Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh berisi rumput. Pikirannya berkecamuk. Di usia senja, pundaknya makin sarat beban. Sejak mendengar kabar dirinya dilaporkan ke Kantor Kepala Desa, ketenangan mendadak menjauh dari batinnya. Di bawah rimbun pohon asem, ia menyerahkan diri kepada dewa nasib yang akan membawanya entah ke mana.
Kakek tua itu terperanjat melihat kepala desa melangkah tergesa menuju tempatnya duduk di bawah pohon asem. Ketakutan melanda pikirannya, khawatir kepala desa akan menyalahkannya.
Dalam pikirannya, pemimpin desa itu masih muda, pastilah mudah terpengaruh oleh warga berada. Belum matang menimbang permasalahan. Ia melihat kepala desa mempercepat langkah kakinya dan memanggil namanya. Tak berselang lama, seorang lelaki muda duduk di sampingnya. Ia tidak perduli pakaian dinasnya yang bersih akan kotor duduk di rerumputan.
“Pak Kades datang ke sini mau menyalahkan saya?” tanya Wayan Brata, kakek tua itu. Ia menghela napas panjang dan hembusannya terdengar berat, menandakan ada ketakutan yang disembunyikan.
Kepala desa tahu kakek itu sedang dilanda masalah. Kedua tangannya meraih bahu renta itu dan menenangkannya. Ia menyampaikan, ada pengaduan masyarakat ke kantor desa. Dengan hati-hati pemimpin muda itu menjelaskan kepada Wayan Brata, bahwa ternaknya dituduh merusak tanaman padi petani.
“Saya ke sini bukan untuk menyalahkan Kakek. Saya tidak percaya dengan pengaduan masyarakat tani itu. Saya menemui Kakek untuk mencari tahu kebenarannya,” kata Made Arya, pemimpin muda di kampung itu.
Sebagai kepala desa, ia tidak boleh menjatuhkan vonis kepada teradu untuk disalahkan. Wajib melakukan klarifikasi, menanyakan kepada teradu atas tuduhan masyarakat. Semuanya harus jelas dan gamblang. Wayan Brata menghela napas lega, ketenangan kembali menemukan tempatnya. Ia merasa dipayungi oleh perlindungan kepala desa. Made Arya sesungguhnya iba dengan kakek yang hidup sendirian itu. Anak lelaki satu-satunya tega meninggalkannya. Memilih pamit dari tanah kelahiran untuk tinggal di rumah istri. Semenjak anaknya kawin nyentana, Wayan Brata hidup sebatang kara. Sehari-hari kerjanya hanya menyabit rumput dan mengembalakan ternak sapi. Meski sudah renta, semangatnya tak redup untuk menyambung hidup.
“Kakek banyak pelihara sapi?”
Pertanyaan kepala desa membuat Wayan Brata tergugah untuk bercerita. Dua ekor sapi betina bantuan pemerintah sudah beranak. Menjelang hari raya, anakan sapi akan dijual untuk modal upacara. Kedua anakan sapi itu belum dicucuk hidungnya. Dilepasliarkan agar bisa beradaptasi dengan lingkungan. Kepala desa senang mendengar cerita Wayan Brata yang menggebu-gebu. Ia senang karena lelaki tua itu tidak takut lagi padanya. Ia pun ingin melihat ternak sapi itu. Ia membantu Wayan Brata mengangkat keranjang penuh berisi rumput. Keranjang itu sungguh berat. Kakek itu dengan mudah memikulnya sambil berjalan beberapa ratus meter menuju kandang. Ia merasa tertampar. Walaupun rutin latihan beban di gym, namun ia kalah dengan lelaki tua itu.
Setiba di kebun, Wayan Brata menurunkan keranjang dengan enteng. Langkahnya ringan menggenggam rumput dan menaburkannya di depan ternak sapi. Kepala desa mengambil rumput dan membantu Wayan Brata. Indukan sapi lahap memamah rumput. Wayan Brata bersyukur diberi pinjam tempat oleh Anak Agung untuk menempatkan ternaknya. Ia tidak punya bada, sapi-sapinya diikatkan pada batang pohon cengkih. Kepala desa membuktikan sendiri, sapi-sapi peliharaan Wayan Brata tidak dilepasliarkan. Pertanda, sapi yang merusak lahan sawah warga bukanlah milik Wayan Brata.
Ada peternak lain yang sapi-sapinya dilepasliarkan. Fakta lapangan ini akan disampaikan kepada warga yang menuduh Wayan Brata sengaja melepaskan sapi dan merusak tanaman padi. Tak lupa, kepala desa mileneal itu memotret dua induk sapi yang diikatkan pada pohon cengkih. Ia juga memvideokan ternak Wayan Brata. Foto dan video itu akan dijadikan barang bukti untuk memperkuat argumentasinya membela kakek. Ia juga punya inisiatif memberikan tanda pada sapi-sapi itu untuk memudahkan mengenalinya kelak ketika ternak kakek kembali dituduh merusak sawah petani.
“Aku harus mencari tahu kebenarannya, kasihan kakek selalu kena tuduh,” kata hati Made Arya.
***
Suasana sangat tegang ketika kepala desa tiba di persawahan. Belasan petani memegang arit. Mereka marah karena tanaman padinya rusak. Empat ekor sapi masuk persawahan memakan tanaman padi yang baru berumur satu bulan. Sebagian lagi rusak karena terinjak sapi. Para petani menuduh Wayan Brata sebagai biang keladinya. Lelaki tua itu diduga melepasliarkan ternaknya karena tidak kuat lagi menyabit rumput.
“Hanya lelaki tua itu saja yang melepasliarkan sapi-sapinya,” teriak petani bertopi klangsah.
“Betul, kakek miskin itu tidak punya kandang. Sapi-sapinya sengaja diliarkan,” timpal petani lain berkacamata hitam.
Ketegangan merayap di hati kepala desa. Ia tidak terbiasa melihat seseorang yang emosinya meledak-ledak sambil membawa arit. Tubuhnya spontan bersiaga. Ia menenangkan diri dengan pranayama. Ketenangan kembali ia dapatkan saat pikirannya jernih, bahwa petani ke sawah pastilah membawa senjata. Ia pernah mendengar petani ribut dan bertengkar di sawah saat ada pencurian air. Meski saling bentak dan membawa arit maupun kelewang, belum pernah terjadi kasus kekerasan.
“Ayo kita cari si tua bangka itu. Kita harus adili perbuatannya,” kata petani bertopi klangsah.
“Setuju. Kita minta ganti rugi kepada si tua renta itu,” timpal petani berkacamata hitam.
Di bawah terik matahari yang memantik emosi, petani lainnya memberikan kesejukan. Mengingatkan teman-temannya untuk tidak gegabah dan main hakim sendiri. Harus cari tahu, selidiki siapa pemilik sapi perusak tanaman padi. Tidak adil tuduhan langsung dialamatkan kepada kakek tua itu.
“Siapa lagi kalau bukan dia. Tua bangka itu miskin, tidak punya bada. Pasti sapinya diliarkan,” balas petani bertopi klangsah.
Petani tua tampak tenang walaupun usulnya ditentang. Ia tetap meminta teman-temannya tidak datang ke kebun Anak Agung di mana Wayan Brata menempatkan sapi-sapinya. Ia yakin, ternak-ternak yang masuk ke lahan persawahan bukan milik kakek tua itu. Ia curiga ada peternak lain yang sengaja melepasliarkan sapi-sapinya. Kakek tua itu tidak banyak punya sapi. Sementara sapi yang makan padi lebih dari dua ekor. Ia pun meminta jalan keluar kepada kepala desa.
Perasaan kepala desa mendadak tidak tenang mendengar usul itu. Ia belum sempat berpikir sebelum mendatangi lokasi. Solusi apa yang harus ia berikan, sama sekali belum terlintas di pikirannya. Ini adalah pengalaman pertama yang dihadapinya.
“Sabar bapak-bapak. Izinkan saya menyelidiki kasus ini,” kata kepala desa.
Seperti ada yang menuntun untuk mengucapkan itu. Kalimat yang terlontar mampu meredakan emosi para petani. Petani bubar untuk kembali melanjutkan pekerjaan di sawah. Kepala desa juga pamit untuk melanjutkan misinya. Ia berharap keputusannya nanti membahagiakan semua pihak. Tidak ada warga yang merasa dirugikan. Dalam perjalanan pulang dari persawahan, ia menyadari pekerjaan kepala desa tidaklah mudah. Ia harus mampu jadi hakim bagi warganya agar permasalahan ini selesai dengan damai dan membuat kedua belah pihak menerima dengan senyuman.
***
Kepala desa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Kakek itu mengikatkan tali sapi pada pohon cengkih. Hanya dua godel berkeliaran. Sudah benderang, sapi yang merusak tanaman padi petani siang tadi milik orang lain. Siapa lagi yang beternak sapi di lokasi itu?
“Tiga orang, Pak Kades. Dua peternak punya bada. Hanya saya tidak punya dan mengikatkan sapi di pohon.”
Kakek bercerita, Putu Regen pelihara empat ekor sapi. Seluruh sapinya dikandangkan. Gusti Bagus punya sapi paling banyak. Ia menduga sapi-sapi itu sengaja dilepasliarkan agar bisa mendapatkan makanan sendiri. Dugaan itu diperkuat karena sebagai pegawai negeri sipil, Gusti Bagus kekurangan waktu menyabit rumput.
“Mungkin sapi milik Gusti Bagus diliarkan,” kata Wayan Brata.
Kepala desa terkejut dengan apa yang barusan didengarnya. Ya, untuk hari ini sudah terbukti bukan sapi Wayan Brata yang merusak persawahan. Mendadak kepalanya pening. Gusti Bagus yang disebut oleh Wayan Brata adalah pejabat tinggi di pemerintahan kabupaten. Dia juga yang membantu mendulang suara saat pemilihan kepala desa dulu. Lelaki itu berpengaruh. Warga desa menuruti perintah saat diarahkan mencoblos potret dirinya pada surat suara. Ia menduduki kursi kepala desa berkat peran sentral Gusti Bagus.
Tokoh berpengaruh yang diduga oleh kakek tua itu sengaja melepaskan sapi-sapinya. Baginya masuk akal, sebab untuk mengurus ternak sapinya, Gusti Bagus pantang menggunakan jasa orang lain. Semua dilakukannya sendiri. Maklum, derajat, kedudukan, dan pengaruh yang ada padanya semua bermula dari sapi. Berkat pelihara sapi ia bisa menempuh pendidikan tinggi. Diterima sebagai pegawai negeri juga berkat jasa sapi-sapinya. Lolos tiga besar hasil seleksi jabatan tinggi pratama juga berkat sapi. Hasil penjualan sapi dijadikan uang pelicin agar pemimpin kabupaten memberikannya surat keputusan sebagai pejabat tinggi pratama. Maka ia menjadikan sapinya ‘raja’, dicarikan rumput dan dirawat dengan baik. Semua dilakukan oleh Gusti Bagus seorang diri.
“Pak Kades kenapa diam?”
Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Made Arya. Ia menarik napas panjang. Menghempaskannya perlahan, namun suaranya yang berat terdengar sarat beban. Wayan Brata mencuri pandang untuk mengamati wajah Made Arya. Dalam hati ia menduga kepala desa tidak mempercayainya. Atau percaya seratus persen namun gamang mengambil keputusan. Wayan Brata memaklumi itu. Kepala desa berusia muda tentu tak sanggup menghadapi pejabat tinggi dan berpengaruh di kampung.
Bibir kepala desa tercekat, tak mampu melontarkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Wayan Brata. Pandangannya kosong. Apa yang harus ia perbuat? Menasehati Gusti Bagus, ia khawatir memantik ketersinggungan. Dana dan usaha meloloskan dirinya menduduki kursi kepala desa pastilah diungkit-ungkit. Kalau didiamkan, Wayan Brata tambah menderita karena selalu disalahkan oleh petani lainnya. Made Arya memandangi sapi-sapi kakek tua itu yang diikatkan di pohon cengkih. Ia merasa dirinyalah sapi itu. Terikat oleh keadaan, tidak berdaya berhadapan dengan pejabat yang telah membantunya. Ia iri melihat dua godel berlarian dan memamah rumput sesukanya. Ia ingin bebas merdeka seperti anak sapi itu.
Wayan Brata menyadari, kepala desa gamang dengan pendiriannya. Tebakannya di awal tidaklah meleset. Ia iba melihat kepala desa di persimpangan jalan untuk memutuskan keadilan bagi dirinya. Lelaki tua itu mengambil keputusan. Menyarankan kepala desa untuk tidak melanjutkan perkara yang dilaporkan warga. Biarlah dirinya menjadi korban untuk menyelamatkan karir kepala desa yang masih panjang.
“Biarlah saya dicap buruk oleh warga. Biarkan cerita itu terus berkembang, bahwa sapi-sapi milik saya yang merusak sawah mereka. Saya sudah tua, anak juga tiada. Selamatkan jabatan Pak Kades, biarlah saya yang memikul semuanya.”
Hati Made Arya teriris mendengar kata-kata Wayan Brata, lelaki tua yang pernah dibantunya mendapatkan dua ekor sapi dari Dinas Sosial. Ia terharu mengetahui kakek tua itu siap berkorban untuk dirinya. Ia memang tak berdaya berhadapan dengan Gusti Bagus, tetapi ia tidak ingin Wayan Brata yang sudah renta, lagi pula tidak bersalah, harus menanggung derita. Ia menggenggam tangan kakek tua itu, meyakinkannya bahwa ia tidak akan menghadapi masalahnya seorang diri. [T]
Catatan
- Bada = kandang
- Godel = anak sapi
- Klangsah = anyaman bambu
- Nyentana = sistem perkawinan di Bali. Lelaki pamit dari orang tuanya untuk tinggal bersama keluarga istri. Status adat sebagai purusa (laki-laki) berubah jadi pradana (perempuan).
- Pranayama = mengatur pernapasan
Penulis: I Made Sugianto
Editor: Adnyana Ole



























