23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyelami Makna Kehidupan dalam Novel “Luh” Karya Ktut Sugiartha

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
August 14, 2019
in Ulasan
Menyelami Makna Kehidupan dalam Novel “Luh” Karya Ktut Sugiartha

Wulan Dewi Saraswati (kiri) dan penulis novel Luh, Ktut Sugiartha dalam acara Denpasar Book Fair 2019 (foto Putu Supartika)

  • Judul               : Luh
  • Penerbit           : Pustaka Ekspresi
  • Tahun terbit    : Cetakan Pertama, April 2019
  • Penulis             : Ktut Sugiartha


One  is not born, but rather becomes, a woman – Simone de Beauvoir

Novel Luh karya Ktut Sugiartha adalah karya yang mengalir. Novel ini tentu lahir sebagai sebuah refleksi diri dalam sudut pandang perempuan. Ini menarik sebab penulisnya adalah seorang laki-laki, namun sudut pandang orang pertama yang digunakan adalah tokoh perempuan. Karakter tokoh utama yakni Luh digambarkan punya pemikiran yang matang, prinsip hidup, dan ketangguhan. Selain itu, keresahan-keresahan yang dirasakan Luh juga tidak terlalu didramatisir.

Pola pembentukan tokoh perempuan dalam novel ini tentu adalah sebuah mimikri dari realita. Luh dihadapkan oleh masalah yang juga dialami oleh sebagian besar perempuan. Apakah perlu melanjutkan sekolah? Apakah perempuan harus selalu di rumah? Apakah perempuan harus terus mengalah? Apakah budaya dan adat masih menjadi penghalangan untuk perempuan berkarya? Apakah perempuan harus terus mengeluh terhadap pahit getirnya kehidupan? Bisakah perempuan mengambil keputusan?

Pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan itu terjawab dalam alur cerita yang sistematis. Novel Luh yang terdiri atas tujuh bagian ini mengantarkan pembaca untuk lebih mendalami cerita. Selain itu, cerita yang disuguhkan mengalir ringan dengan diksi sederhana. Metafora yang dipilih cenderung bernuansa romantis yang terdapat di setiap permulaan bagian cerita. Seperti penggalan berikut.

Kuguyur tubuhku dengan bergayung-gayung air. Segar sekali rasanya, mengundang bibirku untuk bersenandung ria (hal.19).

Matahari hampir mencium carawala. Langit di ufuk barat tampak bagai selembar kanvas yang dipoles nuansa lembayung (hal28).

Alur novel ini dibuka dengan tokoh Luh bercakap-cakap dengan temannya sepulang kuliah dan menuturkan tentang kehidupan asmaranya dengan Mardawa yang tidak berjalan baik. Luh juga memaparkan tentang dirinya yang berjuang dengan ibunya sepeninggal ayahnya. Ia pun harus membantu ibunya yang jualan di pasar, menjual canah dan buah-buahan. Kemudian kemunculan tokoh baru yakni Ngurah seorang dokter yang tertarik dengan Luh.

Konflik ini menjadi lebih hidup karena Luh bingung untuk mengambil beberapa keputusan dihidupnya. Tokoh Luh bimbang antara bekerja atau lanjut belajar, dia juga ragu dengan asmaranya,  kemudian dihadapkan dengan pilihan antara kasta atau keluarga.  Konflik batin yang dipilih ini semakin menarik karena dibubuhi unsur niskala dan spritualitas. Hal-hal magis yang dialami Luh nampak mengejutkan, terlebih karena hal ini ia pun mengetahui fakta tentang ayahnya.

“Percuma, Luh.” Katanya suatu hari.

“Kamu tak mungkin bisa berbuat banyak untuk keluarga kita hanya dengan mengandalkan ijazah SMA. Berapa sih gaji yang bisa kamu harapkan?” (hal.6)

Konflik lain terlihat pada bagian Mimpi Aneh. Luh mendapat beberapa firasat dan kerap bermimpi yang seram. Luh kemudian mencoba menanyakan ke orang pintar.

 “Aneh, mimpi itu ternyata datang lagi pada hari berikutnya dna berikutnya lagi. Aku sangat terganggu dibuatnya.” (hal.63)

 “Ia hanya mengingatkanmu.” Mengingatkanmu akan panggilan leluhur.” (hal.66)

Konflik lain terlihat pada bagian Mimpi Aneh. Luh mendapat beberapa firasat dan kerap bermimpi yang seram. Luh kemudian mencoba menanyakan ke orang pintar.

 “Aneh, mimpi itu ternyata datang lagi pada hari berikutnya dna berikutnya lagi. Aku sangat terganggu dibuatnya.” (hal.63)

 “Ia hanya mengingatkanmu.” Mengingatkanmu akan panggilan leluhur.” (hal.66)

Percakapan antara Luh dan ibunya ini ternyata dijawab dengan diterimanya Luh menjadi pramugari. Namun Mardawa, kekasihnya menentang keputusan itu.

“Wanita itu makhluk yang lemah, Luh. Tak mungkin Luh ingkari itu. Jauh dari rumah sangat riskan buatmu.”

“Saya bukan anak kecil lagi. Saya tahu apa yang  Bli maksud. Bli Meragukan kesetiaan saya, kan?”

Konflik pun berlanjut ketika Ngurah lebih gencar mendekati Luh. Ia pun melamar Luh. Namun Luh mempunyai dilema karena berbedaa status sosialnya.

Saya baru sadar, ternyata kita tidak berdiri di atas kutub yang sama.” (hal 30)

Aku sangat risau akan perbedaan status sosial di antara kami, apalagi kau harus dikaitkan dengan embel-embel kasta…..

Membiarkanku kawin dengan Ngurah berarti memutus hubuganku dengan Ibu, sebab begitu menjadi istrinya statusku akan berubah (hal.94)

Tokoh Luh mencoba menyelesaikan konflik ini dengan mengambil keputusan. Keputusan-keputusan yang diambil oleh tokoh Luh dalam novel ini sangat berisiko. Perempuan remaja yang dihadapkan oleh berbagai konflik batin seperti ini tentu akan kesulitan memutuskan sesuatu. Rasa kelekatannya terhadap ibunya, pacarnya, dan temannya membuatnya sulit untuk mengambil keputusan. Tokoh Luh lantas tak mau lemah. Ia memilih mengejar cita-citanya dan meminimalisir kecemasannya.

“Aku betul-betul menikmati pekerjaanku. Hari-hari kulalui dengan semangat hidup yang baru….Bamun apa yang berhasil kucapai adalah berkat ibu juga. ”(hal.42)

“Kerja itu persembahan, Nak.” Tulisannya dalam sepucuk surat. (hal.43)

“Kamu tak perlu menjadi siapa pun, jadilah dirimu sendiri. (hal.43)

Novel ini ditutup dengan kepergian ibu Luh. Sebelum meninggal dunia, ibunya meninggalkan pesan agar Luh segera menikah dengan Ngurah. Ibunya akan tenang bila Luh bersama Ngurah.

Novel Luh merangsang kita untuk berani mengambil keputusan, mengambil risiko, dan tetap optimis terhadap dinamika perubahan hidup.  Perempuan tidak perlu selalu menjadi korban, selalu memandang diri tidak berdaya, dan sedikit pilihan. Terlebih pada masa transisi, emosi yang menggebu tidak dibarengi dengan kematangan bersikap. Novel ini sangat direkomendasikan untuk remaja baik perempuan maupun laki-laki yang ingin mendalami diri dan memperluas pemikiran sehingga mampu membuat keputusan-keputusan yang ajaib. [T]

Catatan: Ulasan ini disampaikan dalam acara bedah buku pada acara Denpasar Book Fair, Selasa, 14 Agustus 2019.

Tags: Bukunovelresensiresensi buku
Share67TweetSendShareSend
Previous Post

Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

Next Post

Orang Bali dan Waktu – Dari “Semengan Deg” hingga “Ngelingsirang”

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Etos Kerja Orang Bali, “Jengah” & “De Ngadén Awak Bisa”

Orang Bali dan Waktu - Dari "Semengan Deg" hingga "Ngelingsirang"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co