25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
July 5, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Pasien terakhir sore itu cukup lama menyita waktu praktek saya. Dia adik teman SMP saya. Kami berbincang lama, tentang kabar si kakak, kesehatan bapak ibunya di rumah dan teman teman sepermainan masa kecil saya yang lain.

Saat pamit, dia menyalami saya, “Selamat berlibur, Pak Dokter, Lebaran kan dapat libur panjang? Pak dokter pulang kampung? Oya, Pak Dokter kampungnya di mana ?”

Saya terhenyak sesaat. Dan saya lupa apa jawaban saya waktu itu. Ingatan saya terlempar ke beberapa puluh tahun yang lalu. Saat saya pulang ke Tabanan mengisi waktu liburan bersama keluarga.  Bersama sepupu  di Tabanan kami bermain ke sawah, sensasi yang memang tak kami temui di gunung. Kami bercengkerama dengan ceria sepanjang pematang.

Saat melewati seorang bapak petani, beliau bertanya dengan nada serius, “ Kenapa lain sekali bicaranya, Gus dari Buleleng, ya?”

Tabanan, Buleleng, dari manakah asal saya yang sebenarnya?

Teringat tulisan Seno Gumiro Ajidarma dalam sebuah cerpennya. “Darimanakah asalnya kenangan? terbuat dari bahan apakah dia?”

Kenangan masa lalu saya terserak di banyak tempat. Kedua orang tua dari Desa Pandak Gede, Tabanan, yang sejak masa kakek dan nenek saya dulu sudah mulai merantau ke gunung di pelosok Buleleng ini. Saya sendiri lahir dan dibesarkan di Dapdap putih. Menghabiskan masa kanak kanak dan remaja di desa ini, menikmati masa masa sekolah di sini.

Dan saat sudah mulai membina sebuah keluarga, karena istri yang orang Jembrana dan bekerja di kantor Pemda Jembrana, ‘terpaksa’ memilih berdomisili di kota Negara atau dengan slengean bisa disebut kota Negaroa.

Jadi, kalau ada yang bertanya, Pak Dokter aslinya orang apa? Mungkin dengan sedikit sigug, saya akan jawab tegas. “Saya orang Bali, susah nyari orang seperti saya, orang tua Tabanan, lahir besar di Buleleng, keluarga tinggal di Jembrana.“  Terserah bagaimana reaksi yang bertanya.

Untuk perpindahan masyarakat ke tempat yang lain, kita mengenal beberapa istilah. Migrasi untuk yang pindah negara, transmigrasi untuk yang berbeda pulau, dan urbanisasi untuk yang pindah dari desa ke kota. Jadi untuk keluarga saya yang pindahnya dari satu desa ke desa lain berbeda kabupaten tapi masih satu pulau, barangkali belum ada istilah khusus yang diberikan.

Khusus untuk perantau dari daerah saya, dari Pandak, ada satu adagium khas yang sepertinya sampai sekarang masih terngiang sayup-sayup di ingatan masyarakat Bali sebagian. “Dasar orang Pandak, Cine Bali”

Saya sendiri entah mengapa, merasakan situasi kami sepertinya gambaran yang lebih sederhana dari saudara-saudara kita etnis Tionghoa tersebut. Biasanya tetua kami akan memilih lokasi di pusat keramaian, mencari nafkah di bidang perdagangan. Dan yang membedakan adalah warna kulit kami, keyakinan masih sama dengan orang Bali kebanyakan, dan ada nama ketut kadek di depan nama kami.

Dan karena merasa senasib itu, tak salah sampai saat ini saya tetap menjalin kontak dengan sahabat sahabat Tionghoa saya  sejak SMA di Singaraja dulu. Dan kalau  sesuatu yang kejam terjadi pada mereka, seperti pada saat peristiwa 98 itu. Saya merasakan kepedihan yang mendalam sebagai sesama anak bangsa, dengan takdir yang berbeda tipis di antara kami.

Keluarga saya sendiri mendiami sebuah kompleks pasar baru yang dibangun saat mulai berdirinya rezim orde baru. Sepetak lahan datar yang dibuatkan beberapa loss yang menyambung jadi satu di atas punggung bukit di daerah atas Busungbiu.

Tanpa menafikan kenangan yang lain dalam babakan kehidupan saya yang hampir mencapai setengah abad ini. Saya mengingat saat  kanak-kanak saya di sini sebagai kenangan terindah yang tak terlupakan seumur hidup saya. Saya sekolah di sebuah SD Inpres yang baru dibangun, kami berjalan sejauh 4 kilometer pulang pergi setiap hari selama 6 tahun.

Dan saya ingat kami anak-anak kompleks pasar pasti jadi yang pertama sampai di sekolah. Saya begitu menikmati masa masa SD tersebut. Saat jam sekolah pendek, atau di hari libur saya dan teman teman akan pergi ke sebuah tibuan untuk berenang sampai sore, bahkan tanpa makan siang selepas sekolah.

Kebetulan saya dan saudara-saudara mendapat nilai bagus dan ranking yang baik di sekolah. Jadi setiap malam rumah kami pasti penuh dengan teman teman sebaya, yang’katanya’ belajar bersama di rumah kami. Tapi waktu lebih banyak kami habiskan dengan bercanda, layaknya anak anak semuran kami. Dan saya tak bisa lupa, hampir tak pernah tidur sendiri saat saat itu. Minimal ada empat sampai enam kawan sebaya yang menginap di tempat kami. Bahkan ada satu teman yang bertahun tahun tak pernah tidur di rumahnya sendiri, karena nginepin saya.

Dan karena saya pecinta olahraga yang cukup fanatik, bahkan sampai saat ini. Kenangan terindah saya ada di lapangan hijau (coklat di tempat saya karena tak ada rumputnya, bahkan becek di musim penghujan). Setiap sore, terutama saat masa liburan dimana teman-teman yang sekolah di kota pasti pulang kampung. Pasti ada pertandingan seru di lapangan sebelah SMA TP 45 yang legendaris itu.

“Ayo kompleks pasar lawan banjar kledok ! “ begitu seruan terdengar di sore yang dingin itu. Bahkan dalam entitas terkecil pun, emosi lokalitas tak terhindarkan. “Ayooo”, jawab yang lain tanpa gentar.

Dan sore itu, di ketinggian 700 meter diatas permukaan laut, di lapangan yang tak berumput, kami seperti tak kenal lelah mengejar si kulit bundar, sampai tetes keringat terakhir demi membela nama kompleks pasar, tempat tinggal kami. Semangatnya bisa saya rasakan sampai detik ini, sebuah fanatisme tak berujung, yang tak rela tempat kelahiran ternistakan.

Benar benar kenangan yang sulit terlupakan, bagi saya pasti. Juga bagi teman-teman yang terlibat dalam permainan itu. Sering ada celetukan di media sosial. “Kapan kita main di lapangan Parikesit lagi? “ Yang sayangnya sekarang sudah berubah menjadi tempat parkir kendaraan siswa SMP.

Tapi tetap ada setitik retak, dalam sebuah bangunan yang seindah apapupun. Ada yang terasa hilang atau kurang dalam kenangan tersebut. Lokasi perantauan yang tanggung (tempat asal saya bisa ditempuh dalam waktu yang kurang lebih sama dengan ke kota kabupaten) membuat keluarga kami tak bisa berbaur seutuhnya dengan tempat dan masyarakat tempat kami merantau.

Dalam konteks kegiatan adat, kami menjalaninya setengah hati, dalam artian kami masuk menjadi warga desa adat di gunung, tetapi status kami d tempat asal juga tak lepas seluruhnya. Ada istilah ngampel untuk perantau seperti kami. Itu secara status, secara praktek pun, kami cukup berbeda dengan perantau-perantau dari daerah lain di Bali.

Untuk diketahui, desa saya temasuk daerah baru, sebuah hutan yang dibuka penjajah Belanda di awal abad ke 20 ini. Masyarakatnya berasal dari berbagai daerah di Bali. Bahkan ada banjar tetangga yang penduduknya berasal dari seluruh kabupaten di Bali. Mereka karena jumlahnya banyak kepala keluarga, dan tempat asalnya lebih jauh dibandingkan kami. Memutuskan bergabung secara utuh dengan masyarakat disana, baik secara kedinasan maupun adat.

Jadi masa kecil sampai remaja kami, tak diisi dengan kegiatan metulungan saat ada tetangga nelubulanin, nikah ataupun sekedar melaspas rumah atau tempat suci. Karena kami sendiri melaksanakan semua kegiatan itu di tempat asal. Jadi sesuai hukum timbal balik (selisihan dalam bahasa Bali), kurang begitu banyak kami terlibat dalam kegiatan adat di tempat rantauan kami tersebut. Walaupun secara nyata saya sendiri kelahiran disana.     

Akhirnya mungkin kita perlu mendengar kembali ucapan bijak presiden John F Kennedy, presiden Amerika yang termasyur itu : ” Jangan tanya apa yang diberikan negara kepadamu, tapi tanyalah apa yg bisa kau berikan kepada negaramu?” Dalam konteks ini saya menemukan pembelaan untuk situasi yang saya alami.

Terlepas dari saya yang cuma lahir disini, tapi berasal dari tempat lain. Saya ingin memberikan sesuatu yang berguna, berperan serta untuk kemajuan desa tempat saya lahir dan dibesarkan, tempat teman teman masa kecil saya, tempat keluarga kami mendapatkan rejeki selama tiga generasi. Dan dengan  saya berpraktek disini, saya merasa sedikit bisa membayar hutang kami tersebut.

Bahkan biasanya saya tak keberatan kalau diminta memeriksa pasien yang tak bisa datang ke tempat praktek, di rumahnya sendiri  Tapi itupun sebenarnya masih bisa diperdebatkan, karena saya juga menarik jasa dari mereka untuk pelayanan saya. Sehingga saya punya satu impian yang saya pendam dari dulu, dan saya rasa  mampu untuk mewujudkannnya. Meningkatkan kegemaran membaca generasi penerus kita, di zaman digital ini. Terutama anak anak dan remaja di desa saya dan sekitarnya.

Dan obsesi saya itu saya coba rintis dengan program Buleleng  Berbagi Buku, yang mungkin nanti akan  saya bahas dalam tulisan menyendiri.

Setelah merenung cukup lama, mengenang kembali dan terutama setelah menulis cerita ini. Kalau nanti siapapun yang bertanya : ”Bapak kampungnya di mana”? Maka jawaban saya sudah pasti, seperti sebuah status saya di akun FB yang disukai lebih dari seratus orang. Dengan bangga akan saya jawab: “Saya dari Dapdap Putih “. [T]

Tags: bulelengBusungbiudokterjembranaLiterasipenduduktabanan
Share184TweetSendShareSend
Previous Post

“Territorium, A Visual Concert Performance” di Bentara Budaya Bali

Next Post

Penghargaan 11 Seniman – Besar Pengabdiannya, Besar Perhatian Pemerintah, Kecil Hadiahnya…

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Penghargaan 11 Seniman – Besar Pengabdiannya, Besar Perhatian Pemerintah, Kecil Hadiahnya…

Penghargaan 11 Seniman – Besar Pengabdiannya, Besar Perhatian Pemerintah, Kecil Hadiahnya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co