3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Kawitan di Tengah Kota

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 11, 2026
in Esai
Memaknai Kawitan di Tengah Kota

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DARI zaman protes terhadap sampul novel Supernova; Akar karya Dewi “Dee” Lestari yang memuat simbol “OM” hingga sampul kaset Iwan Fals bergambar Garuda yang ditafsirkan sebagai Dewa Wisnu puluhan tahun silam, sepak terjang Arya Wedakarna dalam ingatan saya seolah tidak pernah benar-benar beranjak dari perkara-perkara simbolik yang bersinggungan dengan agama, perkara yang kerap tampak kecil namun dibesarkan.

Terbaru, ia memprotes narasi iklan sebuah pusat perbelanjaan di Denpasar; “Kawitan Nak Kodya”. Memang penggunaan kata kawitan dalam konteks iklan bisa dianggap riskan. Seandainya kata itu diberi tanda petik yang dalam tata bahasa menandakan makna konotatif atau bukan makna sebenarnya, barangkali persoalan ini tidak akan mengemuka.

Namun, dalam tangkapan layar klarifikasi pihak mal yang diunggah Arya Wedakarna di media sosialnya dijelaskan bahwa frasa “Kawitan Nak Kodya” berasal dari percakapan sehari-hari masyarakat Bali khususnya di Kota Denpasar. Sebagai bentuk penghormatan terhadap protes tersebut pihak mal menyatakan akan melakukan klarifikasi lebih lanjut, sesuai undangan untuk datang ke kantor DPD RI di Renon, Denpasar. Arya Wedakarna adalah anggota DPD RI Bali.

Saya percaya, kreator narasi iklan itu adalah anak muda yang dengan cerdas dan jeli menangkap bahasa pergaulan sehari-hari sebagai inspirasi. Bahasa yang hidup yang beredar di tongkrongan media sosial dan percakapan ringan warga kota, lalu diterjemahkan ke dalam narasi komersial.

Seingat saya kata kawitan berakar dari kata wit yang bermakna “asal”. Makna ini luas. Ketika kita bertanya kepada seseorang, “Dari mana asalmu?”, jawabannya tidak selalu sederhana. Bisa kota kelahiran, desa leluhur, provinsi, atau bahkan jawaban yang ragu-ragu, terutama bagi mereka yang sejak kecil harus berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti pekerjaan orang tuanya.

Kawitan berasal dari kata wit yang bermakna asal-mula atau pangkal. Dalam tradisi Bali, ia kerap dipahami sebagai asal-usul genealogis dan hubungan dengan leluhur. Namun, dalam praktik sosial sehari-hari maknanya bergerak dan meluas. Kawitan juga dipakai untuk menandai kampung halaman, rumah pertama, atau ruang yang memberi rasa diterima. Di sini kawitan tidak semata soal darah dan silsilah, melainkan tentang tempat seseorang berakar secara batin dan pengalaman hidupnya bermula.

Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis sebuah narasi di media sosial, menyertai foto Rumah Berdaya Denpasar, sebuah komunitas dan rumah singgah bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kota Denpasar. Kala itu saya menulis caption “Pulang ke ‘kawitan’ dulu”.

Mengapa saya memilih kata kawitan? Karena di tempat itu saya merasa dekat dan sejiwa. Ketika kondisi keuangan saya begitu sulit bahkan untuk membeli makanan pun terasa berat, saya masih bisa makan dengan layak di Rumah Berdaya. Di titik itu kawitan bagi saya bukan lagi sekadar silsilah atau asal-usul genealogis, melainkan rumah, asal-mula, rasa aman, dan kedekatan batin.

Karena itu saya berharap Arya Wedakarna tidak terlalu kaku dalam memaknai bahasa. Tidak setiap penggunaan kata yang memiliki akar religius atau kultural harus langsung disikapi dengan protes, somasi, atau tekanan publik apalagi tanpa dialog. Bukankah jauh lebih bermakna, jika ada ruang duduk bersama, bertatap muka dan berbincang, alih-alih saling berhadap-hadapan di media sosial.

Sebagai pejabat publik, rasanya gaya reaktif seperti puluhan tahun silam perlu ditinggalkan, diganti dengan cara-cara yang lebih elegan. Tidak elok rasanya jika perseteruan simbolik diumbar di ruang digital, menjadi konsumsi publik nasional bahkan global tanpa upaya edukasi yang memadai.

Saya memahami Arya Wedakarna kerap memposisikan diri sebagai pembela agama dan budaya. Namun jika memang ada kegelisahan, mengapa tidak dituangkan dalam bentuk esai atau penjelasan tertulis sebagai antitesis dari apa yang ia kritik? Dengan begitu, fungsi edukasi dari lembaga perwakilan daerah bisa benar-benar terasa. Masyarakat pun diajak memahami makna kawitan secara lebih utuh, bukan sekadar melalui polemik. Dengan gelar doktor yang disandangnya, menulis esai tentu bukan perkara sulit.

Dalam masyarakat yang kian cair, bahasa bergerak jauh lebih cepat daripada regulasi budaya. Kata-kata tidak lagi tinggal di lontar, kitab suci, atau ruang ritual semata. Ia hadir dalam meme, caption media sosial, percakapan santai hingga narasi iklan. Di titik inilah kita perlu membedakan antara pelecehan terhadap kesakralan dan perluasan makna yang lahir dari perubahan sosial.

Jika setiap kata yang memiliki akar budaya dan agama terus menerus ditarik secara kaku ke wilayah sakral tanpa ruang dialog, bahasa berisiko berhenti menjadi alat komunikasi dan berubah menjadi alat pembatas. Padahal budaya hidup justru karena ia dipakai, diperdebatkan, dan ditafsir ulang. Bahasa yang dipagari terlalu rapat hanya akan menjadi artefak museum; dihormati tetapi tidak lagi dihidupi.

Kegelisahan sebagian umat tentu patut didengar. Namun mendengar tidak selalu berarti menghukum, atau memanggil dengan nada intimidatif. Mendengar bisa dimulai dengan percakapan dengan upaya memahami konteks, niat, dan latar sosial sebuah ungkapan. Terlebih jika ungkapan itu lahir dari pergaulan anak muda kota yang bahasanya cair, kadang liar, tetapi jujur mencerminkan zamannya.

Saya khawatir, jika setiap gesekan kecil selalu dibingkai sebagai ancaman terhadap agama dan budaya, yang tumbuh bukanlah kesadaran melainkan ketakutan. Bukan penghormatan, melainkan kepatuhan semu. Padahal agama dan budaya Bali justru tumbuh besar karena daya lenturnya, karena kemampuannya berdialog dengan zaman tanpa kehilangan akar.

Bagi saya, kawitan adalah tempat kembali ketika hidup terasa runtuh. Ia adalah ruang aman ketika dunia menolak. Ia adalah rumah dalam pengertian yang paling manusiawi. Dan Rumah Berdaya bagi saya adalah “kawitan” itu.

Maka ketika kata kawitan diperdebatkan hari ini, saya berharap perdebatan itu tidak berhenti pada siapa yang paling lantang memprotes, melainkan siapa yang paling bersedia menjelaskan. Bukan siapa yang paling cepat memanggil, tetapi siapa yang paling sabar mendidik. Sebab pada akhirnya, budaya tidak dijaga dengan kemarahan melainkan dengan kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan, seperti rumah, seharusnya selalu memberi ruang untuk pulang. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kawitanKota Denpasarmall
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

Next Post

‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

'Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang', Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co