25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Muhammad Khairu Rahman by Muhammad Khairu Rahman
March 12, 2026
in Esai
Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Fenomena victim blaming — yaitu kecenderungan sosial untuk menyalahkan korban atas kekerasan atau kejahatan yang menimpa mereka — bukan sekadar istilah populer di media sosial. Ia merupakan realitas psikologis dan sosial yang berakar kuat dalam struktur budaya dan sistem hukum Indonesia, dan terbukti berdampak serius terhadap dinamika pelaporan, penegakan hukum, dan kesejahteraan psikologis korban. Victim blaming tidak hanya memperparah penderitaan individu korban, tetapi juga mencerminkan kegagalan kolektif masyarakat dalam menanggapi kekerasan secara adil dan empatik.

Statistik resmi menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi tingkat kekerasan terhadap perempuan yang sangat tinggi, yang menjadi konteks penting dari praktik victim blaming. Menurut Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), sepanjang tahun 2024 tercatat 330.097 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan—angka ini meningkat sekitar 14,17 persen dari tahun sebelumnya. Data secara keseluruhan menunjukkan bahwa jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan mencapai 445.502 kasus, termasuk kekerasan berbasis gender dan kasus-kasus lain yang belum diklasifikasikan secara khusus, menggambarkan fenomena kekerasan yang begitu masif di Indonesia.

Dari laporan tersebut terlihat bahwa kekerasan seksual merupakan bentuk kekerasan tertinggi yang melaporkan korban perempuan, baik di ruang publik maupun domestik. Misalnya, di periode Januari–Juni 2024, catatan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPPA) menunjukkan ribuan kasus kekerasan dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, dan kekerasan seksual menjadi jenis yang paling banyak dilaporkan dalam periode itu.

Namun angka-angka ini hanyalah bagian kecil dari realitas kekerasan yang sesungguhnya. Banyak studi dan organisasi sosial menyebut data resmi kemungkinan jauh di bawah jumlah kasus yang sebenarnya terjadi karena keberadaan underreporting, yakni kecenderungan korban tidak melapor akibat ketakutan, stigma sosial, atau kurangnya kepercayaan pada sistem hukum dan perlindungan. Selain itu, data yang dilaporkan melalui lembaga formal seringkali tidak menangkap banyak bentuk kekerasan yang dialami perempuan di ranah domestik atau online — dua medan yang sangat rawan pelecehan tetapi minim dokumentasi hukum.

Dalam konteks data besar kekerasan terhadap perempuan dan anak ini, victim blaming berfungsi sebagai mekanisme sosial yang menghambat pelaporan, menyulitkan pemulihan psikologis korban, dan membingkai pengalaman kekerasan sebagai akibat kelakuan atau pilihan pribadi korban, bukan kesalahan pelaku. Penelitian di lingkungan akademis mendukung fakta ini: studi kuantitatif terhadap mahasiswa Indonesia menunjukkan bahwa kepercayaan pada “Just World Belief” — keyakinan bahwa dunia ini adil dan orang mendapatkan apa yang layak — berkaitan signifikan dengan kecenderungan untuk menyalahkan korban. Studi ini juga menemukan bahwa korban laki-laki cenderung menerima lebih banyak sikap victim blaming dibanding korban perempuan, meskipun konteks kekerasan mungkin sama.

Kajian lain yang dipublikasikan dalam jurnal internasional juga menunjukkan bahwa budaya patriarki dan mitos-mitos kekerasan seksual (modern rape myths) merupakan prediktor kuat bagi perilaku menyalahkan korban di Indonesia. Menurut peneliti, tingkat penerimaan masyarakat terhadap narasi bahwa korban memicu kekerasan dengan perilaku atau karakter mereka sendiri adalah salah satu faktor utama yang memperkuat budaya victim blaming.

Dalam dinamika media, fenomena victim blaming juga memperlihatkan pola yang mengkhawatirkan. Penelitian eksperimental tentang framing pemberitaan media menemukan bahwa ketika berita lebih menonjolkan kehidupan atau perilaku korban, tanpa konteks struktur tindakan kekerasan dan kesalahan pelaku, kecenderungan masyarakat untuk menyalahkan korban justru meningkat. Hal ini menunjukkan adanya hubungan langsung antara cara media membingkai sebuah peristiwa dengan persepsi publik terhadap korban.

Akibat dari praktik victim blaming ini bersifat multidimensional dan berdampak panjang. Secara psikologis, korban kekerasan tidak hanya mengalami trauma akibat tindakan fisik yang menimpa mereka tetapi juga mengalami “viktimisasi sekunder” ketika lingkungan sosial, termasuk keluarga, komunitas, dan media, memberi komentar yang mempermalukan atau menyalahkan mereka. Literatur psikologi menunjukkan bahwa victim blaming memperburuk kondisi psikologis korban dengan meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan menghambat proses pemulihan, karena korban merasa tidak didukung dan dipertanyakan kredibilitasnya.

Pengaruh victim blaming juga signifikan terhadap sistem hukum. Penelitian terhadap penegak hukum di Indonesia — termasuk aparat kepolisian — menunjukkan bahwa bias dan stereotip budaya yang disfungsional kerap terinternalisasi dalam penyelidikan kasus kekerasan seksual. Dalam beberapa kasus, aparat bahkan mempertanyakan kredibilitas korban berdasarkan pakaian, perilaku, atau pilihan pribadi mereka, sehingga proses hukum menjadi tidak adil dan korban lebih sulit memperoleh keadilan. Studi ini menekankan kebutuhan mendesak akan pelatihan sensitif gender dan akuntabilitas yang lebih kuat dalam institusi penegak hukum untuk mengatasi problem ini.

Meski demikian, realitas data kekerasan yang tinggi serta kecenderungan sosial untuk menyalahkan korban tidak berarti kondisi ini tidak memiliki peluang perbaikan. Di tingkat kebijakan hukum, Indonesia telah mengalami kemajuan penting dalam beberapa tahun terakhir. Disahkannya Undang‑Undang No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) menunjukkan bahwa negara memberi landasan hukum yang lebih kuat untuk melindungi korban dan menghukum pelaku secara tegas. UU ini mencakup berbagai perbuatan kekerasan seksual, termasuk pelecehan dan kekerasan berbasis teknologi, dan merupakan instrumen yang vital dalam menghadapi fenomena kekerasan yang selama ini sering tidak diperlakukan secara komprehensif oleh hukum pidana umum. Selain itu, adanya aturan turunan seperti Peraturan Presiden tentang layanan terpadu dan pelatihan aparat penegak hukum menunjukkan upaya struktural untuk memperbaiki respons terhadap kekerasan.

Namun kemajuan hukum ini harus diimbangi dengan perubahan budaya sosial yang jauh lebih mendalam. Pendidikan kesetaraan gender dan literasi hukum sejak usia dini bisa membantu menyingkirkan mitos-mitos berbahaya yang mendorong victim blaming. Media massa juga memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk menyampaikan pemberitaan yang berimbang, berfokus pada kesalahan pelaku dan dampak sistemik kekerasan, bukan sekadar menyoroti kehidupan atau tingkah laku korban.

Dalam kerangka kolektif, masyarakat perlu menyadari bahwa victim blaming bukanlah fenomena netral atau sekadar kebiasaan berbicara. Ia merupakan manifestasi dari norma sosial yang merugikan korban dan memelihara kebisuan terhadap kekerasan. Bila budaya sosial terus menyalahkan korban dan melupakan pelaku, maka struktur moral dan hukum negara akan melemah, menciptakan ruang aman bagi tindakan kekerasan untuk terus berlangsung tanpa konsekuensi yang setimpal. Transformasi menuju sistem sosial yang adil hanya bisa terjadi ketika respon pertama terhadap korban adalah empati, dukungan, dan keadilan—bukan pertanyaan tentang apa yang mereka lakukan atau pantas menerima perlakuan itu. [T]

Penulis: Muhammad Khairu Rahman
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekerasan seksualmedia sosialvictim blaming
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harimu Terasa Kacau? Mungkin Karena Lagi ‘Mercury in Retrograde’

Next Post

Diobati Perempuan Penyembuh

Muhammad Khairu Rahman

Muhammad Khairu Rahman

Mahasiswa Fakultas Syariah, Program Studi Hukum Tatanegara, Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Diobati Perempuan Penyembuh

Diobati Perempuan Penyembuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co