24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Black Out Poetry: Menemu Puisi dalam Berita Koran –Catatan Puu.I.See di Canasta

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 30, 2019
in Khas
Black Out Poetry: Menemu Puisi dalam Berita Koran –Catatan Puu.I.See di Canasta

Peserta Puu.I.See di Canasta Creative Space

Puu.I.See adalah satu program di Canasta Creative Space, Jalang Tukad Sanghyang  No.2, Panjer, Denpasar, beranggotakan kawan-kawan muda yang gemar sastra, khususnya menulis puisi.

Siapapun boleh datang untuk belajar, menulis dan berdiskusi mengenai jagat perpuisian di Indonesia dan Bali.  Bulan Mei ini merupakan pertemuan ke lima,  karena tidak ada keterikatan apapun di dalam kelompok ini, kawan-kawan yang datang pun, sangat bebas.

Ada yang hanya sekali datang, berkali-kali, ada yang sangat serius dan konsisten datang. Tapi tak apa, begitulah membangun dan resiko kelompok. Yang penting menanam benih dulu lah, akan jadi pohon besar atau sampai mana perjalanannya. 

Kali ini kami mengundang penulis muda, Wayan Esa Bhaskara untuk membagi salah satu metode kepenulisannya. Kebetulan Bli Esa menelurkan antologi perdananya beberapa waktu lalu dan satu penulis yang menekuni metode  Black Out Poetry.

Esa adalah seorang guru Bahasa Indonesia di SMK N 1 Denpasar,  metode ini menjadi sarana dalam kurikulum menulis puisi dan cukup berhasil diterapkan pada murid-muridnya, dari beberapa metode yang pernah ia coba, semisal dengan stimulus lukisan atau  mengajak muridnya ke luar ruang sekolah. 

“Dua metode sebelumnya, tidak mendapatkan hasil yang memuaskan, apalagi jika menulis dari kertas kosong. Metode ini cukup baik, walau hanya mendapat dua atau tiga murid yang karyanya mendekati puisi” ujar Bli Esa sebelum memulai kelas. 

Kelas di mulai pukul 19.30 wita, semakin malam, beberapa kawan berdatangan. Menariknya tidak semua peserta berlatar belakang sastra dan penulis puisi. Ada dari teater, penata artistik, linguistik, desain grafis, dan umum. Metode Black Out Poetry  adalah metode menulis puisi dengan cara mencari kata-kata  dari sebuah  tulisan, berita, artikel, di media cetak. 



Kata-kata yang diinginkan ditandai dengan bentuk bulat atau kotak, kemudian  kata yang lainnya dihitamkan (boleh juga dengan warna lainnya) seluruhnya, atau dengan membentuk visual kebutuhan penciptanya. Kata-kata pilihan itu, diharapkan membentuk kalimat yang mendekati estetika puisi, serta jauh dari isi artikel mulanya. 

Bagi saya sendiri metode ini mengungkung imajinasi  penulis puisi dalam menciptakan suatu peristiwa puitis,  tapi secara teknis  penulis sudah disiapkan kata-kata dari artikel, dan mengharuskan menyambungnya, mengkoneksinya, mengukur kadar puitisnya dengan berbagai pertimbangan.

Saya sendiri sangat sulit memulainya, karena kepala saya sudah diinterpretasi bentuk-bentuk puisi romansa yang selalu saya tulis. Serta selalu terjebak dalam bantang satua (inti cerita) yang tergambar dalam pikiran. 

Tapi kalau Kikydew memiliki pemikiran berbeda. 

“Kalau saya, menulis dengan kertas kosong itu kadang-kadang terlalu banyak ide, tapi jika udah ketemu sama kertas, jadi blank dan nggak bisa nulis apa-apa. Nah metode ini, bisa mengarahkan,” kata Kikydew salah seorang peserta yang sedang belajar menulis puisi 

Ketika mulai kelas, semua khusyuk  dengan lembar korannya masing-masing. Menelaah dengan perlahan karena harus membaca secara keluruhan isi artikel terlebih dahulu, bukan langsung mengada-ngada tanpa mengerti konteks secara utuh.

Saya sendiri sampai dua kali mencoba metode ini, sementara  yang lain cukup asik dengan imajinya masing-masing, ada yang telungkup, memegang  korannya di tangan, duduk bersila sambil menerka,  ada pula yang sesekali menghela nafas karena  kesusahan dalam merangkai. Tapi tidak menyurutkan semangat para peserta untuk melaksanakan tugas. 

Satu diantaranya Bli Komang Tress yang terbiasa dengan komposisi panggung, visual art, kolase, instalasi, dan ukur mengukur ruang. Menganggap metode ini sebagai penyelamat dirinya, jika ditugaskan menulis puisi pada suatu keadaan tertentu. Dan kebiasaannya selalu bergerak dari sesuatu yang ada untuk menjadi ada-yang lebih spesial. Naaah metode ini sangat cocok untuknya, karena bahan sudah tersedia, tinggal dirangkai menjadikan ke puisi. 

“Ini salah satu metode yang menyelamatkan saya jika diharuskan untuk menulis puisi, karena saya tidak terbiasa dengan kertas kosong, dan merangkai kata adalah  kelemahan saya,” jelas Bli Komang Tress, yang saat itu menggunakan baju hitam. 



Lebih jauh lagi, metode Black Out Poetry ini juga tergantung dari jenis berita yang digunakan. Karena karakter berita juga menentukan diksi-diksi yang dipakai, misalnya berita ekonomi diksinya akan banyak istilah ekonomi dan jabaran angka, berita budaya akan bertaburan kata-kata yang mendekati kesenian dan keseharian, berita kriminal dengan deskripsi pelaku, korban, kekerasan  serta berbau provokatif, begitu pula berita politik dan lainnya. 

Nah karakter berita ini juga sebagai keuntungan sekaligus kelemahan, jika diksinya susah, cara mengkoneksinya pun perlu berfikir berat, sementara untungnya adalah memunculkan kemungkinan metafora-metafora yang tidak diperkirakan. 

Di sisi lain, Satyawati yang sedang  menempuh pascasarjana Lingusitik di Universitas Udayana, melihat metode ini sebagai upaya rekonstruksi kata-kata dari makna  awalnya. Sebab ia hadir sebagai makna baru ketika digabungkan dengan kata lain, yang sebenarnya berjauhan.

Rekonstruksi ini akan berhasil jika penulisnya memiliki kecermatan, kejelian, dan harus berulang  di lakukan. tidak memandangnya sebagai metode saja, tapi memang cara untuk membuat puisi. 

Bagi saya sendiri, metode ini merupakan salah satu cara untuk memecah kebuntuan ide seniman. Serta memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam mencipta puisi. Hanya saja jika tidak ada yang serius atau seseorang yang menekuni ini, ya akan menjadi refrensi cadangan saja, bukan hal primer. Siapa yang akan menjawabnya,? 

Tergantung ane nyak gen sih… [T]

Tags: beritaCanasta Creative Spacemedia massaPuisi
Share74TweetSendShareSend
Previous Post

Mau Tahu Seberapa Serius & Asyik Pemuda Bali Jadi Petani? -Tengok Farmer Camp di Pancasari

Next Post

Titip Rindu untuk Pengantin Generasi Muda Hindu

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Menawar Harga-harga di Pasar Tradisional

Titip Rindu untuk Pengantin Generasi Muda Hindu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co