3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setanggi

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
August 13, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Harum setanggi di altar, sedang saya duduk di bawah. Meski setanggi itu di altar, saya bisa menghirup aromanya dari bawah. Tepat di depan saya, berdiri dengan kokoh sebatang beringin besar yang rimbun. Akarnya besar-besar meliuk kesini-sana seperti ular. Setelah saya pikir-pikir, kakar itu lebih mirip pikiran yang dimiliki setiap manusia. Akar itu menancap dan menembus tanah yang konon padat dan berat menurut kitab-kitab tattwa. Anggaplah beringin itu pohon agama yang tumbuh subur di wilayah ini, dan saya adalah seseorang yang berteduh di bawahnya, berlindung!

Tidak hanya sekadar berlindung, tujuan saya duduk di bawah rimbunan daun beringin yang konon beruas satu itu adalah untuk memuja. Yang saya puja adalah sesuatu yang konon membuat beringin itu hidup. Tapi saya yakin, saya ini tidak sendiri melakukan hal yang sama. Sebab tepat di batang pohon beringin, ada kain poleng dipasang dengan rapih. Siapa yang memasangnya? Saya tidak tahu. Kain poleng itu cukup sebagai bukti, kalau saya tidak sendiri. Kan tidak mungkin pohon beringin bisa memasangnya sendiri.

Saat tulisan ini mulai saya ketik, saya ingin memikirkan kembali, benarkah saya memuja sesuatu yang membuat beringin itu hidup? Atau tanpa saya sadari, sesungguhnya saya benar-benar sedang memuja beringin? Anggaplah saya sedang memuja beringin besar itu. Tapi kenapa?

Oh, mungkin karena beringin ini telah memberikan saya keteduhan dan juga bersedia mengubah karbondioksida menjadi oksigen yang saya butuhkan untuk hidup. Barangkali saya duduk di bawah rimbunan daunnya memuja, karena memang cara ini yang diwariskan oleh para leluhur untuk berterimakasih atas udara yang telah mereka hirup. Saya kini juga menghirup udara dan berterimakasih.

Jadi ritual leluhur yang saya warisi ini, adalah cara untuk berterimakasih. Lalu kain poleng yang memeluk batang beringin, adalah ritual lain yang diwarisi oleh keturunan dari leluhur yang lain. Tiap leluhur mungkin saja punya jalannya sendiri-sendiri untuk berterimakasih. Ada yang berterimakasih dengan jalan membakar setanggi, ada yang mencium bumi, ada juga yang menyelimuti beringin dengan kain poleng. Jangankan beringin, gunung pun ada yang menyelimutinya dengan kain.

Bukan hanya caranya saja yang berbeda, objek terimakasih itu juga bisa berbeda. Ada yang berterimakasih kepada pohon, ada yang berterimakasih kepada hewan. Ada juga yang berterimakasih kepada danau, kepada laut, kepada hutan. Agar lebih terlihat agamawan, ada yang menyebutkan cara berterimakasih itu dengan istilah sad kretih.

Untuk memahami arti dari istilah itu, saya usulkan untuk bertanya kepada yang paham. Jadi penjelasan yang lengkap akan kita dapatkan. Meminta penjelasan dari orang pintar dan paham, bukan hal aneh. Apalagi pada saat semua orang menginginkan kejelasan atas apa yang sudah ia lakukan. Seperti seorang pendaki yang melihat gunung dari jauh. Setelah gunung itu didakinya dan sampai di puncak, ia bertanya “mana gunungnya?”.

Entah apa yang melatarbelakangi pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul. Mungkin benar kata ratu aji IBM. Dharma Palguna dalam sebuah wawancara yang dilakukan salah satu media, bahwa nanti akan tiba saatnya masyarakat upacara akan menjadi masyarakat tattwa. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan tattwa. Saya tidak melanjutkan apa definisi dari kedua masyarakat itu. Mungkin maksud dari ungkapan tadi adalah tentang perubahan cara berpikir dan cara melakukan. Mau tidak mau, perubahan itu akan terjadi.

Merubah pola pikir menjadi bertattwa tidak mudah. Cara itu perlu dipelajari. Belajar tidak boleh grasa-grusu, sebaiknya pelan-pelan. Cara pikir tattwa bukannya tanpa resiko. Tidak jarang, pikiran yang sudah dimasuki tattwa tidak lagi dapat berpikir dengan sederhana.

Kesederhanaan itu seperti ikan yang tidak lagi bertanya tentang air. Kondisi tidak bertanya bisa diartikan sebagai “sudah sampai”, atau di saat yang sama adalah karena tidak peduli. Keduanya sama-sama tidak bertanya, tapi keduanya tidak sama. IBM. Dharma Palguna sendiri pernah bertanya pada saya, “bisa bayangkan bagaimana kalau semua orang hanya duduk diam bermeditasi?”. Saat itu saya tidak menjawab. Bukan karena tidak ingin, tapi karena bodoh.

Perubahan pastilah terjadi. Cepat atau lambat. Agar siap berubah, haruslah didasari oleh pondasi yang kuat. Agar perubahan tidak cepat goyah. Perubahan menjadi masyarakat tattwa, haruslah didasari dengan susila. Begitu konon ajarannya.

Adegan pendaki dan gunung tadi, barangkali berarti tujuan. Awalnya saat pendaki jauh dari tujuan, dilihatnya tujuan adalah gunung tinggi menjulang. Tapi setelah sampai di puncak, tujuan itu tidak dilihatnya lagi. Tidak dilihatnya lagi tujuan, bisa jadi diterjemahkan menjadi kehilangan tujuan. Kehilangan tujuan sangatlah berbahaya. Apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa kehilangan. Setelah berlelah-lelah mendaki, tujuannya yang tinggi itu malah hilang.

Maka konon, setelah tujuan itu tercapai, diadakanlah lagi tujuan yang lain. Tujuan itulah yang menjadi kendaraan sekaligus peta. Sebagai kendaraan dia mengantarkan, sebagai peta ia menunjukkan. Ada masanya, kendaraan dan peta sudah tidak diperlukan lagi. Saat itu tiba, kendaraan dan peta harus ditinggalkan. Tapi malangnya, saat itu tercapai, orang lebih sering tidak sadar. Dalam bahasa Dharma Shunya, disebutnya hana ilang tan inaku. Ada yang hilang tapi tidak terasa.

Jadi tentang masyarakat ritual maupun tattwa biarkan saja mengalir sebagaimana adanya. Tidak perlu ada rekayasa. Sesekali di jalan besar agama ini memang akan terjadi tabrakan kecelakaan. Selain kecelakaan, di jalan besar ini juga ada orang-orang yang mendapatkan kehidupan. Penjual karcis, penjaga parkir, dagang asong, sampai peminta-minta yang hanya pura-pura. Tapi kita menikmati semua itu sebagai orchestra hidup. Atau agar lebih tradisi, saya sebut saja Gambelan Hidup. Ada yang memukul klenang dan cengceng kecek yang kecil itu, ada juga yang memukul gong besar. Yang lain ada yang memukul kendang, riong, kantil, gangsa, dan sebagainya. Di antara semua yang dipukul itu, ada alat musik bernama pentuk yang mengatur tempo. Jika semua itu dipadupadankan oleh maestro gambelan, tidak hanya hati yang tergetar.

Di lain sisi, akan ada investor yang berhasil mengambil keuntungan dari segala jenis tabuh itu. Bukan hanya investor, bahkan banyak juga para peneliti yang hidup dari taleng dan tedong yang menjadi tanda nada dari gambelan yang sering kita dengar itu. Antara penabuh gambelan dan investor-peneliti itu memiliki urusan yang berbeda. Semuanya berjalan di jalannya masing-masing. Semuanya adalah pilihan. Dan setiap pilihan selalu mengandung resiko yang akan diterima setelah pilihan itu dilaksanakan.

Dunia politik pun dipengaruhi oleh taleng dan tedong itu. Ada banyak keputusan yang dibuat untuk melestarikan taleng tedong. Masyarakat yang menjadi tempat taleng tedong tumbuh, pada akhirnya mesti juga mendapatkan bagian dari hasil pelestarian itu. Jalannya politik, tidak berbeda dengan jalannya hukum alam. Jika matahari membuat air laut menguap, lalu uap diserap menjadi mendung, maka pada gilirannya mendung itu juga yang menurunkan air hujan. Air hujan itu pula yang menghidupi pohon-pohon besar sampai akar rumput. Siklus alam yang demikian, seringkali tidak berjalan. Begitu mendung, laser bertindak dan hujan hilang. Yang kembung, bukan umbi rumput teki, tapi kita tahu sendiri.

Asap dari setanggi yang terbakar di altar mulai membumbung menyelinap ke ranting-ranting beringin. Aromanya menusuk hidung. Saya masih sendiri terduduk di bawahnya. Tapi karena ada kain poleng di batang beringin, rasa sendiri itu sedikit terobati. Saya tidak sendiri. Kau tidak sendiri. Kita tidak sendiri. Tapi kita yang lebih memilih menyendiri. [T]

Tags: bungafilsafatpohonrenungansastra
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

UN Tak Menentukan, Untuk Apa Belajar?

Next Post

Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co