4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

Ashlikhatul Fuaddah by Ashlikhatul Fuaddah
March 11, 2026
in Esai
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Ashlikhatul Fuaddah

LEBARAN tahun ini sepertinya akan terasa berbeda dari yang saya ingat waktu kecil. Bukan karena ketupat yang semakin jarang dibuat sendiri, bukan pula karena baju baru yang kini dipesan lewat aplikasi. Yang paling terasa berbeda adalah ritme kunjungannya, cara orang-orang saling bersilaturahmi kini telah berubah secara mendasar, dan perubahan itu berlangsung begitu pelan sehingga kita hampir tidak menyadarinya.

Dulu, pagi hari raya dimulai dengan salat Id, lalu dilanjutkan dengan perjalanan kaki yang melelahkan namun menyenangkan: dari rumah ke rumah, dari gang ke gang, dari RT satu ke RT sebelah. Setiap pintu diketuk, setiap kursi diduduki sebentar, setiap tangan dicium atau diguncang hangat. Ada kue nastar di meja, ada sirup merah di gelas, ada obrolan kecil yang sesungguhnya tidak kecil sama sekali karena di situlah sebuah hubungan sosial dipelihara, diperbarui, dan dijaga tetap hidup. Tradisi berkeliling rumah ke rumah itu bukan sekadar kewajiban adat, ia adalah proses komunikasi antarpersona yang kaya, intens, dan penuh makna.

Kini, pola itu bergeser. Di banyak kampung dan kompleks perumahan, masyarakat mulai bersepakat untuk “lebaran bersama”: seluruh warga berkumpul di satu tempat seperti lapangan, balai RT, atau halaman masjid pada satu waktu yang telah ditentukan. Semua datang sekaligus, bersalaman massal, berfoto bersama, lalu pulang. Efisien, praktis, dan terasa modern. Namun, ada sesuatu yang hilang di antara kepraktisan itu.

Dalam ilmu komunikasi, khususnya teori komunikasi antarpersona yang dikembangkan oleh Joseph DeVito (1989), kualitas sebuah hubungan tidak semata diukur dari frekuensi pertemuan, melainkan dari kedalaman dan keterbukaan proses komunikasi yang terjadi. DeVito menyebut sejumlah karakteristik komunikasi antarpersona yang efektif: kedekatan fisik, umpan balik yang langsung, pesan yang bersifat personal, serta kemampuan untuk membaca ekspresi nonverbal lawan bicara secara utuh.

Kepuasan Administratif

Tradisi berkunjung dari rumah ke rumah, bila ditelaah dari kerangka ini, sejatinya adalah praktik komunikasi antarpersona yang paling ideal. Ketika seseorang duduk di ruang tamu tetangganya, betapapun sebentar, terjadi pertukaran pesan yang tidak hanya verbal.

Ada jabat tangan yang menyampaikan kehangatan, ada tatapan yang membaca kesedihan atau kegembiraan, ada pertanyaan “bagaimana kabar orang tua?” yang sesungguhnya bukan basa-basi melainkan bentuk kepedulian nyata yang membutuhkan jawaban yang nyata pula. Kunjungan itu memberi ruang bagi terjadinya apa yang oleh para ahli komunikasi disebut sebagai “self-disclosure”, pengungkapan diri yang tidak akan pernah terjadi di tengah kerumunan lapangan yang ramai dan bising.

Pergeseran menuju format “kumpul bersama” ini sesungguhnya dapat dibaca pula melalui kacamata teori “Uses and Gratifications” yang digagas oleh Katz, Blumler, dan Gurevitch (1974). Dalam teori ini, individu memilih bentuk-bentuk komunikasi berdasarkan kebutuhan dan kepuasan yang ingin mereka capai.

Masyarakat kini tampaknya bergerak menuju “kepuasan administratif” dari silaturahmi: yang penting sudah bertemu, sudah bersalaman, sudah foto bersama sebagai bukti. Tanda centang pada daftar kewajiban sosial sudah terpenuhi.

Namun, kepuasan yang sesungguhnya dari silaturahmi, rasa dikenal, rasa dipedulikan, rasa menjadi bagian dari komunitas yang saling mengerti satu sama lain, justru tidak terpenuhi oleh format massal tersebut. Orang pulang dari “Lebaran bersama” dengan foto yang bagus di ponsel, tetapi tidak selalu dengan hati yang benar-benar telah bertemu dengan orang-orang di sekitarnya.

Mempertegas Identitas

Ada ironi yang menarik di sini. Di era ketika aplikasi pesan instan memungkinkan kita terhubung dengan siapa pun kapan pun, silaturahmi tatap muka justru semakin dipadatkan dan dipercepat. Seolah kita ingin meniru efisiensi dunia digital ke dalam dunia nyata. Kalau di WhatsApp kita bisa mengirim ucapan selamat ke ratusan orang dalam hitungan detik, maka di lapangan pun kita ingin “menyelesaikan” silaturahmi dengan seratus orang dalam satu jam.

Inilah yang dalam perspektif teori komunikasi antarpersona disebut sebagai “impersonal communication”, komunikasi yang secara fisik melibatkan banyak orang, tetapi secara psikologis dan emosional sangat dangkal. Kita hadir secara fisik, tetapi absen secara relasional.

Erving Goffman dalam teori Dramaturgi-nya mengingatkan bahwa setiap interaksi sosial adalah sebuah “pertunjukan” di mana kita memainkan peran tertentu di hadapan audiens. Dalam kunjungan dari rumah ke rumah, seseorang tampil sebagai “tetangga yang peduli”, “keponakan yang hormat”, “teman lama yang masih ingat”.

Setiap kunjungan adalah panggung kecil yang berbeda, dengan karakter yang sedikit berbeda, dengan cerita yang berbeda pula. Kekayaan peran ini, dan kekayaan relasional yang menyertainya, luruh ketika semua orang berkumpul di satu lapangan dan tampil hanya sebagai “warga RT yang hadir”.

Tentu saja pergeseran ini tidak sepenuhnya negatif. Format kumpul bersama memiliki keunggulannya sendiri: lebih inklusif bagi lansia yang kesulitan berkeliling, lebih hemat waktu dan tenaga, serta menciptakan rasa kebersamaan komunal yang berbeda karakternya. Ada kehangatan tersendiri ketika seluruh kampung berkumpul dalam satu momen yang sama. Dalam perspektif komunikasi kelompok, momen seperti ini justru mempertegas identitas kolektif sebuah komunitas.

Namun, yang perlu disadari adalah bahwa kedua format itu melayani kebutuhan komunikasi yang berbeda dan tidak bisa saling menggantikan. Kunjungan dari pintu ke pintu melayani kebutuhan komunikasi antarpersona yang personal dan mendalam; sementara kumpul bersama melayani kebutuhan komunikasi kelompok yang bersifat ritualistik dan identitas kolektif. Idealnya, keduanya berjalan beriringan, bukan yang satu menggantikan yang lain.

Di kampung-kampung yang masih menjaga tradisi berkeliling rumah ke rumah, ada sesuatu yang terasa berbeda. Hubungan antarwarga terasa lebih cair. Konflik kecil lebih mudah diselesaikan karena ada ruang untuk berbicara empat mata. Warga yang sedang berduka tahu bahwa kesedihannya dilihat dan diakui oleh tetangganya, bukan hanya melalui emotikon di grup WhatsApp. Ini bukan sentimentalisme belaka; ini adalah bukti nyata bahwa komunikasi antarpersona yang berkualitas memang berkontribusi pada kesehatan sosial sebuah komunitas.

Idulfitri, pada hakikatnya, adalah momen paling komunikatif dalam kalender sosial masyarakat Muslim Indonesia. Ia adalah ritual tahunan yang memperbarui ikatan sosial, memperbaiki relasi yang retak, dan menegaskan kembali posisi seseorang dalam jaringan komunitas yang lebih luas. Ketika ritual ini bergeser dari yang personal menjadi yang massal, dari yang mendalam menjadi yang dangkal, maka yang terancam bukan hanya sebuah tradisi, yang terancam adalah kualitas relasi sosial itu sendiri.

Tidak ada salahnya berkumpul di lapangan. Tetapi alangkah baiknya setelah lapangan, kita masih menyempatkan diri mengetuk pintu rumah tetangga sebelah, bukan karena kewajiban adat, melainkan karena kita tahu bahwa ada hal-hal yang hanya bisa disampaikan dari mata ke mata, dari satu ruang tamu yang sederhana ke ruang tamu yang lain. [T]

Penulis: Ashlikhatul Fuaddah
Editor: Adnyana Ole

Tags: IdulfitriIslamkomunikasiLebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

Next Post

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Ashlikhatul Fuaddah

Ashlikhatul Fuaddah

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co