24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

Ashlikhatul Fuaddah by Ashlikhatul Fuaddah
March 11, 2026
in Esai
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Ashlikhatul Fuaddah

LEBARAN tahun ini sepertinya akan terasa berbeda dari yang saya ingat waktu kecil. Bukan karena ketupat yang semakin jarang dibuat sendiri, bukan pula karena baju baru yang kini dipesan lewat aplikasi. Yang paling terasa berbeda adalah ritme kunjungannya, cara orang-orang saling bersilaturahmi kini telah berubah secara mendasar, dan perubahan itu berlangsung begitu pelan sehingga kita hampir tidak menyadarinya.

Dulu, pagi hari raya dimulai dengan salat Id, lalu dilanjutkan dengan perjalanan kaki yang melelahkan namun menyenangkan: dari rumah ke rumah, dari gang ke gang, dari RT satu ke RT sebelah. Setiap pintu diketuk, setiap kursi diduduki sebentar, setiap tangan dicium atau diguncang hangat. Ada kue nastar di meja, ada sirup merah di gelas, ada obrolan kecil yang sesungguhnya tidak kecil sama sekali karena di situlah sebuah hubungan sosial dipelihara, diperbarui, dan dijaga tetap hidup. Tradisi berkeliling rumah ke rumah itu bukan sekadar kewajiban adat, ia adalah proses komunikasi antarpersona yang kaya, intens, dan penuh makna.

Kini, pola itu bergeser. Di banyak kampung dan kompleks perumahan, masyarakat mulai bersepakat untuk “lebaran bersama”: seluruh warga berkumpul di satu tempat seperti lapangan, balai RT, atau halaman masjid pada satu waktu yang telah ditentukan. Semua datang sekaligus, bersalaman massal, berfoto bersama, lalu pulang. Efisien, praktis, dan terasa modern. Namun, ada sesuatu yang hilang di antara kepraktisan itu.

Dalam ilmu komunikasi, khususnya teori komunikasi antarpersona yang dikembangkan oleh Joseph DeVito (1989), kualitas sebuah hubungan tidak semata diukur dari frekuensi pertemuan, melainkan dari kedalaman dan keterbukaan proses komunikasi yang terjadi. DeVito menyebut sejumlah karakteristik komunikasi antarpersona yang efektif: kedekatan fisik, umpan balik yang langsung, pesan yang bersifat personal, serta kemampuan untuk membaca ekspresi nonverbal lawan bicara secara utuh.

Kepuasan Administratif

Tradisi berkunjung dari rumah ke rumah, bila ditelaah dari kerangka ini, sejatinya adalah praktik komunikasi antarpersona yang paling ideal. Ketika seseorang duduk di ruang tamu tetangganya, betapapun sebentar, terjadi pertukaran pesan yang tidak hanya verbal.

Ada jabat tangan yang menyampaikan kehangatan, ada tatapan yang membaca kesedihan atau kegembiraan, ada pertanyaan “bagaimana kabar orang tua?” yang sesungguhnya bukan basa-basi melainkan bentuk kepedulian nyata yang membutuhkan jawaban yang nyata pula. Kunjungan itu memberi ruang bagi terjadinya apa yang oleh para ahli komunikasi disebut sebagai “self-disclosure”, pengungkapan diri yang tidak akan pernah terjadi di tengah kerumunan lapangan yang ramai dan bising.

Pergeseran menuju format “kumpul bersama” ini sesungguhnya dapat dibaca pula melalui kacamata teori “Uses and Gratifications” yang digagas oleh Katz, Blumler, dan Gurevitch (1974). Dalam teori ini, individu memilih bentuk-bentuk komunikasi berdasarkan kebutuhan dan kepuasan yang ingin mereka capai.

Masyarakat kini tampaknya bergerak menuju “kepuasan administratif” dari silaturahmi: yang penting sudah bertemu, sudah bersalaman, sudah foto bersama sebagai bukti. Tanda centang pada daftar kewajiban sosial sudah terpenuhi.

Namun, kepuasan yang sesungguhnya dari silaturahmi, rasa dikenal, rasa dipedulikan, rasa menjadi bagian dari komunitas yang saling mengerti satu sama lain, justru tidak terpenuhi oleh format massal tersebut. Orang pulang dari “Lebaran bersama” dengan foto yang bagus di ponsel, tetapi tidak selalu dengan hati yang benar-benar telah bertemu dengan orang-orang di sekitarnya.

Mempertegas Identitas

Ada ironi yang menarik di sini. Di era ketika aplikasi pesan instan memungkinkan kita terhubung dengan siapa pun kapan pun, silaturahmi tatap muka justru semakin dipadatkan dan dipercepat. Seolah kita ingin meniru efisiensi dunia digital ke dalam dunia nyata. Kalau di WhatsApp kita bisa mengirim ucapan selamat ke ratusan orang dalam hitungan detik, maka di lapangan pun kita ingin “menyelesaikan” silaturahmi dengan seratus orang dalam satu jam.

Inilah yang dalam perspektif teori komunikasi antarpersona disebut sebagai “impersonal communication”, komunikasi yang secara fisik melibatkan banyak orang, tetapi secara psikologis dan emosional sangat dangkal. Kita hadir secara fisik, tetapi absen secara relasional.

Erving Goffman dalam teori Dramaturgi-nya mengingatkan bahwa setiap interaksi sosial adalah sebuah “pertunjukan” di mana kita memainkan peran tertentu di hadapan audiens. Dalam kunjungan dari rumah ke rumah, seseorang tampil sebagai “tetangga yang peduli”, “keponakan yang hormat”, “teman lama yang masih ingat”.

Setiap kunjungan adalah panggung kecil yang berbeda, dengan karakter yang sedikit berbeda, dengan cerita yang berbeda pula. Kekayaan peran ini, dan kekayaan relasional yang menyertainya, luruh ketika semua orang berkumpul di satu lapangan dan tampil hanya sebagai “warga RT yang hadir”.

Tentu saja pergeseran ini tidak sepenuhnya negatif. Format kumpul bersama memiliki keunggulannya sendiri: lebih inklusif bagi lansia yang kesulitan berkeliling, lebih hemat waktu dan tenaga, serta menciptakan rasa kebersamaan komunal yang berbeda karakternya. Ada kehangatan tersendiri ketika seluruh kampung berkumpul dalam satu momen yang sama. Dalam perspektif komunikasi kelompok, momen seperti ini justru mempertegas identitas kolektif sebuah komunitas.

Namun, yang perlu disadari adalah bahwa kedua format itu melayani kebutuhan komunikasi yang berbeda dan tidak bisa saling menggantikan. Kunjungan dari pintu ke pintu melayani kebutuhan komunikasi antarpersona yang personal dan mendalam; sementara kumpul bersama melayani kebutuhan komunikasi kelompok yang bersifat ritualistik dan identitas kolektif. Idealnya, keduanya berjalan beriringan, bukan yang satu menggantikan yang lain.

Di kampung-kampung yang masih menjaga tradisi berkeliling rumah ke rumah, ada sesuatu yang terasa berbeda. Hubungan antarwarga terasa lebih cair. Konflik kecil lebih mudah diselesaikan karena ada ruang untuk berbicara empat mata. Warga yang sedang berduka tahu bahwa kesedihannya dilihat dan diakui oleh tetangganya, bukan hanya melalui emotikon di grup WhatsApp. Ini bukan sentimentalisme belaka; ini adalah bukti nyata bahwa komunikasi antarpersona yang berkualitas memang berkontribusi pada kesehatan sosial sebuah komunitas.

Idulfitri, pada hakikatnya, adalah momen paling komunikatif dalam kalender sosial masyarakat Muslim Indonesia. Ia adalah ritual tahunan yang memperbarui ikatan sosial, memperbaiki relasi yang retak, dan menegaskan kembali posisi seseorang dalam jaringan komunitas yang lebih luas. Ketika ritual ini bergeser dari yang personal menjadi yang massal, dari yang mendalam menjadi yang dangkal, maka yang terancam bukan hanya sebuah tradisi, yang terancam adalah kualitas relasi sosial itu sendiri.

Tidak ada salahnya berkumpul di lapangan. Tetapi alangkah baiknya setelah lapangan, kita masih menyempatkan diri mengetuk pintu rumah tetangga sebelah, bukan karena kewajiban adat, melainkan karena kita tahu bahwa ada hal-hal yang hanya bisa disampaikan dari mata ke mata, dari satu ruang tamu yang sederhana ke ruang tamu yang lain. [T]

Penulis: Ashlikhatul Fuaddah
Editor: Adnyana Ole

Tags: IdulfitriIslamkomunikasiLebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

Next Post

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Ashlikhatul Fuaddah

Ashlikhatul Fuaddah

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co