NAMAKU Galang. Usiaku tiga puluh lima tahun. Dulu, aku seorang aktivis. Sekarang, aku hanya mantan sesuatu yang tak sempat selesai. Orang-orang menyebut masa kuliahku “masa penuh bara.” Aku adalah orator lapangan, penulis tajam di buletin kampus, dan pengibar spanduk paling keras saat menolak revisi undang-undang yang menurut kami mencederai rakyat.
Kami menggelar demo tiap pekan. Teriakan kami memecah jalan protokol, memblokade kampus, dan kadang kami tidur di depan gedung DPRD seperti tunawisma. Tapi kami percaya itu semua untuk perubahan. Untuk rakyat. Kami percaya, jika sistem bobrok, maka harus diguncang. Kami tidak tahu bahwa guncangan itu akan menghancurkan kami lebih dulu.
Tahun 2014, aku dan lima rekanku ditangkap karena memimpin unjuk rasa besar di kantor gubernur. Seorang aparat terkena lemparan batu. Aku tak tahu siapa pelakunya, tapi aku oratornya. Dan itu cukup. Kami diadili seperti teroris. Di TV, wajah kami diburamkan, tapi nama kami disebut. Aku kehilangan beasiswa, reputasi, bahkan orangtuaku sendiri sempat berkata, “Kamu bukan anak kami kalau tetap jalan seperti ini.”
Sejak itu, satu demi satu kami mundur. Raka menikah muda dan jadi sales alat berat. Iman pindah agama dan jadi pendeta di Kalimantan. Sari perempuan paling berani yang pernah kutahu buka jasa katering dan tak pernah mau menyebut kata “demo” lagi. Dan aku? Aku mencoba bertahan. Tapi sistem itu terlalu canggih untuk dihancurkan. Ia seperti gurita. Dipotong satu tangan, tumbuh tiga.
Aku kehabisan uang, koneksi, bahkan semangat. Tak ada yang bisa kuteriakkan ketika orang-orang tak lagi mendengar. Suaraku kalah oleh algoritma, oleh influencer, oleh pendapat umum yang direkayasa. Aku pindah ke kota kecil. Menyamar jadi manusia biasa. Ngajar les privat, bantu koperasi kampung, hidup secukupnya. Tak lagi bicara ideologi. Tak lagi percaya pada pidato.
Sampai suatu malam, seseorang mengetuk pintu rumah kontrakanku. Seorang lelaki muda, dengan hoodie lusuh dan wajah lelah.
“Bang Galang?” tanyanya. Aku mengangguk.
Dia duduk. Mengeluarkan selebaran. “Kami butuh abang. Aksi besok. Tentang tambang ilegal di kampung kami.” Aku menatapnya lama. Masih ada mereka rupanya. Yang muda, yang marah, yang belum tahu dunia ini bisa membunuhmu tanpa darah.
“Kau yakin ingin masuk ke lubang yang sama?” Dia mengangguk mantap. Aku menghela napas. “Oke. Tapi satu kali ini saja.”
Aku ikut. Hanya sebagai pengamat. Mereka membentangkan spanduk. Aku berdiri di belakang, tidak bicara apa-apa. Tapi kamera wartawan langsung menyorotku.
“Galang Prasetya. Eks aktivis garis keras. Kembali turun ke jalan.” Itu cukup untuk membuat hidupku kembali berantakan.
Besoknya, intel datang. Mereka tak menyentuhku, hanya bertanya, “Mau main lagi, Galang?”
Tiga hari kemudian, aku dipecat dari tempat ngajar. Koperasi menolak bantuanku. Tetangga mulai berbisik saat aku lewat. Dan si anak muda yang mengajakku? Hilang. Nomornya tidak aktif. Rumahnya kosong. Aku tahu ini permainan lama. Aku paham sistem ini tak suka jika ada yang mengusik. Aku mencoba tetap tenang. Tapi malam-malamku mulai dipenuhi bisikan. Apa gunanya hidup begini terus?
Sampai akhirnya aku putuskan menulis semua ini. Bukan untuk dibaca publik. Tapi untuk anak-anak muda yang mungkin akan datang mencariku lagi. Aku menulis di buku tulis tebal: Tentang demo pertama kami yang dibubarkan dengan gas air mata. Tentang teman kami yang hilang dan ditemukan tergantung di kamar kos. Tentang bagaimana lembaga-lembaga tempat kami percaya ternyata hanya punya dua wajah: satu untuk rakyat, satu untuk penguasa. Aku menulis semuanya. Tanpa emosi. Hanya catatan bersih. Fakta. Lalu, aku kirimkan buku itu ke alamat redaksi majalah alternatif yang dulu pernah memuat tulisanku. Tanpa nama pengirim.
Beberapa bulan kemudian, mereka menerbitkan liputan eksklusif: “Kami Pernah Percaya: Kesaksian Galang Prasetya.” Dan di sanalah, semuanya berubah.
Tiga hari setelah tulisan itu viral, aku kembali ditangkap. Kali ini, dengan pasal yang baru: penyebaran informasi yang meresahkan. Ironis, karena informasi itu memang benar. Tapi kebenaran, sejak dulu, adalah barang yang paling mengganggu. Di ruang interogasi, seorang pejabat muda yang kukenal sebagai mantan aktivis juga dulu seangkatan denganku duduk dan menatapku.
“Galang… kenapa masih begini?” tanyanya. Aku tertawa pahit.
“Dan kau? Kenapa sudah tidak?” Ia diam.
Lalu berkata, “Sistem ini tidak bisa dikalahkan dari luar.”
“Jadi kau masuk ke dalam?” Ia mengangguk. Aku menatapnya dalam-dalam. “Dan sekarang kau jadi apa?”
“Bagian dari yang bisa mengontrol kerusakan.”
“Bukan menghentikannya?” Ia tidak menjawab.
Dua minggu setelah itu, aku dibebaskan. Tanpa syarat. Tanpa berita. Tapi semua kontakku diblokir. Aku tak bisa mengakses email. Rekeningku dibekukan. Bahkan KTP-ku ditolak saat ingin beli tiket kereta.
Satu kalimat diketik oleh teman lamaku lewat pesan anonim: “Secara administratif, kau sudah tidak ada.” Itulah akhir yang tidak kutebak. Bukan dipenjara. Bukan dibunuh. Tapi dihapus. Sistem tidak membunuhku secara fisik. Ia hanya mencabut hakku untuk menjadi warga. Aku menjadi sosok tanpa nama. Tanpa data. Tanpa jejak. Dan begitulah akhirnya. Aku masih hidup. Tapi tidak ada. Dan mungkin, ini justru lebih buruk dari mati. Sekarang aku tinggal di ruang kecil milik gereja tua, bantu bersih-bersih, tukar kerja dengan makan. Orang tak kenal aku. Dan itu baik.
Tiap malam, aku duduk menyalin tulisanku ke kertas-kertas kecil, menyelipkannya ke dalam buku-buku bekas yang kudonasikan diam-diam ke taman bacaan. Aku tahu suatu saat, seseorang akan membacanya.
Dan mungkin ia akan tahu: Bahwa kami pernah percaya. Bahwa kami pernah berjuang. Bahwa yang kami lawan bukan hanya pemerintah tapi sistem yang tidak ingin rakyat terlalu waras. Dan bahwa aku, Galang, masih hidup. Tapi sudah tidak ada. [T]
Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole




























