14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

Ashlikhatul Fuaddah by Ashlikhatul Fuaddah
March 11, 2026
in Esai
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Ashlikhatul Fuaddah

LEBARAN tahun ini sepertinya akan terasa berbeda dari yang saya ingat waktu kecil. Bukan karena ketupat yang semakin jarang dibuat sendiri, bukan pula karena baju baru yang kini dipesan lewat aplikasi. Yang paling terasa berbeda adalah ritme kunjungannya, cara orang-orang saling bersilaturahmi kini telah berubah secara mendasar, dan perubahan itu berlangsung begitu pelan sehingga kita hampir tidak menyadarinya.

Dulu, pagi hari raya dimulai dengan salat Id, lalu dilanjutkan dengan perjalanan kaki yang melelahkan namun menyenangkan: dari rumah ke rumah, dari gang ke gang, dari RT satu ke RT sebelah. Setiap pintu diketuk, setiap kursi diduduki sebentar, setiap tangan dicium atau diguncang hangat. Ada kue nastar di meja, ada sirup merah di gelas, ada obrolan kecil yang sesungguhnya tidak kecil sama sekali karena di situlah sebuah hubungan sosial dipelihara, diperbarui, dan dijaga tetap hidup. Tradisi berkeliling rumah ke rumah itu bukan sekadar kewajiban adat, ia adalah proses komunikasi antarpersona yang kaya, intens, dan penuh makna.

Kini, pola itu bergeser. Di banyak kampung dan kompleks perumahan, masyarakat mulai bersepakat untuk “lebaran bersama”: seluruh warga berkumpul di satu tempat seperti lapangan, balai RT, atau halaman masjid pada satu waktu yang telah ditentukan. Semua datang sekaligus, bersalaman massal, berfoto bersama, lalu pulang. Efisien, praktis, dan terasa modern. Namun, ada sesuatu yang hilang di antara kepraktisan itu.

Dalam ilmu komunikasi, khususnya teori komunikasi antarpersona yang dikembangkan oleh Joseph DeVito (1989), kualitas sebuah hubungan tidak semata diukur dari frekuensi pertemuan, melainkan dari kedalaman dan keterbukaan proses komunikasi yang terjadi. DeVito menyebut sejumlah karakteristik komunikasi antarpersona yang efektif: kedekatan fisik, umpan balik yang langsung, pesan yang bersifat personal, serta kemampuan untuk membaca ekspresi nonverbal lawan bicara secara utuh.

Kepuasan Administratif

Tradisi berkunjung dari rumah ke rumah, bila ditelaah dari kerangka ini, sejatinya adalah praktik komunikasi antarpersona yang paling ideal. Ketika seseorang duduk di ruang tamu tetangganya, betapapun sebentar, terjadi pertukaran pesan yang tidak hanya verbal.

Ada jabat tangan yang menyampaikan kehangatan, ada tatapan yang membaca kesedihan atau kegembiraan, ada pertanyaan “bagaimana kabar orang tua?” yang sesungguhnya bukan basa-basi melainkan bentuk kepedulian nyata yang membutuhkan jawaban yang nyata pula. Kunjungan itu memberi ruang bagi terjadinya apa yang oleh para ahli komunikasi disebut sebagai “self-disclosure”, pengungkapan diri yang tidak akan pernah terjadi di tengah kerumunan lapangan yang ramai dan bising.

Pergeseran menuju format “kumpul bersama” ini sesungguhnya dapat dibaca pula melalui kacamata teori “Uses and Gratifications” yang digagas oleh Katz, Blumler, dan Gurevitch (1974). Dalam teori ini, individu memilih bentuk-bentuk komunikasi berdasarkan kebutuhan dan kepuasan yang ingin mereka capai.

Masyarakat kini tampaknya bergerak menuju “kepuasan administratif” dari silaturahmi: yang penting sudah bertemu, sudah bersalaman, sudah foto bersama sebagai bukti. Tanda centang pada daftar kewajiban sosial sudah terpenuhi.

Namun, kepuasan yang sesungguhnya dari silaturahmi, rasa dikenal, rasa dipedulikan, rasa menjadi bagian dari komunitas yang saling mengerti satu sama lain, justru tidak terpenuhi oleh format massal tersebut. Orang pulang dari “Lebaran bersama” dengan foto yang bagus di ponsel, tetapi tidak selalu dengan hati yang benar-benar telah bertemu dengan orang-orang di sekitarnya.

Mempertegas Identitas

Ada ironi yang menarik di sini. Di era ketika aplikasi pesan instan memungkinkan kita terhubung dengan siapa pun kapan pun, silaturahmi tatap muka justru semakin dipadatkan dan dipercepat. Seolah kita ingin meniru efisiensi dunia digital ke dalam dunia nyata. Kalau di WhatsApp kita bisa mengirim ucapan selamat ke ratusan orang dalam hitungan detik, maka di lapangan pun kita ingin “menyelesaikan” silaturahmi dengan seratus orang dalam satu jam.

Inilah yang dalam perspektif teori komunikasi antarpersona disebut sebagai “impersonal communication”, komunikasi yang secara fisik melibatkan banyak orang, tetapi secara psikologis dan emosional sangat dangkal. Kita hadir secara fisik, tetapi absen secara relasional.

Erving Goffman dalam teori Dramaturgi-nya mengingatkan bahwa setiap interaksi sosial adalah sebuah “pertunjukan” di mana kita memainkan peran tertentu di hadapan audiens. Dalam kunjungan dari rumah ke rumah, seseorang tampil sebagai “tetangga yang peduli”, “keponakan yang hormat”, “teman lama yang masih ingat”.

Setiap kunjungan adalah panggung kecil yang berbeda, dengan karakter yang sedikit berbeda, dengan cerita yang berbeda pula. Kekayaan peran ini, dan kekayaan relasional yang menyertainya, luruh ketika semua orang berkumpul di satu lapangan dan tampil hanya sebagai “warga RT yang hadir”.

Tentu saja pergeseran ini tidak sepenuhnya negatif. Format kumpul bersama memiliki keunggulannya sendiri: lebih inklusif bagi lansia yang kesulitan berkeliling, lebih hemat waktu dan tenaga, serta menciptakan rasa kebersamaan komunal yang berbeda karakternya. Ada kehangatan tersendiri ketika seluruh kampung berkumpul dalam satu momen yang sama. Dalam perspektif komunikasi kelompok, momen seperti ini justru mempertegas identitas kolektif sebuah komunitas.

Namun, yang perlu disadari adalah bahwa kedua format itu melayani kebutuhan komunikasi yang berbeda dan tidak bisa saling menggantikan. Kunjungan dari pintu ke pintu melayani kebutuhan komunikasi antarpersona yang personal dan mendalam; sementara kumpul bersama melayani kebutuhan komunikasi kelompok yang bersifat ritualistik dan identitas kolektif. Idealnya, keduanya berjalan beriringan, bukan yang satu menggantikan yang lain.

Di kampung-kampung yang masih menjaga tradisi berkeliling rumah ke rumah, ada sesuatu yang terasa berbeda. Hubungan antarwarga terasa lebih cair. Konflik kecil lebih mudah diselesaikan karena ada ruang untuk berbicara empat mata. Warga yang sedang berduka tahu bahwa kesedihannya dilihat dan diakui oleh tetangganya, bukan hanya melalui emotikon di grup WhatsApp. Ini bukan sentimentalisme belaka; ini adalah bukti nyata bahwa komunikasi antarpersona yang berkualitas memang berkontribusi pada kesehatan sosial sebuah komunitas.

Idulfitri, pada hakikatnya, adalah momen paling komunikatif dalam kalender sosial masyarakat Muslim Indonesia. Ia adalah ritual tahunan yang memperbarui ikatan sosial, memperbaiki relasi yang retak, dan menegaskan kembali posisi seseorang dalam jaringan komunitas yang lebih luas. Ketika ritual ini bergeser dari yang personal menjadi yang massal, dari yang mendalam menjadi yang dangkal, maka yang terancam bukan hanya sebuah tradisi, yang terancam adalah kualitas relasi sosial itu sendiri.

Tidak ada salahnya berkumpul di lapangan. Tetapi alangkah baiknya setelah lapangan, kita masih menyempatkan diri mengetuk pintu rumah tetangga sebelah, bukan karena kewajiban adat, melainkan karena kita tahu bahwa ada hal-hal yang hanya bisa disampaikan dari mata ke mata, dari satu ruang tamu yang sederhana ke ruang tamu yang lain. [T]

Penulis: Ashlikhatul Fuaddah
Editor: Adnyana Ole

Tags: IdulfitriIslamkomunikasiLebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

Next Post

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Ashlikhatul Fuaddah

Ashlikhatul Fuaddah

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co