23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beruntung Upin Ipin Tak Lahir di Kuburan

Robinson Gamar by Robinson Gamar
June 18, 2019
in Ulasan
Beruntung Upin Ipin Tak Lahir di Kuburan

Upin Ipin/Youtube

Karya  film bisa menjadi gambaran sebuah bangsa. Melalui karya visual ini kerap dititipkan pesan kebudayaan bahkan politik dari negara asal film tersebut. Bagaimana figur Rambo diciptakan untuk menutup malu Amerika atas kekalahan dalam perang Vietnam.

 Orang sekampung dengan senjata lengkap bisa dilibas hanya oleh aksi seorang Rambo. Meski kenyataannya Amerika jelas-jelas kalah dalam perang Vietnam. Tapi begitulah cara mereka “menutup malu” sekaligus membangun optimisme bangsanya.

Tidak jauh berbeda India. Dengan bangganya mereka selalu menampilkan artis yang mengenakan pakaian khas India (sari) lengkap dengan lagu dan tariannya. Arjuna dengan gagahnya menarik busur dan memenangkan perang besar seeprti yang tertuang dalam kisah Mahabharata. Betapa gagahnya. 

China dan Jepang juga tak kalah dasyatnya mempengaruhi alam pikir penonton dunia melalui film yang disajikan. China misalnya, mereka sangat bangga menampilkan adegan-adegan beladiri kungfu. Maka muncullah film-film seeprti kungfu master dan sejenisnya. Jepang tak kalah hebatnya, ikon samurai atau sosok Ninja punya temapt tersendiri si hati pecinta film action dunia termasuk Indonesia. 

Demikianlah mereka dengan industri kreatifnya menampilkan kebanggannya sebagai sebuah bangsa. Ada nuansa optimisme di dalamnya. Jadi, masuk akal jika mereka dapat memenangkan persaingan di berbagai bidang. 

Lantas bagaimana dengan rumpun bangsa melayu yang mendiami gugusan bumi Asia Tenggara. Malaysia dan Indonesia bisa jadi perbandingan menarik. Salah satu serial anak-anak yang cukup terkenal adalah Upin Ipin. Produksi Malaysia tapi rutin ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia.

Walau jalan ceritanya bisa dibilang “biasa-biasa” saja, Malaysia berhasil menyampaikan sebuah pesan besar melalui serial Upin – Ipin. Pesan apakah itu? 

Upin Ipin melalui figur-figur yang ditampilkan berhasil menyampaikan pesan keberagaman. Lihat saja tokoh-tokohnya. Upin dan Ipin jelas mewakili sosok “pribumi” Malaysia yang ceria dan selalu hadir sebagai sosok sentral dalam tiap cerita. Tapi di sisi lain hadir pula Jarjit, seorang anak yang digambarkan sebagai anak malaysia berdarah India.

Lalu  ada Fizi mewakili Arab, ada Mei-mei mewakili Tionghoa juga ada Suasanti yang digambarkan sebagai anak negeri tetangga Indonesia. Mereka berteman akrab satu sama lain. Melalui serial ini Malaysia ingin menyampaikan pesan bahwa mereka adalah bangsa yang menghargai kemajemukan.

Saatnya kita masuk ke bangsa kita tercinta Indonesia. Nahhh, kita memang selalu lain daripada yang lain khususnya dalam industri perfilman. Mau bukti? Paling fenomenal menurut saya adalah film bergenre horor. Judulnya rada-rada alay.  

“Hantu beranak dalam kuburan”, “Pelukan Janda Hantu”, “Hantu Puncak Datang Bulan”, “Dendam Hantu Mupeng” dan masih banyak lagi. Kaalu ga ada kata hantu rasanya gimana gitu ya. Dan sosok hantunya selalu perempuan, emang perempuan itu menakutkan ya? Hehehe

“Hantu Beranak dalam kubur” misalnya. Dikisahkan seorang perempuan diusir suaminya karena ketahuan hamil akibat diperkosa oleh laki-laki lain. Usaha si perempuan menberi penjesan pada si suami malah berbalas tamparan dan pukulan. Lalu tak punya pilihan selain pergi meninggalkan rumah. 

Apesnya di tengah jalah malah dihadang laki-laki lain. Terus jadi korban perampokan, bahkan nyawanya ikut melayang. Singkat cerita karena mati dalam keadaan hamil jadilah dia si hantu yang beranak dalam kuburan. Hehehe

Kebayang gak sih susahnya itu hantu? Sudah diperkosa, diusir suami, dirampok dan dibunuh. Eh pas melahirkan tak ada yang tolongin, dalam kuburan pula. Gimana ya kira-kira dia menjelaskan semuanya pada si anak kalau ditanya siapa bapaknya? Terus, kenapa lahir dalam kuburan, emang ga punya BPJS?  Terus mau gak suster ngesot bantuin, secara suster ngedot kan hantu rumah sakit, bukan hantu kuburan, hehe..

Lain lagi dengan hantu datang bulan. Bayangkan saudara-saudara, sudah jadi hantu masih saja ribet ngurusin cari pembalut. Kalau dia buruh kira-kira ikut nuntut cuti haid ga ya kira-kira? Entahlah… Memang susah dibayangnkan karena cuma di film. 

Namun jangan salah pemirsa. Film-film jenis ini laris manis di bioskop-bioskop papan atas. Penontonnya cukup berjubel. Kalau udah masuk bioskop elit maka hampir bisa dipastikan penggemarnya adalah kalangan menengah ke atas dan terdidik. Saya yang tingkat kecerdasannya jauh di bawah rata-rata cukup kesulitan memahami bagaimana kelompok terdidik ini menyukai film horor alay tadi. 

Kembali ke soal bangsa. Kalau memalui Upin Ipin Mayasia berhasil pesan keberagaman. Lantas pesan kebangsaan apakah yang bisa disampaikan oleh para setan-setan alay dari Indonesia. Mau bilang perempuan Indonesia tangguh karena bisa melahirkan sendiri dalam kuburan? Atau orang Indonesia itu serba bisa, tak ada puskesmas kuburan pun jadi. Apa coba..katakan rangga katakan…hehehe..

Padahal bangsa Indonesai ini adalah bangsa besar. Kita punya sejarah maritim yang kuat. Kekayaan alam, budaya suku bangsa yang tak ada tandingannya. Peninggalan sejarahnya tidak kalah dengan bangsa lain, demikian pula dengan ketangguhan orang-orangnya. Mengapa bukan itu yang dieksplor sebagai sebuah karya dan kebanggan sebagai bangsa. 

Seharusnya kita lebih hebat dari Upin Ipin. Sosok imajiner karya negeri tetangga.  

Kita juga bisa lebih hebat dari Amerika karena konon Vietnam bisa menang perang atas Amerika karena belajar perang Gerilya di Indonesia. Kitapun bisa lebih hebat dari China, Jepang juga India sebab kita punya ragam tari, kreasi tenunan yang tak terhitung jumlahnya, lagu daerah bahkan seni bela diri pencak silat yang tak kalah hebat dengan kungfu.

Saatnya industri kreatif kita tampil hebat menyampaikan pesan sebuah bangsa. Membangun optimisme. Jangan biarkan generasi kita seperti anak hantu yang lahir dalam “kuburan kebodohan”. Nanti malah kalah sama Upin-Ipin. Sebab walaupun tidak pernah dikupas siapa orang tua Upin Ipin, tapi paling tidak mereka tidak lahir dalam kuburan. Pake nakut-nakuti orang pula. 

Betapa beruntungnya kamu Upin – Ipin… Titip salam buat kak Ros ya,,,!! [T]

Tags: burung hantufilmFilm Indonesiafilm layar lebarMalaysiaUpin Ipin
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Dilema Seorang Guru Ketika Prosesi Kenaikan Kelas

Next Post

Yang Abadi dan Shastra Tentang Pakaian

Robinson Gamar

Robinson Gamar

Lahir di Flores, NTT, 8 Juli 1982. Tinggal di Sanur, Denpasar. Sehari - hari kerja sebagai kontributor Kompas.com wilayah Bali..

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Yang Abadi dan Shastra Tentang Pakaian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co