25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

Nur Kamilia by Nur Kamilia
March 10, 2026
in Esai
Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERTEMUAN antara malam Takbiran (Idul Fitri) dan hari raya Nyepi di Bali bukan sekadar fenomena kalender yang langka. Peristiwa ini adalah ujian sekaligus etalase bagi model toleransi beragama di Indonesia. Ketika umat Muslim bersiap merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa, di saat yang sama umat Hindu di Bali sedang memasuki fase Catur Brata Penyepian. Di titik inilah, terjadi sebuah negosiasi ruang publik yang menarik untuk dibedah secara mendalam.

Di Bali, perayaan Takbiran yang biasanya identik dengan syiar vokal dan mobilitas massa, mengalami transformasi bentuk menjadi apa yang saya sebut sebagai Takbiran dalam Gening. Gening atau keheningan yang jernih, menjadi bingkai bagi umat Muslim untuk menjalankan ibadahnya tanpa harus mencederai kesucian ritual tetangganya. Ini bukan soal pembatasan hak beragama, melainkan sebuah laku ngempet raga menahan ego kolektif demi harmoni sosial yang lebih besar.

Redefinisi Syiar dalam Ruang Privat

Secara tradisional, Takbiran dipahami sebagai ekspresi syukur yang disyiarkan secara luas. Namun, konteks sosiokultural Bali menuntut redefinisi terhadap cara syiar itu disampaikan. Ketika Nyepi berlangsung, seluruh aktivitas luar ruang dihentikan, termasuk penggunaan pengeras suara dan cahaya yang mencolok. Dalam kondisi ini, umat Muslim di Bali melakukan adaptasi sosioreligius yang sangat taktis.

Takbiran tetap dilaksanakan, namun volumenya ditarik ke dalam ruang-ruang privat seperti masjid atau rumah tinggal dengan mematuhi aturan tanpa pengeras suara luar (speaker luar). Secara teologis, hal ini mengembalikan esensi takbir sebagai bentuk komunikasi vertikal yang intim antara hamba dan Sang Pencipta. Syiar tidak lagi diukur dari seberapa jauh suara itu terdengar, melainkan seberapa dalam makna itu meresap ke dalam sanubari jemaah.

Adaptasi ini menunjukkan bahwa hukum Islam di Bali bersifat fleksibel dalam bingkai Desa Kala Patra (tempat, waktu, dan keadaan). Umat Muslim memahami bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak harus bertabrakan dengan penghormatan terhadap tatanan lokal. Keheningan Nyepi justru memberikan ruang akustik yang unik; di mana doa-doa yang dilantunkan dengan lirih justru terasa lebih bertenaga karena tidak terdistorsi oleh hiruk-pikuk duniawi.

Mekanisme Toleransi Berbasis Kesepakatan Kolektif

Toleransi yang terjadi di Bali saat Takbiran bertemu Nyepi bukanlah hasil dari pembiaran yang pasif, melainkan buah dari manajemen konflik yang matang. Di tingkat struktural, peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Majelis Desa Adat (MDA) sangat krusial dalam menyusun seruan bersama. Namun, keberhasilan sesungguhnya ada pada koordinasi di tingkat akar rumput, yakni antara Takmir Masjid dan Pecalang.

Ada mekanisme teknis yang dijalankan: jemaah yang ingin melaksanakan salat Idul Fitri atau Takbiran di masjid biasanya diperbolehkan dengan catatan harus berjalan kaki, menggunakan pencahayaan seminimal mungkin, dan tidak membuat kegaduhan di jalanan. Di sini, Pecalang bukan bertugas untuk melarang, melainkan mengawal agar jemaah bisa beribadah dengan aman tanpa mengganggu ketenangan lingkungan yang sedang melaksanakan Nyepi.

Inilah yang disebut sebagai Toleransi Timbal Balik. Umat Hindu memberikan ruang bagi umat Muslim untuk tetap menjalankan kewajiban agamanya di tengah hari suci Hindu, sementara umat Muslim membalasnya dengan cara menyesuaikan teknis ibadah agar tidak melanggar prinsip Catur Brata Penyepian. Hubungan ini adalah kontrak sosial yang telah teruji selama puluhan tahun di Bali, membuktikan bahwa benturan kepentingan bisa dihindari melalui dialog yang setara.

Menyama dan Integrasi Sosial

Secara sosiologis, fenomena ini memperkuat ikatan Menyama (persaudaraan) yang menjadi fondasi masyarakat Bali. Toleransi di sini tidak dipandang sebagai beban atau pengorbanan salah satu pihak, melainkan sebagai investasi sosial. Umat Muslim yang melakukan ngempet raga (menahan diri) sebenarnya sedang menanam benih rasa hormat yang akan dipanen kembali dalam bentuk keamanan dan kenyamanan hidup berdampingan di masa depan.

Praktik ini juga menghapus stigma bahwa agama adalah faktor pemecah belah. Di Bali, agama justru menjadi alat integrasi melalui tradisi seperti Ngejot (berbagi makanan). Meskipun saat Nyepi aktivitas berbagi ini dibatasi oleh aturan tidak boleh keluar rumah, namun semangatnya tetap terasa. Saling pengertian yang terbangun saat malam Takbiran yang sunyi menciptakan rasa solidaritas yang kuat.

Pelajaran penting dari Bali adalah bahwa toleransi sejati membutuhkan kedewasaan emosional. Ia menuntut setiap pemeluk agama untuk mampu menempatkan diri dalam posisi orang lain. Ketika seorang Muslim memilih untuk tidak menyalakan pengeras suara saat Takbiran karena menghormati tetangganya yang sedang Nyepi, ia sedang mempraktikkan moderasi beragama dalam level yang paling konkret. Begitu pula saat masyarakat Hindu memberikan akses jalan bagi warga Muslim menuju masjid, mereka sedang menunjukkan wajah agama yang inklusif.

Pertemuan Takbiran dan Nyepi di Bali adalah sebuah pesan keras bagi bangsa ini: bahwa harmoni tidak memerlukan keseragaman, melainkan kesepakatan untuk saling memberi ruang. Keheningan di malam Takbiran tersebut tidak mengurangi esensi kemenangan Idul Fitri; sebaliknya, ia memurnikannya dari aspek-aspek selebrasi yang bersifat superfisial.

Bali telah membuktikan bahwa kedaulatan agama bisa berjalan beriringan dengan kedaulatan adat. Di bawah langit yang gelap tanpa polusi cahaya dan suara, Takbir dan Nyepi bersatu dalam satu tarikan napas kedamaian. Kemenangan sejati bagi umat Muslim di Bali bukan terletak pada meriahnya pawai, melainkan pada keberhasilan menjaga hati dan laku demi tegaknya kerukunan di tanah yang mereka pijak. Inilah wajah Indonesia yang kita cita-citakan: sebuah bangsa yang mampu menemukan titik temu di tengah perbedaan yang paling kontras sekalipun. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya NyepiIdul FitriLebaranogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

Next Post

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co