DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan kemajuan dibanding secara umum yang terjadi pada ajang yang sama tahun-tahun sebelumnya, terutama dilihat dari segi artistik, kosa gerak dan bahasa ungkap di atas panggung. Namun, sepertinya masih banyak teater yang ragu-ragu bermain untuk menyampaikan kritik sosial, misalnya kritik terhadap fenomena sosial dan kehidupan yang terjadi di Bali belakangan ini.
Pementasan teater (modern) tentu tak melulu punya tujuan normal: agar penonton paham dan terhibur terhadap cerita yang dibawakan di atas panggung. Teater punya tugas lebih berat, antara lain menyampaikan pesan, refleksi atau renungan, dan kritik sosial melalui garapan cerita.
Apalagi, dalam ajang Bulan Bahasa Bali ini, cerita-cerita yang digarap kebanyakan cerita-cerita yang sudah dikenal secara umum di Bali, semisal kisah Basur dan Jaratkaru. Ketika cerita sudah dikenal luas, maka tugas seorang seniman drama seharusnya memberi warna lain dalam cerita itu, semisal menyelipkan “sesuatu yang berbeda” untuk penonton bawa pulang.
Meski tak banyak yang berani menyelipkan kritik sosial, sebagian besar garapan drama Bali modern di Bulan Bahasa Bali 2026 ini terlihat sangat lihai menyampaikan pesan-pesan moral sesuai dengan konteks zaman sekarang. Misalnya, drama Basur yang dimainkan Teater Jineng Smasta cukup berhasil membawa pesan untuk memuliakan perempuan.
Drama Basur mengisahkan Ni Garu dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan kepada I Tigaron, putra tunggal I Gede Basur. Di sisi lain, dendam membara dalam diri I Gede Basur setelah gagal meminang Ni Sokasti untuk anaknya. Amarah dan ambisi mendorong Basur menggunakan ilmu hitam untuk mencelakai Ni Sokasti, memantik rentetan konflik bernuansa mistis yang berujung kehancuran.

Melalui alur dramatik yang kuat, pementasan ini menegaskan bahwa kesombongan dan penyalahgunaan ilmu pengetahuan menjadi awal petaka. Basur, yang dikenal sakti, justru tumbang oleh kekuatannya sendiri setelah menistakan perempuan dan menyimpangkan ajaran suci.
“Kisah Basur ini masih relevan dengan kondisi sosial saat ini,” kata I Gede Arum Gunawan atau Jro Arum selaku sutradara sekaligus penulis naskah drama Basur yang dimainkan Teater Jineng Smasta itu.
Dalam kisah ini, peran ibu dilukiskan begitu penting, terutama dalam pembentukan karakter anak. Apalagi, dalam kisah ini, tiga keluarga digambarkan kehilangan sosok ibu, namun memiliki nasib yang berbeda-beda.
Drama Bali Modern berjudul “Mlantjaran ka Sasak” yang dimainkan Sanggar Nong Nong Kling dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Jumat 20 Februari 2026, juga berhasil menyelipkan pesan-pesan moral, terutama tentang kesetaraan manusia di dunia modern ini.
Kisah “Mlantjaran ka Sasak”, di tangan Sanggar Nong Nong Kling, juga memnyampaikan semacam refleksi dan renungan untuk dunia masa kini, misalnya tentang kasta. Penonton bisa membawa pertanyaan dalam perjalanan pulang dari Taman Budaya, “Apakah kasta masih menjadi penghalang hubungan antarmanusia, terutama dalam pernikahan, di Bali?”
Refleksi dan Kritik Sosial Menjadi Kekuatan
Kisah-kisah yang dimainkan grup drama modern pada ajang Bulan Bahasa Bali ini sebagian memang kisah-kisah lama dengan latar zaman kerajaan atau bisa disebut zaman kuna, semisal Basur dan Jaratkaru. Kisah-kisah lama biasanya secara otomatis sudah mengandung pesan moral, terutama tentang kehidupan antara manusia. Namun, pesan moral itu biasanya sangat klasik. Tentang kehidupan hitam-putih, kebajikan dan kebatilan, surga dan neraka, baik-buruk: Yang baik akhirnya menang, yang buruk akan mendapat pahala keburukan yang setimpal.
Drama modern sepertinya punya tugas untuk menghubungkan amanat cerita itu ke dalam konteks yang lebih modern, sehingga cerita itu bisa berkaitan dengan kehidupan manusia masa kini, dengan segala problema dan persoalannya.
Dalam kisah Jaratkaru misalnya, ada semacam amanat bahwa seseorang yang tidak menikah di dunia nyata, maka leluhurnya akan menerima karma buruk di alam kematian. Apakah keyakinan-keyakinan semacam itu di masa lalu, masih sesuai dengan kehidupan manusia di zaman kini?
Jawabannya bisa macam-macam. Keyakinan pada nilai dan ajaran di masa lalu bisa saja pudar tergerus zaman, tapi bisa saja hidup tetap hidup selamanya. Dan, ketika cerita semacam itu dipentaskan dalam bentuk seni pertunjukan di atas panggung, sutradara atau penulis naskah tak bisa serta-merta memilih apakah pertunjukan itu akan memberi simpati pada ajaran lama, atau menentang ajaran itu. Tentu karena cerita semacam itu, yang sudah dipercaya begitu lama dan sudah menjadi semacam “agama”, tidak bisa serta-merta diubah begitu saja. Saat dialihwahanakan di atas panggung, cerita itu hanya bisa disiasati dengan diberi “carangan-carangan” kecil untuk menjadi cermin bagi penonton agar bisa melihat diri sendiri dalam cerita itu. Di bagian itulah refleksi dan kritik sosial bermain. Justru, ketika cerita dianggap tak sesuai zaman tapi begitu merakyat, refleksi dan kritik sosial menjadi kekuatan di atas panggung pertunjukan.

Sejumlah pementasan drama modern di Bulan Bahasa Bali tentu sudah banyak yang berhasil menyelipkan refleksi pada pementasan. Namun untuk memunculkan kritik sosial terhadap fenomena yang dihadapi manusia zaman kini, banyak sutradara masih memainkannya dengan penuh keragu-raguan. Jika pun kritik muncul, itu hanya muncul selintas dalam celetukan yang bertujuan untuk mengundang tawa, bukan secara serius membongkar kesadaran untuk berbenah.
Putri Suastini, seorang pemain teater senior yang dikenal sebagai istri Gubernur Wayan Koster, pun mengamini bahwa kritik sosial penting ada dalam pementasan drama modern.
“Jangan takut menyampaikan kritik. Mau kritik silakan, misalnya tentang kemacetan. Jabarkan saja, ributlah di atas panggung. Tapi tetap harus mengedepankan etika.” Begitu kata Putri Suastini usai menonton drama Bali modern yang ditampilkan Komunitas Wartawan Budaya Bali (Kawiya) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin, 23 Februari 2026. Saat itu Kawiya memainkan kisah Jakatkaru.
Menurut Putri Suastini, aktor yang baik adalah mereka yang mampu menyampaikan kritik setajam silet tanpa membuat pihak yang dikritik merasa tersakiti. Ia yang merupakan istri Gubernur dan bagian dari pemerintahan mengaku tidak alergi terhadap kritik. “Tapi tidak elok kalau anak-anak kita belajar memaki atau melakukan perundungan. Itu tidak bagus,” katanya.
Drama yang dimainkan Kawiya itu memang penuh dengan refleksi dan kritik sosial. Di situ digambarkan empat manusia urban yang hidup lajang di Denpasar mengalami berbagai persoalan hidup; sibuk kerja, kemacetan lalu-lintas dan banjir. Kesibukan dan persoalan yang mereka hadapi membuat mereka menjadi Jaratkaru, tidak sempat menikah, tidak berani menikah, tidak sadar bahwa mereka tidak menikah meski usia terus bertambah.
Jaratkaru, dengan kisah yang sudah jadi semacam ajaran di Bali itu, dimainkan dengan warna hidup manusia di zaman modern. Kisah Jaratkaru tidak tercerabut dari aslinya, namun ia diberikan cermin agar manusia modern bisa bersuluh dengan penuh kesadaran. [T]
Penulis: Adnyana Ole
Editor: Jaswanto



























