24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Parade Lagu Daerah Bali di PKB, Sebatas Panggung dan Properti?

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
July 11, 2019
in Khas
Parade Lagu Daerah Bali di PKB, Sebatas Panggung dan Properti?

Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 -- Duta Kabupaten BUleleng (Foto-foto Widnyana Sudibya)

Ini pertanyaan sejak lama, sejak lagu Pop Bali atau Lagu Daerah Bali dilombakan lalu diparadekan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Kenapa lagu-lagu pop Bali ala PKB yang selalu menyedot penonton dan mendapat tepuk tangan meriah itu jarang sekali berlanjut kepada kepopuleran lagu-lagunya di masyarakat?

Di PKB, lagu pop Bali yang ditampilkan di atas panggung dengan segala properti, kadang lebih menonjolkan tarian, kadang lebih mengedepankan aksi teatrikal, itu memang selalu mendapat penonton melimpah.

Bahkan, selain menonton gong kebyar, para bupati, wakil bupati, dan pejabat-pejabat penting di setiap kabupaten hampir selalu punya kesempatan untuk menonton pemanggungan lagu-lagu daerah Bali itu – satu bentuk dukungan dari pejabat yang jarang dilakukan terhadap pementasan kesenian langka semacam wayang kulit, gambuh, wayang wong, arja atau taman penasar alias arja duduk.

Mungkin karena penonton yang selalu melimpah, maka pementasan lagu daerah Bali yang dulu-dulunya diadakan di Gedung Ksirarnawa dipindah ke panggung terbuka Ardha Candra. Atau mungkin karena para penyanyi, pemusik dan artis-artis pendukungnya mengiginkan kalangan yang lebih besar agar lebih leluasa memainkan aksi-aksi panggungnya.

Di kalangan yang sebesar itu, penyanyi, apalagi penyanyi anak-anak, tentu saja tak bisa hanya mengandalkan suara. Ia harus melanglang panggung, bila perlu dengan mengajak banyak pendukung seperti penari latar atau properti meriah. Jika hanya dibiarkan satu penyanyi klutar-klatir di tengah panggung, bisa terjadi “penyanyi uluh panggung” – tubuh penyanyi disantap oleh kebesaran panggung.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 – Duta Kabupaten Badung

Mungkin hal semacam itulah yang membuat kita menjadi maklum bahwa sebuah penampilan seorang penyanyi dianggap bagus bukan semata karena suaranya, iramanya, nadanya, dan hal-hal teknis menyangkut seni suara, melainkan seorang penyanyi mendapat sanjungan karena tampil secara bagus, tak jelas apakah bagus akibat penari latar, performance, aksi teatrikal, atau properti-properti, selain alat musik tentu saja, yang kadang menumpuk dan ikut berseliweran di atas panggung.

Meski banyak pengamat punya anggapan bahwa lagu pop daerah Bali memiliki pakem dan aturan-aturan estetika yang khas, namun sesungguhnya sejak awal dipentaskan dalam PKB seni suara yang dipanggungkan itu seakan tak memiliki batasan yang jelas.

Kalau grup yang sudah kerap ditunjuk, apalagi hampir setiap tahun, mungkin saja punya gambaran yang jelas tentang apa-apa yang hendak ditampilkan dan bagaimana cara menampilkannya agar penonton puas. Namun bagi peserta yang baru pertama kali ditunjuk untuk mewakili sebuah kabupaten, misalnya, tak akan punya gambaran yang pasti tentang apa yang hendak diprioritaskan dalam pementasan itu, kecuali mereka ikut-ikut saja kata senior.

Aksi Panggung atau Aksi Musik dan Vokal?    

Jika disampaikan pertanyaan apakah parade pop Bali itu mengedepankan aksi panggung atau aksi musik dan suara, maka kita akan mendapat jawaban yang klise. “Ya, kedua-duanya. Nyanyinya harus bagus, aksi panggungnya juga bagus!”

Ya, iyalah. Faktor musik dan suara tentu saja penting. Namanya saja lagu, lengkapnya Parade Lagu Daerah Bali. Namun aksi panggung juga penting karena tidak semua orang yang dating di Ardha Candra mengerti sepenuhnya soal musik. Mungkin termasuk pejabat-pejabat yang anteng duduk di depan itu tak banyak yang tahu soal musik. Mereka datang menonton, dan tak sepenuhnya menyiapkan telinganya untuk mendengar, apakah musiknya meleseta atau bukan, apakah suara penyanyinya fals atau bukan.

Yang diharapkan penonton adalah tontonan yang bagus. Maka, ya, pastilah aksi panggung juga harus penting. Maka itu properti (bukan rumah BTN, ya), dan penari-penari latar juga harus dimainkan di atas panggung.

Tak penting, apakah lagu itu kemudian diingat, menjadi kenangan, dan akhirnya menjadi lagu legenda sepanjang masa, atau lagu itu dilupakan setelah penonton bubar dan berebut mengambil motor di parkiran.  


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Bangli

Mungkin sebab itu pula maka banyak yang mempertanyakan kenapa lagu-kagu hasil ciptaan para seniman musik yang pentas dalam PKB tak banyak dikenal orang. Lagu-lagu pop Bali ala PKB yang konon sudah sesuai rumusan dan pakem khas Bali itu masih kalah popular di masyarakat atau di pasaran dengan lagu-lagu Bali yang dibuat sekadarnya, semisal lagu Bali yang cengeng dengan lirik tanpa logika yang jelas. Yang ada malahan banyak lagu-lagu yang sudah popular dan komersil justru diangkat ke atas panggung.

Ini mungkin karena sebagai tontonan kadang sebuah grup musik yang tampil lebih memprioritaskan aksi panggung ketimbang kualitas lagu yang diciptakan. Karena bagaimana pun sorak di panggung lebih memuaskan ketimbang segelintir orang yang terkesima mendengarnya dan sesekali memberi apresiasi lewat tulisan di media massa.  

Seorang seniman penggarap dalam Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja dalam PKB tahun 2019 ini sempat menyampaikan keluhan lewat WA. “Dari zaman dulu panitia atau pembina selalu menekankan, ‘Jangan membawa banyak properti di atas panggung, wujudkan ide-ide kreatif dalam bentuk garapan…!”


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kota Denpasar

Tapi kenyataanya, kata dia, pada saat pentas sejumlah grup seaakan saling berlomba banyak-banyakan bawa properti. Kalau penonton yang tak paham soal musik, mungkin akan menganggap yang banyak properti itulah yang wah dan bagus, meski misalnya garapan musik dan suara penyanyinya pas-pasan.

Mungkin karena itu pula, jangan-jangan sebuah grup musik keasyikan main di atas panggung, tanpa punya kepercayaan diri untuk rekaman. Jangan-jangan pula, panitia hanya ingin musik itu berada di atas panggung. Untuk urusan apakah lagu itu menyebar ke masyarakat, itu urusan bagian lain.

Belum Berhasil

Sebagai tujuan awal diadakannya Parade Lagu Daerah Bali pada setiap PKB adalah memperkenalkan sekaligus mengakarkan lagu pop Bali di hati masyarakat. Namun tampaknya parade itu sepertinya hanya jadi ajang rutin yang belum banyak menularkan iklim penciptaan musik yang berkualitas di masyarakat.

Ketut Sumerjana, salah satu Tim Pengamat Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja, mengaku bahwa sampai saat ini belum ada upaya lebih lanjut untuk mengeksiskan lagu pop Bali baik secara nasional maupun internasional.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Gianyar

“Padahal visi misinya supaya tahu lagu pop Bali itu kayak gimana sih, sayang sekali ini baru sebatas rutinitas,” katanya di sela-sela Parade Lagu Daerah Bali yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar , Selasa malam (9/7). Saat itu kelompok yang tampil adalah duta Gianyar, Badung, Buleleng, dan Denpasar.

Pria yang kesehariannya menjadi pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini juga mengungkapkan pada parade terdahulu dirinya dan tim sempat mengajukan untuk memperjelas bentuk karya selepas parade ini.

 “Sempat kita ajukan untuk memperjelas bentuk karya dalam parade ini ya agar dialbumkan dan dapat  mendarah daging di masyarakat tapi ya belum berhasil,” terang Sumerjana.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Jembrana

Ketidakberhasilan dalam rencana produksi lagu-lagu yang dinyanyikan dalam parade ini kepada pemerintah lantaran alasan klise yakni soal pendanaan. Sayang beribu sayang apabila perhelatan akbar ini hanya sebatas rutinitas tanpa sebuah keberlanjutan.

“Tidak hanya parade ini saja, parade lainnya di PKB pun juga berhak diramu kembali bentuk karyanya, minimal album digital-lah,” usul Sumerjaya. “Media sosial tak cukup untuk memperkenalkan karya para seniman yang sungguh berbakat ini, sebab yang terpenting dalam sebuah karya seni adalah hak cipta.”

Tak Perlu Kaku

“Semuanya punya sasaran dan tujuan berbeda, apa yang jadi selera pasar ya itu yang diputar!”

Pendapat itu dating dari pengamat seni, I Komang Darmayuda, sela-sela parade, Rabu malam (10/7). Saat itu, yang tampil adalah kelompok musik daerah Bali dari Jembrana, Klungkung, Tabanan, dan Bangli.

Menurut Darmayuda, lagu daerah Bali non komersil memang diikat oleh pakem bahasa, sehingga perlu nalar lebih untuk menikmatinya. Walau begitu sebenarnya pelestarian tak mesti kaku. Untuk bertahan di tengah derasnya arus globalisasi, Lagu Bali perlu pengembangan besar-besaran tanpa harus khawatir meninggalkan pakem. Selaku salah satu Tim Pengamat Parade Lagu Daerah Bali, Darmayuda telah mengupayakan pembuatan album Bali Kumara yang berisi kumpulan penyanyi anak-anak dan remaja dengan lagu bertemakan budaya serta nasionalisme.

“Bali Kumara adalah album anak-anak di youtube, tapi kita ini tujuannya bukan komersil melainkan pelestarian,” jelas Darmayuda. Darmayuda pun tak menampik bahwa lagu-lagu bertemakan budaya dengan bahasa Bali halus memang cukup sulit diterima masyarakat.

“Lagu daerah Bali dibunuh berdasarkan kriteria yang mengikat, sebagai penonton itu harus beda menikmatinya, perlu wawasan ekstra,” terang Ni Wayan Ardini yang turut sebagai tim pengamat.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Klungkung

Sejauh ini, lagu-lagu daerah Bali dengan nuansa Budaya dan Nasionalisme menggunakan istilah-istilah yang berat dipahami pendengar. Aransemen musik perlu dibuat lebih ringan jika lagu dengan tipikal budaya dan nasionalisme tetap ingin didengarkan. Ardini pun mengungkapkan, pernah diadakan sebuah kompetisi menciptakan lagu Bali bertemakan budaya untuk dikomersialisasikan yang didanai proyeknya oleh pemerintah.

“Waktu eranya Wirasuta (salah seorang penyanyi Bali) itu Taluh Semuuk nika, pernah sekali mengkomersialisasikan lagu tema budaya tapi tidak berhasil,” tutur Ardini.

Meng-indie-kan lagu daerah Bali adalah langkah yang terbaik, penciptaan lagu perlu dimaknai dengan filosofi mendalam sehingga membekas dibenak pendengar. “Pengemasannya perlu diperbaiki, penampilannya bisa lebih disederhanakan, dan strategi pelestarian harus terus digali,” papar pengamat seni, Ketut Sumerjaya.

Sumerjaya memang tak mau kaku soal pelestarian dan tak menampik jika ingin lagu daerah Bali didengar masal masyarakat, harus melalui tahap-tahap strategi pasar. Sayangnya, hal ini masih menjadi polemik tersendiri. Di satu sisi untuk meningkatkan eksistensi lagu daerah Bali dengan pesan bajik perlu langkah komersil, dalam sisi lainnya Parade Lagu Daerah Bali utamanya adalah pelestarian bukan ajang komersil.

Penampilan Duta Kabupaten dan Kota

Dalam PKB 2019 ini pada hari pertama Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja menampilkan empat kabupaten/kota yang memukau penonton.  Dengan ciri khasnya masing-masing, keempat kabupaten/kota tersebut yakni Gianyar, Badung, Buleleng, dan Denpasar, mengemas dengan apik lagu anak-anak daerah Bali yang mulai jarang diperdengarkan.

Penampil pertama datang dari Sanggar Giri Anyar, Banjar Celuk, Desa Buruan, Blahbatuh, Gianyar dengan membawakan lagu Ratu Anom, Guak Maling, Made Cenik sebagai lagu gabungan, disusul dengan lagu bertajuk Melayangan, Tresna Sehidup Semati (Lagu Komersil), Kebo Iwa (Lagu Ciptaan Sendiri), dan Sasih Kawulu (Lagu Wajib).

Sebagai penampil kedua, Sanggar Eka Mahardika, Abiansemal sebagai Duta Kabupaten Badung membawakan lagu bertajuk Meme sebagai lagu anak-anak, Made Cenik, Pulsinoge, Ketut Garing sebagai lagu gabungan, dan dilanjutkan dengan lagu bertajuk Bungan Jepun, Baleganjur, Sasih Kaulu.

Selepas ke selatan, penonton pun diajak menuju Bali Utara yakni Demores Rumah Musik Singaraja, Desa Pemaron, Buleleng. Dengan lagu yang dibawakan diantaranya Lila Cita, lagu gabungan Janger, Don Dap dappe, Dija Bulane, lalu berlanjut dengan lagu Spirit Truna Jaya, Sasih Kaulu, dan Lagu Luu.

Terakhir, Denpasar yang diwakili oleh Sanggar Musik Catur Muka Swara membawakan lagu Jempiring Putih, Ratu Anom, Made Cenik, Kaki Jenggot Uban (Lagu Gabungan), Pindekan Pakubon, Sasih Kaulu, dan Toh Langkir. Seluruh penampil tampak luar biasa dengan keterampilan layaknya penyanyi profesional.

Di hari kedua, Rabu malam (10/7) Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja kembali berlanjut dengan penampilan keempat kabupaten yakni Jembrana, Klungkung, Tabanan, dan Bangli. Jembrana yang diwakili oleh Sanggar Kumara Widya Suara mengawali garapan dengan membawa nafas Jegog yang khas dalam setiap lagu-lagu yang dibawakannya yakni Melali ke Hotel Nusa Dua, Medley lagu Ratu Anom, Curik-Curik, Meong-Meong, dan lagu untuk kategori remaja Bungan Sunar Raga, Pelagan Selat Bali, dan Sasih Kaulu.


Parade Lagu Daerah Bali di PKB 2019 — Duta Kabupaten Tabanan

Penampilan pun berlanjut ke Sanggar Vocalia Kencana Nada, Duta Kabupaten Klungkung dengan lagu anak anak Tridatu Maha Suci, Medley: Goak Maling, Putri Cening Ayu, Juru Pencar, dan lagu Remaja diantaranya Jukut Serombotan, Idup Melarat, dan Sasih Kaulu. Tabanan yang diwakili oleh Gita Music Study Tabanan membawakan lagu bertajuk Merah Putih, Ratu Anom, dan Macecimpedan.

Dilanjutkan dengan lagu betajuk Luwih Rasa, Sasih Kaulu, Jagat Tabanan, Don Dapdape. Penampilan terakhir datang dari Sanggar Seni Belog Ajum Bangli dengan mebawakan lagu anak-anak Sekar Cempaka, Medley: Curik-Curik, Cening Putri Ayu, Ngalih Bagia, Sasih Kaulu, Cihna, dan Mebunga-bunga dengan memukau. [T] [*] [Ananta]

Tags: laguLagu Pop Balimusikmusik pop baliPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2019
Share41TweetSendShareSend
Previous Post

Jenis Pasien Berdasarkan Kegawatannya

Next Post

“Pamboekaning Toeas”, Lembar Kerja Siswa (LKS) Pertama dalam Pelajaran Bahasa Bali

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
“Pamboekaning Toeas”, Lembar Kerja Siswa (LKS) Pertama dalam Pelajaran Bahasa Bali

“Pamboekaning Toeas”, Lembar Kerja Siswa (LKS) Pertama dalam Pelajaran Bahasa Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co