14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gentingisasi, MBG, dan Korupsi: Sepenggal Kisah di Negeri Dongeng

Chusmeru by Chusmeru
February 25, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

TIADA mendung tiada hujan, mendadak Presiden Prabowo Subianto berbicara tentang pentingnya rakyat Indonesia memiliki rumah yang beratap genting. Bahkan dengan sangat berapi-api ia mencanangkan proyek gentingisasi. Apakah masalah genting rumah ini sudah benar-benar genting dalam arti gawat? Ataukah sekadar dongeng untuk negeri ini?

Begitu banyak dongeng di bumi Nusantara ini. Dongeng-dongeng itu meliputi cerita rakyat, legenda, fabel, mitos, sage, dan dongeng jenaka. Semua yang pernah mengalami masa kecil pasti ingat dongeng Timun Mas, Bawang Putih Bawang Merah, dongeng Si Kancil, Malin Kundang, Roro Jonggrang, hingga hikayat Sangkuriang.

Banyak fungsi dongeng, namun yang utama adalah sebagai media komunikasi dan hiburan. Meski begitu, dongeng juga dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan pesan moral, mendidik, dan pewarisan nilai karakter.

Sebagai media hiburan, dongeng sekadar memberi kesenangan dan mengalihkan perhatian agar memperoleh relaksasi, lantas tertidur. Sebagai media pendidikan moral dan karakter,  dongeng menanamkan nilai kebaikan, kejujuran, kesabaran, dan keberanian melalui perilaku tokoh, sekaligus membedakan perbuatan baik dan buruk.

Selain dongeng yang menghibur dan mendidik, ada pula dongeng yang bernuansa politik. Biasanya berupa cerita fiktif atau alegori yang menggunakan simbolisme, karakter hewan, atau fantasi lain untuk mengkritik kekuasaan, menyindir pemerintahan, atau mengulik isu-isu politik. Dongeng seperti ini menggunakan narasi yang sederhana, namun berisi kritik yang tajam.

Dongeng alegoris dapat dibaca dalam  Animal Farm karya George Orwell, yang menggunakan karakter hewan untuk menyindir Revolusi Rusia dan korupsi kekuasaan. Kehidupan politik di Inggris pada abad ke-18 juga disindir dalam dongeng parodi Guliver’s Travels karya Jonathan Swift.

Indonesia memiliki banyak cerita tentang sindiran kekuasaan dalam dongeng yang dikemas dalam lakon pewayangan, seperti Semar Gugat, Petruk Jadi Ratu, Kangsa Adu Jago, Pendawa Apus, dan lain-lain. Selain itu juga banyak dongeng tentang konflik politik di berbagai daerah.

Dongeng Orde Baru

Indonesia yang kaya dengan dongeng bukan hanya diwarnai cerita sebelum tidur. Dongeng banyak bermunculan di era Orde Baru, yang berisi narasi propaganda melalui pendidikan, film, maupun buku cerita. Dongeng sengaja diciptakan rezim untuk menggalang kepatuhan, stabilitas, dan meninabobokan rakyat.

Salah satu “dongeng” yang wajib ditonton adalah film Pengkhianatan G30S PKI. Film ini sempat menjadi tayangan wajib bagi televisi pemerintah setiap tanggal 30 September. Narasi sejarah yang dikembangkan tentu saja untuk membangun legitimiasi rezim. Bermunculan kemudian film-film sejenis yang menggambarkan kegagahan rezim, seperti Janur Kuning dan Serangan Fajar.

Dongeng rezim Orde Baru bidang ekonomi tertuang dalam Trilogi Pembangunan yang mencakup pertumbuhan tinggi, stabilitas nasional, dan pemerataan. Dengan ketiga hal tersebut diharapkan ada tetesan keran ekonomi kepada rakyat jelata (trickle down effect). Nyatanya, keran ekonomi tertahan di kelas menengah tanpa menetes ke rakyat. Di bawah, rakyat tetap tergencet, angka kemiskinan tinggi, dan kelaparan masih saja terjadi.

Di tengah kondisi ekonomi yang memburuk, rakyat justru disuguhi dongeng tentang mimpi di siang bolong (day dreaming). Rezim Orde Baru membuat kebijakan legalisasi judi lewat  Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Rakyat diajak untuk bermimpi menjadi kaya secara mendadak dengan judi yang berkedok dana sosial. Kriminalitas pun meningkat, dan rakyat kecanduan berjudi.

Orde Baru juga melakukan deregulasi ekonomi serta kerja sama dengan lembaga internasional. Deregulasi dilakukan di perbankan dan penyederhanaan prosedur investasi. Kerja sama internasional dilakukan melalui bergabung dengan IMF dan Bank Dunia. Hasilnya, utang luar negeri meningkat, dan krisis moneter di tahun 1997. Rakyat semakin terjepit, sementara pejabat berdasi kian buncit.

Kebijakan politik paling melegenda pada Orde Baru adalah penyederhanaan atau fusi partai politik hanya menjadi tiga, yaitu PPP, PDI, dan Golkar. Rezim semakin kokoh mempertahankan kekuasaan ketika dilakukan Golkarisasi. Semua pegawai negeri sipil wajib berafiliasi kepada Golkar. Alhasil, Golkar selalu menjadi pemenang Pemilu lantaran didukung penuh oleh pemerintah.

Dongeng politik Orde Baru yang tak terlupakan adalah Dwi Fungsi ABRI dan NKK/BKK. Dwi Fungsi ABRI membuat militer memiliki peran ganda, yakni sebagai kekuatan pertahanan keamanan dan kekuatan sosial-politik, sehingga ABRI memiliki perwakilan di DPR/MPR. Tak heran bila hingga kini militer ketagihan untuk berpolitik.

Sementara Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) untuk melarang mahasiswa berpolitik praktis. Dampaknya, mahasiswa cepat lulus kuliah, namun kehilangan daya kritisnya.

Dongeng Kekinian

Rezim boleh saja berganti. Namun dongeng-dongeng tentang kebaikan rezim terus saja berlanjut. Rakyat diminta untuk duduk manis menyimak dongeng tentang kebijakan rezim yang akan menyelamatkan rakyat, menyejahterakan rakyat, dan memberi jutaan lapangan kerja buat rakyat.

Pemberantasan korupsi masih menjadi dongeng sebelum tidur hampir di semua rezim yang pernah berkuasa di Indonesia. Presiden Prabowo Subianto begitu lantang akan mengejar para koruptor hingga ke Antartika sekalipun, bahkan siap untuk mengirimkan pasukan khusus memburu para koruptor itu.

Ternyata suara lantang itu hanyalah sepenggal kisah di negeri dongeng. Bukan Antartika, korupsi justru terjadi tidak jauh dari pusat kekuasaan. Bupati, gubernur, menteri, hingga pejabat BUMN di lingkaran kekuasaan Prabowo justru terlibat korupsi. 

Mirisnya, Indeks Presepsi Korupsi (IPK) Indonesia anjlok drastis. Menurut Transparency International Indonesia, skor IPK Indonesia turun ke angka 34, di bawah Singapura, Malaysia, Timor Leste, dan Vietnam (Kompas.com, 12/2/2026). Artinya, korupsi masih merajalela di Indonesia.

Dongeng lain dari rezim bernama Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemberian makan satu kali dalam sehari itu telah menyasar lebih dari 60 juta penerima. Presiden Prabowo Subianto sudah dengan tegas menyatakan bahwa 99,99% harus dinyatakan berhasil. Dongeng MBG pun diwarnai dengan berbagai kisah sukses.

Menurut Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, program MBG membutuhkan 3000 ekor ikan lele di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Selain itu, setiap hari juga akan dipotong 19.000 ekor sapi untuk program MBG.

Namanya juga dongeng, boleh dipercaya, boleh pula tidak. Namun agar dipercaya, siswa penerima MBG akan di tes IQ mereka untuk melihat efek pintar MBG. Benarkah seorang siswa yang menerima MBG sekali sehari dalam lima hari sekolah dengan menu seadanya itu akan menjadi cerdas dan ber-IQ tinggi? Tentu nanti akan muncul dongeng yang lain.

Kepala BGN juga berkisah, banyak anak putus sekolah karena orang tua tak mampu memberi uang jajan kepada anaknya. Karenanya program MBG dapat mencegah anak putus sekolah. Selain itu, jutaan lapangan kerja telah tercipta dari program MBG ini. Dongeng pun terasa lengkap ketika TNI dan Polri memiliki ratusan hingga ribuan SPPG. Belum lagi partai politik dan para pejabat di daerah dan pusat.

Akan tetapi ketika terjadi keracunan ribuan siswa akibat makan MBG, menu yang tak layak santap, harga sembako yang naik akibat MBG, daya beli masyarakat yang menurun, dan guru honorer yang menggugat anggaran MBG yang menyerobot anggaran pendidikan; itu semua bukan bagian dari dongeng rezim. Masyarakatlah yang memang belum terbiasa makan menu MBG dan belum memahami tujuan mulia MBG. Lantaran setiap dongeng MBG adalah keberhasilan, bukan keluh-kesah maupun kegagalan.

Rezim juga punya dongeng kekinian tentang kebebasan. Di satu waktu melempar wacana kebebasan berpendapat, di waktu yang lain muncul amarah ketika mendapat kritik. Demonstrasi sebagai simbol kebebasan dituding bertujuan menciptakan kerusuhan dan dikendalikan kekuatan asing. Konon ada buktinya.

Namanya juga dongeng, boleh dipercaya, boleh pula tidak. Kenapa tidak disampaikan saja siapa kekuatan asing yang mengendalikan demonstrasi itu? Jika tidak disampaikan akan tetap menjadi dongeng tentang kegalauan rezim menghadapi rakyatnya yang kritis.

Terbaru, dongeng tentang gentingisasi yang ingin menciptakan sepenggal kisah tentang negeri yang penghuninya aman, sehat, resik, dan indah (ASRI). Gentingisasi diharapkan dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia. Proyek gentingisasi ini kabarnya akan didukung oleh Koperasi Merah Putih dan dananya pun menurut Menteri Keuangan kemungkinan akan diambil  dari program MBG.

Pertanyaannya, apakah benar selama ini kunjungan wisatawan mancanegara menurun karena masih ada masyarakat Indonesia  yang atap rumahnya dari seng atau asbes? Haruskah semua rumah di Nusantara ini menggunakan atap genting? Ataukah ini semua hanya kisah dari seorang pendongeng yang hidup di negeri dongeng?

Negeri dongeng adalah sebuah tempat yang merujuk pada dunia penuh keajaiban dan fantasi. Menggambarkan tempat yang sangat indah, imajinatif, dan magis yang dihuni oleh bidadari, peri, dan raksasa. Gentingisasi, MBG, dan pemberantasan korupsi bisa jadi hanya sepenggal kisah dari negeri dongeng yang indah dan asri, yang di dalamnya penjahat dan koruptor hidup dengan nyaman dan damai.[T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: makanan bergizinegaraPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

Next Post

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Poltekkes Denpasar 2026: Menyemai Teladan, Meneguhkan Komitmen

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Grand Final Pemilihan Duta GenRe Poltekkes Denpasar 2026: Menyemai Teladan, Meneguhkan Komitmen

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Poltekkes Denpasar 2026: Menyemai Teladan, Meneguhkan Komitmen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co