24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

File Epstein dan ‘Critical Thinking’: Belajar Berpikir Jernih di Tengah Konspirasi

Isran Kamal by Isran Kamal
February 18, 2026
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

NAMA Jeffrey Epstein sudah lama berhenti menjadi sekadar nama individu. Epstein berubah menjadi simbol tentang kekuasaan, kejahatan seksual, jaringan elite, dan misteri kematian di balik jeruji. Fakta hukumnya jelas, Epstein terlibat dalam kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur dan memiliki relasi dengan sejumlah tokoh berpengaruh dunia. Fakta lain yang tak kalah mengguncang adalah, Epstein meninggal di tahanan pada 2019 dalam kondisi yang memicu pertanyaan luas.

Sejak saat itu, kasus ini tidak pernah benar-benar reda. Setiap dokumen baru mengenai Epstein dirilis, setiap potongan informasi yang muncul, hampir selalu disambut dengan gelombang spekulasi. Bagi sebagian orang, kasus Epstein bukan lagi sekadar kasus kriminal, melainkan bukti adanya jaringan konspirasi global yang tersembunyi di balik layar kekuasaan.

Namun di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih penting dari sekadar “siapa terlibat?”. Mengapa setiap kasus yang melibatkan elite, misteri, dan ketidakjelasan hampir selalu berkembang menjadi teori konspirasi besar?

Artikel ini tidak bertujuan membela pelaku, apalagi membenarkan kejahatannya. Kejahatan tetaplah kejahatan. Tetapi di tengah derasnya narasi dan tuduhan yang beredar, ada hal lain yang layak diperiksa. Bagaimana cara kita berpikir ketika berhadapan dengan informasi yang tidak lengkap, misterius, dan emosional?

Kasus Epstein memberi kita kesempatan untuk belajar sesuatu yang lebih luas dari sekadar satu peristiwa. Kasus ini menjadi cermin tentang bagaimana pikiran publik bekerja, bagaimana kita merespons ketidakpastian, bagaimana kita mengisi celah informasi, dan bagaimana kita membedakan antara fakta, dugaan, dan keyakinan.

Di era informasi yang bergerak cepat, kemampuan berpikir kritis bukan lagi sekadar kelebihan intelektual. Critical thinking kini menjadi kebutuhan dasar. Dan mungkin, sebelum kita mencoba membongkar dunia di balik layar, kita perlu lebih dulu memahami cara kerja pikiran kita sendiri.

Fakta vs Spekulasi: Memisahkan Apa yang Kita Tahu dan Tidak Tahu

Dalam setiap kasus besar, terutama yang melibatkan tokoh berpengaruh dan dinamika kekuasaan, ada tiga lapisan informasi yakni, apa yang sudah terbukti secara hukum, apa yang masih dalam proses investigasi, dan apa yang sepenuhnya berada di wilayah dugaan. Masalahnya, di ruang publik ketiga lapisan ini sering tercampur tanpa batas yang jelas.

Dalam kasus Epstein, ada fakta yang tidak diperdebatkan bahwa dia dihukum atas kejahatan seksual, memiliki jaringan relasi luas dengan kalangan elite, dan meninggal di dalam tahanan. Namun ada pula pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab secara publik, terutama terkait kelalaian pengawasan di penjara dan sejauh mana keterlibatan individu lain dalam jaringan kejahatannya. Di titik inilah celah informasi muncul.

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan yang disebut intolerance of uncertainty, kesulitan menerima ketidakpastian. Otak kita tidak nyaman dengan ruang kosong. Ketika ada bagian cerita yang belum lengkap, kita terdorong untuk mengisinya. Dan semakin sensitif atau besar dampak peristiwanya, semakin kuat dorongan tersebut.

Celah informasi ini sering disebut sebagai information gap. Dalam kondisi seperti ini, spekulasi mudah berkembang, terutama ketika narasi yang beredar terasa “menjelaskan segalanya” sekaligus. Penjelasan yang menyeluruh, meskipun belum didukung bukti kuat, sering terasa lebih memuaskan secara psikologis dibanding jawaban jujur yang mengatakan, “kita belum tahu sepenuhnya.”

Di sinilah pentingnya disiplin berpikir. Berpikir kritis bukan berarti menolak kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain. Sebaliknya, berpikir kritis justru menuntut kita membedakan secara tegas antara fakta yang telah diverifikasi, dugaan yang masih terbuka, dan klaim yang belum memiliki dasar evidensial yang memadai.

Tanpa pemisahan ini, diskusi publik mudah tergelincir. Dugaan dibaca sebagai kepastian. Kemungkinan diperlakukan sebagai bukti. Dan setiap ketidaklengkapan informasi dianggap sebagai konfirmasi bahwa sesuatu yang besar sedang disembunyikan.

Kasus Epstein mengajarkan satu hal penting bahwa tidak semua ketidakjelasan adalah bukti konspirasi. Terkadang, hal tersebut memang hanya sebuah ketidakjelasan yang membutuhkan waktu, investigasi, dan kehati-hatian untuk dipahami.

Mengapa Teori Konspirasi Terasa Masuk Akal?

Ketika sebuah peristiwa terasa besar, dramatis, dan melibatkan tokoh berpengaruh, banyak orang secara intuitif merasa bahwa penyebabnya juga harus besar dan dramatis. Dalam psikologi kognitif, kecenderungan ini dikenal sebagai proportionality bias, suatu keyakinan bahwa peristiwa besar pasti memiliki sebab yang sama besarnya. Pada umumnya, manusia cenderung sulit untuk menerima bahwa kombinasi kelalaian, kegagalan sistem, dan kebetulan bisa menghasilkan tragedi yang masif. Penjelasan semacam itu terasa “terlalu kecil” untuk peristiwa yang begitu besar.

Selain itu, manusia juga memiliki kecenderungan alami untuk mendeteksi agen atau aktor di balik suatu kejadian, bahkan ketika bukti keterlibatan terorganisir belum jelas. Ini disebut agency detection bias. Secara evolusioner, kemampuan mendeteksi ancaman tersembunyi memang membantu manusia bertahan hidup. Namun dalam konteks modern, kecenderungan ini bisa membuat kita lebih mudah melihat pola dan niat tersembunyi di balik peristiwa yang kompleks.

Tambahkan lagi confirmation bias, suatu kecenderungan dalam mencari dan mempercayai informasi yang sejalan dengan keyakinan awal kita. Jika seseorang sudah memiliki asumsi bahwa elite selalu saling melindungi, maka setiap potongan informasi tentang relasi Epstein dengan tokoh terkenal akan dipandang sebagai bukti konfirmasi. Sebaliknya, informasi yang tidak mendukung narasi itu cenderung diabaikan atau dianggap bagian dari upaya penutupan.

Namun ada faktor yang lebih dalam dari sekadar bias kognitif, yakni kebutuhan akan kontrol dan makna. Peristiwa seperti kasus Epstein memunculkan rasa tidak aman. Kasus ini menunjukkan bahwa kekuasaan bisa menyembunyikan kejahatan, bahwa sistem bisa gagal, bahwa keadilan tidak selalu berjalan mulus. Dalam kondisi seperti itu, teori konspirasi menawarkan sesuatu yang secara psikologis menenangkan. Adanya sebuah narasi yang rapi. Ada pelaku, ada jaringan, ada motif, ada arah. Dunia kembali terasa dapat dipahami.

Ironisnya, narasi konspiratif sering terasa lebih koheren daripada kenyataan. Kenyataan sering kali berantakan, penuh celah, dan tidak memberi kepastian cepat. Konspirasi menawarkan struktur. Konspirasi juga menyederhanakan kompleksitas menjadi satu penjelasan tunggal.

Di titik ini penting ditegaskan bahwa memahami mengapa teori konspirasi terasa masuk akal bukan berarti menganggap semua kecurigaan tidak berdasar. Skeptisisme terhadap kekuasaan adalah bagian sehat dari masyarakat demokratis. Namun skeptisisme yang sehat tetap membutuhkan standar bukti yang konsisten. Tanpa itu, kita tidak lagi mencari kebenaran akan tetapi kita hanya mencari cerita yang paling memuaskan emosi kita.

Dan di sinilah critical thinking mulai diuji, apakah kita mampu menahan dorongan untuk segera menyimpulkan, meskipun penjelasan sederhana terasa kurang memuaskan?

Bahaya Pola Pikir Konspiratif yang Tidak Terkontrol

Skeptisisme terhadap kekuasaan adalah bagian penting dari masyarakat yang sehat. Namun ketika skeptisisme berubah menjadi keyakinan konspiratif yang kaku dan tertutup terhadap koreksi, muncul konsekuensi psikologis dan sosial yang tidak ringan.

Salah satu ciri utama pola pikir konspiratif yang tidak terkontrol adalah terbentuknya self-sealing belief system. Suatu sistem keyakinan yang kebal terhadap bantahan. Setiap bukti yang bertentangan dianggap sebagai bagian dari konspirasi itu sendiri. Jika tidak ada bukti, itu berarti bukti sedang disembunyikan. Jika ada bantahan resmi, itu dianggap sebagai penutupan sistematis. Dengan pola seperti ini, diskusi rasional menjadi hampir mustahil, karena tidak ada kondisi di mana keyakinan bisa diuji secara terbuka.

Dampak berikutnya adalah erosi kepercayaan total terhadap institusi. Ketika setiap kegagalan sistem langsung dibaca sebagai bukti adanya skema besar yang terorganisir, ruang untuk kritik berbasis data menjadi semakin sempit. Padahal, kritik yang efektif membutuhkan informasi yang valid dan memadai. Apa yang salah, di mana letaknya, dan bagaimana memperbaikinya. Jika semuanya dianggap bagian dari jaringan rahasia yang tak terlihat, maka solusi konkret menjadi sulit dirumuskan.

Ada pula konsekuensi sosial yang lebih halus namun berbahaya, munculnya polarisasi identitas. Muncul pembelahan antara “yang sadar” dan “yang tertidur”, antara mereka yang merasa mengetahui kebenaran tersembunyi dan mereka yang dianggap naif atau dimanipulasi. Dalam jangka panjang, pola ini merusak dialog publik. Alih-alih memperdebatkan bukti, orang memperdebatkan identitas.

Secara psikologis, pola pikir konspiratif juga bisa menciptakan kondisi kewaspadaan kronis. Jika seseorang meyakini bahwa hampir semua peristiwa besar adalah hasil rekayasa tersembunyi, maka dunia akan terasa penuh ancaman. Rasa curiga menjadi default. Ini mungkin memberi sensasi kontrol jangka pendek karena merasa “lebih tahu” namun dalam jangka panjang bisa meningkatkan kecemasan dan isolasi sosial.

Yang perlu digarisbawahi adalah, tidak semua kecurigaan adalah konspirasi, dan tidak semua kritik terhadap kekuasaan adalah irasional. Namun tanpa disiplin berpikir, batas antara investigasi yang sah dan spekulasi tak terbatas menjadi kabur. Ketika batas itu hilang, yang rusak bukan hanya reputasi individu tertentu, tetapi kualitas diskursus publik secara keseluruhan.

Kasus Epstein menunjukkan betapa tipisnya garis tersebut. Ada fakta yang memang mengundang pertanyaan. Ada relasi yang patut ditelusuri. Namun ketika setiap ketidaklengkapan informasi langsung ditarik ke dalam narasi global yang serba menyeluruh, kita berisiko kehilangan sesuatu yang lebih penting, yakni kemampuan untuk berpikir dengan proporsional. Dan tanpa proporsionalitas, bahkan pencarian kebenaran pun bisa berubah menjadi arena ilusi.

Critical Thinking: Menahan Diri Sebelum Menyimpulkan

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting dalam membaca kasus seperti Epstein bukan hanya “apa yang sebenarnya terjadi?”, tetapi juga “bagaimana cara kita menyikapinya?”. Di sinilah critical thinking menjadi relevan. Bukan sebagai alat untuk membela siapa pun, melainkan sebagai disiplin intelektual untuk menjaga kejernihan berpikir.

Berpikir kritis bukan berarti menolak kemungkinan adanya penyimpangan kekuasaan. Sebaliknya, critical thinking justru menuntut standar bukti yang konsisten, baik ketika kita mencurigai kekuasaan maupun ketika kita membelanya. Melalui critical thinking, kita akan lebih jeli membedakan antara fakta yang telah diverifikasi, dugaan yang masih terbuka, dan klaim yang belum memiliki dasar evidensial yang kuat.

Ada beberapa prinsip sederhana namun mendasar yang bisa menjadi pegangan. Pertama, bedakan fakta, interpretasi, dan opini. Kedua, tanyakan sumber dan kredibilitas informasi. Ketiga, waspadai narasi yang terasa terlalu rapi untuk realitas yang kompleks. Dan yang paling sulit dari semua hal tersebut adalah, sadari bahwa kita pun memiliki bias.

Kematangan intelektual sering kali bukan soal seberapa cepat kita menyimpulkan, tetapi seberapa lama kita mampu menahan diri sebelum menyimpulkan. Tidak semua misteri adalah konspirasi global. Tidak semua ketidakjelasan adalah bukti adanya skema tersembunyi. Kadang, kenyataan memang kompleks, berlapis, dan tidak memberikan kepuasan emosional instan.

Kasus Epstein adalah tragedi kriminal yang nyata. Epstein layak dikritisi, ditelusuri, dan dibahas secara serius. Namun cara kita membahasnya juga mencerminkan kualitas nalar publik kita. Jika setiap celah langsung diisi oleh narasi paling dramatis, kita berisiko menggantikan pencarian kebenaran dengan pencarian sensasi.

Di era banjir informasi, kemampuan menunda kesimpulan mungkin lebih penting daripada kemampuan menyimpulkan. Berpikir kritis bukan tentang menjadi yang paling skeptis, tetapi tentang menjadi yang paling jujur terhadap bukti. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising, kejernihan berpikir adalah bentuk keberanian yang paling sunyi namun paling dibutuhkan. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: Psikologiteori konspirasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Remaja SMP Bicara Kesehatan: Lahirnya Duta Remaja Sehat Provinsi Bali 2026 di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Next Post

Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co