4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

Ashlikhatul Fuaddah by Ashlikhatul Fuaddah
March 11, 2026
in Esai
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Ashlikhatul Fuaddah

LEBARAN tahun ini sepertinya akan terasa berbeda dari yang saya ingat waktu kecil. Bukan karena ketupat yang semakin jarang dibuat sendiri, bukan pula karena baju baru yang kini dipesan lewat aplikasi. Yang paling terasa berbeda adalah ritme kunjungannya, cara orang-orang saling bersilaturahmi kini telah berubah secara mendasar, dan perubahan itu berlangsung begitu pelan sehingga kita hampir tidak menyadarinya.

Dulu, pagi hari raya dimulai dengan salat Id, lalu dilanjutkan dengan perjalanan kaki yang melelahkan namun menyenangkan: dari rumah ke rumah, dari gang ke gang, dari RT satu ke RT sebelah. Setiap pintu diketuk, setiap kursi diduduki sebentar, setiap tangan dicium atau diguncang hangat. Ada kue nastar di meja, ada sirup merah di gelas, ada obrolan kecil yang sesungguhnya tidak kecil sama sekali karena di situlah sebuah hubungan sosial dipelihara, diperbarui, dan dijaga tetap hidup. Tradisi berkeliling rumah ke rumah itu bukan sekadar kewajiban adat, ia adalah proses komunikasi antarpersona yang kaya, intens, dan penuh makna.

Kini, pola itu bergeser. Di banyak kampung dan kompleks perumahan, masyarakat mulai bersepakat untuk “lebaran bersama”: seluruh warga berkumpul di satu tempat seperti lapangan, balai RT, atau halaman masjid pada satu waktu yang telah ditentukan. Semua datang sekaligus, bersalaman massal, berfoto bersama, lalu pulang. Efisien, praktis, dan terasa modern. Namun, ada sesuatu yang hilang di antara kepraktisan itu.

Dalam ilmu komunikasi, khususnya teori komunikasi antarpersona yang dikembangkan oleh Joseph DeVito (1989), kualitas sebuah hubungan tidak semata diukur dari frekuensi pertemuan, melainkan dari kedalaman dan keterbukaan proses komunikasi yang terjadi. DeVito menyebut sejumlah karakteristik komunikasi antarpersona yang efektif: kedekatan fisik, umpan balik yang langsung, pesan yang bersifat personal, serta kemampuan untuk membaca ekspresi nonverbal lawan bicara secara utuh.

Kepuasan Administratif

Tradisi berkunjung dari rumah ke rumah, bila ditelaah dari kerangka ini, sejatinya adalah praktik komunikasi antarpersona yang paling ideal. Ketika seseorang duduk di ruang tamu tetangganya, betapapun sebentar, terjadi pertukaran pesan yang tidak hanya verbal.

Ada jabat tangan yang menyampaikan kehangatan, ada tatapan yang membaca kesedihan atau kegembiraan, ada pertanyaan “bagaimana kabar orang tua?” yang sesungguhnya bukan basa-basi melainkan bentuk kepedulian nyata yang membutuhkan jawaban yang nyata pula. Kunjungan itu memberi ruang bagi terjadinya apa yang oleh para ahli komunikasi disebut sebagai “self-disclosure”, pengungkapan diri yang tidak akan pernah terjadi di tengah kerumunan lapangan yang ramai dan bising.

Pergeseran menuju format “kumpul bersama” ini sesungguhnya dapat dibaca pula melalui kacamata teori “Uses and Gratifications” yang digagas oleh Katz, Blumler, dan Gurevitch (1974). Dalam teori ini, individu memilih bentuk-bentuk komunikasi berdasarkan kebutuhan dan kepuasan yang ingin mereka capai.

Masyarakat kini tampaknya bergerak menuju “kepuasan administratif” dari silaturahmi: yang penting sudah bertemu, sudah bersalaman, sudah foto bersama sebagai bukti. Tanda centang pada daftar kewajiban sosial sudah terpenuhi.

Namun, kepuasan yang sesungguhnya dari silaturahmi, rasa dikenal, rasa dipedulikan, rasa menjadi bagian dari komunitas yang saling mengerti satu sama lain, justru tidak terpenuhi oleh format massal tersebut. Orang pulang dari “Lebaran bersama” dengan foto yang bagus di ponsel, tetapi tidak selalu dengan hati yang benar-benar telah bertemu dengan orang-orang di sekitarnya.

Mempertegas Identitas

Ada ironi yang menarik di sini. Di era ketika aplikasi pesan instan memungkinkan kita terhubung dengan siapa pun kapan pun, silaturahmi tatap muka justru semakin dipadatkan dan dipercepat. Seolah kita ingin meniru efisiensi dunia digital ke dalam dunia nyata. Kalau di WhatsApp kita bisa mengirim ucapan selamat ke ratusan orang dalam hitungan detik, maka di lapangan pun kita ingin “menyelesaikan” silaturahmi dengan seratus orang dalam satu jam.

Inilah yang dalam perspektif teori komunikasi antarpersona disebut sebagai “impersonal communication”, komunikasi yang secara fisik melibatkan banyak orang, tetapi secara psikologis dan emosional sangat dangkal. Kita hadir secara fisik, tetapi absen secara relasional.

Erving Goffman dalam teori Dramaturgi-nya mengingatkan bahwa setiap interaksi sosial adalah sebuah “pertunjukan” di mana kita memainkan peran tertentu di hadapan audiens. Dalam kunjungan dari rumah ke rumah, seseorang tampil sebagai “tetangga yang peduli”, “keponakan yang hormat”, “teman lama yang masih ingat”.

Setiap kunjungan adalah panggung kecil yang berbeda, dengan karakter yang sedikit berbeda, dengan cerita yang berbeda pula. Kekayaan peran ini, dan kekayaan relasional yang menyertainya, luruh ketika semua orang berkumpul di satu lapangan dan tampil hanya sebagai “warga RT yang hadir”.

Tentu saja pergeseran ini tidak sepenuhnya negatif. Format kumpul bersama memiliki keunggulannya sendiri: lebih inklusif bagi lansia yang kesulitan berkeliling, lebih hemat waktu dan tenaga, serta menciptakan rasa kebersamaan komunal yang berbeda karakternya. Ada kehangatan tersendiri ketika seluruh kampung berkumpul dalam satu momen yang sama. Dalam perspektif komunikasi kelompok, momen seperti ini justru mempertegas identitas kolektif sebuah komunitas.

Namun, yang perlu disadari adalah bahwa kedua format itu melayani kebutuhan komunikasi yang berbeda dan tidak bisa saling menggantikan. Kunjungan dari pintu ke pintu melayani kebutuhan komunikasi antarpersona yang personal dan mendalam; sementara kumpul bersama melayani kebutuhan komunikasi kelompok yang bersifat ritualistik dan identitas kolektif. Idealnya, keduanya berjalan beriringan, bukan yang satu menggantikan yang lain.

Di kampung-kampung yang masih menjaga tradisi berkeliling rumah ke rumah, ada sesuatu yang terasa berbeda. Hubungan antarwarga terasa lebih cair. Konflik kecil lebih mudah diselesaikan karena ada ruang untuk berbicara empat mata. Warga yang sedang berduka tahu bahwa kesedihannya dilihat dan diakui oleh tetangganya, bukan hanya melalui emotikon di grup WhatsApp. Ini bukan sentimentalisme belaka; ini adalah bukti nyata bahwa komunikasi antarpersona yang berkualitas memang berkontribusi pada kesehatan sosial sebuah komunitas.

Idulfitri, pada hakikatnya, adalah momen paling komunikatif dalam kalender sosial masyarakat Muslim Indonesia. Ia adalah ritual tahunan yang memperbarui ikatan sosial, memperbaiki relasi yang retak, dan menegaskan kembali posisi seseorang dalam jaringan komunitas yang lebih luas. Ketika ritual ini bergeser dari yang personal menjadi yang massal, dari yang mendalam menjadi yang dangkal, maka yang terancam bukan hanya sebuah tradisi, yang terancam adalah kualitas relasi sosial itu sendiri.

Tidak ada salahnya berkumpul di lapangan. Tetapi alangkah baiknya setelah lapangan, kita masih menyempatkan diri mengetuk pintu rumah tetangga sebelah, bukan karena kewajiban adat, melainkan karena kita tahu bahwa ada hal-hal yang hanya bisa disampaikan dari mata ke mata, dari satu ruang tamu yang sederhana ke ruang tamu yang lain. [T]

Penulis: Ashlikhatul Fuaddah
Editor: Adnyana Ole

Tags: IdulfitriIslamkomunikasiLebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

Next Post

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Ashlikhatul Fuaddah

Ashlikhatul Fuaddah

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co