12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

File Epstein dan ‘Critical Thinking’: Belajar Berpikir Jernih di Tengah Konspirasi

Isran Kamal by Isran Kamal
February 18, 2026
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

NAMA Jeffrey Epstein sudah lama berhenti menjadi sekadar nama individu. Epstein berubah menjadi simbol tentang kekuasaan, kejahatan seksual, jaringan elite, dan misteri kematian di balik jeruji. Fakta hukumnya jelas, Epstein terlibat dalam kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur dan memiliki relasi dengan sejumlah tokoh berpengaruh dunia. Fakta lain yang tak kalah mengguncang adalah, Epstein meninggal di tahanan pada 2019 dalam kondisi yang memicu pertanyaan luas.

Sejak saat itu, kasus ini tidak pernah benar-benar reda. Setiap dokumen baru mengenai Epstein dirilis, setiap potongan informasi yang muncul, hampir selalu disambut dengan gelombang spekulasi. Bagi sebagian orang, kasus Epstein bukan lagi sekadar kasus kriminal, melainkan bukti adanya jaringan konspirasi global yang tersembunyi di balik layar kekuasaan.

Namun di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih penting dari sekadar “siapa terlibat?”. Mengapa setiap kasus yang melibatkan elite, misteri, dan ketidakjelasan hampir selalu berkembang menjadi teori konspirasi besar?

Artikel ini tidak bertujuan membela pelaku, apalagi membenarkan kejahatannya. Kejahatan tetaplah kejahatan. Tetapi di tengah derasnya narasi dan tuduhan yang beredar, ada hal lain yang layak diperiksa. Bagaimana cara kita berpikir ketika berhadapan dengan informasi yang tidak lengkap, misterius, dan emosional?

Kasus Epstein memberi kita kesempatan untuk belajar sesuatu yang lebih luas dari sekadar satu peristiwa. Kasus ini menjadi cermin tentang bagaimana pikiran publik bekerja, bagaimana kita merespons ketidakpastian, bagaimana kita mengisi celah informasi, dan bagaimana kita membedakan antara fakta, dugaan, dan keyakinan.

Di era informasi yang bergerak cepat, kemampuan berpikir kritis bukan lagi sekadar kelebihan intelektual. Critical thinking kini menjadi kebutuhan dasar. Dan mungkin, sebelum kita mencoba membongkar dunia di balik layar, kita perlu lebih dulu memahami cara kerja pikiran kita sendiri.

Fakta vs Spekulasi: Memisahkan Apa yang Kita Tahu dan Tidak Tahu

Dalam setiap kasus besar, terutama yang melibatkan tokoh berpengaruh dan dinamika kekuasaan, ada tiga lapisan informasi yakni, apa yang sudah terbukti secara hukum, apa yang masih dalam proses investigasi, dan apa yang sepenuhnya berada di wilayah dugaan. Masalahnya, di ruang publik ketiga lapisan ini sering tercampur tanpa batas yang jelas.

Dalam kasus Epstein, ada fakta yang tidak diperdebatkan bahwa dia dihukum atas kejahatan seksual, memiliki jaringan relasi luas dengan kalangan elite, dan meninggal di dalam tahanan. Namun ada pula pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab secara publik, terutama terkait kelalaian pengawasan di penjara dan sejauh mana keterlibatan individu lain dalam jaringan kejahatannya. Di titik inilah celah informasi muncul.

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan yang disebut intolerance of uncertainty, kesulitan menerima ketidakpastian. Otak kita tidak nyaman dengan ruang kosong. Ketika ada bagian cerita yang belum lengkap, kita terdorong untuk mengisinya. Dan semakin sensitif atau besar dampak peristiwanya, semakin kuat dorongan tersebut.

Celah informasi ini sering disebut sebagai information gap. Dalam kondisi seperti ini, spekulasi mudah berkembang, terutama ketika narasi yang beredar terasa “menjelaskan segalanya” sekaligus. Penjelasan yang menyeluruh, meskipun belum didukung bukti kuat, sering terasa lebih memuaskan secara psikologis dibanding jawaban jujur yang mengatakan, “kita belum tahu sepenuhnya.”

Di sinilah pentingnya disiplin berpikir. Berpikir kritis bukan berarti menolak kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain. Sebaliknya, berpikir kritis justru menuntut kita membedakan secara tegas antara fakta yang telah diverifikasi, dugaan yang masih terbuka, dan klaim yang belum memiliki dasar evidensial yang memadai.

Tanpa pemisahan ini, diskusi publik mudah tergelincir. Dugaan dibaca sebagai kepastian. Kemungkinan diperlakukan sebagai bukti. Dan setiap ketidaklengkapan informasi dianggap sebagai konfirmasi bahwa sesuatu yang besar sedang disembunyikan.

Kasus Epstein mengajarkan satu hal penting bahwa tidak semua ketidakjelasan adalah bukti konspirasi. Terkadang, hal tersebut memang hanya sebuah ketidakjelasan yang membutuhkan waktu, investigasi, dan kehati-hatian untuk dipahami.

Mengapa Teori Konspirasi Terasa Masuk Akal?

Ketika sebuah peristiwa terasa besar, dramatis, dan melibatkan tokoh berpengaruh, banyak orang secara intuitif merasa bahwa penyebabnya juga harus besar dan dramatis. Dalam psikologi kognitif, kecenderungan ini dikenal sebagai proportionality bias, suatu keyakinan bahwa peristiwa besar pasti memiliki sebab yang sama besarnya. Pada umumnya, manusia cenderung sulit untuk menerima bahwa kombinasi kelalaian, kegagalan sistem, dan kebetulan bisa menghasilkan tragedi yang masif. Penjelasan semacam itu terasa “terlalu kecil” untuk peristiwa yang begitu besar.

Selain itu, manusia juga memiliki kecenderungan alami untuk mendeteksi agen atau aktor di balik suatu kejadian, bahkan ketika bukti keterlibatan terorganisir belum jelas. Ini disebut agency detection bias. Secara evolusioner, kemampuan mendeteksi ancaman tersembunyi memang membantu manusia bertahan hidup. Namun dalam konteks modern, kecenderungan ini bisa membuat kita lebih mudah melihat pola dan niat tersembunyi di balik peristiwa yang kompleks.

Tambahkan lagi confirmation bias, suatu kecenderungan dalam mencari dan mempercayai informasi yang sejalan dengan keyakinan awal kita. Jika seseorang sudah memiliki asumsi bahwa elite selalu saling melindungi, maka setiap potongan informasi tentang relasi Epstein dengan tokoh terkenal akan dipandang sebagai bukti konfirmasi. Sebaliknya, informasi yang tidak mendukung narasi itu cenderung diabaikan atau dianggap bagian dari upaya penutupan.

Namun ada faktor yang lebih dalam dari sekadar bias kognitif, yakni kebutuhan akan kontrol dan makna. Peristiwa seperti kasus Epstein memunculkan rasa tidak aman. Kasus ini menunjukkan bahwa kekuasaan bisa menyembunyikan kejahatan, bahwa sistem bisa gagal, bahwa keadilan tidak selalu berjalan mulus. Dalam kondisi seperti itu, teori konspirasi menawarkan sesuatu yang secara psikologis menenangkan. Adanya sebuah narasi yang rapi. Ada pelaku, ada jaringan, ada motif, ada arah. Dunia kembali terasa dapat dipahami.

Ironisnya, narasi konspiratif sering terasa lebih koheren daripada kenyataan. Kenyataan sering kali berantakan, penuh celah, dan tidak memberi kepastian cepat. Konspirasi menawarkan struktur. Konspirasi juga menyederhanakan kompleksitas menjadi satu penjelasan tunggal.

Di titik ini penting ditegaskan bahwa memahami mengapa teori konspirasi terasa masuk akal bukan berarti menganggap semua kecurigaan tidak berdasar. Skeptisisme terhadap kekuasaan adalah bagian sehat dari masyarakat demokratis. Namun skeptisisme yang sehat tetap membutuhkan standar bukti yang konsisten. Tanpa itu, kita tidak lagi mencari kebenaran akan tetapi kita hanya mencari cerita yang paling memuaskan emosi kita.

Dan di sinilah critical thinking mulai diuji, apakah kita mampu menahan dorongan untuk segera menyimpulkan, meskipun penjelasan sederhana terasa kurang memuaskan?

Bahaya Pola Pikir Konspiratif yang Tidak Terkontrol

Skeptisisme terhadap kekuasaan adalah bagian penting dari masyarakat yang sehat. Namun ketika skeptisisme berubah menjadi keyakinan konspiratif yang kaku dan tertutup terhadap koreksi, muncul konsekuensi psikologis dan sosial yang tidak ringan.

Salah satu ciri utama pola pikir konspiratif yang tidak terkontrol adalah terbentuknya self-sealing belief system. Suatu sistem keyakinan yang kebal terhadap bantahan. Setiap bukti yang bertentangan dianggap sebagai bagian dari konspirasi itu sendiri. Jika tidak ada bukti, itu berarti bukti sedang disembunyikan. Jika ada bantahan resmi, itu dianggap sebagai penutupan sistematis. Dengan pola seperti ini, diskusi rasional menjadi hampir mustahil, karena tidak ada kondisi di mana keyakinan bisa diuji secara terbuka.

Dampak berikutnya adalah erosi kepercayaan total terhadap institusi. Ketika setiap kegagalan sistem langsung dibaca sebagai bukti adanya skema besar yang terorganisir, ruang untuk kritik berbasis data menjadi semakin sempit. Padahal, kritik yang efektif membutuhkan informasi yang valid dan memadai. Apa yang salah, di mana letaknya, dan bagaimana memperbaikinya. Jika semuanya dianggap bagian dari jaringan rahasia yang tak terlihat, maka solusi konkret menjadi sulit dirumuskan.

Ada pula konsekuensi sosial yang lebih halus namun berbahaya, munculnya polarisasi identitas. Muncul pembelahan antara “yang sadar” dan “yang tertidur”, antara mereka yang merasa mengetahui kebenaran tersembunyi dan mereka yang dianggap naif atau dimanipulasi. Dalam jangka panjang, pola ini merusak dialog publik. Alih-alih memperdebatkan bukti, orang memperdebatkan identitas.

Secara psikologis, pola pikir konspiratif juga bisa menciptakan kondisi kewaspadaan kronis. Jika seseorang meyakini bahwa hampir semua peristiwa besar adalah hasil rekayasa tersembunyi, maka dunia akan terasa penuh ancaman. Rasa curiga menjadi default. Ini mungkin memberi sensasi kontrol jangka pendek karena merasa “lebih tahu” namun dalam jangka panjang bisa meningkatkan kecemasan dan isolasi sosial.

Yang perlu digarisbawahi adalah, tidak semua kecurigaan adalah konspirasi, dan tidak semua kritik terhadap kekuasaan adalah irasional. Namun tanpa disiplin berpikir, batas antara investigasi yang sah dan spekulasi tak terbatas menjadi kabur. Ketika batas itu hilang, yang rusak bukan hanya reputasi individu tertentu, tetapi kualitas diskursus publik secara keseluruhan.

Kasus Epstein menunjukkan betapa tipisnya garis tersebut. Ada fakta yang memang mengundang pertanyaan. Ada relasi yang patut ditelusuri. Namun ketika setiap ketidaklengkapan informasi langsung ditarik ke dalam narasi global yang serba menyeluruh, kita berisiko kehilangan sesuatu yang lebih penting, yakni kemampuan untuk berpikir dengan proporsional. Dan tanpa proporsionalitas, bahkan pencarian kebenaran pun bisa berubah menjadi arena ilusi.

Critical Thinking: Menahan Diri Sebelum Menyimpulkan

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting dalam membaca kasus seperti Epstein bukan hanya “apa yang sebenarnya terjadi?”, tetapi juga “bagaimana cara kita menyikapinya?”. Di sinilah critical thinking menjadi relevan. Bukan sebagai alat untuk membela siapa pun, melainkan sebagai disiplin intelektual untuk menjaga kejernihan berpikir.

Berpikir kritis bukan berarti menolak kemungkinan adanya penyimpangan kekuasaan. Sebaliknya, critical thinking justru menuntut standar bukti yang konsisten, baik ketika kita mencurigai kekuasaan maupun ketika kita membelanya. Melalui critical thinking, kita akan lebih jeli membedakan antara fakta yang telah diverifikasi, dugaan yang masih terbuka, dan klaim yang belum memiliki dasar evidensial yang kuat.

Ada beberapa prinsip sederhana namun mendasar yang bisa menjadi pegangan. Pertama, bedakan fakta, interpretasi, dan opini. Kedua, tanyakan sumber dan kredibilitas informasi. Ketiga, waspadai narasi yang terasa terlalu rapi untuk realitas yang kompleks. Dan yang paling sulit dari semua hal tersebut adalah, sadari bahwa kita pun memiliki bias.

Kematangan intelektual sering kali bukan soal seberapa cepat kita menyimpulkan, tetapi seberapa lama kita mampu menahan diri sebelum menyimpulkan. Tidak semua misteri adalah konspirasi global. Tidak semua ketidakjelasan adalah bukti adanya skema tersembunyi. Kadang, kenyataan memang kompleks, berlapis, dan tidak memberikan kepuasan emosional instan.

Kasus Epstein adalah tragedi kriminal yang nyata. Epstein layak dikritisi, ditelusuri, dan dibahas secara serius. Namun cara kita membahasnya juga mencerminkan kualitas nalar publik kita. Jika setiap celah langsung diisi oleh narasi paling dramatis, kita berisiko menggantikan pencarian kebenaran dengan pencarian sensasi.

Di era banjir informasi, kemampuan menunda kesimpulan mungkin lebih penting daripada kemampuan menyimpulkan. Berpikir kritis bukan tentang menjadi yang paling skeptis, tetapi tentang menjadi yang paling jujur terhadap bukti. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising, kejernihan berpikir adalah bentuk keberanian yang paling sunyi namun paling dibutuhkan. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: Psikologiteori konspirasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Remaja SMP Bicara Kesehatan: Lahirnya Duta Remaja Sehat Provinsi Bali 2026 di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Next Post

Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co