3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

File Epstein dan ‘Critical Thinking’: Belajar Berpikir Jernih di Tengah Konspirasi

Isran Kamal by Isran Kamal
February 18, 2026
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

NAMA Jeffrey Epstein sudah lama berhenti menjadi sekadar nama individu. Epstein berubah menjadi simbol tentang kekuasaan, kejahatan seksual, jaringan elite, dan misteri kematian di balik jeruji. Fakta hukumnya jelas, Epstein terlibat dalam kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur dan memiliki relasi dengan sejumlah tokoh berpengaruh dunia. Fakta lain yang tak kalah mengguncang adalah, Epstein meninggal di tahanan pada 2019 dalam kondisi yang memicu pertanyaan luas.

Sejak saat itu, kasus ini tidak pernah benar-benar reda. Setiap dokumen baru mengenai Epstein dirilis, setiap potongan informasi yang muncul, hampir selalu disambut dengan gelombang spekulasi. Bagi sebagian orang, kasus Epstein bukan lagi sekadar kasus kriminal, melainkan bukti adanya jaringan konspirasi global yang tersembunyi di balik layar kekuasaan.

Namun di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih penting dari sekadar “siapa terlibat?”. Mengapa setiap kasus yang melibatkan elite, misteri, dan ketidakjelasan hampir selalu berkembang menjadi teori konspirasi besar?

Artikel ini tidak bertujuan membela pelaku, apalagi membenarkan kejahatannya. Kejahatan tetaplah kejahatan. Tetapi di tengah derasnya narasi dan tuduhan yang beredar, ada hal lain yang layak diperiksa. Bagaimana cara kita berpikir ketika berhadapan dengan informasi yang tidak lengkap, misterius, dan emosional?

Kasus Epstein memberi kita kesempatan untuk belajar sesuatu yang lebih luas dari sekadar satu peristiwa. Kasus ini menjadi cermin tentang bagaimana pikiran publik bekerja, bagaimana kita merespons ketidakpastian, bagaimana kita mengisi celah informasi, dan bagaimana kita membedakan antara fakta, dugaan, dan keyakinan.

Di era informasi yang bergerak cepat, kemampuan berpikir kritis bukan lagi sekadar kelebihan intelektual. Critical thinking kini menjadi kebutuhan dasar. Dan mungkin, sebelum kita mencoba membongkar dunia di balik layar, kita perlu lebih dulu memahami cara kerja pikiran kita sendiri.

Fakta vs Spekulasi: Memisahkan Apa yang Kita Tahu dan Tidak Tahu

Dalam setiap kasus besar, terutama yang melibatkan tokoh berpengaruh dan dinamika kekuasaan, ada tiga lapisan informasi yakni, apa yang sudah terbukti secara hukum, apa yang masih dalam proses investigasi, dan apa yang sepenuhnya berada di wilayah dugaan. Masalahnya, di ruang publik ketiga lapisan ini sering tercampur tanpa batas yang jelas.

Dalam kasus Epstein, ada fakta yang tidak diperdebatkan bahwa dia dihukum atas kejahatan seksual, memiliki jaringan relasi luas dengan kalangan elite, dan meninggal di dalam tahanan. Namun ada pula pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab secara publik, terutama terkait kelalaian pengawasan di penjara dan sejauh mana keterlibatan individu lain dalam jaringan kejahatannya. Di titik inilah celah informasi muncul.

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan yang disebut intolerance of uncertainty, kesulitan menerima ketidakpastian. Otak kita tidak nyaman dengan ruang kosong. Ketika ada bagian cerita yang belum lengkap, kita terdorong untuk mengisinya. Dan semakin sensitif atau besar dampak peristiwanya, semakin kuat dorongan tersebut.

Celah informasi ini sering disebut sebagai information gap. Dalam kondisi seperti ini, spekulasi mudah berkembang, terutama ketika narasi yang beredar terasa “menjelaskan segalanya” sekaligus. Penjelasan yang menyeluruh, meskipun belum didukung bukti kuat, sering terasa lebih memuaskan secara psikologis dibanding jawaban jujur yang mengatakan, “kita belum tahu sepenuhnya.”

Di sinilah pentingnya disiplin berpikir. Berpikir kritis bukan berarti menolak kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain. Sebaliknya, berpikir kritis justru menuntut kita membedakan secara tegas antara fakta yang telah diverifikasi, dugaan yang masih terbuka, dan klaim yang belum memiliki dasar evidensial yang memadai.

Tanpa pemisahan ini, diskusi publik mudah tergelincir. Dugaan dibaca sebagai kepastian. Kemungkinan diperlakukan sebagai bukti. Dan setiap ketidaklengkapan informasi dianggap sebagai konfirmasi bahwa sesuatu yang besar sedang disembunyikan.

Kasus Epstein mengajarkan satu hal penting bahwa tidak semua ketidakjelasan adalah bukti konspirasi. Terkadang, hal tersebut memang hanya sebuah ketidakjelasan yang membutuhkan waktu, investigasi, dan kehati-hatian untuk dipahami.

Mengapa Teori Konspirasi Terasa Masuk Akal?

Ketika sebuah peristiwa terasa besar, dramatis, dan melibatkan tokoh berpengaruh, banyak orang secara intuitif merasa bahwa penyebabnya juga harus besar dan dramatis. Dalam psikologi kognitif, kecenderungan ini dikenal sebagai proportionality bias, suatu keyakinan bahwa peristiwa besar pasti memiliki sebab yang sama besarnya. Pada umumnya, manusia cenderung sulit untuk menerima bahwa kombinasi kelalaian, kegagalan sistem, dan kebetulan bisa menghasilkan tragedi yang masif. Penjelasan semacam itu terasa “terlalu kecil” untuk peristiwa yang begitu besar.

Selain itu, manusia juga memiliki kecenderungan alami untuk mendeteksi agen atau aktor di balik suatu kejadian, bahkan ketika bukti keterlibatan terorganisir belum jelas. Ini disebut agency detection bias. Secara evolusioner, kemampuan mendeteksi ancaman tersembunyi memang membantu manusia bertahan hidup. Namun dalam konteks modern, kecenderungan ini bisa membuat kita lebih mudah melihat pola dan niat tersembunyi di balik peristiwa yang kompleks.

Tambahkan lagi confirmation bias, suatu kecenderungan dalam mencari dan mempercayai informasi yang sejalan dengan keyakinan awal kita. Jika seseorang sudah memiliki asumsi bahwa elite selalu saling melindungi, maka setiap potongan informasi tentang relasi Epstein dengan tokoh terkenal akan dipandang sebagai bukti konfirmasi. Sebaliknya, informasi yang tidak mendukung narasi itu cenderung diabaikan atau dianggap bagian dari upaya penutupan.

Namun ada faktor yang lebih dalam dari sekadar bias kognitif, yakni kebutuhan akan kontrol dan makna. Peristiwa seperti kasus Epstein memunculkan rasa tidak aman. Kasus ini menunjukkan bahwa kekuasaan bisa menyembunyikan kejahatan, bahwa sistem bisa gagal, bahwa keadilan tidak selalu berjalan mulus. Dalam kondisi seperti itu, teori konspirasi menawarkan sesuatu yang secara psikologis menenangkan. Adanya sebuah narasi yang rapi. Ada pelaku, ada jaringan, ada motif, ada arah. Dunia kembali terasa dapat dipahami.

Ironisnya, narasi konspiratif sering terasa lebih koheren daripada kenyataan. Kenyataan sering kali berantakan, penuh celah, dan tidak memberi kepastian cepat. Konspirasi menawarkan struktur. Konspirasi juga menyederhanakan kompleksitas menjadi satu penjelasan tunggal.

Di titik ini penting ditegaskan bahwa memahami mengapa teori konspirasi terasa masuk akal bukan berarti menganggap semua kecurigaan tidak berdasar. Skeptisisme terhadap kekuasaan adalah bagian sehat dari masyarakat demokratis. Namun skeptisisme yang sehat tetap membutuhkan standar bukti yang konsisten. Tanpa itu, kita tidak lagi mencari kebenaran akan tetapi kita hanya mencari cerita yang paling memuaskan emosi kita.

Dan di sinilah critical thinking mulai diuji, apakah kita mampu menahan dorongan untuk segera menyimpulkan, meskipun penjelasan sederhana terasa kurang memuaskan?

Bahaya Pola Pikir Konspiratif yang Tidak Terkontrol

Skeptisisme terhadap kekuasaan adalah bagian penting dari masyarakat yang sehat. Namun ketika skeptisisme berubah menjadi keyakinan konspiratif yang kaku dan tertutup terhadap koreksi, muncul konsekuensi psikologis dan sosial yang tidak ringan.

Salah satu ciri utama pola pikir konspiratif yang tidak terkontrol adalah terbentuknya self-sealing belief system. Suatu sistem keyakinan yang kebal terhadap bantahan. Setiap bukti yang bertentangan dianggap sebagai bagian dari konspirasi itu sendiri. Jika tidak ada bukti, itu berarti bukti sedang disembunyikan. Jika ada bantahan resmi, itu dianggap sebagai penutupan sistematis. Dengan pola seperti ini, diskusi rasional menjadi hampir mustahil, karena tidak ada kondisi di mana keyakinan bisa diuji secara terbuka.

Dampak berikutnya adalah erosi kepercayaan total terhadap institusi. Ketika setiap kegagalan sistem langsung dibaca sebagai bukti adanya skema besar yang terorganisir, ruang untuk kritik berbasis data menjadi semakin sempit. Padahal, kritik yang efektif membutuhkan informasi yang valid dan memadai. Apa yang salah, di mana letaknya, dan bagaimana memperbaikinya. Jika semuanya dianggap bagian dari jaringan rahasia yang tak terlihat, maka solusi konkret menjadi sulit dirumuskan.

Ada pula konsekuensi sosial yang lebih halus namun berbahaya, munculnya polarisasi identitas. Muncul pembelahan antara “yang sadar” dan “yang tertidur”, antara mereka yang merasa mengetahui kebenaran tersembunyi dan mereka yang dianggap naif atau dimanipulasi. Dalam jangka panjang, pola ini merusak dialog publik. Alih-alih memperdebatkan bukti, orang memperdebatkan identitas.

Secara psikologis, pola pikir konspiratif juga bisa menciptakan kondisi kewaspadaan kronis. Jika seseorang meyakini bahwa hampir semua peristiwa besar adalah hasil rekayasa tersembunyi, maka dunia akan terasa penuh ancaman. Rasa curiga menjadi default. Ini mungkin memberi sensasi kontrol jangka pendek karena merasa “lebih tahu” namun dalam jangka panjang bisa meningkatkan kecemasan dan isolasi sosial.

Yang perlu digarisbawahi adalah, tidak semua kecurigaan adalah konspirasi, dan tidak semua kritik terhadap kekuasaan adalah irasional. Namun tanpa disiplin berpikir, batas antara investigasi yang sah dan spekulasi tak terbatas menjadi kabur. Ketika batas itu hilang, yang rusak bukan hanya reputasi individu tertentu, tetapi kualitas diskursus publik secara keseluruhan.

Kasus Epstein menunjukkan betapa tipisnya garis tersebut. Ada fakta yang memang mengundang pertanyaan. Ada relasi yang patut ditelusuri. Namun ketika setiap ketidaklengkapan informasi langsung ditarik ke dalam narasi global yang serba menyeluruh, kita berisiko kehilangan sesuatu yang lebih penting, yakni kemampuan untuk berpikir dengan proporsional. Dan tanpa proporsionalitas, bahkan pencarian kebenaran pun bisa berubah menjadi arena ilusi.

Critical Thinking: Menahan Diri Sebelum Menyimpulkan

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting dalam membaca kasus seperti Epstein bukan hanya “apa yang sebenarnya terjadi?”, tetapi juga “bagaimana cara kita menyikapinya?”. Di sinilah critical thinking menjadi relevan. Bukan sebagai alat untuk membela siapa pun, melainkan sebagai disiplin intelektual untuk menjaga kejernihan berpikir.

Berpikir kritis bukan berarti menolak kemungkinan adanya penyimpangan kekuasaan. Sebaliknya, critical thinking justru menuntut standar bukti yang konsisten, baik ketika kita mencurigai kekuasaan maupun ketika kita membelanya. Melalui critical thinking, kita akan lebih jeli membedakan antara fakta yang telah diverifikasi, dugaan yang masih terbuka, dan klaim yang belum memiliki dasar evidensial yang kuat.

Ada beberapa prinsip sederhana namun mendasar yang bisa menjadi pegangan. Pertama, bedakan fakta, interpretasi, dan opini. Kedua, tanyakan sumber dan kredibilitas informasi. Ketiga, waspadai narasi yang terasa terlalu rapi untuk realitas yang kompleks. Dan yang paling sulit dari semua hal tersebut adalah, sadari bahwa kita pun memiliki bias.

Kematangan intelektual sering kali bukan soal seberapa cepat kita menyimpulkan, tetapi seberapa lama kita mampu menahan diri sebelum menyimpulkan. Tidak semua misteri adalah konspirasi global. Tidak semua ketidakjelasan adalah bukti adanya skema tersembunyi. Kadang, kenyataan memang kompleks, berlapis, dan tidak memberikan kepuasan emosional instan.

Kasus Epstein adalah tragedi kriminal yang nyata. Epstein layak dikritisi, ditelusuri, dan dibahas secara serius. Namun cara kita membahasnya juga mencerminkan kualitas nalar publik kita. Jika setiap celah langsung diisi oleh narasi paling dramatis, kita berisiko menggantikan pencarian kebenaran dengan pencarian sensasi.

Di era banjir informasi, kemampuan menunda kesimpulan mungkin lebih penting daripada kemampuan menyimpulkan. Berpikir kritis bukan tentang menjadi yang paling skeptis, tetapi tentang menjadi yang paling jujur terhadap bukti. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising, kejernihan berpikir adalah bentuk keberanian yang paling sunyi namun paling dibutuhkan. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: Psikologiteori konspirasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Remaja SMP Bicara Kesehatan: Lahirnya Duta Remaja Sehat Provinsi Bali 2026 di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Next Post

Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co