Sasolahan “I Sigir Jlema Tuah Asibak” bakal menutup perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII yang telah berlangsung selama sebukan penuh, 1-28 Pebruari 2026. Sasolahan berbentuk dramatari inovatif itu menceritakan tentang seorang anak yang lahir hanya berbentuk setengah tubuh (sibak) karena karma atau anugerah Betara Surya. Meski fisiknya tidak sempurna, I Sigir tumbuh menjadi anak yang lincah dan akhirnya menemukan kebahagiaan serta kesempurnaan fisik setelah melalui perjalanan hidup.
Dramatari yang mengangkat satua Bali “I Sigir Jlema Tuah Asibak” itu bakal disajikan oleh mahasiswa dan dosen Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali besok, Sabtu 28 Pebruari 2026. Memang, satua I Sigir Jlema Tuah Asibak sangat jarang didengarkan. “Karena itu, kami memiliki kendala untuk mereferentasikan ke dalam garapan,” kata I Gede Tilem Pastika selaku sutradara dan koreografer disela-sela gladi bersih, Jumat 27 Pebruari 2026.
Tilem Pastika mengaku, pihaknya mengalami kendala dalam merepresentasikan satua yang diberikan oleh panitia itu ke dalam garapan. Dalam cerita itu, I Sigir merupakan putra dari Batara Surya yang lahir nyalah para, kondisi setengah tubuh. Tangannya satu, bibirnya setengan dan wajahnya juga setengah. “Itu agak sedikit susah bereksplorasi, khususnya dalam mewujudkan tokoh tersebut,” akunya polos.

Namun, karena sudah diberikan cerita dan melalui aspek kuratorial, maka tim kesenia UHN I Gusti Bagus Sugriwa ini harus membawakan cerita yang asli sesuai dengan dokumen. Satua itu terdiri dari beberapa bagian, namun tetap disajikan sesuai cerita. “Garapan yang terwujud, akan menjadi semacam representasi dari cerita yang dibawakan. Secara simbolik, maka yang setengah itu kami lakukan, karena pada adegan berikutnya akan berubah. Ketika I Sigir sudah mendapatkan penyupatan dan panganugrahan dari Bhatara Surya, ia kembali seperti wujud normal, bahkan kemudian menjadi raja,” bebernya.
Sosok I Sigir yang memiliki tubuh yang tidak sempurna, pada awalnya menggunakan topeng berwajah setengah, sehingga mukanya terlihat asibak. Di sini, penari yang memerankan I Sigir itu berjalan dengan kaki satu yang tergolong rumit. Ia menarik dengan satu kaki dan satu tangan tertekuk. “Disinilah rumitnya dan susah. Tantangannya, si penari harus kuat menari dengan dengkleng, ngomongnya juga dibuat karakternya terbata-bata, untuk mendukung bibirnya yang hanya setengah,” ucapnya.
Hal itu kemudian diakali dengan menggunakan topeng dengan dua sisi yang berbeda, agar terlihat asibak (setengah). Sebab, pada adegan berikutnya, I Sigir akan berubah menjadi truna bagus (tampan) saat ia melepas topeng atau setelah ia mendapatkan penyupatan dari ayahnya, Sang Hyang Surya.

Garapan kolosal ini melibatkan 100 orang seniman, terdiri dari penari dan penabuh. Drama ini diiringi Gamelan Semarandana untuk mendukung suasana sedih ataupun bahagia dengan memainkan lagu manis. Para pendukungnya mahasiswa yang tergabung dalam UKM tari, tabuh Ratna Saraswati dan UKM pedalangan. “Kalau dari segi akedemis UHN tidak memiliki jurusan seni, tetapi beberapa mahasiswa memang suka dengan seni dan sering terlibat dalam kegiatan pertunjukan,” ucapnya.
Bentuk dramatari inovatif ini dipilih karena beberapa tokoh penting akan berdialog secara langsung, seperti drama tari sesungguhnya. Karena itu, tokoh-tokoh khususdiperanka oleh mahasiswa Program Studi (Prodi) Bahasa Bali sesuai dengan kegiatan Bulan Bahasa Bali mengimplemenkan Bahasa Bali. Walau demikian, perhelatan ini tetap menggunakan dalang dan seorang narator untuk menyampaikan pesan kepada penonton. Narator itu beda, yakni sebagai orang yang mesatua dalam pertunjukan itu, sehingga mirip cerita berbingkai.
Sasolahan “I Sigir Jlema Tuah Asibak” itu tak hanya digarap secara apik, namun menyelipkan pesan moral. Misalnya, jangan menilai orang dari sisi luarnya saja, sebelum melihatnya lebih dalam. Secara garis besar, pesan satua yang diangkat itu direprensentasikan ke dalam garapan selanjutnya disampaikan kepada penonton.

“Intinya, kita tidak boleh menghina keterbatasan atau memandang orang sebelah mata. Itu, sesuai dengan tema Bulan Bahasa Bali sekarang yakni “Atma Kerthi, Udiana Purnaning Jiwa. Jangan melihat permukaannya saja, tetapi melihat kedalam dari jiwanya sendiri sebagai tempat yang lebih baik. Jika kedalaman itu terlihat sempurna, maka fisik pun menjadi sempurna,” tutup Tilem Pastika. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























