanam bisa berbuah dan nikmati hasilnya. Hati-hati menanam kelapa, karena tempatnya haruslah benar. Tempat yang benar berarti tidak menghalangi jalan, dan jauh dari kamar-kamar. Bayangkan beberapa tahun setelah kita mati, pohon-pohon kelapa itu masih terus tumbuh, tumbuh, dan tumbuh. Dia menjadi sangat tinggi-tinggih-tinggi sekali. Siapakah yang akan mewarisi pohon kelapa yang tinggi itu?

Anak dan cucu. Kepada kedua tingkat keturunan itu kita titipkan pohon kelapa yang tinggi. Semakin tinggi pohon kelapa, semakin buanyak angin yang meniup-niupnya. Semakin banyak yang meniup, semakin goyanglah dia. Karena ukurannya yang tinggi itu pula, buah dan daunnya sulit untuk didapat. Maka hati-hati jika ada kelapa tua, sukur-sukur buah kelapa tidak beradu dengan kepala. Buah kelapa yang beradu itu, tidak bisa disebut sebagai kelapa adu muka.

So, apakah kelapa yang kita tanam hari ini sudah dalam posisi yang benar? Sangat penting menentukan posisi yang tepat dari sekarang. Sebab posisi turut menentukan apa yang akan terjadi di masa depan. Pengetahuan tentang masa depan, bukanlah sesuatu yang baru bagi para tetua-tetua pendahulu. Masa depan, disebutnya sebagai nagata. Tidak tanggung-tanggung, pengetahuan tentang waktu dimuat dalam kitab berjudul Sang Hyang Kamahayanikan pada bagian awal.

Tentu sangat penting memahami perihal waktu, gunanya agar orang memikirkan segala hal yang sudah dilaluinya atau dilalui kerabat dan sahabat sekelilingnya. Segala hal itu yang mestinya menjadi gambaran untuk kehidupan kelak. Sekarang adalah penghubung antara masa lalu dan masa depan. Jadi, jika di masa depan terjadi sesuatu, itu adalah hasil dari yang dilakukan sekarang. Waktu dilihat dari sudut pandang itu, mirip seperti tali yang siap mengikat dan menjerat. Kebanyakan, orang tidak sadar sedang diikat. Dia mulai sadar diikat, saat tali itu sudah menjerat leher dan membuat nafas sesak. Artinya, saat orang dalam bahaya, barulah mereka sadar.

Saat itu terjadi, maka carilah perlindungan. Apa perlindungan dari kemungkinan yang terjadi di masa depan? Jawabannya adalah cara menjalaninya sekarang. Sekaranglah masa depan itu ditentukan. Dengan begitu, meyakini karma phala tidak hanya sampai pada batas kata. Tetapi sudah menyusup sampai ke sumsum tulang. Sayangnya, tidak semua yang dilakukan sekarang dapat mengendalikan masa depan. Disinilah letak tegangnya. Setidaknya, ada suatu usaha yang sudah dilakukan untuk merencanakan dan memperbaiki masa depan. Jika tidak demikian, orang hanya akan larut dalam aliran lembut waktu yang menghanyutkan.

Maka, atas dasar kebijaksanaan, saya sarankan agar menanam pohon kelapa dengan cara yang benar. Benar waktunya, benar posisinya, benar peruntukannya. Semua itu mestilah diperhitungkan dengan matang. Tidak mungkin memindahkan begitu saja pohon kelapa yang terlanjur tinggi. Tidak sembarang orang pula yang bisa memanjatnya. Haruslah orang itu memiliki keahlian dan pengalaman yang cukup. Jika tidak, jangan bayangkan apa yang akan terjadi.

Menaiki pohon kelapa yang tinggi, tidak cukup dengan teori. Seorang teoritikus, boleh bertumpu pada teori-teori yang diamininya. Tetapi di hadapan seorang yang berpengalaman, teori itu seperti coretan di kertas buram yang sudah lecek untuk bungkus kacang goreng. Maka hati-hati pula berteori. Pada batas tertentu, teori bisa jadi tidak berguna. Dalam bahasa sastra di Bali, seratus teori kalah oleh satu bukti.

Dari pohon kelapa itu pula, helai nyiur diproduksi dan mencukupi keperluan upakara. Ya, tentu saja upakara yang kita elu-elukan sebagai warisan kebudayaan yang adiluhur itu bergantung kepada kelapa. Tidak hanya kelapa, tapi juga kepala.

Saya pernah berkata demikian kepada segerombolan ikan-ikan yang sedang khusyuk menyembah-nyembah. Mereka harus tahu, kalau budaya — yang telah diwarisi oleh entah siapa yang dengan singkat kita sebut leluhur – berasal dari pohon kelapa. Mereka bahkan mestinya memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya, semulia-mulianya kepada kelapa. Sebab kelapa merelakan dirinya menjadi salah satu bagian dari bumi yang dijadikan pengorbanan atas nama ritual dan keikhlasan. Bayangkan bagaimana jadinya kalau kelapa tidak ada!

Barangkali sebuah upacara ngantukang batari sri yang digelar untuk “memindahkan” dewi kemakmuran itu dari sawah-sawah yang akan dibanguni villa, tidak akan berjalan mulus. Jika ritual itu tidak mulus, konon bangunan yang dibangun di atas tanah sawah tidak akan bisa ditempati dengan nyaman. Dengan begitu, kemakmuran tidak akan ada pada tanah yang dewinya belum dipindahkan dan ditindih batu bata dan batako.

Bisa jadi, upacara caru tidak bisa berjalan dengan baik karena kelapa tidak ada. Bagaimana caranya membuat daksina yang bahannya adalah buah kelapa? Dalam banyak sekali ceramah, konon kelapa adalah bulatan bumi yang mengandung amerta. Tidak ada kelapa, lalu mana amertanya?

Saya sungguh sangat sulit membayangkan, bagaimana upacara besar bisa dilangsungkan tanpa peran serta pohon kelapa. Agar jelas, bisa saja kita lihat perlengkapan yang disebutkan oleh Stuart-Fox dalam bukunya “Pura Besakih: Pura, Agama dan Masyarakat Bali”. Di dalamnya, Stuart-Fox menyediakan gambar-gambar peralatan upacara caru.

Tidak hanya daunnya, kelapa juga menyerahkan buahnya. Dari yang paling kecil, sampai yang paling tua. Jika kelapa adalah manusia, saya bayangkan kelapa memiliki hati dan perasaan. Buah-buah yang telah dirampas dari hak-haknya untuk hidup, adalah bakal anaknya. Orang tua mana yang rela memberikan anaknya untuk dijadikan bahan ritual?

Maka melalui tulisan ini saya ucapkan, terimakasih kelapa. Kepadamu saya menundukkan kepala. Sayangnya, banyak pohon kelapa yang sudah terlalu tua, dan tidak banyak lagi yang menanamnya. Meskipun ada, mereka tidak tahu lagi cara menanam dengan baik. Agar dijauhi dari hama, juga keisengan tetangga. Singkatnya, menanam kelapa mirip seperti menitipkan tugas kepada anak dan cucu. Jika anak cucu tidak mendapatkan sesuatu yang layak dan menyusahkan, siap-siaplah menjadi pelaku yang dipersalahkan. Lalu siapakah kelapa? Menurut orang tua saya, kelapa adalah leluhur. Leluhur itu bernama Nini. [T]

Kacang [Kamus Cangak]:

Mulai edisi ini, saya berusaha menyediakan beberapa kata yang diartikan menurut pemikiran saya yang dipengaruhi oleh banyak hal. Kata-kata itu saya himpun dalam suatu kamus bernama “Kacang” [Kamus Cangak]. Daftar kata itu ditulis tidak berurutan dan tidak sesuai abjad. Singkatnya, kamus itu disusun menurut keinginan saya sendiri.

Jarak  : cara alam mengajarkan arti rindu.

Waktu : sesuatu yang memisahkan dan menghubungkan tanpa terasa.

Tags: filsafatfilsafat balifloraritualsastraSpiritual
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata Nusa Penida: Antara Broken Beach dan “Broken-Broken” Lainnya

Next Post

Menjaga dan Merawat Ibu Rupa Batuan

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga dan Merawat Ibu Rupa Batuan

Menjaga dan Merawat Ibu Rupa Batuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co