3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setanggi

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
August 13, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Harum setanggi di altar, sedang saya duduk di bawah. Meski setanggi itu di altar, saya bisa menghirup aromanya dari bawah. Tepat di depan saya, berdiri dengan kokoh sebatang beringin besar yang rimbun. Akarnya besar-besar meliuk kesini-sana seperti ular. Setelah saya pikir-pikir, kakar itu lebih mirip pikiran yang dimiliki setiap manusia. Akar itu menancap dan menembus tanah yang konon padat dan berat menurut kitab-kitab tattwa. Anggaplah beringin itu pohon agama yang tumbuh subur di wilayah ini, dan saya adalah seseorang yang berteduh di bawahnya, berlindung!

Tidak hanya sekadar berlindung, tujuan saya duduk di bawah rimbunan daun beringin yang konon beruas satu itu adalah untuk memuja. Yang saya puja adalah sesuatu yang konon membuat beringin itu hidup. Tapi saya yakin, saya ini tidak sendiri melakukan hal yang sama. Sebab tepat di batang pohon beringin, ada kain poleng dipasang dengan rapih. Siapa yang memasangnya? Saya tidak tahu. Kain poleng itu cukup sebagai bukti, kalau saya tidak sendiri. Kan tidak mungkin pohon beringin bisa memasangnya sendiri.

Saat tulisan ini mulai saya ketik, saya ingin memikirkan kembali, benarkah saya memuja sesuatu yang membuat beringin itu hidup? Atau tanpa saya sadari, sesungguhnya saya benar-benar sedang memuja beringin? Anggaplah saya sedang memuja beringin besar itu. Tapi kenapa?

Oh, mungkin karena beringin ini telah memberikan saya keteduhan dan juga bersedia mengubah karbondioksida menjadi oksigen yang saya butuhkan untuk hidup. Barangkali saya duduk di bawah rimbunan daunnya memuja, karena memang cara ini yang diwariskan oleh para leluhur untuk berterimakasih atas udara yang telah mereka hirup. Saya kini juga menghirup udara dan berterimakasih.

Jadi ritual leluhur yang saya warisi ini, adalah cara untuk berterimakasih. Lalu kain poleng yang memeluk batang beringin, adalah ritual lain yang diwarisi oleh keturunan dari leluhur yang lain. Tiap leluhur mungkin saja punya jalannya sendiri-sendiri untuk berterimakasih. Ada yang berterimakasih dengan jalan membakar setanggi, ada yang mencium bumi, ada juga yang menyelimuti beringin dengan kain poleng. Jangankan beringin, gunung pun ada yang menyelimutinya dengan kain.

Bukan hanya caranya saja yang berbeda, objek terimakasih itu juga bisa berbeda. Ada yang berterimakasih kepada pohon, ada yang berterimakasih kepada hewan. Ada juga yang berterimakasih kepada danau, kepada laut, kepada hutan. Agar lebih terlihat agamawan, ada yang menyebutkan cara berterimakasih itu dengan istilah sad kretih.

Untuk memahami arti dari istilah itu, saya usulkan untuk bertanya kepada yang paham. Jadi penjelasan yang lengkap akan kita dapatkan. Meminta penjelasan dari orang pintar dan paham, bukan hal aneh. Apalagi pada saat semua orang menginginkan kejelasan atas apa yang sudah ia lakukan. Seperti seorang pendaki yang melihat gunung dari jauh. Setelah gunung itu didakinya dan sampai di puncak, ia bertanya “mana gunungnya?”.

Entah apa yang melatarbelakangi pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul. Mungkin benar kata ratu aji IBM. Dharma Palguna dalam sebuah wawancara yang dilakukan salah satu media, bahwa nanti akan tiba saatnya masyarakat upacara akan menjadi masyarakat tattwa. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan tattwa. Saya tidak melanjutkan apa definisi dari kedua masyarakat itu. Mungkin maksud dari ungkapan tadi adalah tentang perubahan cara berpikir dan cara melakukan. Mau tidak mau, perubahan itu akan terjadi.

Merubah pola pikir menjadi bertattwa tidak mudah. Cara itu perlu dipelajari. Belajar tidak boleh grasa-grusu, sebaiknya pelan-pelan. Cara pikir tattwa bukannya tanpa resiko. Tidak jarang, pikiran yang sudah dimasuki tattwa tidak lagi dapat berpikir dengan sederhana.

Kesederhanaan itu seperti ikan yang tidak lagi bertanya tentang air. Kondisi tidak bertanya bisa diartikan sebagai “sudah sampai”, atau di saat yang sama adalah karena tidak peduli. Keduanya sama-sama tidak bertanya, tapi keduanya tidak sama. IBM. Dharma Palguna sendiri pernah bertanya pada saya, “bisa bayangkan bagaimana kalau semua orang hanya duduk diam bermeditasi?”. Saat itu saya tidak menjawab. Bukan karena tidak ingin, tapi karena bodoh.

Perubahan pastilah terjadi. Cepat atau lambat. Agar siap berubah, haruslah didasari oleh pondasi yang kuat. Agar perubahan tidak cepat goyah. Perubahan menjadi masyarakat tattwa, haruslah didasari dengan susila. Begitu konon ajarannya.

Adegan pendaki dan gunung tadi, barangkali berarti tujuan. Awalnya saat pendaki jauh dari tujuan, dilihatnya tujuan adalah gunung tinggi menjulang. Tapi setelah sampai di puncak, tujuan itu tidak dilihatnya lagi. Tidak dilihatnya lagi tujuan, bisa jadi diterjemahkan menjadi kehilangan tujuan. Kehilangan tujuan sangatlah berbahaya. Apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa kehilangan. Setelah berlelah-lelah mendaki, tujuannya yang tinggi itu malah hilang.

Maka konon, setelah tujuan itu tercapai, diadakanlah lagi tujuan yang lain. Tujuan itulah yang menjadi kendaraan sekaligus peta. Sebagai kendaraan dia mengantarkan, sebagai peta ia menunjukkan. Ada masanya, kendaraan dan peta sudah tidak diperlukan lagi. Saat itu tiba, kendaraan dan peta harus ditinggalkan. Tapi malangnya, saat itu tercapai, orang lebih sering tidak sadar. Dalam bahasa Dharma Shunya, disebutnya hana ilang tan inaku. Ada yang hilang tapi tidak terasa.

Jadi tentang masyarakat ritual maupun tattwa biarkan saja mengalir sebagaimana adanya. Tidak perlu ada rekayasa. Sesekali di jalan besar agama ini memang akan terjadi tabrakan kecelakaan. Selain kecelakaan, di jalan besar ini juga ada orang-orang yang mendapatkan kehidupan. Penjual karcis, penjaga parkir, dagang asong, sampai peminta-minta yang hanya pura-pura. Tapi kita menikmati semua itu sebagai orchestra hidup. Atau agar lebih tradisi, saya sebut saja Gambelan Hidup. Ada yang memukul klenang dan cengceng kecek yang kecil itu, ada juga yang memukul gong besar. Yang lain ada yang memukul kendang, riong, kantil, gangsa, dan sebagainya. Di antara semua yang dipukul itu, ada alat musik bernama pentuk yang mengatur tempo. Jika semua itu dipadupadankan oleh maestro gambelan, tidak hanya hati yang tergetar.

Di lain sisi, akan ada investor yang berhasil mengambil keuntungan dari segala jenis tabuh itu. Bukan hanya investor, bahkan banyak juga para peneliti yang hidup dari taleng dan tedong yang menjadi tanda nada dari gambelan yang sering kita dengar itu. Antara penabuh gambelan dan investor-peneliti itu memiliki urusan yang berbeda. Semuanya berjalan di jalannya masing-masing. Semuanya adalah pilihan. Dan setiap pilihan selalu mengandung resiko yang akan diterima setelah pilihan itu dilaksanakan.

Dunia politik pun dipengaruhi oleh taleng dan tedong itu. Ada banyak keputusan yang dibuat untuk melestarikan taleng tedong. Masyarakat yang menjadi tempat taleng tedong tumbuh, pada akhirnya mesti juga mendapatkan bagian dari hasil pelestarian itu. Jalannya politik, tidak berbeda dengan jalannya hukum alam. Jika matahari membuat air laut menguap, lalu uap diserap menjadi mendung, maka pada gilirannya mendung itu juga yang menurunkan air hujan. Air hujan itu pula yang menghidupi pohon-pohon besar sampai akar rumput. Siklus alam yang demikian, seringkali tidak berjalan. Begitu mendung, laser bertindak dan hujan hilang. Yang kembung, bukan umbi rumput teki, tapi kita tahu sendiri.

Asap dari setanggi yang terbakar di altar mulai membumbung menyelinap ke ranting-ranting beringin. Aromanya menusuk hidung. Saya masih sendiri terduduk di bawahnya. Tapi karena ada kain poleng di batang beringin, rasa sendiri itu sedikit terobati. Saya tidak sendiri. Kau tidak sendiri. Kita tidak sendiri. Tapi kita yang lebih memilih menyendiri. [T]

Tags: bungafilsafatpohonrenungansastra
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

UN Tak Menentukan, Untuk Apa Belajar?

Next Post

Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co