14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

File Epstein dan ‘Critical Thinking’: Belajar Berpikir Jernih di Tengah Konspirasi

Isran Kamal by Isran Kamal
February 18, 2026
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

NAMA Jeffrey Epstein sudah lama berhenti menjadi sekadar nama individu. Epstein berubah menjadi simbol tentang kekuasaan, kejahatan seksual, jaringan elite, dan misteri kematian di balik jeruji. Fakta hukumnya jelas, Epstein terlibat dalam kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur dan memiliki relasi dengan sejumlah tokoh berpengaruh dunia. Fakta lain yang tak kalah mengguncang adalah, Epstein meninggal di tahanan pada 2019 dalam kondisi yang memicu pertanyaan luas.

Sejak saat itu, kasus ini tidak pernah benar-benar reda. Setiap dokumen baru mengenai Epstein dirilis, setiap potongan informasi yang muncul, hampir selalu disambut dengan gelombang spekulasi. Bagi sebagian orang, kasus Epstein bukan lagi sekadar kasus kriminal, melainkan bukti adanya jaringan konspirasi global yang tersembunyi di balik layar kekuasaan.

Namun di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih penting dari sekadar “siapa terlibat?”. Mengapa setiap kasus yang melibatkan elite, misteri, dan ketidakjelasan hampir selalu berkembang menjadi teori konspirasi besar?

Artikel ini tidak bertujuan membela pelaku, apalagi membenarkan kejahatannya. Kejahatan tetaplah kejahatan. Tetapi di tengah derasnya narasi dan tuduhan yang beredar, ada hal lain yang layak diperiksa. Bagaimana cara kita berpikir ketika berhadapan dengan informasi yang tidak lengkap, misterius, dan emosional?

Kasus Epstein memberi kita kesempatan untuk belajar sesuatu yang lebih luas dari sekadar satu peristiwa. Kasus ini menjadi cermin tentang bagaimana pikiran publik bekerja, bagaimana kita merespons ketidakpastian, bagaimana kita mengisi celah informasi, dan bagaimana kita membedakan antara fakta, dugaan, dan keyakinan.

Di era informasi yang bergerak cepat, kemampuan berpikir kritis bukan lagi sekadar kelebihan intelektual. Critical thinking kini menjadi kebutuhan dasar. Dan mungkin, sebelum kita mencoba membongkar dunia di balik layar, kita perlu lebih dulu memahami cara kerja pikiran kita sendiri.

Fakta vs Spekulasi: Memisahkan Apa yang Kita Tahu dan Tidak Tahu

Dalam setiap kasus besar, terutama yang melibatkan tokoh berpengaruh dan dinamika kekuasaan, ada tiga lapisan informasi yakni, apa yang sudah terbukti secara hukum, apa yang masih dalam proses investigasi, dan apa yang sepenuhnya berada di wilayah dugaan. Masalahnya, di ruang publik ketiga lapisan ini sering tercampur tanpa batas yang jelas.

Dalam kasus Epstein, ada fakta yang tidak diperdebatkan bahwa dia dihukum atas kejahatan seksual, memiliki jaringan relasi luas dengan kalangan elite, dan meninggal di dalam tahanan. Namun ada pula pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab secara publik, terutama terkait kelalaian pengawasan di penjara dan sejauh mana keterlibatan individu lain dalam jaringan kejahatannya. Di titik inilah celah informasi muncul.

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan yang disebut intolerance of uncertainty, kesulitan menerima ketidakpastian. Otak kita tidak nyaman dengan ruang kosong. Ketika ada bagian cerita yang belum lengkap, kita terdorong untuk mengisinya. Dan semakin sensitif atau besar dampak peristiwanya, semakin kuat dorongan tersebut.

Celah informasi ini sering disebut sebagai information gap. Dalam kondisi seperti ini, spekulasi mudah berkembang, terutama ketika narasi yang beredar terasa “menjelaskan segalanya” sekaligus. Penjelasan yang menyeluruh, meskipun belum didukung bukti kuat, sering terasa lebih memuaskan secara psikologis dibanding jawaban jujur yang mengatakan, “kita belum tahu sepenuhnya.”

Di sinilah pentingnya disiplin berpikir. Berpikir kritis bukan berarti menolak kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain. Sebaliknya, berpikir kritis justru menuntut kita membedakan secara tegas antara fakta yang telah diverifikasi, dugaan yang masih terbuka, dan klaim yang belum memiliki dasar evidensial yang memadai.

Tanpa pemisahan ini, diskusi publik mudah tergelincir. Dugaan dibaca sebagai kepastian. Kemungkinan diperlakukan sebagai bukti. Dan setiap ketidaklengkapan informasi dianggap sebagai konfirmasi bahwa sesuatu yang besar sedang disembunyikan.

Kasus Epstein mengajarkan satu hal penting bahwa tidak semua ketidakjelasan adalah bukti konspirasi. Terkadang, hal tersebut memang hanya sebuah ketidakjelasan yang membutuhkan waktu, investigasi, dan kehati-hatian untuk dipahami.

Mengapa Teori Konspirasi Terasa Masuk Akal?

Ketika sebuah peristiwa terasa besar, dramatis, dan melibatkan tokoh berpengaruh, banyak orang secara intuitif merasa bahwa penyebabnya juga harus besar dan dramatis. Dalam psikologi kognitif, kecenderungan ini dikenal sebagai proportionality bias, suatu keyakinan bahwa peristiwa besar pasti memiliki sebab yang sama besarnya. Pada umumnya, manusia cenderung sulit untuk menerima bahwa kombinasi kelalaian, kegagalan sistem, dan kebetulan bisa menghasilkan tragedi yang masif. Penjelasan semacam itu terasa “terlalu kecil” untuk peristiwa yang begitu besar.

Selain itu, manusia juga memiliki kecenderungan alami untuk mendeteksi agen atau aktor di balik suatu kejadian, bahkan ketika bukti keterlibatan terorganisir belum jelas. Ini disebut agency detection bias. Secara evolusioner, kemampuan mendeteksi ancaman tersembunyi memang membantu manusia bertahan hidup. Namun dalam konteks modern, kecenderungan ini bisa membuat kita lebih mudah melihat pola dan niat tersembunyi di balik peristiwa yang kompleks.

Tambahkan lagi confirmation bias, suatu kecenderungan dalam mencari dan mempercayai informasi yang sejalan dengan keyakinan awal kita. Jika seseorang sudah memiliki asumsi bahwa elite selalu saling melindungi, maka setiap potongan informasi tentang relasi Epstein dengan tokoh terkenal akan dipandang sebagai bukti konfirmasi. Sebaliknya, informasi yang tidak mendukung narasi itu cenderung diabaikan atau dianggap bagian dari upaya penutupan.

Namun ada faktor yang lebih dalam dari sekadar bias kognitif, yakni kebutuhan akan kontrol dan makna. Peristiwa seperti kasus Epstein memunculkan rasa tidak aman. Kasus ini menunjukkan bahwa kekuasaan bisa menyembunyikan kejahatan, bahwa sistem bisa gagal, bahwa keadilan tidak selalu berjalan mulus. Dalam kondisi seperti itu, teori konspirasi menawarkan sesuatu yang secara psikologis menenangkan. Adanya sebuah narasi yang rapi. Ada pelaku, ada jaringan, ada motif, ada arah. Dunia kembali terasa dapat dipahami.

Ironisnya, narasi konspiratif sering terasa lebih koheren daripada kenyataan. Kenyataan sering kali berantakan, penuh celah, dan tidak memberi kepastian cepat. Konspirasi menawarkan struktur. Konspirasi juga menyederhanakan kompleksitas menjadi satu penjelasan tunggal.

Di titik ini penting ditegaskan bahwa memahami mengapa teori konspirasi terasa masuk akal bukan berarti menganggap semua kecurigaan tidak berdasar. Skeptisisme terhadap kekuasaan adalah bagian sehat dari masyarakat demokratis. Namun skeptisisme yang sehat tetap membutuhkan standar bukti yang konsisten. Tanpa itu, kita tidak lagi mencari kebenaran akan tetapi kita hanya mencari cerita yang paling memuaskan emosi kita.

Dan di sinilah critical thinking mulai diuji, apakah kita mampu menahan dorongan untuk segera menyimpulkan, meskipun penjelasan sederhana terasa kurang memuaskan?

Bahaya Pola Pikir Konspiratif yang Tidak Terkontrol

Skeptisisme terhadap kekuasaan adalah bagian penting dari masyarakat yang sehat. Namun ketika skeptisisme berubah menjadi keyakinan konspiratif yang kaku dan tertutup terhadap koreksi, muncul konsekuensi psikologis dan sosial yang tidak ringan.

Salah satu ciri utama pola pikir konspiratif yang tidak terkontrol adalah terbentuknya self-sealing belief system. Suatu sistem keyakinan yang kebal terhadap bantahan. Setiap bukti yang bertentangan dianggap sebagai bagian dari konspirasi itu sendiri. Jika tidak ada bukti, itu berarti bukti sedang disembunyikan. Jika ada bantahan resmi, itu dianggap sebagai penutupan sistematis. Dengan pola seperti ini, diskusi rasional menjadi hampir mustahil, karena tidak ada kondisi di mana keyakinan bisa diuji secara terbuka.

Dampak berikutnya adalah erosi kepercayaan total terhadap institusi. Ketika setiap kegagalan sistem langsung dibaca sebagai bukti adanya skema besar yang terorganisir, ruang untuk kritik berbasis data menjadi semakin sempit. Padahal, kritik yang efektif membutuhkan informasi yang valid dan memadai. Apa yang salah, di mana letaknya, dan bagaimana memperbaikinya. Jika semuanya dianggap bagian dari jaringan rahasia yang tak terlihat, maka solusi konkret menjadi sulit dirumuskan.

Ada pula konsekuensi sosial yang lebih halus namun berbahaya, munculnya polarisasi identitas. Muncul pembelahan antara “yang sadar” dan “yang tertidur”, antara mereka yang merasa mengetahui kebenaran tersembunyi dan mereka yang dianggap naif atau dimanipulasi. Dalam jangka panjang, pola ini merusak dialog publik. Alih-alih memperdebatkan bukti, orang memperdebatkan identitas.

Secara psikologis, pola pikir konspiratif juga bisa menciptakan kondisi kewaspadaan kronis. Jika seseorang meyakini bahwa hampir semua peristiwa besar adalah hasil rekayasa tersembunyi, maka dunia akan terasa penuh ancaman. Rasa curiga menjadi default. Ini mungkin memberi sensasi kontrol jangka pendek karena merasa “lebih tahu” namun dalam jangka panjang bisa meningkatkan kecemasan dan isolasi sosial.

Yang perlu digarisbawahi adalah, tidak semua kecurigaan adalah konspirasi, dan tidak semua kritik terhadap kekuasaan adalah irasional. Namun tanpa disiplin berpikir, batas antara investigasi yang sah dan spekulasi tak terbatas menjadi kabur. Ketika batas itu hilang, yang rusak bukan hanya reputasi individu tertentu, tetapi kualitas diskursus publik secara keseluruhan.

Kasus Epstein menunjukkan betapa tipisnya garis tersebut. Ada fakta yang memang mengundang pertanyaan. Ada relasi yang patut ditelusuri. Namun ketika setiap ketidaklengkapan informasi langsung ditarik ke dalam narasi global yang serba menyeluruh, kita berisiko kehilangan sesuatu yang lebih penting, yakni kemampuan untuk berpikir dengan proporsional. Dan tanpa proporsionalitas, bahkan pencarian kebenaran pun bisa berubah menjadi arena ilusi.

Critical Thinking: Menahan Diri Sebelum Menyimpulkan

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting dalam membaca kasus seperti Epstein bukan hanya “apa yang sebenarnya terjadi?”, tetapi juga “bagaimana cara kita menyikapinya?”. Di sinilah critical thinking menjadi relevan. Bukan sebagai alat untuk membela siapa pun, melainkan sebagai disiplin intelektual untuk menjaga kejernihan berpikir.

Berpikir kritis bukan berarti menolak kemungkinan adanya penyimpangan kekuasaan. Sebaliknya, critical thinking justru menuntut standar bukti yang konsisten, baik ketika kita mencurigai kekuasaan maupun ketika kita membelanya. Melalui critical thinking, kita akan lebih jeli membedakan antara fakta yang telah diverifikasi, dugaan yang masih terbuka, dan klaim yang belum memiliki dasar evidensial yang kuat.

Ada beberapa prinsip sederhana namun mendasar yang bisa menjadi pegangan. Pertama, bedakan fakta, interpretasi, dan opini. Kedua, tanyakan sumber dan kredibilitas informasi. Ketiga, waspadai narasi yang terasa terlalu rapi untuk realitas yang kompleks. Dan yang paling sulit dari semua hal tersebut adalah, sadari bahwa kita pun memiliki bias.

Kematangan intelektual sering kali bukan soal seberapa cepat kita menyimpulkan, tetapi seberapa lama kita mampu menahan diri sebelum menyimpulkan. Tidak semua misteri adalah konspirasi global. Tidak semua ketidakjelasan adalah bukti adanya skema tersembunyi. Kadang, kenyataan memang kompleks, berlapis, dan tidak memberikan kepuasan emosional instan.

Kasus Epstein adalah tragedi kriminal yang nyata. Epstein layak dikritisi, ditelusuri, dan dibahas secara serius. Namun cara kita membahasnya juga mencerminkan kualitas nalar publik kita. Jika setiap celah langsung diisi oleh narasi paling dramatis, kita berisiko menggantikan pencarian kebenaran dengan pencarian sensasi.

Di era banjir informasi, kemampuan menunda kesimpulan mungkin lebih penting daripada kemampuan menyimpulkan. Berpikir kritis bukan tentang menjadi yang paling skeptis, tetapi tentang menjadi yang paling jujur terhadap bukti. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising, kejernihan berpikir adalah bentuk keberanian yang paling sunyi namun paling dibutuhkan. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: Psikologiteori konspirasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Remaja SMP Bicara Kesehatan: Lahirnya Duta Remaja Sehat Provinsi Bali 2026 di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Next Post

Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co