24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

Ashlikhatul Fuaddah by Ashlikhatul Fuaddah
March 11, 2026
in Esai
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Ashlikhatul Fuaddah

LEBARAN tahun ini sepertinya akan terasa berbeda dari yang saya ingat waktu kecil. Bukan karena ketupat yang semakin jarang dibuat sendiri, bukan pula karena baju baru yang kini dipesan lewat aplikasi. Yang paling terasa berbeda adalah ritme kunjungannya, cara orang-orang saling bersilaturahmi kini telah berubah secara mendasar, dan perubahan itu berlangsung begitu pelan sehingga kita hampir tidak menyadarinya.

Dulu, pagi hari raya dimulai dengan salat Id, lalu dilanjutkan dengan perjalanan kaki yang melelahkan namun menyenangkan: dari rumah ke rumah, dari gang ke gang, dari RT satu ke RT sebelah. Setiap pintu diketuk, setiap kursi diduduki sebentar, setiap tangan dicium atau diguncang hangat. Ada kue nastar di meja, ada sirup merah di gelas, ada obrolan kecil yang sesungguhnya tidak kecil sama sekali karena di situlah sebuah hubungan sosial dipelihara, diperbarui, dan dijaga tetap hidup. Tradisi berkeliling rumah ke rumah itu bukan sekadar kewajiban adat, ia adalah proses komunikasi antarpersona yang kaya, intens, dan penuh makna.

Kini, pola itu bergeser. Di banyak kampung dan kompleks perumahan, masyarakat mulai bersepakat untuk “lebaran bersama”: seluruh warga berkumpul di satu tempat seperti lapangan, balai RT, atau halaman masjid pada satu waktu yang telah ditentukan. Semua datang sekaligus, bersalaman massal, berfoto bersama, lalu pulang. Efisien, praktis, dan terasa modern. Namun, ada sesuatu yang hilang di antara kepraktisan itu.

Dalam ilmu komunikasi, khususnya teori komunikasi antarpersona yang dikembangkan oleh Joseph DeVito (1989), kualitas sebuah hubungan tidak semata diukur dari frekuensi pertemuan, melainkan dari kedalaman dan keterbukaan proses komunikasi yang terjadi. DeVito menyebut sejumlah karakteristik komunikasi antarpersona yang efektif: kedekatan fisik, umpan balik yang langsung, pesan yang bersifat personal, serta kemampuan untuk membaca ekspresi nonverbal lawan bicara secara utuh.

Kepuasan Administratif

Tradisi berkunjung dari rumah ke rumah, bila ditelaah dari kerangka ini, sejatinya adalah praktik komunikasi antarpersona yang paling ideal. Ketika seseorang duduk di ruang tamu tetangganya, betapapun sebentar, terjadi pertukaran pesan yang tidak hanya verbal.

Ada jabat tangan yang menyampaikan kehangatan, ada tatapan yang membaca kesedihan atau kegembiraan, ada pertanyaan “bagaimana kabar orang tua?” yang sesungguhnya bukan basa-basi melainkan bentuk kepedulian nyata yang membutuhkan jawaban yang nyata pula. Kunjungan itu memberi ruang bagi terjadinya apa yang oleh para ahli komunikasi disebut sebagai “self-disclosure”, pengungkapan diri yang tidak akan pernah terjadi di tengah kerumunan lapangan yang ramai dan bising.

Pergeseran menuju format “kumpul bersama” ini sesungguhnya dapat dibaca pula melalui kacamata teori “Uses and Gratifications” yang digagas oleh Katz, Blumler, dan Gurevitch (1974). Dalam teori ini, individu memilih bentuk-bentuk komunikasi berdasarkan kebutuhan dan kepuasan yang ingin mereka capai.

Masyarakat kini tampaknya bergerak menuju “kepuasan administratif” dari silaturahmi: yang penting sudah bertemu, sudah bersalaman, sudah foto bersama sebagai bukti. Tanda centang pada daftar kewajiban sosial sudah terpenuhi.

Namun, kepuasan yang sesungguhnya dari silaturahmi, rasa dikenal, rasa dipedulikan, rasa menjadi bagian dari komunitas yang saling mengerti satu sama lain, justru tidak terpenuhi oleh format massal tersebut. Orang pulang dari “Lebaran bersama” dengan foto yang bagus di ponsel, tetapi tidak selalu dengan hati yang benar-benar telah bertemu dengan orang-orang di sekitarnya.

Mempertegas Identitas

Ada ironi yang menarik di sini. Di era ketika aplikasi pesan instan memungkinkan kita terhubung dengan siapa pun kapan pun, silaturahmi tatap muka justru semakin dipadatkan dan dipercepat. Seolah kita ingin meniru efisiensi dunia digital ke dalam dunia nyata. Kalau di WhatsApp kita bisa mengirim ucapan selamat ke ratusan orang dalam hitungan detik, maka di lapangan pun kita ingin “menyelesaikan” silaturahmi dengan seratus orang dalam satu jam.

Inilah yang dalam perspektif teori komunikasi antarpersona disebut sebagai “impersonal communication”, komunikasi yang secara fisik melibatkan banyak orang, tetapi secara psikologis dan emosional sangat dangkal. Kita hadir secara fisik, tetapi absen secara relasional.

Erving Goffman dalam teori Dramaturgi-nya mengingatkan bahwa setiap interaksi sosial adalah sebuah “pertunjukan” di mana kita memainkan peran tertentu di hadapan audiens. Dalam kunjungan dari rumah ke rumah, seseorang tampil sebagai “tetangga yang peduli”, “keponakan yang hormat”, “teman lama yang masih ingat”.

Setiap kunjungan adalah panggung kecil yang berbeda, dengan karakter yang sedikit berbeda, dengan cerita yang berbeda pula. Kekayaan peran ini, dan kekayaan relasional yang menyertainya, luruh ketika semua orang berkumpul di satu lapangan dan tampil hanya sebagai “warga RT yang hadir”.

Tentu saja pergeseran ini tidak sepenuhnya negatif. Format kumpul bersama memiliki keunggulannya sendiri: lebih inklusif bagi lansia yang kesulitan berkeliling, lebih hemat waktu dan tenaga, serta menciptakan rasa kebersamaan komunal yang berbeda karakternya. Ada kehangatan tersendiri ketika seluruh kampung berkumpul dalam satu momen yang sama. Dalam perspektif komunikasi kelompok, momen seperti ini justru mempertegas identitas kolektif sebuah komunitas.

Namun, yang perlu disadari adalah bahwa kedua format itu melayani kebutuhan komunikasi yang berbeda dan tidak bisa saling menggantikan. Kunjungan dari pintu ke pintu melayani kebutuhan komunikasi antarpersona yang personal dan mendalam; sementara kumpul bersama melayani kebutuhan komunikasi kelompok yang bersifat ritualistik dan identitas kolektif. Idealnya, keduanya berjalan beriringan, bukan yang satu menggantikan yang lain.

Di kampung-kampung yang masih menjaga tradisi berkeliling rumah ke rumah, ada sesuatu yang terasa berbeda. Hubungan antarwarga terasa lebih cair. Konflik kecil lebih mudah diselesaikan karena ada ruang untuk berbicara empat mata. Warga yang sedang berduka tahu bahwa kesedihannya dilihat dan diakui oleh tetangganya, bukan hanya melalui emotikon di grup WhatsApp. Ini bukan sentimentalisme belaka; ini adalah bukti nyata bahwa komunikasi antarpersona yang berkualitas memang berkontribusi pada kesehatan sosial sebuah komunitas.

Idulfitri, pada hakikatnya, adalah momen paling komunikatif dalam kalender sosial masyarakat Muslim Indonesia. Ia adalah ritual tahunan yang memperbarui ikatan sosial, memperbaiki relasi yang retak, dan menegaskan kembali posisi seseorang dalam jaringan komunitas yang lebih luas. Ketika ritual ini bergeser dari yang personal menjadi yang massal, dari yang mendalam menjadi yang dangkal, maka yang terancam bukan hanya sebuah tradisi, yang terancam adalah kualitas relasi sosial itu sendiri.

Tidak ada salahnya berkumpul di lapangan. Tetapi alangkah baiknya setelah lapangan, kita masih menyempatkan diri mengetuk pintu rumah tetangga sebelah, bukan karena kewajiban adat, melainkan karena kita tahu bahwa ada hal-hal yang hanya bisa disampaikan dari mata ke mata, dari satu ruang tamu yang sederhana ke ruang tamu yang lain. [T]

Penulis: Ashlikhatul Fuaddah
Editor: Adnyana Ole

Tags: IdulfitriIslamkomunikasiLebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

Next Post

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Ashlikhatul Fuaddah

Ashlikhatul Fuaddah

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co