25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diobati Perempuan Penyembuh

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 12, 2026
in Esai
Diobati Perempuan Penyembuh

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DUA bulan belakangan saya sering merasa lelah. Saya pikir mungkin ini burnout, lelah tidak hanya pada fisik tapi juga mental. Pada beberapa bagian tubuh saya muncul ruam, dan saya pikir juga ini akumulasi dari stres yang saya rasakan dan alami.

Dua hari lalu, pada dini hari, saya terbangun secara tiba-tiba. Jam di layar ponsel menunjukkan angka 03:09 WITA. Saya baru saja mengalami mimpi dalam tidur yang dalam. Saya terlibat percakapan dengan seseorang, dalam mimpi itu ada beberapa orang lain. Kami berbicara dengan nada tinggi.

Mimpi beralih ke “adegan” lain. Saya berada di sebuah padepokan, mirip ashram. Ada satu-dua foto guru yang dihormati di tembok. Saya duduk bersila di lantai. Di dekat saya tampak seorang perempuan yang sedang memeriksa kondisi saya. Dia berbicara dalam bahasa Bali, terjemahannya begini: “Kasihan orang ini, hampir tiap hari kena serangan.” Serangan mistik atau spiritual, maksudnya.

Lalu ia duduk bersila juga di belakang saya dan seperti gerakan menotok di punggung, ia mengobati saya. Mimpi selesai. Saya terbangun, dan dalam keadaan masih mengantuk mencoba mengurai apa yang alami dalam mimpi tersebut.

Setelah kejadian itu, badan dan pikiran saya terasa ringan; tidak lagi mudah lelah, dan merasa lebih baik. Ini membuat saya yakin, dalam mimpi—pertolongan dari alam astral itu ada. Kadang dari leluhur, guru, kerabat, dan sahabat yang baik dan peduli pada saya, bahkan setelah mereka meninggalkan tubuh fisiknya.  Dalam mimpi itu, ditunjukkan juga beberapa tempat sebagai petunjuk dan “kunci” dari apa yang saya alami dan penyebab gangguan yang saya alami.

Mimpi, religi, dan magi adalah hal yang menarik untuk dipelajari dan dipahami. Saya tidak tahu siapa perempuan itu. Ia bukan wajah yang saya kenal dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam mimpi itu ia hadir dengan sikap yang tenang, seperti seseorang yang sudah lama terbiasa menyentuh tubuh orang lain untuk menyembuhkan mereka. Gerakannya sederhana, tidak dramatis. Hanya duduk bersila di belakang saya, lalu menotok punggung dengan ritme pelan.

Dalam mimpi itu tidak ada mantra yang panjang, tidak ada asap dupa yang mengepul seperti dalam film-film mistik. Yang ada hanya ketenangan. Dan entah mengapa, setelah bangun, rasa ringan di tubuh saya terasa nyata.

Bagi sebagian orang, pengalaman seperti ini mungkin mudah dijelaskan sebagai proses psikologis, bahwamimpi sebagai cara pikiran bawah sadar meredakan ketegangan. Namun bagi orang yang tumbuh dalam kebudayaan seperti Bali, pengalaman mimpi jarang dipahami secara tunggal. Ia bisa berada di antara dunia psikologi, spiritualitas, dan tradisi.

Dalam bahasa Bali kita mengenal dua dunia, yakni sekala dan niskala. Sekala adalah dunia yang terlihat, yang bisa dijelaskan oleh logika sehari-hari. Sedangkan niskala adalah dunia yang tidak terlihat, tetapi diyakini ikut memengaruhi kehidupan manusia. Mimpi sering dianggap sebagai salah satu jembatan antara keduanya.

Ketika mempelajari kebudayaan manusia, para antropolog sering menemukan bahwa mimpi memiliki posisi yang penting dalam hampir semua masyarakat. Dalam banyak kebudayaan, mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan saluran komunikasi antara manusia dengan dunia lain—entah itu roh leluhur, dewa, atau alam batin.

Antropolog seperti Bronislaw Malinowski pernah menjelaskan bahwa manusia menggunakan sistem kepercayaan, magi, dan ritual untuk menghadapi ketidakpastian hidup. Ketika seseorang sakit tanpa sebab yang jelas, atau mengalami tekanan batin yang tidak mudah dijelaskan, masyarakat sering mencari makna melalui simbol-simbol spiritual.

Di Bali, simbol-simbol itu sangat kaya. Ritual, mimpi, pertanda, hingga pengalaman spiritual pribadi sering dipahami sebagai bagian dari dialog manusia dengan alam semesta. Tidak selalu harus diterima secara harfiah, tetapi juga tidak sepenuhnya diabaikan.

Saya sendiri tidak ingin buru-buru memberi kesimpulan atas mimpi yang saya alami. Apakah itu sekadar proses psikologis? Apakah itu refleksi dari tubuh yang sedang kelelahan? Atau memang ada sesuatu dari dunia yang lebih luas yang sedang bekerja?

Saya tidak tahu. Namun pengalaman itu membuat saya kembali memikirkan sesuatu yang sering kita lupakan, bahwa manusia tidak hanya hidup dengan rasionalitas.

Antropolog Amerika Clifford Geertz pernah lama meneliti Bali. Dalam banyak tulisannya ia menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Bali dipenuhi oleh sistem simbol yang kompleks. Upacara, tarian, cerita rakyat, bahkan hubungan sosial sehari-hari sering mengandung makna simbolik yang dalam.

Bagi Geertz, agama dan kepercayaan bukan hanya soal iman, tetapi juga cara manusia memberi makna pada dunia yang sering terasa membingungkan.

Mungkin itu juga yang terjadi pada mimpi. Mimpi adalah ruang di mana pikiran kita bekerja tanpa sensor yang ketat dari kesadaran. Ia bisa menyusun kembali pengalaman hidup, rasa takut, harapan, bahkan kenangan lama yang tidak lagi kita ingat dalam keadaan sadar. Karena itu tidak mengherankan jika banyak kebudayaan memberi tempat khusus pada mimpi.

Di Bali, orang tua sering mengatakan bahwa mimpi kadang membawa pesan. Tidak semua mimpi penting, tentu saja. Banyak mimpi hanya serpihan dari aktivitas pikiran sehari-hari. Namun ada mimpi tertentu yang terasa berbeda—lebih terang, lebih jelas, dan meninggalkan kesan yang kuat setelah kita bangun.

Mimpi seperti itulah yang sering dianggap memiliki makna. Saya teringat pada cerita-cerita lama tentang para balian atau penyembuh tradisional di Bali. Banyak dari mereka mengatakan bahwa kemampuan menyembuhkan sering datang melalui mimpi.

Dalam mimpi mereka bertemu guru spiritual, leluhur, atau sosok yang memberi petunjuk tentang ramuan obat dan cara mengobati orang sakit.

Kisah seperti ini tentu tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. Namun menariknya, cerita serupa muncul di banyak kebudayaan lain di dunia. Dalam masyarakat adat di Amerika, Afrika, hingga Asia, mimpi sering dianggap sebagai tempat seseorang menerima panggilan untuk menjadi penyembuh.

Antropolog melihat fenomena ini bukan semata-mata sebagai soal benar atau salah, melainkan sebagai bagian dari struktur budaya yang memberi makna pada pengalaman manusia. Dengan kata lain, mimpi menjadi bahasa simbolik yang dipakai masyarakat untuk memahami proses batin yang kompleks.

Beberapa tahun lalu saya pernah membaca tulisan dari psikiater Bali, Luh Ketut Suryani. Ia banyak meneliti hubungan antara kepercayaan tradisional Bali dengan kesehatan mental.

Menurut Suryani, dalam banyak kasus gangguan psikologis di Bali, pengalaman spiritual tidak bisa begitu saja dihapus dari cara orang memahami dirinya sendiri. Jika dokter hanya memakai pendekatan medis tanpa memahami latar budaya pasien, proses penyembuhan sering tidak berjalan dengan baik.

Artinya, pengalaman spiritual, termasuk mimpi, bagi sebagian orang memiliki fungsi terapeutik. Bukan karena mimpi itu secara harfiah menyembuhkan penyakit, tetapi karena ia membantu seseorang menyusun kembali keseimbangan batin.

Mungkin itulah yang saya alami. Bukan perempuan dalam mimpi itu yang menyembuhkan saya secara literal. Mungkin yang terjadi adalah tubuh dan pikiran saya akhirnya menemukan cara untuk beristirahat setelah lama berada dalam tekanan.

Namun simbol yang muncul dalam mimpi itu—perempuan penyembuh, padepokan, dan gerakan menotok di punggung—memberi bentuk pada proses pemulihan tersebut. Ada sesuatu yang menarik tentang sosok perempuan dalam mimpi saya.

Dalam banyak tradisi spiritual di Nusantara, perempuan sering diasosiasikan dengan energi penyembuhan. Banyak balian, dukun, atau tabib perempuan yang dikenal memiliki kepekaan batin yang kuat.

Dalam cerita rakyat Bali, kita juga mengenal tokoh-tokoh perempuan dengan kekuatan spiritual yang besar—baik yang digunakan untuk kebaikan maupun untuk kehancuran.

Simbol perempuan dalam mimpi sering dihubungkan dengan aspek intuitif dari diri manusia, yakni, bagian dari diri kita yang memahami sesuatu tanpa harus menjelaskannya dengan kata-kata.

Mungkin perempuan dalam mimpi itu bukan orang lain. Mungkin ia adalah bagian dari diri saya sendiri yang selama ini saya abaikan. Bagian yang tahu bahwa tubuh saya sedang lelah, yang meminta saya berhenti sejenak.

Hidup modern sering membuat kita terlalu sibuk dengan dunia sekala. Kita bekerja, menulis, membaca berita, mengejar tenggat, memikirkan uang, memikirkan masa depan. Semua itu penting, tentu saja. Namun dalam kesibukan itu, kita sering lupa bahwa tubuh dan pikiran memiliki batas.

Ketika batas itu terlampaui, tubuh memberi sinyal, seperti rasa lelah, ruam, insomnia, atau kegelisahan yang sulit dijelaskan. Barangkali mimpi adalah salah satu cara tubuh berbicara kepada kita. Ia tidak menggunakan bahasa logika, tetapi bahasa simbol.

Dan kadang simbol itu muncul dalam bentuk yang aneh; padepokan yang tidak pernah kita kunjungi, guru yang tidak pernah kita kenal, atau perempuan penyembuh yang tiba-tiba datang dari suatu tempat yang tidak kita pahami.

Saya tidak berniat mengajak siapa pun percaya bahwa mimpi saya adalah pengalaman mistik yang luar biasa. Tidak. Saya justru lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih sederhana, seperti, mengapa pengalaman seperti ini terasa begitu nyata bagi manusia? Mengapa mimpi kadang bisa memengaruhi perasaan kita sepanjang hari? Mengapa setelah mimpi tertentu kita merasa lega, sedih, atau bahkan tercerahkan?

Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya sudah lama menarik perhatian para ilmuwan, psikolog, dan antropolog. Namun sampai sekarang, mimpi tetap menjadi salah satu misteri paling menarik dalam kehidupan manusia.

Bagi saya pribadi, mimpi tentang perempuan penyembuh itu menjadi pengingat kecil bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan secara tuntas. Ada pengalaman yang cukup kita rasakan saja. Selain itu, ada juga pengalaman yang tidak perlu dibuktikan kepada siapa pun. Yang penting adalah bagaimana pengalaman itu membuat kita lebih peka terhadap diri sendiri.

Setelah mimpi itu, saya mencoba memperlambat ritme hidup. Tidur lebih cukup, mengurangi pekerjaan yang tidak terlalu penting, dan memberi ruang bagi tubuh untuk beristirahat. Barangkali itu bentuk penyembuhan yang paling sederhana.

Bukan melalui ritual yang rumit, atau melalui kekuatan gaib yang spektakuler. Tetapi melalui kesadaran bahwa kita juga manusia yang bisa lelah. Saya masih belum tahu siapa perempuan dalam mimpi itu. Namun saya bersyukur ia datang—entah sebagai simbol, entah sebagai bayangan dari pikiran saya sendiri. Karena setelah ia menotok punggung saya dalam mimpi, sesuatu di dalam diri saya terasa berubah. Tubuh saya terasa lebih ringan. Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, saya merasa benar-benar ingin tidur lagi. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Next Post

Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co