24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

Nur Kamilia by Nur Kamilia
March 10, 2026
in Esai
Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERTEMUAN antara malam Takbiran (Idul Fitri) dan hari raya Nyepi di Bali bukan sekadar fenomena kalender yang langka. Peristiwa ini adalah ujian sekaligus etalase bagi model toleransi beragama di Indonesia. Ketika umat Muslim bersiap merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa, di saat yang sama umat Hindu di Bali sedang memasuki fase Catur Brata Penyepian. Di titik inilah, terjadi sebuah negosiasi ruang publik yang menarik untuk dibedah secara mendalam.

Di Bali, perayaan Takbiran yang biasanya identik dengan syiar vokal dan mobilitas massa, mengalami transformasi bentuk menjadi apa yang saya sebut sebagai Takbiran dalam Gening. Gening atau keheningan yang jernih, menjadi bingkai bagi umat Muslim untuk menjalankan ibadahnya tanpa harus mencederai kesucian ritual tetangganya. Ini bukan soal pembatasan hak beragama, melainkan sebuah laku ngempet raga menahan ego kolektif demi harmoni sosial yang lebih besar.

Redefinisi Syiar dalam Ruang Privat

Secara tradisional, Takbiran dipahami sebagai ekspresi syukur yang disyiarkan secara luas. Namun, konteks sosiokultural Bali menuntut redefinisi terhadap cara syiar itu disampaikan. Ketika Nyepi berlangsung, seluruh aktivitas luar ruang dihentikan, termasuk penggunaan pengeras suara dan cahaya yang mencolok. Dalam kondisi ini, umat Muslim di Bali melakukan adaptasi sosioreligius yang sangat taktis.

Takbiran tetap dilaksanakan, namun volumenya ditarik ke dalam ruang-ruang privat seperti masjid atau rumah tinggal dengan mematuhi aturan tanpa pengeras suara luar (speaker luar). Secara teologis, hal ini mengembalikan esensi takbir sebagai bentuk komunikasi vertikal yang intim antara hamba dan Sang Pencipta. Syiar tidak lagi diukur dari seberapa jauh suara itu terdengar, melainkan seberapa dalam makna itu meresap ke dalam sanubari jemaah.

Adaptasi ini menunjukkan bahwa hukum Islam di Bali bersifat fleksibel dalam bingkai Desa Kala Patra (tempat, waktu, dan keadaan). Umat Muslim memahami bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak harus bertabrakan dengan penghormatan terhadap tatanan lokal. Keheningan Nyepi justru memberikan ruang akustik yang unik; di mana doa-doa yang dilantunkan dengan lirih justru terasa lebih bertenaga karena tidak terdistorsi oleh hiruk-pikuk duniawi.

Mekanisme Toleransi Berbasis Kesepakatan Kolektif

Toleransi yang terjadi di Bali saat Takbiran bertemu Nyepi bukanlah hasil dari pembiaran yang pasif, melainkan buah dari manajemen konflik yang matang. Di tingkat struktural, peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Majelis Desa Adat (MDA) sangat krusial dalam menyusun seruan bersama. Namun, keberhasilan sesungguhnya ada pada koordinasi di tingkat akar rumput, yakni antara Takmir Masjid dan Pecalang.

Ada mekanisme teknis yang dijalankan: jemaah yang ingin melaksanakan salat Idul Fitri atau Takbiran di masjid biasanya diperbolehkan dengan catatan harus berjalan kaki, menggunakan pencahayaan seminimal mungkin, dan tidak membuat kegaduhan di jalanan. Di sini, Pecalang bukan bertugas untuk melarang, melainkan mengawal agar jemaah bisa beribadah dengan aman tanpa mengganggu ketenangan lingkungan yang sedang melaksanakan Nyepi.

Inilah yang disebut sebagai Toleransi Timbal Balik. Umat Hindu memberikan ruang bagi umat Muslim untuk tetap menjalankan kewajiban agamanya di tengah hari suci Hindu, sementara umat Muslim membalasnya dengan cara menyesuaikan teknis ibadah agar tidak melanggar prinsip Catur Brata Penyepian. Hubungan ini adalah kontrak sosial yang telah teruji selama puluhan tahun di Bali, membuktikan bahwa benturan kepentingan bisa dihindari melalui dialog yang setara.

Menyama dan Integrasi Sosial

Secara sosiologis, fenomena ini memperkuat ikatan Menyama (persaudaraan) yang menjadi fondasi masyarakat Bali. Toleransi di sini tidak dipandang sebagai beban atau pengorbanan salah satu pihak, melainkan sebagai investasi sosial. Umat Muslim yang melakukan ngempet raga (menahan diri) sebenarnya sedang menanam benih rasa hormat yang akan dipanen kembali dalam bentuk keamanan dan kenyamanan hidup berdampingan di masa depan.

Praktik ini juga menghapus stigma bahwa agama adalah faktor pemecah belah. Di Bali, agama justru menjadi alat integrasi melalui tradisi seperti Ngejot (berbagi makanan). Meskipun saat Nyepi aktivitas berbagi ini dibatasi oleh aturan tidak boleh keluar rumah, namun semangatnya tetap terasa. Saling pengertian yang terbangun saat malam Takbiran yang sunyi menciptakan rasa solidaritas yang kuat.

Pelajaran penting dari Bali adalah bahwa toleransi sejati membutuhkan kedewasaan emosional. Ia menuntut setiap pemeluk agama untuk mampu menempatkan diri dalam posisi orang lain. Ketika seorang Muslim memilih untuk tidak menyalakan pengeras suara saat Takbiran karena menghormati tetangganya yang sedang Nyepi, ia sedang mempraktikkan moderasi beragama dalam level yang paling konkret. Begitu pula saat masyarakat Hindu memberikan akses jalan bagi warga Muslim menuju masjid, mereka sedang menunjukkan wajah agama yang inklusif.

Pertemuan Takbiran dan Nyepi di Bali adalah sebuah pesan keras bagi bangsa ini: bahwa harmoni tidak memerlukan keseragaman, melainkan kesepakatan untuk saling memberi ruang. Keheningan di malam Takbiran tersebut tidak mengurangi esensi kemenangan Idul Fitri; sebaliknya, ia memurnikannya dari aspek-aspek selebrasi yang bersifat superfisial.

Bali telah membuktikan bahwa kedaulatan agama bisa berjalan beriringan dengan kedaulatan adat. Di bawah langit yang gelap tanpa polusi cahaya dan suara, Takbir dan Nyepi bersatu dalam satu tarikan napas kedamaian. Kemenangan sejati bagi umat Muslim di Bali bukan terletak pada meriahnya pawai, melainkan pada keberhasilan menjaga hati dan laku demi tegaknya kerukunan di tanah yang mereka pijak. Inilah wajah Indonesia yang kita cita-citakan: sebuah bangsa yang mampu menemukan titik temu di tengah perbedaan yang paling kontras sekalipun. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya NyepiIdul FitriLebaranogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

Next Post

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co