4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Muhammad Khairu Rahman by Muhammad Khairu Rahman
March 12, 2026
in Esai
Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Fenomena victim blaming — yaitu kecenderungan sosial untuk menyalahkan korban atas kekerasan atau kejahatan yang menimpa mereka — bukan sekadar istilah populer di media sosial. Ia merupakan realitas psikologis dan sosial yang berakar kuat dalam struktur budaya dan sistem hukum Indonesia, dan terbukti berdampak serius terhadap dinamika pelaporan, penegakan hukum, dan kesejahteraan psikologis korban. Victim blaming tidak hanya memperparah penderitaan individu korban, tetapi juga mencerminkan kegagalan kolektif masyarakat dalam menanggapi kekerasan secara adil dan empatik.

Statistik resmi menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi tingkat kekerasan terhadap perempuan yang sangat tinggi, yang menjadi konteks penting dari praktik victim blaming. Menurut Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), sepanjang tahun 2024 tercatat 330.097 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan—angka ini meningkat sekitar 14,17 persen dari tahun sebelumnya. Data secara keseluruhan menunjukkan bahwa jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan mencapai 445.502 kasus, termasuk kekerasan berbasis gender dan kasus-kasus lain yang belum diklasifikasikan secara khusus, menggambarkan fenomena kekerasan yang begitu masif di Indonesia.

Dari laporan tersebut terlihat bahwa kekerasan seksual merupakan bentuk kekerasan tertinggi yang melaporkan korban perempuan, baik di ruang publik maupun domestik. Misalnya, di periode Januari–Juni 2024, catatan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPPA) menunjukkan ribuan kasus kekerasan dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, dan kekerasan seksual menjadi jenis yang paling banyak dilaporkan dalam periode itu.

Namun angka-angka ini hanyalah bagian kecil dari realitas kekerasan yang sesungguhnya. Banyak studi dan organisasi sosial menyebut data resmi kemungkinan jauh di bawah jumlah kasus yang sebenarnya terjadi karena keberadaan underreporting, yakni kecenderungan korban tidak melapor akibat ketakutan, stigma sosial, atau kurangnya kepercayaan pada sistem hukum dan perlindungan. Selain itu, data yang dilaporkan melalui lembaga formal seringkali tidak menangkap banyak bentuk kekerasan yang dialami perempuan di ranah domestik atau online — dua medan yang sangat rawan pelecehan tetapi minim dokumentasi hukum.

Dalam konteks data besar kekerasan terhadap perempuan dan anak ini, victim blaming berfungsi sebagai mekanisme sosial yang menghambat pelaporan, menyulitkan pemulihan psikologis korban, dan membingkai pengalaman kekerasan sebagai akibat kelakuan atau pilihan pribadi korban, bukan kesalahan pelaku. Penelitian di lingkungan akademis mendukung fakta ini: studi kuantitatif terhadap mahasiswa Indonesia menunjukkan bahwa kepercayaan pada “Just World Belief” — keyakinan bahwa dunia ini adil dan orang mendapatkan apa yang layak — berkaitan signifikan dengan kecenderungan untuk menyalahkan korban. Studi ini juga menemukan bahwa korban laki-laki cenderung menerima lebih banyak sikap victim blaming dibanding korban perempuan, meskipun konteks kekerasan mungkin sama.

Kajian lain yang dipublikasikan dalam jurnal internasional juga menunjukkan bahwa budaya patriarki dan mitos-mitos kekerasan seksual (modern rape myths) merupakan prediktor kuat bagi perilaku menyalahkan korban di Indonesia. Menurut peneliti, tingkat penerimaan masyarakat terhadap narasi bahwa korban memicu kekerasan dengan perilaku atau karakter mereka sendiri adalah salah satu faktor utama yang memperkuat budaya victim blaming.

Dalam dinamika media, fenomena victim blaming juga memperlihatkan pola yang mengkhawatirkan. Penelitian eksperimental tentang framing pemberitaan media menemukan bahwa ketika berita lebih menonjolkan kehidupan atau perilaku korban, tanpa konteks struktur tindakan kekerasan dan kesalahan pelaku, kecenderungan masyarakat untuk menyalahkan korban justru meningkat. Hal ini menunjukkan adanya hubungan langsung antara cara media membingkai sebuah peristiwa dengan persepsi publik terhadap korban.

Akibat dari praktik victim blaming ini bersifat multidimensional dan berdampak panjang. Secara psikologis, korban kekerasan tidak hanya mengalami trauma akibat tindakan fisik yang menimpa mereka tetapi juga mengalami “viktimisasi sekunder” ketika lingkungan sosial, termasuk keluarga, komunitas, dan media, memberi komentar yang mempermalukan atau menyalahkan mereka. Literatur psikologi menunjukkan bahwa victim blaming memperburuk kondisi psikologis korban dengan meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan menghambat proses pemulihan, karena korban merasa tidak didukung dan dipertanyakan kredibilitasnya.

Pengaruh victim blaming juga signifikan terhadap sistem hukum. Penelitian terhadap penegak hukum di Indonesia — termasuk aparat kepolisian — menunjukkan bahwa bias dan stereotip budaya yang disfungsional kerap terinternalisasi dalam penyelidikan kasus kekerasan seksual. Dalam beberapa kasus, aparat bahkan mempertanyakan kredibilitas korban berdasarkan pakaian, perilaku, atau pilihan pribadi mereka, sehingga proses hukum menjadi tidak adil dan korban lebih sulit memperoleh keadilan. Studi ini menekankan kebutuhan mendesak akan pelatihan sensitif gender dan akuntabilitas yang lebih kuat dalam institusi penegak hukum untuk mengatasi problem ini.

Meski demikian, realitas data kekerasan yang tinggi serta kecenderungan sosial untuk menyalahkan korban tidak berarti kondisi ini tidak memiliki peluang perbaikan. Di tingkat kebijakan hukum, Indonesia telah mengalami kemajuan penting dalam beberapa tahun terakhir. Disahkannya Undang‑Undang No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) menunjukkan bahwa negara memberi landasan hukum yang lebih kuat untuk melindungi korban dan menghukum pelaku secara tegas. UU ini mencakup berbagai perbuatan kekerasan seksual, termasuk pelecehan dan kekerasan berbasis teknologi, dan merupakan instrumen yang vital dalam menghadapi fenomena kekerasan yang selama ini sering tidak diperlakukan secara komprehensif oleh hukum pidana umum. Selain itu, adanya aturan turunan seperti Peraturan Presiden tentang layanan terpadu dan pelatihan aparat penegak hukum menunjukkan upaya struktural untuk memperbaiki respons terhadap kekerasan.

Namun kemajuan hukum ini harus diimbangi dengan perubahan budaya sosial yang jauh lebih mendalam. Pendidikan kesetaraan gender dan literasi hukum sejak usia dini bisa membantu menyingkirkan mitos-mitos berbahaya yang mendorong victim blaming. Media massa juga memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk menyampaikan pemberitaan yang berimbang, berfokus pada kesalahan pelaku dan dampak sistemik kekerasan, bukan sekadar menyoroti kehidupan atau tingkah laku korban.

Dalam kerangka kolektif, masyarakat perlu menyadari bahwa victim blaming bukanlah fenomena netral atau sekadar kebiasaan berbicara. Ia merupakan manifestasi dari norma sosial yang merugikan korban dan memelihara kebisuan terhadap kekerasan. Bila budaya sosial terus menyalahkan korban dan melupakan pelaku, maka struktur moral dan hukum negara akan melemah, menciptakan ruang aman bagi tindakan kekerasan untuk terus berlangsung tanpa konsekuensi yang setimpal. Transformasi menuju sistem sosial yang adil hanya bisa terjadi ketika respon pertama terhadap korban adalah empati, dukungan, dan keadilan—bukan pertanyaan tentang apa yang mereka lakukan atau pantas menerima perlakuan itu. [T]

Penulis: Muhammad Khairu Rahman
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekerasan seksualmedia sosialvictim blaming
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harimu Terasa Kacau? Mungkin Karena Lagi ‘Mercury in Retrograde’

Next Post

Diobati Perempuan Penyembuh

Muhammad Khairu Rahman

Muhammad Khairu Rahman

Mahasiswa Fakultas Syariah, Program Studi Hukum Tatanegara, Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Diobati Perempuan Penyembuh

Diobati Perempuan Penyembuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co