EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan maju mundur dari ujung ke ujung. Gerakannya pelan menghayati, sampai orang akan mengira sedang menonton aktivitas live pekerja cleaning service.
Tapi mereka bukan pekerja bersih-bersih; mereka aktor yang sedang mementaskan sebuah pertunjukan yang berjudul “Jaratkaru”. Itu pertunjukan Teater Bali Modern, bagian dari rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026, berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Senin malam, 23 Februari.
Pertunjukan ini digarap oleh Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya Bali (Kawiya) dengan dramaturg Agus Wiratama. Empat orang di panggung itu adalah Ingga Adellia, Dede Satria, Amrita Darsanam, dan Mahija Sena—keempatnya punya pengalaman di panggung yang tak salah-salah. Keempatnya adalah seniman serbabisa yang juga kerap menulis tentang budaya di tatkala.co.

Di panggung tidak hanya ada mereka berempat, tapi beberapa orang telah berdiam di sisi kiri dengan pakaian adat Bali. Mereka wartawan dan penulis budaya dari berbagai media yang terlibat dalam pementasan. Lalu, di sisi kanan menjadi tempat para pemusik dan penabuh yang mengiringi pementasan.
Gerakan mengepel lantai yang awalnya pelan mulai menaikkan ritme kecepatannya. Lantai panggung yang tadinya kering sekarang licin dan basah. Mereka melanjutkan mengepel lantai dengan gerakan acak, memutar-mutar kain pel di tangannya.
Ingga mulai memperkenalkan diri dalam bahasa Bali—menyebut dirinya dari Buleleng. Dede dari Negara, Amrita dari Tabanan, dan Sena dari Karangasem. Mereka memperkenalkan latar belakang, kesibukan, dan masalah masing-masing.
Walau dari daerah yang berbeda, mereka seperti tengah menghadapi masalah yang sama: hidup sebagai pemuda-pemudi Bali dengan kompleksitas adat dan tekanan urban. Kondisi ini juga yang barangkali sering orang sebut urban stress, kondisi stres fisik, mental, dan sosial yang dialami penduduk akibat kepadatan, persaingan tinggi, biaya hidup tinggi, kebisingan, dan polusi di kota.
Dan keempat aktor itu sama-sama menceritakan tentang bagaimana mereka mengadu nasib di Denpasar—kota yang berpotensi menyebabkan urban stress.
Ingga dari Buleleng harus melewati Sirkuit Gitgit dan membelah Bedugul selama kurang lebih tiga jam untuk ke Denpasar—walaupun sudah ada shortcut, tapi rasa-rasanya tetap sama.

Sementara Dede dari Negara, yang di ujung barat Pulau Bali itu, harus motoran sekitar tiga jam juga untuk ke Denpasar, belum lagi harus rebutan jalan sama bus dan truk besar. Hal yang sama terjadi pada Sena yang dari Karangasem di sisi timur Bali.
Hanya Amrita yang paling dekat dengan Denpasar karena dia dari Tabanan. Tapi karena jaraknya yang dekat itu, membuat kemungkinan dia memiliki mobilitas pulang pergi (PP) yang tinggi dari yang lain. Karena jika ada urusan adat atau ngayah di kampung, maka tidak ada alasan untuknya tidak pulang karena jarak tempuh yang dekat.
Dan saya coba menduga masalah krusialnya di sini: tuntutan adat atau tanggung jawab sosial di kampung—sebut saja “ngayah”—membuat mereka memiliki arus bolak-balik kampung-kota yang tinggi.
Tapi kalau dilihat lagi dengan adegan apa yang terjadi di panggung—adegan mereka saling berkejar-kejaran dan saling membenturkan diri—itu seperti melihat nasib kelas pekerja menengah ke bawah di Bali, kelompok yang sangat rentan.
Adegan itu seperti pekerja yang berkejaran dengan jam pulang kantor, tiba-tiba terjebak macet di jalan—apalagi jalanan Denpasar. Belum lagi benturan jadwal dan kesibukan manusia urban, terlebih manusia Denpasar—kurang urban apalagi kota ini. Lebih-lebih kondisi kota yang kian padat dan masalah-masalah lain yang muncul di kota yang menyebut dirinya sebagai “Parijs van Bali” (Parisnya Bali).
Entah apakah julukan itu masih layak atau tidak di tengah carut-marutnya Denpasar yang dibayang-bayangi juga dengan persoalan banjir. Itu menjadi nyambung dengan kondisi panggung yang sengaja dibasahi air saat itu.
Tapi bagaimanapun Denpasar, ia tetap tempat yang menjanjikan orang pekerjaan, memberikan imajinasi merubah nasib hidup di kota. Walau mungkin itu berbanding lurus dengan tingkat stres yang didapatkan.

Jujur bahwa hanya sedikit yang bisa saya pahami dari percakapan mereka di panggung. Tapi dengan koreografi dan intonasi suara yang mereka tontonkan, cukup untuk menjadi penghubung dengan gejolak apa yang sedang dialami. Tubuh mereka adalah tubuh yang bergejolak. Suara mereka adalah suara yang risau.
Namun, apa hubungan semua itu dengan kisah Jaratkaru? Awalnya saya tidak mengerti dengan Jaratkaru, tapi setelah membaca tulisan I Putu Mardika di Koran Baliexpress, saya jadi dapat sedikit gambaran mengenai ini.
Jaratkaru adalah seorang resi (pertapa) yang menempuh jalan pertapaan dengan meninggalkan hal-hal duniawi, termasuk memilih menolak menikah. Namun, keputusannya ini membawa konsekuensi terhadap leluhurnya.
Dikisahkan, arwah para leluhur Jaratkaru digambarkan tergantung terbalik di tepi jurang, hanya ditahan oleh sehelai benang. Benang itu adalah garis keturunan. Jika Jaratkaru tidak menikah dan memiliki keturunan, benang itu akan putus dan para leluhur jatuh ke dalam penderitaan.
Kisah Jaratkaru menjadi salah satu alasan kenapa pernikahan dan memiliki keturunan di Bali itu menjadi sangat serius. Sederhananya, dilarang menjomblo. Begitu menyadari ini, saya merasa tersentak tercekik.
Inilah konflik dan pergulatan yang terbangun dari drama “Jaratkaru: Lampan lan Utang sane Mekutang”, garapan Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya) Bali. Bayangkan bahwa tubuh para aktor yang bergerak ke sana ke mari dan benturan-benturan yang mereka ciptakan di panggung itu sebagai representasi dari kondisi sosial dan psikis pemuda-pemudi Bali saat ini, khususnya sebagai masyarakat urban.
Tubuh mereka lelah, psikis mereka kacau. Apa bisa mereka memikirkan kehidupan ke depannya dengan baik—membangun rumah tangga yang layak, misalnya—dengan kondisi seperti itu?
Saya jadi ingat cerita seorang teman—namanya Pradana—yang curhat tentang tekanan dari orang tua dan keluarga soal pekerjaan dan hal-hal yang berkaitan dengan hidupnya. Anak yang harus menanggung ego orang tua untuk menjadi objek yang bisa disombongkan di lingkungan sosial. Ini mempengaruhi pilihan-pilihan hidupnya; di mana ia harus bekerja dan apa yang harus ia lakukan jika ingin disebut anak berbakti.
Bagi dia, hal itu ditambah dengan tekanan kerja, kesibukan ngayah, dan tekanan zaman membuatnya semakin stres kalau ditanya lagi soal nikah. Ia bercerita bagaimana itu dibentuk dan direproduksi secara berlapis oleh keluarga, sekolah, dan komunitas. Budaya jadi beban dan sosial yang cenderung menghakimi membuatnya sesekali merasa kehilangan makna hidup. Merasa bahwa menjadi pemuda-pemudi Bali itu penuh kompleksitas dan pergulatan keseharian. Saya pikir kondisi seperti itu adalah gejala kecil dari urban stress.
Di panggung, Ingga, Dede, dan Amrita menaiki skateboard, mengayun dirinya dari ujung ke ujung dengan tatapan kosong—persis seperti orang kehilangan makna hidup—lalu mereka kembali diam. Sena terlihat menarik dan mendorong tubuh bersama papan skateboard mereka. Sesekali ia meloncat di antara rekan-rekannya yang masih di atas papan skateboard.
Salah satu elemen unik dalam pementasan ini adalah keterlibatan wartawan yang muncul di sela adegan membacakan berita berbahasa Bali. Mereka yang sedari awal diam di sisi kanan panggung tiba saja masuk di tengah panggung dan berjalan ke kursi penonton—sambil membacakan teks berita berbahasa Bali. Teknik ini menghadirkan suasana teatrikal yang membuat batas antara panggung dan realitas terasa kian tipis.
Tiga orang yang saya kenal, yaitu Supartika, Yesi Candrika, dan I Made Sujaya, tetap berdiam di sisi kanan panggung sambil bergantian membacakan puisi Nyoman Tusthi Eddy dan IDK Raka Kusuma. Suasana terasa lebih mencekam saat Supartika meninggikan suaranya yang diiringi tetabuhan dari para penabuh yang berdiam di sisi kanan panggung.

Di panggung, empat aktor bersuara tentang surga. Dalam kisah Jaratkaru, atma para leluhur dilukiskan menderita, tergantung di pohon bambu. Namun dalam Jaratkaru garapan Kawiya ini empat aktor bicara tentang surga yang diangankan. “Siang ada macet di suarga, sing ada banjir di suargan…!” Tak ada macet di surga, tak ada banjir di surga.
Sesaat kemudian, pencahayaan mulai perlahan padam, gelap, dan suasana menjadi hening, menandakan pementasan yang telah usai. Tetapi pementasan Jaratkaru, akan terus menjadi metafora untuk berbagai persoalan kontemporer Bali—soal tekanan ekonomi, kemacetan, perubahan sosial, hingga dinamika generasi muda yang berjuang bertahan di tengah arus zaman.
Gedung Ksirarnawa malam itu dipenuhi pegiat sanggar dan komunitas teater, di antaranya Teater Angin (SMAN 1 Denpasar), Trisma (SMAN 3 Denpasar), AGHUMI, Teater Onbak, Melayani Institut, serta ratusan siswa dari berbagai organisasi sekolah.
Pementasan ini juga mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh seni dan akademisi, seperti I Wayan Dibia, Ketua Pramusti Bali I Gusti Ngurah Murthana (Rahman), serta penyanyi Trisna STE.
Di antara penonton yang hadir, tampak istri Gubernur Bali, Ni Putu Putri Suastini Koster. Ia menyaksikan pementasan dari awal hingga akhir, lalu menyampaikan apresiasi tinggi kepada para seniman muda Kawiya Bali.

Pertunjukan ini lahir dari ingatan pribadi, mitologi Bali, dan dorongan keseharian generasi muda urban Bali. Ketua Kawiya Bali, I Putu Suryadi, menegaskan bahwa teater ini menjadi ruang refleksi sekaligus medium kritik sosial berbasis budaya. Mencoba menampilkan pertunjukan kontemporer yang diigali dari kisah atau cerita-cerita lokal. [T]
Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Adnyana Ole



























