4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Muhammad Khairu Rahman by Muhammad Khairu Rahman
March 12, 2026
in Esai
Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Fenomena victim blaming — yaitu kecenderungan sosial untuk menyalahkan korban atas kekerasan atau kejahatan yang menimpa mereka — bukan sekadar istilah populer di media sosial. Ia merupakan realitas psikologis dan sosial yang berakar kuat dalam struktur budaya dan sistem hukum Indonesia, dan terbukti berdampak serius terhadap dinamika pelaporan, penegakan hukum, dan kesejahteraan psikologis korban. Victim blaming tidak hanya memperparah penderitaan individu korban, tetapi juga mencerminkan kegagalan kolektif masyarakat dalam menanggapi kekerasan secara adil dan empatik.

Statistik resmi menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi tingkat kekerasan terhadap perempuan yang sangat tinggi, yang menjadi konteks penting dari praktik victim blaming. Menurut Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), sepanjang tahun 2024 tercatat 330.097 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan—angka ini meningkat sekitar 14,17 persen dari tahun sebelumnya. Data secara keseluruhan menunjukkan bahwa jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan mencapai 445.502 kasus, termasuk kekerasan berbasis gender dan kasus-kasus lain yang belum diklasifikasikan secara khusus, menggambarkan fenomena kekerasan yang begitu masif di Indonesia.

Dari laporan tersebut terlihat bahwa kekerasan seksual merupakan bentuk kekerasan tertinggi yang melaporkan korban perempuan, baik di ruang publik maupun domestik. Misalnya, di periode Januari–Juni 2024, catatan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPPA) menunjukkan ribuan kasus kekerasan dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, dan kekerasan seksual menjadi jenis yang paling banyak dilaporkan dalam periode itu.

Namun angka-angka ini hanyalah bagian kecil dari realitas kekerasan yang sesungguhnya. Banyak studi dan organisasi sosial menyebut data resmi kemungkinan jauh di bawah jumlah kasus yang sebenarnya terjadi karena keberadaan underreporting, yakni kecenderungan korban tidak melapor akibat ketakutan, stigma sosial, atau kurangnya kepercayaan pada sistem hukum dan perlindungan. Selain itu, data yang dilaporkan melalui lembaga formal seringkali tidak menangkap banyak bentuk kekerasan yang dialami perempuan di ranah domestik atau online — dua medan yang sangat rawan pelecehan tetapi minim dokumentasi hukum.

Dalam konteks data besar kekerasan terhadap perempuan dan anak ini, victim blaming berfungsi sebagai mekanisme sosial yang menghambat pelaporan, menyulitkan pemulihan psikologis korban, dan membingkai pengalaman kekerasan sebagai akibat kelakuan atau pilihan pribadi korban, bukan kesalahan pelaku. Penelitian di lingkungan akademis mendukung fakta ini: studi kuantitatif terhadap mahasiswa Indonesia menunjukkan bahwa kepercayaan pada “Just World Belief” — keyakinan bahwa dunia ini adil dan orang mendapatkan apa yang layak — berkaitan signifikan dengan kecenderungan untuk menyalahkan korban. Studi ini juga menemukan bahwa korban laki-laki cenderung menerima lebih banyak sikap victim blaming dibanding korban perempuan, meskipun konteks kekerasan mungkin sama.

Kajian lain yang dipublikasikan dalam jurnal internasional juga menunjukkan bahwa budaya patriarki dan mitos-mitos kekerasan seksual (modern rape myths) merupakan prediktor kuat bagi perilaku menyalahkan korban di Indonesia. Menurut peneliti, tingkat penerimaan masyarakat terhadap narasi bahwa korban memicu kekerasan dengan perilaku atau karakter mereka sendiri adalah salah satu faktor utama yang memperkuat budaya victim blaming.

Dalam dinamika media, fenomena victim blaming juga memperlihatkan pola yang mengkhawatirkan. Penelitian eksperimental tentang framing pemberitaan media menemukan bahwa ketika berita lebih menonjolkan kehidupan atau perilaku korban, tanpa konteks struktur tindakan kekerasan dan kesalahan pelaku, kecenderungan masyarakat untuk menyalahkan korban justru meningkat. Hal ini menunjukkan adanya hubungan langsung antara cara media membingkai sebuah peristiwa dengan persepsi publik terhadap korban.

Akibat dari praktik victim blaming ini bersifat multidimensional dan berdampak panjang. Secara psikologis, korban kekerasan tidak hanya mengalami trauma akibat tindakan fisik yang menimpa mereka tetapi juga mengalami “viktimisasi sekunder” ketika lingkungan sosial, termasuk keluarga, komunitas, dan media, memberi komentar yang mempermalukan atau menyalahkan mereka. Literatur psikologi menunjukkan bahwa victim blaming memperburuk kondisi psikologis korban dengan meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan menghambat proses pemulihan, karena korban merasa tidak didukung dan dipertanyakan kredibilitasnya.

Pengaruh victim blaming juga signifikan terhadap sistem hukum. Penelitian terhadap penegak hukum di Indonesia — termasuk aparat kepolisian — menunjukkan bahwa bias dan stereotip budaya yang disfungsional kerap terinternalisasi dalam penyelidikan kasus kekerasan seksual. Dalam beberapa kasus, aparat bahkan mempertanyakan kredibilitas korban berdasarkan pakaian, perilaku, atau pilihan pribadi mereka, sehingga proses hukum menjadi tidak adil dan korban lebih sulit memperoleh keadilan. Studi ini menekankan kebutuhan mendesak akan pelatihan sensitif gender dan akuntabilitas yang lebih kuat dalam institusi penegak hukum untuk mengatasi problem ini.

Meski demikian, realitas data kekerasan yang tinggi serta kecenderungan sosial untuk menyalahkan korban tidak berarti kondisi ini tidak memiliki peluang perbaikan. Di tingkat kebijakan hukum, Indonesia telah mengalami kemajuan penting dalam beberapa tahun terakhir. Disahkannya Undang‑Undang No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) menunjukkan bahwa negara memberi landasan hukum yang lebih kuat untuk melindungi korban dan menghukum pelaku secara tegas. UU ini mencakup berbagai perbuatan kekerasan seksual, termasuk pelecehan dan kekerasan berbasis teknologi, dan merupakan instrumen yang vital dalam menghadapi fenomena kekerasan yang selama ini sering tidak diperlakukan secara komprehensif oleh hukum pidana umum. Selain itu, adanya aturan turunan seperti Peraturan Presiden tentang layanan terpadu dan pelatihan aparat penegak hukum menunjukkan upaya struktural untuk memperbaiki respons terhadap kekerasan.

Namun kemajuan hukum ini harus diimbangi dengan perubahan budaya sosial yang jauh lebih mendalam. Pendidikan kesetaraan gender dan literasi hukum sejak usia dini bisa membantu menyingkirkan mitos-mitos berbahaya yang mendorong victim blaming. Media massa juga memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk menyampaikan pemberitaan yang berimbang, berfokus pada kesalahan pelaku dan dampak sistemik kekerasan, bukan sekadar menyoroti kehidupan atau tingkah laku korban.

Dalam kerangka kolektif, masyarakat perlu menyadari bahwa victim blaming bukanlah fenomena netral atau sekadar kebiasaan berbicara. Ia merupakan manifestasi dari norma sosial yang merugikan korban dan memelihara kebisuan terhadap kekerasan. Bila budaya sosial terus menyalahkan korban dan melupakan pelaku, maka struktur moral dan hukum negara akan melemah, menciptakan ruang aman bagi tindakan kekerasan untuk terus berlangsung tanpa konsekuensi yang setimpal. Transformasi menuju sistem sosial yang adil hanya bisa terjadi ketika respon pertama terhadap korban adalah empati, dukungan, dan keadilan—bukan pertanyaan tentang apa yang mereka lakukan atau pantas menerima perlakuan itu. [T]

Penulis: Muhammad Khairu Rahman
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekerasan seksualmedia sosialvictim blaming
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harimu Terasa Kacau? Mungkin Karena Lagi ‘Mercury in Retrograde’

Next Post

Diobati Perempuan Penyembuh

Muhammad Khairu Rahman

Muhammad Khairu Rahman

Mahasiswa Fakultas Syariah, Program Studi Hukum Tatanegara, Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Diobati Perempuan Penyembuh

Diobati Perempuan Penyembuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co