14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ironi Surga Dunia: Dominasi Bali Selatan dan Ketimpangan Sosial

I Komang Adi Muliana by I Komang Adi Muliana
February 26, 2026
in Esai
Ironi Surga Dunia: Dominasi Bali Selatan dan Ketimpangan Sosial

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BALI sering dijuluki sebagai “surga dunia”, julukan yang bagi saya overrated (dipuji secara berlebihan). Bila wilayahnya disebut sebagai surga dunia, maka seharusnya penduduknya adalah penghuni surga. Namun, sangat ironis ketika “penghuni surga” justru (terpaksa) harus meninggalkan tanah kelahirannya—merantau, demi mengupayakan hidup yang lebih layak. Mereka merantau bukan karena pilihan, melainkan karena ruang hidup mereka dikepung oleh ketimpangan sosial.

SARBAGITA—Sentris

Pembangunan ekonomi Bali terfokus di Wilayah Bali Selatan: Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan (SARBAGITA), terutama sektor pariwisata. Hampir 80% infrastruktur pariwisata (hotel berbintang, bandara internasional, jalan tol, kawasan hiburan, hingga pelabuhan) terfokus di Bali Selatan (Brida Kabupaten Buleleng, 2026). Wilayah Bali Utara, Barat, dan Timur mencakup: Buleleng, Jembrana, Karangasem, Klungkung, dan Bangli. Pembangunannya relatif tertinggal dikarenakan akses transportasi, investasi, dan infrastruktur pariwisata kurang berkembang.

Pembangunan wilayah sejatinya musti didesain bukan sekadar untuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan kemudahan akses di pusat kota, melainkan untuk distribusi keadilan—kesempatan sama yang dapat dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat di wilayah tersebut. Sayangnya, di Bali, pemerataan pembangunan sering kali hanya menjadi komoditas politik atau slogan musiman menjelang pemilu.

“SARBAGITA—Sentris”—frasa yang mengacu pada fenomena pemusatan pembangunan di daerah Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan—masih relevan hingga saat ini. Jika kita berkendara di sepanjang jalan Kota Denpasar dan Badung, kita akan disuguhi pemandangan infrastruktur yang relatif mapan. Namun, ketika kita melipir ke wilayah pelosok, misalnya, Jembrana ataupun Karangasem, yang jauh dari pusat kota Denpasar. Kita akan menemukan fakta pahit bahwa ketimpangan pembangunan di Bali itu sangatlah nyata.

Secara historis, dominasi wilayah Bali Selatan memang telah terjadi sejak lama, mulai dari akhir masa kerajaan, kolonial, hingga kemerdekaan Indonesia saat ini. Wilayah ini tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga menjadi pusat pariwisata, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, hingga politik di Bali.

Persebaran pembangunan yang tidak merata antara Bali Selatan dan non-Bali Selatan ini kemudian “memaksa” masyarakat untuk bekerja, beraktivitas, hingga berekreasi terpusat di Bali Selatan. Bahkan tidak sedikit yang “terpaksa” harus bekerja di luar negeri: misalnya kapal pesiar, tanker, maupun di darat (kebun/peternakan) untuk bisa mengupayakan hidup yang lebih layak.

Fenomena Merantau Sebagai Produk Ketimpangan Sosial

Dulunya saya beranggapan bahwa merantau adalah tindakan yang sungguh heroik. Pemuda-pemudi yang lahir di wilayah non-Bali Selatan, mencoba mengadu nasib, mengais rezeki, untuk bisa secara perlahan terbebas dari kemiskinan struktural dan menaikkan derajat keluarga di kampung. Namun, seiring berjalannya waktu, ditemani hirup pikuk kota Denpasar dan Yogyakarta—tempat saya merantau saat ini, saya mulai sadar bahwa ini adalah romantisme semu. Realitasnya, merantau adalah bentuk nyata dari kegagalan sistem dalam menghadirkan keadilan yang akhirnya melahirkan ketimpangan sosial.

Bagi mereka yang lahir dan tumbuh di Bali Selatan pun, terkadang musti pintar-pintar menyusun strategi agar bisa tetap bertahan. Sebab persaingan kerja yang ketat, biaya hidup tinggi, kemacetan, dan kini diperparah dengan banjir—yang nyaris selalu terjadi tiap kali hujan lebat. Sungguh sangat jauh dari fantasi “Surga Dunia”.

Mengapa semua orang harus menumpuk di SARBAGITA?

Sebab gravitasi kesejahteraan dan peluang hanya beredar di sekitar sana saja. Apabila bertahan di kampung, ijazah pendidikan yang kita perjuangkan sebelumnya (mungkin) hanya akan menjadi tumpukan kertas di dalam laci saja—karena lapangan kerja yang tersedia tidak mampu menampung kualifikasi yang kita usahakan selama duduk di bangku kuliah.

Tak heran apabila banyak anak muda yang mulai tercabut dari akar kulturalnya, sebab harus mengejar pundi-pundi rezeki di kota/luar negeri. Kita bekerja—meninggalkan kenyamanan di rumah, masakan ibu, dan waktu nongkrong dengan teman lama—demi bisa mencicipi kemakmuran yang terpusat di satu wilayah. Terkadang ada rindu—membuat sesak dada—yang harus ditahan, hanya untuk memastikan bahwa hari esok keluarga di kampung bisa tetap bertahan hidup dan kalau beruntung dapat kualitas yang lebih baik.

Fenomena Merantau ini sejatinya adalah potret implikasi dari dominasi kota dalam suatu daerah yang dipelihara. Kita didorong untuk dapat mandiri dan bertahan di tengah kondisi yang tidak ideal, sementara “sistem” yang ada justru terus-menerus memusatkan segalanya di satu titik.

Sampai Kapan Kita Akan Merantau?

Apakah “pemerataan pembangunan antarwilayah” sebagaimana yang diprioritaskan dalam RPJMN dan RPJMD (perencanaan lima tahunan) itu hanya sekadar wacana belaka? Upaya nyata dari harapan ini masih belum tampak dari langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah.

Memang benar ada upaya pemerataan pembangunan di luar Bali Selatan, misalnya: Kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Klungkung, Rencana Pembangunan Bandara Bali Utara di Buleleng, Rencana Pembangunan Tol Denpasar—Gilimanuk, hingga Rencana Pembangunan Taman Kerti Bali Semesta di Jembrana. Namun, kini progres dan realisasinya masih meninggalkan tanda tanya besar. Bali butuh adanya komitmen dan keseriusan yang berkelanjutan dalam upaya menuntaskan persoalan ini.

Ketimpangan ini bukanlah sekadar takdir geografi, melainkan produk dari kebijakan yang tidak mampu menghadirkan keadilan sosial bagi masyarakat. Bali butuh adanya komitmen dan keseriusan yang berkelanjutan dalam upaya menuntaskan persoalan ini. [T]

Penulis: I Komang Adi Muliana
Editor: Adnyana Ole


Tags: baliBali Selatanperantau
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

Next Post

‘Malajah Sambil Mapalianan’ di Bulan Bahasa Bali 2026: Anak-anak Ceria Belajar dan Bermain

I Komang Adi Muliana

I Komang Adi Muliana

Mahasiswa Magister Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Sebelumnya menuntaskan pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Udayana. Memiliki ketertarikan pada isu-isu publik, khususnya yang berkaitan dengan hukum, sosial, dan pendidikan. Saat ini sedang aktif mengelola komunitas pemuda di Kabupaten Jembrana bernama Lokal Perspektif. IG: adimuliana999

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
‘Malajah Sambil Mapalianan’ di Bulan Bahasa Bali 2026: Anak-anak Ceria Belajar dan Bermain

'Malajah Sambil Mapalianan' di Bulan Bahasa Bali 2026: Anak-anak Ceria Belajar dan Bermain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co