24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setanggi

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
August 13, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Harum setanggi di altar, sedang saya duduk di bawah. Meski setanggi itu di altar, saya bisa menghirup aromanya dari bawah. Tepat di depan saya, berdiri dengan kokoh sebatang beringin besar yang rimbun. Akarnya besar-besar meliuk kesini-sana seperti ular. Setelah saya pikir-pikir, kakar itu lebih mirip pikiran yang dimiliki setiap manusia. Akar itu menancap dan menembus tanah yang konon padat dan berat menurut kitab-kitab tattwa. Anggaplah beringin itu pohon agama yang tumbuh subur di wilayah ini, dan saya adalah seseorang yang berteduh di bawahnya, berlindung!

Tidak hanya sekadar berlindung, tujuan saya duduk di bawah rimbunan daun beringin yang konon beruas satu itu adalah untuk memuja. Yang saya puja adalah sesuatu yang konon membuat beringin itu hidup. Tapi saya yakin, saya ini tidak sendiri melakukan hal yang sama. Sebab tepat di batang pohon beringin, ada kain poleng dipasang dengan rapih. Siapa yang memasangnya? Saya tidak tahu. Kain poleng itu cukup sebagai bukti, kalau saya tidak sendiri. Kan tidak mungkin pohon beringin bisa memasangnya sendiri.

Saat tulisan ini mulai saya ketik, saya ingin memikirkan kembali, benarkah saya memuja sesuatu yang membuat beringin itu hidup? Atau tanpa saya sadari, sesungguhnya saya benar-benar sedang memuja beringin? Anggaplah saya sedang memuja beringin besar itu. Tapi kenapa?

Oh, mungkin karena beringin ini telah memberikan saya keteduhan dan juga bersedia mengubah karbondioksida menjadi oksigen yang saya butuhkan untuk hidup. Barangkali saya duduk di bawah rimbunan daunnya memuja, karena memang cara ini yang diwariskan oleh para leluhur untuk berterimakasih atas udara yang telah mereka hirup. Saya kini juga menghirup udara dan berterimakasih.

Jadi ritual leluhur yang saya warisi ini, adalah cara untuk berterimakasih. Lalu kain poleng yang memeluk batang beringin, adalah ritual lain yang diwarisi oleh keturunan dari leluhur yang lain. Tiap leluhur mungkin saja punya jalannya sendiri-sendiri untuk berterimakasih. Ada yang berterimakasih dengan jalan membakar setanggi, ada yang mencium bumi, ada juga yang menyelimuti beringin dengan kain poleng. Jangankan beringin, gunung pun ada yang menyelimutinya dengan kain.

Bukan hanya caranya saja yang berbeda, objek terimakasih itu juga bisa berbeda. Ada yang berterimakasih kepada pohon, ada yang berterimakasih kepada hewan. Ada juga yang berterimakasih kepada danau, kepada laut, kepada hutan. Agar lebih terlihat agamawan, ada yang menyebutkan cara berterimakasih itu dengan istilah sad kretih.

Untuk memahami arti dari istilah itu, saya usulkan untuk bertanya kepada yang paham. Jadi penjelasan yang lengkap akan kita dapatkan. Meminta penjelasan dari orang pintar dan paham, bukan hal aneh. Apalagi pada saat semua orang menginginkan kejelasan atas apa yang sudah ia lakukan. Seperti seorang pendaki yang melihat gunung dari jauh. Setelah gunung itu didakinya dan sampai di puncak, ia bertanya “mana gunungnya?”.

Entah apa yang melatarbelakangi pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul. Mungkin benar kata ratu aji IBM. Dharma Palguna dalam sebuah wawancara yang dilakukan salah satu media, bahwa nanti akan tiba saatnya masyarakat upacara akan menjadi masyarakat tattwa. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan tattwa. Saya tidak melanjutkan apa definisi dari kedua masyarakat itu. Mungkin maksud dari ungkapan tadi adalah tentang perubahan cara berpikir dan cara melakukan. Mau tidak mau, perubahan itu akan terjadi.

Merubah pola pikir menjadi bertattwa tidak mudah. Cara itu perlu dipelajari. Belajar tidak boleh grasa-grusu, sebaiknya pelan-pelan. Cara pikir tattwa bukannya tanpa resiko. Tidak jarang, pikiran yang sudah dimasuki tattwa tidak lagi dapat berpikir dengan sederhana.

Kesederhanaan itu seperti ikan yang tidak lagi bertanya tentang air. Kondisi tidak bertanya bisa diartikan sebagai “sudah sampai”, atau di saat yang sama adalah karena tidak peduli. Keduanya sama-sama tidak bertanya, tapi keduanya tidak sama. IBM. Dharma Palguna sendiri pernah bertanya pada saya, “bisa bayangkan bagaimana kalau semua orang hanya duduk diam bermeditasi?”. Saat itu saya tidak menjawab. Bukan karena tidak ingin, tapi karena bodoh.

Perubahan pastilah terjadi. Cepat atau lambat. Agar siap berubah, haruslah didasari oleh pondasi yang kuat. Agar perubahan tidak cepat goyah. Perubahan menjadi masyarakat tattwa, haruslah didasari dengan susila. Begitu konon ajarannya.

Adegan pendaki dan gunung tadi, barangkali berarti tujuan. Awalnya saat pendaki jauh dari tujuan, dilihatnya tujuan adalah gunung tinggi menjulang. Tapi setelah sampai di puncak, tujuan itu tidak dilihatnya lagi. Tidak dilihatnya lagi tujuan, bisa jadi diterjemahkan menjadi kehilangan tujuan. Kehilangan tujuan sangatlah berbahaya. Apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa kehilangan. Setelah berlelah-lelah mendaki, tujuannya yang tinggi itu malah hilang.

Maka konon, setelah tujuan itu tercapai, diadakanlah lagi tujuan yang lain. Tujuan itulah yang menjadi kendaraan sekaligus peta. Sebagai kendaraan dia mengantarkan, sebagai peta ia menunjukkan. Ada masanya, kendaraan dan peta sudah tidak diperlukan lagi. Saat itu tiba, kendaraan dan peta harus ditinggalkan. Tapi malangnya, saat itu tercapai, orang lebih sering tidak sadar. Dalam bahasa Dharma Shunya, disebutnya hana ilang tan inaku. Ada yang hilang tapi tidak terasa.

Jadi tentang masyarakat ritual maupun tattwa biarkan saja mengalir sebagaimana adanya. Tidak perlu ada rekayasa. Sesekali di jalan besar agama ini memang akan terjadi tabrakan kecelakaan. Selain kecelakaan, di jalan besar ini juga ada orang-orang yang mendapatkan kehidupan. Penjual karcis, penjaga parkir, dagang asong, sampai peminta-minta yang hanya pura-pura. Tapi kita menikmati semua itu sebagai orchestra hidup. Atau agar lebih tradisi, saya sebut saja Gambelan Hidup. Ada yang memukul klenang dan cengceng kecek yang kecil itu, ada juga yang memukul gong besar. Yang lain ada yang memukul kendang, riong, kantil, gangsa, dan sebagainya. Di antara semua yang dipukul itu, ada alat musik bernama pentuk yang mengatur tempo. Jika semua itu dipadupadankan oleh maestro gambelan, tidak hanya hati yang tergetar.

Di lain sisi, akan ada investor yang berhasil mengambil keuntungan dari segala jenis tabuh itu. Bukan hanya investor, bahkan banyak juga para peneliti yang hidup dari taleng dan tedong yang menjadi tanda nada dari gambelan yang sering kita dengar itu. Antara penabuh gambelan dan investor-peneliti itu memiliki urusan yang berbeda. Semuanya berjalan di jalannya masing-masing. Semuanya adalah pilihan. Dan setiap pilihan selalu mengandung resiko yang akan diterima setelah pilihan itu dilaksanakan.

Dunia politik pun dipengaruhi oleh taleng dan tedong itu. Ada banyak keputusan yang dibuat untuk melestarikan taleng tedong. Masyarakat yang menjadi tempat taleng tedong tumbuh, pada akhirnya mesti juga mendapatkan bagian dari hasil pelestarian itu. Jalannya politik, tidak berbeda dengan jalannya hukum alam. Jika matahari membuat air laut menguap, lalu uap diserap menjadi mendung, maka pada gilirannya mendung itu juga yang menurunkan air hujan. Air hujan itu pula yang menghidupi pohon-pohon besar sampai akar rumput. Siklus alam yang demikian, seringkali tidak berjalan. Begitu mendung, laser bertindak dan hujan hilang. Yang kembung, bukan umbi rumput teki, tapi kita tahu sendiri.

Asap dari setanggi yang terbakar di altar mulai membumbung menyelinap ke ranting-ranting beringin. Aromanya menusuk hidung. Saya masih sendiri terduduk di bawahnya. Tapi karena ada kain poleng di batang beringin, rasa sendiri itu sedikit terobati. Saya tidak sendiri. Kau tidak sendiri. Kita tidak sendiri. Tapi kita yang lebih memilih menyendiri. [T]

Tags: bungafilsafatpohonrenungansastra
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

UN Tak Menentukan, Untuk Apa Belajar?

Next Post

Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co