4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diobati Perempuan Penyembuh

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 12, 2026
in Esai
Diobati Perempuan Penyembuh

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DUA bulan belakangan saya sering merasa lelah. Saya pikir mungkin ini burnout, lelah tidak hanya pada fisik tapi juga mental. Pada beberapa bagian tubuh saya muncul ruam, dan saya pikir juga ini akumulasi dari stres yang saya rasakan dan alami.

Dua hari lalu, pada dini hari, saya terbangun secara tiba-tiba. Jam di layar ponsel menunjukkan angka 03:09 WITA. Saya baru saja mengalami mimpi dalam tidur yang dalam. Saya terlibat percakapan dengan seseorang, dalam mimpi itu ada beberapa orang lain. Kami berbicara dengan nada tinggi.

Mimpi beralih ke “adegan” lain. Saya berada di sebuah padepokan, mirip ashram. Ada satu-dua foto guru yang dihormati di tembok. Saya duduk bersila di lantai. Di dekat saya tampak seorang perempuan yang sedang memeriksa kondisi saya. Dia berbicara dalam bahasa Bali, terjemahannya begini: “Kasihan orang ini, hampir tiap hari kena serangan.” Serangan mistik atau spiritual, maksudnya.

Lalu ia duduk bersila juga di belakang saya dan seperti gerakan menotok di punggung, ia mengobati saya. Mimpi selesai. Saya terbangun, dan dalam keadaan masih mengantuk mencoba mengurai apa yang alami dalam mimpi tersebut.

Setelah kejadian itu, badan dan pikiran saya terasa ringan; tidak lagi mudah lelah, dan merasa lebih baik. Ini membuat saya yakin, dalam mimpi—pertolongan dari alam astral itu ada. Kadang dari leluhur, guru, kerabat, dan sahabat yang baik dan peduli pada saya, bahkan setelah mereka meninggalkan tubuh fisiknya.  Dalam mimpi itu, ditunjukkan juga beberapa tempat sebagai petunjuk dan “kunci” dari apa yang saya alami dan penyebab gangguan yang saya alami.

Mimpi, religi, dan magi adalah hal yang menarik untuk dipelajari dan dipahami. Saya tidak tahu siapa perempuan itu. Ia bukan wajah yang saya kenal dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam mimpi itu ia hadir dengan sikap yang tenang, seperti seseorang yang sudah lama terbiasa menyentuh tubuh orang lain untuk menyembuhkan mereka. Gerakannya sederhana, tidak dramatis. Hanya duduk bersila di belakang saya, lalu menotok punggung dengan ritme pelan.

Dalam mimpi itu tidak ada mantra yang panjang, tidak ada asap dupa yang mengepul seperti dalam film-film mistik. Yang ada hanya ketenangan. Dan entah mengapa, setelah bangun, rasa ringan di tubuh saya terasa nyata.

Bagi sebagian orang, pengalaman seperti ini mungkin mudah dijelaskan sebagai proses psikologis, bahwamimpi sebagai cara pikiran bawah sadar meredakan ketegangan. Namun bagi orang yang tumbuh dalam kebudayaan seperti Bali, pengalaman mimpi jarang dipahami secara tunggal. Ia bisa berada di antara dunia psikologi, spiritualitas, dan tradisi.

Dalam bahasa Bali kita mengenal dua dunia, yakni sekala dan niskala. Sekala adalah dunia yang terlihat, yang bisa dijelaskan oleh logika sehari-hari. Sedangkan niskala adalah dunia yang tidak terlihat, tetapi diyakini ikut memengaruhi kehidupan manusia. Mimpi sering dianggap sebagai salah satu jembatan antara keduanya.

Ketika mempelajari kebudayaan manusia, para antropolog sering menemukan bahwa mimpi memiliki posisi yang penting dalam hampir semua masyarakat. Dalam banyak kebudayaan, mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan saluran komunikasi antara manusia dengan dunia lain—entah itu roh leluhur, dewa, atau alam batin.

Antropolog seperti Bronislaw Malinowski pernah menjelaskan bahwa manusia menggunakan sistem kepercayaan, magi, dan ritual untuk menghadapi ketidakpastian hidup. Ketika seseorang sakit tanpa sebab yang jelas, atau mengalami tekanan batin yang tidak mudah dijelaskan, masyarakat sering mencari makna melalui simbol-simbol spiritual.

Di Bali, simbol-simbol itu sangat kaya. Ritual, mimpi, pertanda, hingga pengalaman spiritual pribadi sering dipahami sebagai bagian dari dialog manusia dengan alam semesta. Tidak selalu harus diterima secara harfiah, tetapi juga tidak sepenuhnya diabaikan.

Saya sendiri tidak ingin buru-buru memberi kesimpulan atas mimpi yang saya alami. Apakah itu sekadar proses psikologis? Apakah itu refleksi dari tubuh yang sedang kelelahan? Atau memang ada sesuatu dari dunia yang lebih luas yang sedang bekerja?

Saya tidak tahu. Namun pengalaman itu membuat saya kembali memikirkan sesuatu yang sering kita lupakan, bahwa manusia tidak hanya hidup dengan rasionalitas.

Antropolog Amerika Clifford Geertz pernah lama meneliti Bali. Dalam banyak tulisannya ia menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Bali dipenuhi oleh sistem simbol yang kompleks. Upacara, tarian, cerita rakyat, bahkan hubungan sosial sehari-hari sering mengandung makna simbolik yang dalam.

Bagi Geertz, agama dan kepercayaan bukan hanya soal iman, tetapi juga cara manusia memberi makna pada dunia yang sering terasa membingungkan.

Mungkin itu juga yang terjadi pada mimpi. Mimpi adalah ruang di mana pikiran kita bekerja tanpa sensor yang ketat dari kesadaran. Ia bisa menyusun kembali pengalaman hidup, rasa takut, harapan, bahkan kenangan lama yang tidak lagi kita ingat dalam keadaan sadar. Karena itu tidak mengherankan jika banyak kebudayaan memberi tempat khusus pada mimpi.

Di Bali, orang tua sering mengatakan bahwa mimpi kadang membawa pesan. Tidak semua mimpi penting, tentu saja. Banyak mimpi hanya serpihan dari aktivitas pikiran sehari-hari. Namun ada mimpi tertentu yang terasa berbeda—lebih terang, lebih jelas, dan meninggalkan kesan yang kuat setelah kita bangun.

Mimpi seperti itulah yang sering dianggap memiliki makna. Saya teringat pada cerita-cerita lama tentang para balian atau penyembuh tradisional di Bali. Banyak dari mereka mengatakan bahwa kemampuan menyembuhkan sering datang melalui mimpi.

Dalam mimpi mereka bertemu guru spiritual, leluhur, atau sosok yang memberi petunjuk tentang ramuan obat dan cara mengobati orang sakit.

Kisah seperti ini tentu tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. Namun menariknya, cerita serupa muncul di banyak kebudayaan lain di dunia. Dalam masyarakat adat di Amerika, Afrika, hingga Asia, mimpi sering dianggap sebagai tempat seseorang menerima panggilan untuk menjadi penyembuh.

Antropolog melihat fenomena ini bukan semata-mata sebagai soal benar atau salah, melainkan sebagai bagian dari struktur budaya yang memberi makna pada pengalaman manusia. Dengan kata lain, mimpi menjadi bahasa simbolik yang dipakai masyarakat untuk memahami proses batin yang kompleks.

Beberapa tahun lalu saya pernah membaca tulisan dari psikiater Bali, Luh Ketut Suryani. Ia banyak meneliti hubungan antara kepercayaan tradisional Bali dengan kesehatan mental.

Menurut Suryani, dalam banyak kasus gangguan psikologis di Bali, pengalaman spiritual tidak bisa begitu saja dihapus dari cara orang memahami dirinya sendiri. Jika dokter hanya memakai pendekatan medis tanpa memahami latar budaya pasien, proses penyembuhan sering tidak berjalan dengan baik.

Artinya, pengalaman spiritual, termasuk mimpi, bagi sebagian orang memiliki fungsi terapeutik. Bukan karena mimpi itu secara harfiah menyembuhkan penyakit, tetapi karena ia membantu seseorang menyusun kembali keseimbangan batin.

Mungkin itulah yang saya alami. Bukan perempuan dalam mimpi itu yang menyembuhkan saya secara literal. Mungkin yang terjadi adalah tubuh dan pikiran saya akhirnya menemukan cara untuk beristirahat setelah lama berada dalam tekanan.

Namun simbol yang muncul dalam mimpi itu—perempuan penyembuh, padepokan, dan gerakan menotok di punggung—memberi bentuk pada proses pemulihan tersebut. Ada sesuatu yang menarik tentang sosok perempuan dalam mimpi saya.

Dalam banyak tradisi spiritual di Nusantara, perempuan sering diasosiasikan dengan energi penyembuhan. Banyak balian, dukun, atau tabib perempuan yang dikenal memiliki kepekaan batin yang kuat.

Dalam cerita rakyat Bali, kita juga mengenal tokoh-tokoh perempuan dengan kekuatan spiritual yang besar—baik yang digunakan untuk kebaikan maupun untuk kehancuran.

Simbol perempuan dalam mimpi sering dihubungkan dengan aspek intuitif dari diri manusia, yakni, bagian dari diri kita yang memahami sesuatu tanpa harus menjelaskannya dengan kata-kata.

Mungkin perempuan dalam mimpi itu bukan orang lain. Mungkin ia adalah bagian dari diri saya sendiri yang selama ini saya abaikan. Bagian yang tahu bahwa tubuh saya sedang lelah, yang meminta saya berhenti sejenak.

Hidup modern sering membuat kita terlalu sibuk dengan dunia sekala. Kita bekerja, menulis, membaca berita, mengejar tenggat, memikirkan uang, memikirkan masa depan. Semua itu penting, tentu saja. Namun dalam kesibukan itu, kita sering lupa bahwa tubuh dan pikiran memiliki batas.

Ketika batas itu terlampaui, tubuh memberi sinyal, seperti rasa lelah, ruam, insomnia, atau kegelisahan yang sulit dijelaskan. Barangkali mimpi adalah salah satu cara tubuh berbicara kepada kita. Ia tidak menggunakan bahasa logika, tetapi bahasa simbol.

Dan kadang simbol itu muncul dalam bentuk yang aneh; padepokan yang tidak pernah kita kunjungi, guru yang tidak pernah kita kenal, atau perempuan penyembuh yang tiba-tiba datang dari suatu tempat yang tidak kita pahami.

Saya tidak berniat mengajak siapa pun percaya bahwa mimpi saya adalah pengalaman mistik yang luar biasa. Tidak. Saya justru lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih sederhana, seperti, mengapa pengalaman seperti ini terasa begitu nyata bagi manusia? Mengapa mimpi kadang bisa memengaruhi perasaan kita sepanjang hari? Mengapa setelah mimpi tertentu kita merasa lega, sedih, atau bahkan tercerahkan?

Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya sudah lama menarik perhatian para ilmuwan, psikolog, dan antropolog. Namun sampai sekarang, mimpi tetap menjadi salah satu misteri paling menarik dalam kehidupan manusia.

Bagi saya pribadi, mimpi tentang perempuan penyembuh itu menjadi pengingat kecil bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan secara tuntas. Ada pengalaman yang cukup kita rasakan saja. Selain itu, ada juga pengalaman yang tidak perlu dibuktikan kepada siapa pun. Yang penting adalah bagaimana pengalaman itu membuat kita lebih peka terhadap diri sendiri.

Setelah mimpi itu, saya mencoba memperlambat ritme hidup. Tidur lebih cukup, mengurangi pekerjaan yang tidak terlalu penting, dan memberi ruang bagi tubuh untuk beristirahat. Barangkali itu bentuk penyembuhan yang paling sederhana.

Bukan melalui ritual yang rumit, atau melalui kekuatan gaib yang spektakuler. Tetapi melalui kesadaran bahwa kita juga manusia yang bisa lelah. Saya masih belum tahu siapa perempuan dalam mimpi itu. Namun saya bersyukur ia datang—entah sebagai simbol, entah sebagai bayangan dari pikiran saya sendiri. Karena setelah ia menotok punggung saya dalam mimpi, sesuatu di dalam diri saya terasa berubah. Tubuh saya terasa lebih ringan. Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, saya merasa benar-benar ingin tidur lagi. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Next Post

Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co