23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setanggi

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
August 13, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Harum setanggi di altar, sedang saya duduk di bawah. Meski setanggi itu di altar, saya bisa menghirup aromanya dari bawah. Tepat di depan saya, berdiri dengan kokoh sebatang beringin besar yang rimbun. Akarnya besar-besar meliuk kesini-sana seperti ular. Setelah saya pikir-pikir, kakar itu lebih mirip pikiran yang dimiliki setiap manusia. Akar itu menancap dan menembus tanah yang konon padat dan berat menurut kitab-kitab tattwa. Anggaplah beringin itu pohon agama yang tumbuh subur di wilayah ini, dan saya adalah seseorang yang berteduh di bawahnya, berlindung!

Tidak hanya sekadar berlindung, tujuan saya duduk di bawah rimbunan daun beringin yang konon beruas satu itu adalah untuk memuja. Yang saya puja adalah sesuatu yang konon membuat beringin itu hidup. Tapi saya yakin, saya ini tidak sendiri melakukan hal yang sama. Sebab tepat di batang pohon beringin, ada kain poleng dipasang dengan rapih. Siapa yang memasangnya? Saya tidak tahu. Kain poleng itu cukup sebagai bukti, kalau saya tidak sendiri. Kan tidak mungkin pohon beringin bisa memasangnya sendiri.

Saat tulisan ini mulai saya ketik, saya ingin memikirkan kembali, benarkah saya memuja sesuatu yang membuat beringin itu hidup? Atau tanpa saya sadari, sesungguhnya saya benar-benar sedang memuja beringin? Anggaplah saya sedang memuja beringin besar itu. Tapi kenapa?

Oh, mungkin karena beringin ini telah memberikan saya keteduhan dan juga bersedia mengubah karbondioksida menjadi oksigen yang saya butuhkan untuk hidup. Barangkali saya duduk di bawah rimbunan daunnya memuja, karena memang cara ini yang diwariskan oleh para leluhur untuk berterimakasih atas udara yang telah mereka hirup. Saya kini juga menghirup udara dan berterimakasih.

Jadi ritual leluhur yang saya warisi ini, adalah cara untuk berterimakasih. Lalu kain poleng yang memeluk batang beringin, adalah ritual lain yang diwarisi oleh keturunan dari leluhur yang lain. Tiap leluhur mungkin saja punya jalannya sendiri-sendiri untuk berterimakasih. Ada yang berterimakasih dengan jalan membakar setanggi, ada yang mencium bumi, ada juga yang menyelimuti beringin dengan kain poleng. Jangankan beringin, gunung pun ada yang menyelimutinya dengan kain.

Bukan hanya caranya saja yang berbeda, objek terimakasih itu juga bisa berbeda. Ada yang berterimakasih kepada pohon, ada yang berterimakasih kepada hewan. Ada juga yang berterimakasih kepada danau, kepada laut, kepada hutan. Agar lebih terlihat agamawan, ada yang menyebutkan cara berterimakasih itu dengan istilah sad kretih.

Untuk memahami arti dari istilah itu, saya usulkan untuk bertanya kepada yang paham. Jadi penjelasan yang lengkap akan kita dapatkan. Meminta penjelasan dari orang pintar dan paham, bukan hal aneh. Apalagi pada saat semua orang menginginkan kejelasan atas apa yang sudah ia lakukan. Seperti seorang pendaki yang melihat gunung dari jauh. Setelah gunung itu didakinya dan sampai di puncak, ia bertanya “mana gunungnya?”.

Entah apa yang melatarbelakangi pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul. Mungkin benar kata ratu aji IBM. Dharma Palguna dalam sebuah wawancara yang dilakukan salah satu media, bahwa nanti akan tiba saatnya masyarakat upacara akan menjadi masyarakat tattwa. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan tattwa. Saya tidak melanjutkan apa definisi dari kedua masyarakat itu. Mungkin maksud dari ungkapan tadi adalah tentang perubahan cara berpikir dan cara melakukan. Mau tidak mau, perubahan itu akan terjadi.

Merubah pola pikir menjadi bertattwa tidak mudah. Cara itu perlu dipelajari. Belajar tidak boleh grasa-grusu, sebaiknya pelan-pelan. Cara pikir tattwa bukannya tanpa resiko. Tidak jarang, pikiran yang sudah dimasuki tattwa tidak lagi dapat berpikir dengan sederhana.

Kesederhanaan itu seperti ikan yang tidak lagi bertanya tentang air. Kondisi tidak bertanya bisa diartikan sebagai “sudah sampai”, atau di saat yang sama adalah karena tidak peduli. Keduanya sama-sama tidak bertanya, tapi keduanya tidak sama. IBM. Dharma Palguna sendiri pernah bertanya pada saya, “bisa bayangkan bagaimana kalau semua orang hanya duduk diam bermeditasi?”. Saat itu saya tidak menjawab. Bukan karena tidak ingin, tapi karena bodoh.

Perubahan pastilah terjadi. Cepat atau lambat. Agar siap berubah, haruslah didasari oleh pondasi yang kuat. Agar perubahan tidak cepat goyah. Perubahan menjadi masyarakat tattwa, haruslah didasari dengan susila. Begitu konon ajarannya.

Adegan pendaki dan gunung tadi, barangkali berarti tujuan. Awalnya saat pendaki jauh dari tujuan, dilihatnya tujuan adalah gunung tinggi menjulang. Tapi setelah sampai di puncak, tujuan itu tidak dilihatnya lagi. Tidak dilihatnya lagi tujuan, bisa jadi diterjemahkan menjadi kehilangan tujuan. Kehilangan tujuan sangatlah berbahaya. Apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa kehilangan. Setelah berlelah-lelah mendaki, tujuannya yang tinggi itu malah hilang.

Maka konon, setelah tujuan itu tercapai, diadakanlah lagi tujuan yang lain. Tujuan itulah yang menjadi kendaraan sekaligus peta. Sebagai kendaraan dia mengantarkan, sebagai peta ia menunjukkan. Ada masanya, kendaraan dan peta sudah tidak diperlukan lagi. Saat itu tiba, kendaraan dan peta harus ditinggalkan. Tapi malangnya, saat itu tercapai, orang lebih sering tidak sadar. Dalam bahasa Dharma Shunya, disebutnya hana ilang tan inaku. Ada yang hilang tapi tidak terasa.

Jadi tentang masyarakat ritual maupun tattwa biarkan saja mengalir sebagaimana adanya. Tidak perlu ada rekayasa. Sesekali di jalan besar agama ini memang akan terjadi tabrakan kecelakaan. Selain kecelakaan, di jalan besar ini juga ada orang-orang yang mendapatkan kehidupan. Penjual karcis, penjaga parkir, dagang asong, sampai peminta-minta yang hanya pura-pura. Tapi kita menikmati semua itu sebagai orchestra hidup. Atau agar lebih tradisi, saya sebut saja Gambelan Hidup. Ada yang memukul klenang dan cengceng kecek yang kecil itu, ada juga yang memukul gong besar. Yang lain ada yang memukul kendang, riong, kantil, gangsa, dan sebagainya. Di antara semua yang dipukul itu, ada alat musik bernama pentuk yang mengatur tempo. Jika semua itu dipadupadankan oleh maestro gambelan, tidak hanya hati yang tergetar.

Di lain sisi, akan ada investor yang berhasil mengambil keuntungan dari segala jenis tabuh itu. Bukan hanya investor, bahkan banyak juga para peneliti yang hidup dari taleng dan tedong yang menjadi tanda nada dari gambelan yang sering kita dengar itu. Antara penabuh gambelan dan investor-peneliti itu memiliki urusan yang berbeda. Semuanya berjalan di jalannya masing-masing. Semuanya adalah pilihan. Dan setiap pilihan selalu mengandung resiko yang akan diterima setelah pilihan itu dilaksanakan.

Dunia politik pun dipengaruhi oleh taleng dan tedong itu. Ada banyak keputusan yang dibuat untuk melestarikan taleng tedong. Masyarakat yang menjadi tempat taleng tedong tumbuh, pada akhirnya mesti juga mendapatkan bagian dari hasil pelestarian itu. Jalannya politik, tidak berbeda dengan jalannya hukum alam. Jika matahari membuat air laut menguap, lalu uap diserap menjadi mendung, maka pada gilirannya mendung itu juga yang menurunkan air hujan. Air hujan itu pula yang menghidupi pohon-pohon besar sampai akar rumput. Siklus alam yang demikian, seringkali tidak berjalan. Begitu mendung, laser bertindak dan hujan hilang. Yang kembung, bukan umbi rumput teki, tapi kita tahu sendiri.

Asap dari setanggi yang terbakar di altar mulai membumbung menyelinap ke ranting-ranting beringin. Aromanya menusuk hidung. Saya masih sendiri terduduk di bawahnya. Tapi karena ada kain poleng di batang beringin, rasa sendiri itu sedikit terobati. Saya tidak sendiri. Kau tidak sendiri. Kita tidak sendiri. Tapi kita yang lebih memilih menyendiri. [T]

Tags: bungafilsafatpohonrenungansastra
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

UN Tak Menentukan, Untuk Apa Belajar?

Next Post

Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

Spirit Penyair Wiji Thukul dari Lagu Sang Pejuang MR HIT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co