24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah Intaran, Inspirasi Kearifan Lokal dari Desa Bengkala

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
May 20, 2019
in Khas
Rumah Intaran, Inspirasi Kearifan Lokal dari Desa Bengkala

Diskusi "Ilusi Pangan" di Rumah Intaran, Desa Bengkala, Kubutambahan, Buleleng

Hari itu, Jumat 17 Mei 2019. Waktu sudah menunjukkan jam 15.30 Wita, langkah saya tertuju pada mesin absen sidik jari yang tertempel di sudut tembok kantor tempat saya bekerja. Masih tersisa sekitar 1,5 jam untuk dimulainya kegiatan “Diskusi Keseharian” yang mengangkat tema tentang “Ilusi Pangan” di Rumah Intaran, Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

Tema ini sangat menarik, karena begitu kita membicarakan tentang pangan, maka pikiran kita langsung mengarah pada makanan yang akan saya santap saat sampai di rumah nanti.

Saya merapikan tempat kerja, sembari mengambil catatan kecil yang saya akan gunakan sebagai bahan untuk menjadi moderator pada diskusi itu. Catatan itu berisi beberapa fakta yang saya ambil dari beberapa berita dari kanal berita nasional dan data statistik yang dihimpun dari website BPS. Tentu saja rujukan-rujukan itu sangat penting, karena jika tidak, bisa saja nanti saya disangka penyebar hoax, karena menggunakan data dan informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sumber dan faktanya.

Saya langsung mengambil tas untuk bergegas menuju Areal Taman Kota Singaraja, di tempat itu saya berjanji dengan sahabat saya bernama Jaswanto, seorang mahasiswa jurusan ilmu ekonomi di salah satu kampus ternama di Kota Singaraja. Selama perjalanan saya mendengarkan penjelasan tentang kondisi yang terjadi di tanah kelahiran sahabat saya ini, salah satunya mengenai kondisi pertanian di kawasan Tuban, Jawa Timur yang kini telah menyusut, dikarenakan alih fungsi lahan yang terjadi akibat industrilisasi.

Sesampainya di rumah, anak saya paling besar langsung dengan sumringahnya menyambut kami di depan pintu. Saat itu memang saya putuskan untuk pulang terlebih dahulu ke rumah saya di Desa Bungkulan, dikarenakan ibu saya sudah menyiapkan ubi-ubian yang akan saya bawa sebagai camilan diskusi sore itu di Rumah Intaran.

Waktu sudah menunjukan pukul 16.30, kami langsung mohon pamit untuk bergegas ke Desa Bengkala. Desa ini terkenal dengan Janger Kolok, kesenian khas yang dimainkan oleh beberapa masyarakat penderita tuna wicara yang berasal dari desa itu. Banyak orang tahu Desa Bengkala karena seni Janger Kolok itu, tentu saja karena kesenian itu sudah diberitakan berkali-kali melalui media mainstream maupun media sosial seperti Youtube. Banyak juga yang membuat film pendek tentang janger yang unik itu.

Belakangan Desa Bengkala juga dikenal memberi inspirasi dalam hal arsitektur dan kuliner lokal.  Ya, karena di desa ini terdapat Rumah Intaran, sebuah tempat yang tidak kalah keren dengan rumah-rumah kreatif lain di sejumlah daerah di wilayah perkotaan.

Di rumah inilah kami akan melangsungkan diskusi yang bertemakan tentang “Ilusi Pangan”. Ini sangat menarik, seperti kata Bung Karno, “Soal pangan adalah soal hidup matinya sebuah bangsa”.

Menapakkan kaki di Rumah Intaran, seakan-akan kita berada di tempat tempoe doeloe, maklum saja inisiator dan pemilik Rumah Intaran, Gede Kresna, merupakan seorang arsitek yang kiprahnya sangat diperhitungkan di kalangan dunia aristek nasional. Ia sering melakukan penelitian untuk arsitektur-arsitektur tradisional dan pangan di beberapa provinsi di Indonesia.

Ia juga aktif melakukan pendampingan terhadap beberapa kelompok masyarakat di desa, terutama di Desa Bengkala dan sekitarnya, salah satunya memberikan edukasi kepada kelompok ibu-ibu tentang tata cara pembuatan gula aren, minyak kelapa dan bahan makanan lokal lain.

Sembari menunggu peserta diskusi yang sudah melakukan konfirmasi kedatangan, saya beserta Jaswanto diajak untuk mengunjungi areal belakang Rumah Intaran yang digunakan sebagai kandang tempat untuk memelihara puluhan ekor ayam kampung.

Gede Kresna menyampaikan, “Bicara soal kemandiran pangan, kita tidak bisa lepas dari peran rumah tangga dalam menyiapkan bahan makanan yang nantinya bisa diolah langsung untuk dijadikan bahan konsumsi bagi keluarga di rumah”.

Ada beberapa ayam yang saya lihat sedang berdiam di bembengan, sebutan tempat beretelur ayam kampung bagi masyarakat di Bali. Hal ini tentu sangat menarik, dikarenakan di pasaran kita sering melihat telur ayam kampung sangat langka bisa ditemukan, kalaupun ada, pasti jumlahnya sangat sedikit.

Lalu kami diajak ke areal sejauh 300 langkah ke belakang, menyusuri jalanan setapak dan melintasi rumah penduduk. Di sana sedang dikembangkan project kebun organik yang kelak akan digarap sebagai tempat untuk berinteraksi sekaligus sumber pangan bagi penghuni Rumah Intaran.

Gede Kresna mengatakan, Rumah Intaran sangat serius dalam melakukan upaya-upaya advokasi dan disimenasi informasi tentang pentingnya menjaga kualitas pangan yang baik, jauh dari pencemaran bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Untuk itulah ia berharap agar masyarakat lebih melek dalam memilih bahan pangan sebelum mereka jadikan makanan.

Setelah kami melihat-lihat landscape di kebun itu, kami memutuskan kembali ke Nimbasrama, sebuah bangunan yang digunakan secara khusus sebagai  tempat diskusi. Satu demi satu peserta berdatangan, beberapa botol tuak manis dan air kendi disajikan untuk peserta, juga ubi-ubian yang dibuat oleh ibu saya, dipersiapkan untuk peserta diskusi sore itu.

Untuk diskusi harian di Rumah Intaran, Gede Kresna memberikan beberapa syarat tambahan bagi peserta antara lain membawa “konsumsi gotong royong”. Semua hadirin masing-masing membawa sedikit konsumsi untuk disantap bersama-sama. Ingat, syaratnya tanpa MSG, tanpa pewarna buatan, tanpa pengawet, tanpa membawa kemasan plastik. Dan di tempat diskusi disediakan air kendi dan tuak manis.

Suasana sangat tenang, sesekali terdengar suara kicauan burung yang sangat indah, Rumah Intaran tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya manusia kreatif, namun di sisi lain rumah ini juga menjadi tempat aman bersarangnya burung-burung indah, karena Gede Kresna masih memberikan kesempatan kepada mereka untuk hinggap, bersarang dan mencari makan di pepohonan besar alam areal rumah intaran dengan aman.

Satu demi satu peserta berdatangan, acara sedikit molor karena mayoritas dari peserta yang datang berasal dari kota yang jaraknya sekitar 40 menit dari Rumah Intaran. Seperti biasa, layaknya diskusi di tempat lain, sebelum acara dimulai, peserta berinteraksi layaknya sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu langsung, yang hanya bisa bertegur sapa melalui gawai masing-masing di aplikasi jejaring sosial seperti Facebook misalnya.

Suanana tampak akrab dan cair, maklum saja peserta yang sudah konfirmasi adalah orang-orang yang tidak asing dalam pergaulan kami, hadir pada malam itu Ajik Dino (Tokoh Puri Singaraja), Tini Wahyuni (Seniman yang merupakan Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Udayana), Jaswanto (Penulis Tatkala.Co), Gede Praja (Aktivis Lingkungan), Tojan Puja Negara (Ketua Karang Taruna Desa Bungkulan), Pandu (Sekdes Desa Bungkulan), Ajik Mengkong (Pelukis), Kardian Narayana (Wartawan Muda Kompas TV, yang sekaligus jadi Pimpinan di BEM Universitas Panji Sakti), Berto (mahasiswa magang asal Flores), Shalim (staf Rumah Intaran) dan tentunya saya sebagai moderator beserta Gede Kresna sebagai tuan rumah “Rumah Intaran”.

Saya yang bertugas menjadi moderator membuka diskusi itu dengan menyampaikan beberapa data antara lain jumlah luas sawah yang terus menurun di Indonesia, tingginya import kedelai dari USA yang mencapai 2,5 juta ton berdasarkan data BPS dan berita tentang bahaya pestisida bagi kesehatan petani.

Setalah saya menyampaikan data tersebut, saya lantas memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pandangan mereka tentang kondisi pangan maupun pertanian yang terjadi di sekitar mereka. Terdapat beberapa kondisi yang disampaikan oleh peserta, yang diantaranya adalah menurunnya minat anak muda untuk kembali bertani, karena memandang bertani itu adalah pekerjaan kotor yang tidak meningkatkan status social mereka selaku tamatan program sarjana misalnya.

Disamping itu ada yang memandang bahwa tidak adanya kebijakan yang baik untuk mengarahkan pola subsidi bagi petani organic yang mengalami gagal panen, karena dengan kondisi pengelolaan pertanian saat ini, penggunaan pestisida yang berlebihan membuat hama-hama menjadi resistance terhadap bahan-bahan pestisida alami. Saat ini dengan bergulirnya dana desa yang begitu besar, sudah saatnya pemimpin di desa berpikir untuk memulai menggunakan dana itu untuk keperluan-keperluan pola pertanian yang berkelanjutan. Salah satunya adalah dengan membuat sentra-sentra pengolahan bahan pangan dalam unit-unit usaha BUMDES.

Menurut penjelasan dari Gede Kresna, ia pernah melakukan pengamatan tentang beberapa harga pangan di kota lebih murah ketimbang di desa. Di satu sisi, akibat dari maraknya penggunaan pestisida yang sangat berlebihan, membuat standar kesehatan bahan pangan menjadi tercemar, tidak bisa dipungkiri berbagai macam penyakit diduga meningkat akibat hal ini, salah satunya adalah kasus penyakit degenerative seperti kanker yang kian hari semakin banyak di masyarakat.

Hal itu menjadi perhatian serius bagi masyarakat. Untuk menyikapi kondisi-kondisi seperti ini, diperlukan upaya yang sungguh-sungguh oleh semua lapisan untuk memastikan proses produksi pangan yang baik, sehingga produk pangan itu aman dikonsumsi oleh masyarakat. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah dengan penggunaan bahan-bahan organik, seperti kompos, pestisida organik, fungsida organik dan perlakuan-perlakuan organik lainnya pascapanen.

Rumah Intaran sangat sering mengadakan diskusi-diskusi seperti ini, bahkan diskusi seperti ini dirancang setiap bulan, untuk memberikan kesempatan kepeada generasi muda berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang berbagai macam isu yang terjadi di masyarakat. Sebagai wahana pembelajaran,

Rumah Intaran ingin memberikan kesempatan kepada siapa saja, untuk belajar mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan, yang dalam jangka panjang bisa memberikan sumbangsih yang positif ke masyarakat. Beberapa kali kegiatan seminar, pelatihan-pelatihan kepada ibu rumah tangga tentang pembuatan kerajinan tangan dengan menggunakan bahan-bahan dasar yang berasal dari alam.

Hal ini menjadi perhatian, karena kedepan Rumah Intaran ingin cara-cara berkelanjutan yang ramah lingkungan seperti ini dapat menjadi perhatian bagi masyarakat. Berbagai macam desain produk tradisional sudah dibuat dan disampaikan kepada masyarakat, Gede Kresna menitikberatkan pada sebuah pemikiran, desain yang dibuat oleh Rumah Intaran bisa diduplikasi oleh masyarakat, karena Rumah Intaran tidak membuat produk, namun lebih kepada sebuah idealisme tentang dampak dari produk yang dihasilkan,.

Produk seperti ini diharapkan diduplikasi, sehingga ini akan memberikan dampak menurunya penggunaan plastik sekali pakai yang sangat berbahaya bagi lingkungan. Diskusi itu berakhir jam 9 malam, dan peserta menyimpulkan dengan perspektifnya masing-masing.

Kami memandang bahwa Rumah Intaran sudah mampu memberikan inspirasi kepada anak muda seperti kami, tentang pentingnya menjaga kearifan lokal, tradisi dan kebudayaan warisan leluhur yang adi luhung. [T]

Tags: arsitekturbulelengdesadiskusiLokal Geniuspangan
Share81TweetSendShareSend
Previous Post

What Makes A Good Teacher? –Catatan Seorang Guru

Next Post

Pelajaran Daur Ulang Sampah dari Rumah Plastik di Desa Petandakan

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Pelajaran Daur Ulang Sampah dari Rumah Plastik di Desa Petandakan

Pelajaran Daur Ulang Sampah dari Rumah Plastik di Desa Petandakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co