2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Kawitan di Tengah Kota

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 11, 2026
in Esai
Memaknai Kawitan di Tengah Kota

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DARI zaman protes terhadap sampul novel Supernova; Akar karya Dewi “Dee” Lestari yang memuat simbol “OM” hingga sampul kaset Iwan Fals bergambar Garuda yang ditafsirkan sebagai Dewa Wisnu puluhan tahun silam, sepak terjang Arya Wedakarna dalam ingatan saya seolah tidak pernah benar-benar beranjak dari perkara-perkara simbolik yang bersinggungan dengan agama, perkara yang kerap tampak kecil namun dibesarkan.

Terbaru, ia memprotes narasi iklan sebuah pusat perbelanjaan di Denpasar; “Kawitan Nak Kodya”. Memang penggunaan kata kawitan dalam konteks iklan bisa dianggap riskan. Seandainya kata itu diberi tanda petik yang dalam tata bahasa menandakan makna konotatif atau bukan makna sebenarnya, barangkali persoalan ini tidak akan mengemuka.

Namun, dalam tangkapan layar klarifikasi pihak mal yang diunggah Arya Wedakarna di media sosialnya dijelaskan bahwa frasa “Kawitan Nak Kodya” berasal dari percakapan sehari-hari masyarakat Bali khususnya di Kota Denpasar. Sebagai bentuk penghormatan terhadap protes tersebut pihak mal menyatakan akan melakukan klarifikasi lebih lanjut, sesuai undangan untuk datang ke kantor DPD RI di Renon, Denpasar. Arya Wedakarna adalah anggota DPD RI Bali.

Saya percaya, kreator narasi iklan itu adalah anak muda yang dengan cerdas dan jeli menangkap bahasa pergaulan sehari-hari sebagai inspirasi. Bahasa yang hidup yang beredar di tongkrongan media sosial dan percakapan ringan warga kota, lalu diterjemahkan ke dalam narasi komersial.

Seingat saya kata kawitan berakar dari kata wit yang bermakna “asal”. Makna ini luas. Ketika kita bertanya kepada seseorang, “Dari mana asalmu?”, jawabannya tidak selalu sederhana. Bisa kota kelahiran, desa leluhur, provinsi, atau bahkan jawaban yang ragu-ragu, terutama bagi mereka yang sejak kecil harus berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti pekerjaan orang tuanya.

Kawitan berasal dari kata wit yang bermakna asal-mula atau pangkal. Dalam tradisi Bali, ia kerap dipahami sebagai asal-usul genealogis dan hubungan dengan leluhur. Namun, dalam praktik sosial sehari-hari maknanya bergerak dan meluas. Kawitan juga dipakai untuk menandai kampung halaman, rumah pertama, atau ruang yang memberi rasa diterima. Di sini kawitan tidak semata soal darah dan silsilah, melainkan tentang tempat seseorang berakar secara batin dan pengalaman hidupnya bermula.

Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis sebuah narasi di media sosial, menyertai foto Rumah Berdaya Denpasar, sebuah komunitas dan rumah singgah bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kota Denpasar. Kala itu saya menulis caption “Pulang ke ‘kawitan’ dulu”.

Mengapa saya memilih kata kawitan? Karena di tempat itu saya merasa dekat dan sejiwa. Ketika kondisi keuangan saya begitu sulit bahkan untuk membeli makanan pun terasa berat, saya masih bisa makan dengan layak di Rumah Berdaya. Di titik itu kawitan bagi saya bukan lagi sekadar silsilah atau asal-usul genealogis, melainkan rumah, asal-mula, rasa aman, dan kedekatan batin.

Karena itu saya berharap Arya Wedakarna tidak terlalu kaku dalam memaknai bahasa. Tidak setiap penggunaan kata yang memiliki akar religius atau kultural harus langsung disikapi dengan protes, somasi, atau tekanan publik apalagi tanpa dialog. Bukankah jauh lebih bermakna, jika ada ruang duduk bersama, bertatap muka dan berbincang, alih-alih saling berhadap-hadapan di media sosial.

Sebagai pejabat publik, rasanya gaya reaktif seperti puluhan tahun silam perlu ditinggalkan, diganti dengan cara-cara yang lebih elegan. Tidak elok rasanya jika perseteruan simbolik diumbar di ruang digital, menjadi konsumsi publik nasional bahkan global tanpa upaya edukasi yang memadai.

Saya memahami Arya Wedakarna kerap memposisikan diri sebagai pembela agama dan budaya. Namun jika memang ada kegelisahan, mengapa tidak dituangkan dalam bentuk esai atau penjelasan tertulis sebagai antitesis dari apa yang ia kritik? Dengan begitu, fungsi edukasi dari lembaga perwakilan daerah bisa benar-benar terasa. Masyarakat pun diajak memahami makna kawitan secara lebih utuh, bukan sekadar melalui polemik. Dengan gelar doktor yang disandangnya, menulis esai tentu bukan perkara sulit.

Dalam masyarakat yang kian cair, bahasa bergerak jauh lebih cepat daripada regulasi budaya. Kata-kata tidak lagi tinggal di lontar, kitab suci, atau ruang ritual semata. Ia hadir dalam meme, caption media sosial, percakapan santai hingga narasi iklan. Di titik inilah kita perlu membedakan antara pelecehan terhadap kesakralan dan perluasan makna yang lahir dari perubahan sosial.

Jika setiap kata yang memiliki akar budaya dan agama terus menerus ditarik secara kaku ke wilayah sakral tanpa ruang dialog, bahasa berisiko berhenti menjadi alat komunikasi dan berubah menjadi alat pembatas. Padahal budaya hidup justru karena ia dipakai, diperdebatkan, dan ditafsir ulang. Bahasa yang dipagari terlalu rapat hanya akan menjadi artefak museum; dihormati tetapi tidak lagi dihidupi.

Kegelisahan sebagian umat tentu patut didengar. Namun mendengar tidak selalu berarti menghukum, atau memanggil dengan nada intimidatif. Mendengar bisa dimulai dengan percakapan dengan upaya memahami konteks, niat, dan latar sosial sebuah ungkapan. Terlebih jika ungkapan itu lahir dari pergaulan anak muda kota yang bahasanya cair, kadang liar, tetapi jujur mencerminkan zamannya.

Saya khawatir, jika setiap gesekan kecil selalu dibingkai sebagai ancaman terhadap agama dan budaya, yang tumbuh bukanlah kesadaran melainkan ketakutan. Bukan penghormatan, melainkan kepatuhan semu. Padahal agama dan budaya Bali justru tumbuh besar karena daya lenturnya, karena kemampuannya berdialog dengan zaman tanpa kehilangan akar.

Bagi saya, kawitan adalah tempat kembali ketika hidup terasa runtuh. Ia adalah ruang aman ketika dunia menolak. Ia adalah rumah dalam pengertian yang paling manusiawi. Dan Rumah Berdaya bagi saya adalah “kawitan” itu.

Maka ketika kata kawitan diperdebatkan hari ini, saya berharap perdebatan itu tidak berhenti pada siapa yang paling lantang memprotes, melainkan siapa yang paling bersedia menjelaskan. Bukan siapa yang paling cepat memanggil, tetapi siapa yang paling sabar mendidik. Sebab pada akhirnya, budaya tidak dijaga dengan kemarahan melainkan dengan kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan, seperti rumah, seharusnya selalu memberi ruang untuk pulang. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kawitanKota Denpasarmall
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

Next Post

‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

'Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang', Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co