14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setanggi

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
August 13, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Harum setanggi di altar, sedang saya duduk di bawah. Meski setanggi itu di altar, saya bisa menghirup aromanya dari bawah. Tepat di depan saya, berdiri dengan kokoh sebatang beringin besar yang rimbun. Akarnya besar-besar meliuk kesini-sana seperti ular. Setelah saya pikir-pikir, kakar itu lebih mirip pikiran yang dimiliki setiap manusia. Akar itu menancap dan menembus tanah yang konon padat dan berat menurut kitab-kitab tattwa. Anggaplah beringin itu pohon agama yang tumbuh subur di wilayah ini, dan saya adalah seseorang yang berteduh di bawahnya, berlindung!

Tidak hanya sekadar berlindung, tujuan saya duduk di bawah rimbunan daun beringin yang konon beruas satu itu adalah untuk memuja. Yang saya puja adalah sesuatu yang konon membuat beringin itu hidup. Tapi saya yakin, saya ini tidak sendiri melakukan hal yang sama. Sebab tepat di batang pohon beringin, ada kain poleng dipasang dengan rapih. Siapa yang memasangnya? Saya tidak tahu. Kain poleng itu cukup sebagai bukti, kalau saya tidak sendiri. Kan tidak mungkin pohon beringin bisa memasangnya sendiri.

Saat tulisan ini mulai saya ketik, saya ingin memikirkan kembali, benarkah saya memuja sesuatu yang membuat beringin itu hidup? Atau tanpa saya sadari, sesungguhnya saya benar-benar sedang memuja beringin? Anggaplah saya sedang memuja beringin besar itu. Tapi kenapa?

Oh, mungkin karena beringin ini telah memberikan saya keteduhan dan juga bersedia mengubah karbondioksida menjadi oksigen yang saya butuhkan untuk hidup. Barangkali saya duduk di bawah rimbunan daunnya memuja, karena memang cara ini yang diwariskan oleh para leluhur untuk berterimakasih atas udara yang telah mereka hirup. Saya kini juga menghirup udara dan berterimakasih.

Jadi ritual leluhur yang saya warisi ini, adalah cara untuk berterimakasih. Lalu kain poleng yang memeluk batang beringin, adalah ritual lain yang diwarisi oleh keturunan dari leluhur yang lain. Tiap leluhur mungkin saja punya jalannya sendiri-sendiri untuk berterimakasih. Ada yang berterimakasih dengan jalan membakar setanggi, ada yang mencium bumi, ada juga yang menyelimuti beringin dengan kain poleng. Jangankan beringin, gunung pun ada yang menyelimutinya dengan kain.

Bukan hanya caranya saja yang berbeda, objek terimakasih itu juga bisa berbeda. Ada yang berterimakasih kepada pohon, ada yang berterimakasih kepada hewan. Ada juga yang berterimakasih kepada danau, kepada laut, kepada hutan. Agar lebih terlihat agamawan, ada yang menyebutkan cara berterimakasih itu dengan istilah sad kretih.

Untuk memahami arti dari istilah itu, saya usulkan untuk bertanya kepada yang paham. Jadi penjelasan yang lengkap akan kita dapatkan. Meminta penjelasan dari orang pintar dan paham, bukan hal aneh. Apalagi pada saat semua orang menginginkan kejelasan atas apa yang sudah ia lakukan. Seperti seorang pendaki yang melihat gunung dari jauh. Setelah gunung itu didakinya dan sampai di puncak, ia bertanya “mana gunungnya?”.

Entah apa yang melatarbelakangi pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul. Mungkin benar kata ratu aji IBM. Dharma Palguna dalam sebuah wawancara yang dilakukan salah satu media, bahwa nanti akan tiba saatnya masyarakat upacara akan menjadi masyarakat tattwa. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan tattwa. Saya tidak melanjutkan apa definisi dari kedua masyarakat itu. Mungkin maksud dari ungkapan tadi adalah tentang perubahan cara berpikir dan cara melakukan. Mau tidak mau, perubahan itu akan terjadi.

Merubah pola pikir menjadi bertattwa tidak mudah. Cara itu perlu dipelajari. Belajar tidak boleh grasa-grusu, sebaiknya pelan-pelan. Cara pikir tattwa bukannya tanpa resiko. Tidak jarang, pikiran yang sudah dimasuki tattwa tidak lagi dapat berpikir dengan sederhana.

Kesederhanaan itu seperti ikan yang tidak lagi bertanya tentang air. Kondisi tidak bertanya bisa diartikan sebagai “sudah sampai”, atau di saat yang sama adalah karena tidak peduli. Keduanya sama-sama tidak bertanya, tapi keduanya tidak sama. IBM. Dharma Palguna sendiri pernah bertanya pada saya, “bisa bayangkan bagaimana kalau semua orang hanya duduk diam bermeditasi?”. Saat itu saya tidak menjawab. Bukan karena tidak ingin, tapi karena bodoh.

Perubahan pastilah terjadi. Cepat atau lambat. Agar siap berubah, haruslah didasari oleh pondasi yang kuat. Agar perubahan tidak cepat goyah. Perubahan menjadi masyarakat tattwa, haruslah didasari dengan susila. Begitu konon ajarannya.

Adegan pendaki dan gunung tadi, barangkali berarti tujuan. Awalnya saat pendaki jauh dari tujuan, dilihatnya tujuan adalah gunung tinggi menjulang. Tapi setelah sampai di puncak, tujuan itu tidak dilihatnya lagi. Tidak dilihatnya lagi tujuan, bisa jadi diterjemahkan menjadi kehilangan tujuan. Kehilangan tujuan sangatlah berbahaya. Apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa kehilangan. Setelah berlelah-lelah mendaki, tujuannya yang tinggi itu malah hilang.

Maka konon, setelah tujuan itu tercapai, diadakanlah lagi tujuan yang lain. Tujuan itulah yang menjadi kendaraan sekaligus peta. Sebagai kendaraan dia mengantarkan, sebagai peta ia menunjukkan. Ada masanya, kendaraan dan peta sudah tidak diperlukan lagi. Saat itu tiba, kendaraan dan peta harus ditinggalkan. Tapi malangnya, saat itu tercapai, orang lebih sering tidak sadar. Dalam bahasa Dharma Shunya, disebutnya hana ilang tan inaku. Ada yang hilang tapi tidak terasa.

Jadi tentang masyarakat ritual maupun tattwa biarkan saja mengalir sebagaimana adanya. Tidak perlu ada rekayasa. Sesekali di jalan besar agama ini memang akan terjadi tabrakan kecelakaan. Selain kecelakaan, di jalan besar ini juga ada orang-orang yang mendapatkan kehidupan. Penjual karcis, penjaga parkir, dagang asong, sampai peminta-minta yang hanya pura-pura. Tapi kita menikmati semua itu sebagai orchestra hidup. Atau agar lebih tradisi, saya sebut saja Gambelan Hidup. Ada yang memukul klenang dan cengceng kecek yang kecil itu, ada juga yang memukul gong besar. Yang lain ada yang memukul kendang, riong, kantil, gangsa, dan sebagainya. Di antara semua yang dipukul itu, ada alat musik bernama pentuk yang mengatur tempo. Jika semua itu dipadupadankan oleh maestro gambelan, tidak hanya hati yang tergetar.

Di lain sisi, akan ada investor yang berhasil mengambil keuntungan dari segala jenis tabuh itu. Bukan hanya investor, bahkan banyak juga para peneliti yang hidup dari taleng dan tedong yang menjadi tanda nada dari gambelan yang sering kita dengar itu. Antara penabuh gambelan dan investor-peneliti itu memiliki urusan yang berbeda. Semuanya berjalan di jalannya masing-masing. Semuanya adalah pilihan. Dan setiap pilihan selalu mengandung resiko yang akan diterima setelah pilihan itu dilaksanakan.

Dunia politik pun dipengaruhi oleh taleng dan tedong itu. Ada banyak keputusan yang dibuat untuk melestarikan taleng tedong. Masyarakat yang menjadi tempat taleng tedong tumbuh, pada akhirnya mesti juga mendapatkan bagian dari hasil pelestarian itu. Jalannya politik, tidak berbeda dengan jalannya hukum alam. Jika matahari membuat air laut menguap, lalu uap diserap menjadi mendung, maka pada gilirannya mendung itu juga yang menurunkan air hujan. Air hujan itu pula yang menghidupi pohon-pohon besar sampai akar rumput. Siklus alam yang demikian, seringkali tidak berjalan. Begitu mendung, laser bertindak dan hujan hilang. Yang kembung, bukan umbi rumput teki, tapi kita tahu sendiri.

Asap dari setanggi yang terbakar di altar mulai membumbung menyelinap ke ranting-ranting beringin. Aromanya menusuk hidung. Saya masih sendiri terduduk di bawahnya. Tapi karena ada kain poleng di batang beringin, rasa sendiri itu sedikit terobati. Saya tidak sendiri. Kau tidak sendiri. Kita tidak sendiri. Tapi kita yang lebih memilih menyendiri. [T]

Tags: bungafilsafatpohonrenungansastra
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

UN Tak Menentukan, Untuk Apa Belajar?

Next Post

Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co