13 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

Dian Suryantini by Dian Suryantini
March 13, 2026
in Ulas Buku
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

Dian Suryantini (penulis) saat mengulas buku Puisi 'Anak-anak Luka di Dunia Maya' Karya Yahya Umar di Komunitas Mahima | Foto: Komunitas Mahima/Radha

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau laporan resmi seperti yang dilakukan jurnalistik. Namun melalui metafora, simbol, dan bahasa puitik, sastra mampu memotret realitas yang kadang lebih dalam daripada berita. Hal inilah yang terasa kuat dalam buku kumpulan puisi Anak-anak Luka di Dunia Maya karya Yahya Umar, seorang wartawan senior yang juga dikenal sebagai sastrawan.

Saya bukan ahli puisi. Bukan juga penulis puisi. Tetapi saya mencoba membaca puisi-puisi dari Yahya Umar dari kacamata jurnalistik. Puisi bisa dibaca seperti seorang wartawan membaca peristiwa. Mencari tokoh, konteks, pesan dan realitas sosial yang tersembunyi dibalik kata-kata puitis.

Kumpulan puisi ini dapat dibaca sebagai refleksi sosial yang tajam terhadap kehidupan manusia di tengah perubahan zaman—terutama perubahan yang dipicu oleh perkembangan teknologi digital, pariwisata, serta dinamika budaya Bali. Dalam buku ini ada 98 judul puisi yang digarap sejak 1997. Melalui sejumlah puisi yang sarat metafora, Yahya Umar seperti menyajikan reportase batin tentang berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat.

Sebagai seorang wartawan, Yahya Umar memiliki kebiasaan melihat dunia dengan mata yang peka terhadap peristiwa. Pengalaman panjangnya di dunia jurnalistik tampaknya membentuk cara pandangnya dalam menulis puisi. Banyak larik dalam buku ini terasa seperti catatan observasi sosial. Bukan sekadar ungkapan emosi, tetapi juga refleksi terhadap realitas yang sedang terjadi di sekitar kita. Dengan demikian, bagi saya, buku ini menarik dibaca melalui pendekatan yang menggabungkan sastra dan perspektif jurnalistik.

Puisi yang menjadi judul buku, Anak-anak Luka di Dunia Maya, merupakan salah satu karya yang paling kuat dalam kumpulan ini. Puisi tersebut menggambarkan kegelisahan terhadap kehidupan generasi muda yang tumbuh di tengah dunia digital. Dalam puisi itu, anak-anak digambarkan memasuki ruang maya dengan penuh harapan dan imajinasi, tetapi pada saat yang sama mereka juga menghadapi berbagai ancaman yang tidak selalu terlihat secara kasat mata.

Larik pembuka yang menyebut cerita duka di tanah bunda memberikan kesan bahwa tragedi yang digambarkan bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Penyair seolah ingin mengatakan bahwa persoalan yang dialami anak-anak di dunia digital terjadi di lingkungan kita sendiri. Tanah bunda dapat dimaknai sebagai masyarakat, bangsa, atau ruang sosial tempat anak-anak tumbuh dan berkembang.

Dalam puisi tersebut, dunia digital digambarkan sebagai ruang yang memikat sekaligus berbahaya. Anak-anak menari, melukis mimpi, memeluk aplikasi, sebuah gambaran yang menunjukkan kedekatan generasi muda dengan teknologi. Namun kedekatan itu tidak selalu membawa kebahagiaan. Penyair kemudian menghadirkan metafora yang tajam. Aplikasi yang dipeluk anak-anak ternyata penuh duri.

Melalui metafora itu, Yahya Umar menggambarkan berbagai risiko yang muncul dalam kehidupan digital—mulai dari perundungan di media sosial, tekanan psikologis akibat komentar negatif, hingga konten digital yang dapat merusak kesehatan mental. Puisi ini tidak menyebutkan istilah teknis seperti cyberbullying atau tekanan algoritma, tetapi gambaran puitiknya cukup jelas untuk menunjukkan fenomena tersebut.

Metafora lain yang sangat kuat muncul dalam larik bara-bara kata menerkam mata. Kalimat ini menggambarkan bagaimana kata-kata di dunia digital dapat menjadi senjata yang menyakitkan. Komentar kasar, ujaran kebencian, atau perundungan di media sosial dapat melukai seseorang tanpa harus ada kontak fisik. Kata-kata berubah menjadi bara yang membakar.

  • INFO BUKU:
Anak-anak Luka di Dunia Maya — Sekumpulan Puisi

Puncak dari metafora luka digital itu muncul pada larik darah digital menikam mental. Ungkapan ini menunjukkan bahwa luka yang terjadi di dunia maya tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi mampu menembus sisi paling dalam dari diri seseorang. Bagi anak-anak yang masih berada dalam proses pembentukan identitas, tekanan di dunia digital bisa meninggalkan dampak psikologis yang sangat dalam.

Menariknya, puisi tersebut tidak hanya menyalahkan teknologi. Penyair juga menyiratkan bahwa luka yang dialami anak-anak merupakan bagian dari persoalan sosial yang lebih luas. Pengulangan frasa cerita duka di tanah bunda menunjukkan bahwa masalah ini berkaitan dengan lingkungan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam konteks ini, puisi tersebut dapat dibaca sebagai kritik terhadap kurangnya kesiapan masyarakat dalam menghadapi era digital. Keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial mungkin belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan dan literasi digital yang cukup bagi anak-anak. Akibatnya, mereka harus menghadapi dunia maya dengan bekal yang terbatas.

Dengan cara ini, Yahya Umar menghadirkan puisi yang tidak hanya emosional, tetapi juga reflektif. Ia mengajak pembaca untuk melihat bahwa dunia digital bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga ruang sosial yang memiliki dampak nyata terhadap kehidupan manusia.

Selain membahas kehidupan digital, buku ini juga menyoroti perubahan lanskap alam dan budaya, terutama di Bali. Salah satu puisi yang menarik dalam hal ini adalah Candidasa. Puisi tersebut dapat dibaca sebagai catatan puitik tentang perubahan sebuah kawasan wisata.

Dalam puisi itu, penyair membuka dengan larik ku catat syair kecemasan yang dinyanyikan angin Candidasa. Kalimat ini menunjukkan posisi penyair sebagai pengamat yang mencatat perubahan. Kata mencatat, mengingatkan pada praktik jurnalistik. Seorang wartawan merekam peristiwa dan menghadirkannya kepada publik.

Angin yang menyanyikan kecemasan dapat dimaknai sebagai tanda-tanda alam yang memberi pesan tentang perubahan yang sedang terjadi. Candidasa, yang dahulu dikenal sebagai kawasan pantai yang tenang dan alami, kini mengalami berbagai transformasi akibat perkembangan pariwisata.

Metafora alam yang digunakan dalam puisi ini memperlihatkan kegelisahan penyair terhadap perubahan tersebut. Alam digambarkan sedang berduka. Pasir berduka, alam mengeram luka. Bahasa puitik ini mengandung pesan yang jelas tentang tekanan yang dialami lingkungan.

Larik yang paling kuat muncul pada bagian akhir puisi, hijau daun kelapa yang menjelma rumah-rumah penginapan. Gambaran ini menyiratkan perubahan lanskap yang drastis. Pohon kelapa yang dahulu menjadi bagian dari keindahan alam perlahan digantikan oleh bangunan penginapan dan fasilitas pariwisata.

Melalui puisi ini, Yahya Umar tidak menolak pariwisata secara langsung. Namun ia mengajak pembaca untuk merenungkan dampak pembangunan terhadap alam dan identitas sebuah tempat. Candidasa yang dahulu sunyi dan alami kini menghadapi perubahan yang mungkin tidak sepenuhnya membawa kebaikan.

Dalam buku ini juga terdapat puisi yang bersifat reflektif terhadap tokoh-tokoh budaya Bali. Salah satunya adalah puisi berjudul AA Panji Tisna. Puisi ini menghadirkan dialog batin antara penyair dengan seorang tokoh sastra yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah kesusastraan Bali.

Dalam puisi tersebut, penyair menggambarkan upaya untuk menyawakan sukma. Ungkapan ini menunjukkan keinginan untuk menyatukan jiwa atau pemikiran dengan tokoh yang dikaguminya. Penyair seolah mencoba masuk ke dalam ruang gagasan yang pernah dibangun oleh tokoh tersebut.

Ruang itu digambarkan sebagai tempat bersemedi ide-ide. Dalam ruang imajiner itulah penyair membaca, merasakan, dan memahami gagasan yang pernah lahir dari pemikiran sang tokoh. Proses ini menciptakan hubungan intelektual lintas waktu antara penyair dan figur budaya yang dihormatinya.

Puisi ini juga menggambarkan kerinduan terhadap ketajaman pemikiran tokoh tersebut. Cahaya batin yang disebut dalam puisi dapat dimaknai sebagai kejernihan pandangan dan kedalaman pemikiran yang dimiliki seorang sastrawan besar. Bagi penyair, pemikiran itu masih hidup dan terus mengusik pikiran generasi masa kini.

Dengan cara ini, Yahya Umar menunjukkan bahwa warisan intelektual tidak pernah benar-benar hilang. Ide-ide yang pernah ditulis dalam karya sastra dapat terus hidup dan memengaruhi generasi berikutnya.

Salah satu kekuatan utama buku Anak-anak Luka di Dunia Maya adalah kemampuannya menjembatani dunia sastra dan jurnalistik. Sebagai wartawan, Yahya Umar terbiasa melihat realitas sosial dengan pendekatan observasi. Sebagai penyair, ia mengolah realitas itu menjadi bahasa yang simbolik dan metaforis.

Persilangan ini membuat puisi-puisinya terasa seperti reportase puitik. Yahya Umar tidak menyampaikan fakta secara langsung, tetapi menghadirkan realitas melalui citraan yang kuat. Pembaca diajak merasakan suasana, memahami kegelisahan, dan merenungkan makna di balik peristiwa yang digambarkan.

Puisi tidak hanya berbicara tentang perasaan pribadi, tetapi juga tentang kondisi masyarakat. Yahya Umar memanfaatkan bahasa sastra untuk menyoroti berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan kontemporer.

Tema besar yang terasa dominan dalam buku ini adalah kegelisahan terhadap perubahan zaman. Teknologi digital, perkembangan pariwisata, romantisme dan perubahan budaya menjadi latar yang terus muncul dalam berbagai puisi.

Namun penyair tidak menuliskannya dalam bentuk kritik yang keras. Ia memilih pendekatan yang lebih halus, melalui metafora alam dan citraan simbolik. Cara ini membuat pesan sosial dalam puisinya terasa lebih reflektif daripada konfrontatif.

Dalam konteks ini, puisi-puisi Yahya Umar dapat dipahami sebagai upaya untuk mengingatkan masyarakat agar tidak kehilangan kepekaan terhadap perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Dunia digital yang tampak modern dan memikat, misalnya, tetap menyimpan potensi luka jika tidak dihadapi dengan bijak.

Demikian pula dengan pembangunan pariwisata yang membawa kemajuan ekonomi, tetapi juga berpotensi mengubah wajah alam dan budaya jika tidak dikelola secara seimbang.

Buku Anak-anak Luka di Dunia Maya karya Yahya Umar merupakan kumpulan puisi yang menghadirkan refleksi sosial yang kuat tentang kehidupan manusia di era modern. Melalui bahasa yang sederhana namun sarat metafora, penyair memotret berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat—mulai dari kehidupan anak-anak di dunia digital hingga perubahan lanskap alam akibat pariwisata.

Pengalaman Yahya Umar sebagai wartawan memberi warna tersendiri pada puisi-puisinya. Banyak larik terasa seperti catatan observasi terhadap realitas sosial. Namun catatan itu tidak disajikan dalam bentuk laporan berita, melainkan dalam bahasa puitik yang penuh simbol.

Dengan cara ini, buku ini berhasil menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi medium refleksi sosial yang kuat. Puisi tidak hanya berbicara tentang keindahan bahasa, tetapi juga tentang kegelisahan zaman.

Pada akhirnya, Anak-anak Luka di Dunia Maya mengajak pembaca untuk melihat kembali dunia di sekitar mereka—baik dunia nyata maupun dunia digital. Di balik layar gawai, di balik gemerlap pariwisata, dan di balik perubahan zaman, selalu ada manusia yang merasakan dampaknya.

Puisi-puisi dalam buku ini menjadi semacam suara batin yang mengajak masyarakat untuk tetap peka, tetap peduli, dan tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang terus bergerak maju. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

  • Artikel ulasan ini disampaikan dalam acara Rabu Puisi Komunitas Mahima dengan sub acara peluncuran dan bedah buku Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ karya Yahya Umar di Rumah Belajar Komunitas Mahima Singaraja, 11 Maret 2026
Tags: buku puisibuku tatkalaKomunitas MahimaPuisiSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semarak Buka dan Sahur Gratis di “Gubukan” Masjid Bukit Palma Surabaya

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar
Ulas Buku

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

by Dian Suryantini
March 13, 2026
Semarak Buka dan Sahur Gratis di “Gubukan” Masjid Bukit Palma Surabaya
Khas

Semarak Buka dan Sahur Gratis di “Gubukan” Masjid Bukit Palma Surabaya

MENJELANG magrib selama bulan Ramadan, pelataran Masjid Bukit Palma, Surabaya, berubah menjadi ruang perjumpaan. Orang-orang berdatangan dari berbagai arah: sebagian...

by Jaswanto
March 13, 2026
Preliminary Show Jegeg Bagus Buleleng 2026: Bagaimana Ajang Muda-Mudi Mampu Mempromosikan UMKM Lokal
Gaya

Preliminary Show Jegeg Bagus Buleleng 2026: Bagaimana Ajang Muda-Mudi Mampu Mempromosikan UMKM Lokal

LAMPU sorot menyambar dan menerangi panggung Gedung Kesenian Gde Manik yang menampilkan sepuluh pasangan finalis Jegeg Bagus Buleleng 2026. Mereka...

by Radha Dwi Pradnyani
March 13, 2026
Negeri yang Menjual Isi Perutnya | Cerpen Muhammad Khairu Rahman
Cerpen

Negeri yang Menjual Isi Perutnya | Cerpen Muhammad Khairu Rahman

Di negeri itu, tanah tidak lagi disebut tanah. Ia disebut komoditas. Gunung tidak lagi dipandang sebagai punggung yang menyangga langit,...

by Muhammad Khairu Rahman
March 13, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Lebaran Bersama Tuhan
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Lebaran Bersama Tuhan

Lebaran Bersama Tuhan Takbirku menyusup di antara ladang dosa di bawah timbunan mimpiWiridku tak pernah putus oleh genderang duniawi berjibun...

by Chusmeru
March 13, 2026
Bali dan Intelektual yang Hanya Aktif di Media Sosial
Esai

Bali dan Intelektual yang Hanya Aktif di Media Sosial

Di Bali, ada fenomena yang lucu tapi sekaligus menyedihkan. Sebagian intelektual generasi tua yang dulunya produktif menulis, kini hanya aktif...

by Angga Wijaya
March 13, 2026
Jari Telunjuk Nakal —Cerita Inspiratif Seorang Dokter
Khas

Jari Telunjuk Nakal —Cerita Inspiratif Seorang Dokter

Nittt…Nitttt… Nittt! Suara monitor itu berbunyi di ruangan yang penuh aura kesedihan, harapan, tangisan, dan keikhlasan bercampur aduk. Kulitnya yang...

by dr. Putu Sukedana, S.Ked.
March 13, 2026
Dari Bara Logam ke Simbol Persatuan: Pengecoran Rupang Buddha Nusantara dalam Peringatan Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia
Khas

Dari Bara Logam ke Simbol Persatuan: Pengecoran Rupang Buddha Nusantara dalam Peringatan Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia

DI tengah lantunan paritta suci dan doa yang khidmat, logam-logam persembahan umat perlahan mencair. Dari bara api itulah sebuah rupang...

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026
Persona

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
Buleleng International Rhythm Festival, Ajang Pertunjukan Seni dan Ruang Persahabatan Antar Negara
Budaya

Buleleng International Rhythm Festival, Ajang Pertunjukan Seni dan Ruang Persahabatan Antar Negara

Rasa bangga dan syukur karena Buleleng kembali dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan budaya dunia. Buleleng International Rhythm Festival (BIRF) ini...

by tatkala
March 12, 2026
Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh
Budaya

Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Masyarakat Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, melaksanakan upacara Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas Pura Ulun Danu...

by tatkala
March 12, 2026
Diobati Perempuan Penyembuh
Esai

Diobati Perempuan Penyembuh

DUA bulan belakangan saya sering merasa lelah. Saya pikir mungkin ini burnout, lelah tidak hanya pada fisik tapi juga mental....

by Angga Wijaya
March 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co