15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diobati Perempuan Penyembuh

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 12, 2026
in Esai
Diobati Perempuan Penyembuh

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DUA bulan belakangan saya sering merasa lelah. Saya pikir mungkin ini burnout, lelah tidak hanya pada fisik tapi juga mental. Pada beberapa bagian tubuh saya muncul ruam, dan saya pikir juga ini akumulasi dari stres yang saya rasakan dan alami.

Dua hari lalu, pada dini hari, saya terbangun secara tiba-tiba. Jam di layar ponsel menunjukkan angka 03:09 WITA. Saya baru saja mengalami mimpi dalam tidur yang dalam. Saya terlibat percakapan dengan seseorang, dalam mimpi itu ada beberapa orang lain. Kami berbicara dengan nada tinggi.

Mimpi beralih ke “adegan” lain. Saya berada di sebuah padepokan, mirip ashram. Ada satu-dua foto guru yang dihormati di tembok. Saya duduk bersila di lantai. Di dekat saya tampak seorang perempuan yang sedang memeriksa kondisi saya. Dia berbicara dalam bahasa Bali, terjemahannya begini: “Kasihan orang ini, hampir tiap hari kena serangan.” Serangan mistik atau spiritual, maksudnya.

Lalu ia duduk bersila juga di belakang saya dan seperti gerakan menotok di punggung, ia mengobati saya. Mimpi selesai. Saya terbangun, dan dalam keadaan masih mengantuk mencoba mengurai apa yang alami dalam mimpi tersebut.

Setelah kejadian itu, badan dan pikiran saya terasa ringan; tidak lagi mudah lelah, dan merasa lebih baik. Ini membuat saya yakin, dalam mimpi—pertolongan dari alam astral itu ada. Kadang dari leluhur, guru, kerabat, dan sahabat yang baik dan peduli pada saya, bahkan setelah mereka meninggalkan tubuh fisiknya.  Dalam mimpi itu, ditunjukkan juga beberapa tempat sebagai petunjuk dan “kunci” dari apa yang saya alami dan penyebab gangguan yang saya alami.

Mimpi, religi, dan magi adalah hal yang menarik untuk dipelajari dan dipahami. Saya tidak tahu siapa perempuan itu. Ia bukan wajah yang saya kenal dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam mimpi itu ia hadir dengan sikap yang tenang, seperti seseorang yang sudah lama terbiasa menyentuh tubuh orang lain untuk menyembuhkan mereka. Gerakannya sederhana, tidak dramatis. Hanya duduk bersila di belakang saya, lalu menotok punggung dengan ritme pelan.

Dalam mimpi itu tidak ada mantra yang panjang, tidak ada asap dupa yang mengepul seperti dalam film-film mistik. Yang ada hanya ketenangan. Dan entah mengapa, setelah bangun, rasa ringan di tubuh saya terasa nyata.

Bagi sebagian orang, pengalaman seperti ini mungkin mudah dijelaskan sebagai proses psikologis, bahwamimpi sebagai cara pikiran bawah sadar meredakan ketegangan. Namun bagi orang yang tumbuh dalam kebudayaan seperti Bali, pengalaman mimpi jarang dipahami secara tunggal. Ia bisa berada di antara dunia psikologi, spiritualitas, dan tradisi.

Dalam bahasa Bali kita mengenal dua dunia, yakni sekala dan niskala. Sekala adalah dunia yang terlihat, yang bisa dijelaskan oleh logika sehari-hari. Sedangkan niskala adalah dunia yang tidak terlihat, tetapi diyakini ikut memengaruhi kehidupan manusia. Mimpi sering dianggap sebagai salah satu jembatan antara keduanya.

Ketika mempelajari kebudayaan manusia, para antropolog sering menemukan bahwa mimpi memiliki posisi yang penting dalam hampir semua masyarakat. Dalam banyak kebudayaan, mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan saluran komunikasi antara manusia dengan dunia lain—entah itu roh leluhur, dewa, atau alam batin.

Antropolog seperti Bronislaw Malinowski pernah menjelaskan bahwa manusia menggunakan sistem kepercayaan, magi, dan ritual untuk menghadapi ketidakpastian hidup. Ketika seseorang sakit tanpa sebab yang jelas, atau mengalami tekanan batin yang tidak mudah dijelaskan, masyarakat sering mencari makna melalui simbol-simbol spiritual.

Di Bali, simbol-simbol itu sangat kaya. Ritual, mimpi, pertanda, hingga pengalaman spiritual pribadi sering dipahami sebagai bagian dari dialog manusia dengan alam semesta. Tidak selalu harus diterima secara harfiah, tetapi juga tidak sepenuhnya diabaikan.

Saya sendiri tidak ingin buru-buru memberi kesimpulan atas mimpi yang saya alami. Apakah itu sekadar proses psikologis? Apakah itu refleksi dari tubuh yang sedang kelelahan? Atau memang ada sesuatu dari dunia yang lebih luas yang sedang bekerja?

Saya tidak tahu. Namun pengalaman itu membuat saya kembali memikirkan sesuatu yang sering kita lupakan, bahwa manusia tidak hanya hidup dengan rasionalitas.

Antropolog Amerika Clifford Geertz pernah lama meneliti Bali. Dalam banyak tulisannya ia menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Bali dipenuhi oleh sistem simbol yang kompleks. Upacara, tarian, cerita rakyat, bahkan hubungan sosial sehari-hari sering mengandung makna simbolik yang dalam.

Bagi Geertz, agama dan kepercayaan bukan hanya soal iman, tetapi juga cara manusia memberi makna pada dunia yang sering terasa membingungkan.

Mungkin itu juga yang terjadi pada mimpi. Mimpi adalah ruang di mana pikiran kita bekerja tanpa sensor yang ketat dari kesadaran. Ia bisa menyusun kembali pengalaman hidup, rasa takut, harapan, bahkan kenangan lama yang tidak lagi kita ingat dalam keadaan sadar. Karena itu tidak mengherankan jika banyak kebudayaan memberi tempat khusus pada mimpi.

Di Bali, orang tua sering mengatakan bahwa mimpi kadang membawa pesan. Tidak semua mimpi penting, tentu saja. Banyak mimpi hanya serpihan dari aktivitas pikiran sehari-hari. Namun ada mimpi tertentu yang terasa berbeda—lebih terang, lebih jelas, dan meninggalkan kesan yang kuat setelah kita bangun.

Mimpi seperti itulah yang sering dianggap memiliki makna. Saya teringat pada cerita-cerita lama tentang para balian atau penyembuh tradisional di Bali. Banyak dari mereka mengatakan bahwa kemampuan menyembuhkan sering datang melalui mimpi.

Dalam mimpi mereka bertemu guru spiritual, leluhur, atau sosok yang memberi petunjuk tentang ramuan obat dan cara mengobati orang sakit.

Kisah seperti ini tentu tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. Namun menariknya, cerita serupa muncul di banyak kebudayaan lain di dunia. Dalam masyarakat adat di Amerika, Afrika, hingga Asia, mimpi sering dianggap sebagai tempat seseorang menerima panggilan untuk menjadi penyembuh.

Antropolog melihat fenomena ini bukan semata-mata sebagai soal benar atau salah, melainkan sebagai bagian dari struktur budaya yang memberi makna pada pengalaman manusia. Dengan kata lain, mimpi menjadi bahasa simbolik yang dipakai masyarakat untuk memahami proses batin yang kompleks.

Beberapa tahun lalu saya pernah membaca tulisan dari psikiater Bali, Luh Ketut Suryani. Ia banyak meneliti hubungan antara kepercayaan tradisional Bali dengan kesehatan mental.

Menurut Suryani, dalam banyak kasus gangguan psikologis di Bali, pengalaman spiritual tidak bisa begitu saja dihapus dari cara orang memahami dirinya sendiri. Jika dokter hanya memakai pendekatan medis tanpa memahami latar budaya pasien, proses penyembuhan sering tidak berjalan dengan baik.

Artinya, pengalaman spiritual, termasuk mimpi, bagi sebagian orang memiliki fungsi terapeutik. Bukan karena mimpi itu secara harfiah menyembuhkan penyakit, tetapi karena ia membantu seseorang menyusun kembali keseimbangan batin.

Mungkin itulah yang saya alami. Bukan perempuan dalam mimpi itu yang menyembuhkan saya secara literal. Mungkin yang terjadi adalah tubuh dan pikiran saya akhirnya menemukan cara untuk beristirahat setelah lama berada dalam tekanan.

Namun simbol yang muncul dalam mimpi itu—perempuan penyembuh, padepokan, dan gerakan menotok di punggung—memberi bentuk pada proses pemulihan tersebut. Ada sesuatu yang menarik tentang sosok perempuan dalam mimpi saya.

Dalam banyak tradisi spiritual di Nusantara, perempuan sering diasosiasikan dengan energi penyembuhan. Banyak balian, dukun, atau tabib perempuan yang dikenal memiliki kepekaan batin yang kuat.

Dalam cerita rakyat Bali, kita juga mengenal tokoh-tokoh perempuan dengan kekuatan spiritual yang besar—baik yang digunakan untuk kebaikan maupun untuk kehancuran.

Simbol perempuan dalam mimpi sering dihubungkan dengan aspek intuitif dari diri manusia, yakni, bagian dari diri kita yang memahami sesuatu tanpa harus menjelaskannya dengan kata-kata.

Mungkin perempuan dalam mimpi itu bukan orang lain. Mungkin ia adalah bagian dari diri saya sendiri yang selama ini saya abaikan. Bagian yang tahu bahwa tubuh saya sedang lelah, yang meminta saya berhenti sejenak.

Hidup modern sering membuat kita terlalu sibuk dengan dunia sekala. Kita bekerja, menulis, membaca berita, mengejar tenggat, memikirkan uang, memikirkan masa depan. Semua itu penting, tentu saja. Namun dalam kesibukan itu, kita sering lupa bahwa tubuh dan pikiran memiliki batas.

Ketika batas itu terlampaui, tubuh memberi sinyal, seperti rasa lelah, ruam, insomnia, atau kegelisahan yang sulit dijelaskan. Barangkali mimpi adalah salah satu cara tubuh berbicara kepada kita. Ia tidak menggunakan bahasa logika, tetapi bahasa simbol.

Dan kadang simbol itu muncul dalam bentuk yang aneh; padepokan yang tidak pernah kita kunjungi, guru yang tidak pernah kita kenal, atau perempuan penyembuh yang tiba-tiba datang dari suatu tempat yang tidak kita pahami.

Saya tidak berniat mengajak siapa pun percaya bahwa mimpi saya adalah pengalaman mistik yang luar biasa. Tidak. Saya justru lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih sederhana, seperti, mengapa pengalaman seperti ini terasa begitu nyata bagi manusia? Mengapa mimpi kadang bisa memengaruhi perasaan kita sepanjang hari? Mengapa setelah mimpi tertentu kita merasa lega, sedih, atau bahkan tercerahkan?

Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya sudah lama menarik perhatian para ilmuwan, psikolog, dan antropolog. Namun sampai sekarang, mimpi tetap menjadi salah satu misteri paling menarik dalam kehidupan manusia.

Bagi saya pribadi, mimpi tentang perempuan penyembuh itu menjadi pengingat kecil bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan secara tuntas. Ada pengalaman yang cukup kita rasakan saja. Selain itu, ada juga pengalaman yang tidak perlu dibuktikan kepada siapa pun. Yang penting adalah bagaimana pengalaman itu membuat kita lebih peka terhadap diri sendiri.

Setelah mimpi itu, saya mencoba memperlambat ritme hidup. Tidur lebih cukup, mengurangi pekerjaan yang tidak terlalu penting, dan memberi ruang bagi tubuh untuk beristirahat. Barangkali itu bentuk penyembuhan yang paling sederhana.

Bukan melalui ritual yang rumit, atau melalui kekuatan gaib yang spektakuler. Tetapi melalui kesadaran bahwa kita juga manusia yang bisa lelah. Saya masih belum tahu siapa perempuan dalam mimpi itu. Namun saya bersyukur ia datang—entah sebagai simbol, entah sebagai bayangan dari pikiran saya sendiri. Karena setelah ia menotok punggung saya dalam mimpi, sesuatu di dalam diri saya terasa berubah. Tubuh saya terasa lebih ringan. Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, saya merasa benar-benar ingin tidur lagi. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Next Post

Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co