26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Kawitan di Tengah Kota

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 11, 2026
in Esai
Memaknai Kawitan di Tengah Kota

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DARI zaman protes terhadap sampul novel Supernova; Akar karya Dewi “Dee” Lestari yang memuat simbol “OM” hingga sampul kaset Iwan Fals bergambar Garuda yang ditafsirkan sebagai Dewa Wisnu puluhan tahun silam, sepak terjang Arya Wedakarna dalam ingatan saya seolah tidak pernah benar-benar beranjak dari perkara-perkara simbolik yang bersinggungan dengan agama, perkara yang kerap tampak kecil namun dibesarkan.

Terbaru, ia memprotes narasi iklan sebuah pusat perbelanjaan di Denpasar; “Kawitan Nak Kodya”. Memang penggunaan kata kawitan dalam konteks iklan bisa dianggap riskan. Seandainya kata itu diberi tanda petik yang dalam tata bahasa menandakan makna konotatif atau bukan makna sebenarnya, barangkali persoalan ini tidak akan mengemuka.

Namun, dalam tangkapan layar klarifikasi pihak mal yang diunggah Arya Wedakarna di media sosialnya dijelaskan bahwa frasa “Kawitan Nak Kodya” berasal dari percakapan sehari-hari masyarakat Bali khususnya di Kota Denpasar. Sebagai bentuk penghormatan terhadap protes tersebut pihak mal menyatakan akan melakukan klarifikasi lebih lanjut, sesuai undangan untuk datang ke kantor DPD RI di Renon, Denpasar. Arya Wedakarna adalah anggota DPD RI Bali.

Saya percaya, kreator narasi iklan itu adalah anak muda yang dengan cerdas dan jeli menangkap bahasa pergaulan sehari-hari sebagai inspirasi. Bahasa yang hidup yang beredar di tongkrongan media sosial dan percakapan ringan warga kota, lalu diterjemahkan ke dalam narasi komersial.

Seingat saya kata kawitan berakar dari kata wit yang bermakna “asal”. Makna ini luas. Ketika kita bertanya kepada seseorang, “Dari mana asalmu?”, jawabannya tidak selalu sederhana. Bisa kota kelahiran, desa leluhur, provinsi, atau bahkan jawaban yang ragu-ragu, terutama bagi mereka yang sejak kecil harus berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti pekerjaan orang tuanya.

Kawitan berasal dari kata wit yang bermakna asal-mula atau pangkal. Dalam tradisi Bali, ia kerap dipahami sebagai asal-usul genealogis dan hubungan dengan leluhur. Namun, dalam praktik sosial sehari-hari maknanya bergerak dan meluas. Kawitan juga dipakai untuk menandai kampung halaman, rumah pertama, atau ruang yang memberi rasa diterima. Di sini kawitan tidak semata soal darah dan silsilah, melainkan tentang tempat seseorang berakar secara batin dan pengalaman hidupnya bermula.

Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis sebuah narasi di media sosial, menyertai foto Rumah Berdaya Denpasar, sebuah komunitas dan rumah singgah bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kota Denpasar. Kala itu saya menulis caption “Pulang ke ‘kawitan’ dulu”.

Mengapa saya memilih kata kawitan? Karena di tempat itu saya merasa dekat dan sejiwa. Ketika kondisi keuangan saya begitu sulit bahkan untuk membeli makanan pun terasa berat, saya masih bisa makan dengan layak di Rumah Berdaya. Di titik itu kawitan bagi saya bukan lagi sekadar silsilah atau asal-usul genealogis, melainkan rumah, asal-mula, rasa aman, dan kedekatan batin.

Karena itu saya berharap Arya Wedakarna tidak terlalu kaku dalam memaknai bahasa. Tidak setiap penggunaan kata yang memiliki akar religius atau kultural harus langsung disikapi dengan protes, somasi, atau tekanan publik apalagi tanpa dialog. Bukankah jauh lebih bermakna, jika ada ruang duduk bersama, bertatap muka dan berbincang, alih-alih saling berhadap-hadapan di media sosial.

Sebagai pejabat publik, rasanya gaya reaktif seperti puluhan tahun silam perlu ditinggalkan, diganti dengan cara-cara yang lebih elegan. Tidak elok rasanya jika perseteruan simbolik diumbar di ruang digital, menjadi konsumsi publik nasional bahkan global tanpa upaya edukasi yang memadai.

Saya memahami Arya Wedakarna kerap memposisikan diri sebagai pembela agama dan budaya. Namun jika memang ada kegelisahan, mengapa tidak dituangkan dalam bentuk esai atau penjelasan tertulis sebagai antitesis dari apa yang ia kritik? Dengan begitu, fungsi edukasi dari lembaga perwakilan daerah bisa benar-benar terasa. Masyarakat pun diajak memahami makna kawitan secara lebih utuh, bukan sekadar melalui polemik. Dengan gelar doktor yang disandangnya, menulis esai tentu bukan perkara sulit.

Dalam masyarakat yang kian cair, bahasa bergerak jauh lebih cepat daripada regulasi budaya. Kata-kata tidak lagi tinggal di lontar, kitab suci, atau ruang ritual semata. Ia hadir dalam meme, caption media sosial, percakapan santai hingga narasi iklan. Di titik inilah kita perlu membedakan antara pelecehan terhadap kesakralan dan perluasan makna yang lahir dari perubahan sosial.

Jika setiap kata yang memiliki akar budaya dan agama terus menerus ditarik secara kaku ke wilayah sakral tanpa ruang dialog, bahasa berisiko berhenti menjadi alat komunikasi dan berubah menjadi alat pembatas. Padahal budaya hidup justru karena ia dipakai, diperdebatkan, dan ditafsir ulang. Bahasa yang dipagari terlalu rapat hanya akan menjadi artefak museum; dihormati tetapi tidak lagi dihidupi.

Kegelisahan sebagian umat tentu patut didengar. Namun mendengar tidak selalu berarti menghukum, atau memanggil dengan nada intimidatif. Mendengar bisa dimulai dengan percakapan dengan upaya memahami konteks, niat, dan latar sosial sebuah ungkapan. Terlebih jika ungkapan itu lahir dari pergaulan anak muda kota yang bahasanya cair, kadang liar, tetapi jujur mencerminkan zamannya.

Saya khawatir, jika setiap gesekan kecil selalu dibingkai sebagai ancaman terhadap agama dan budaya, yang tumbuh bukanlah kesadaran melainkan ketakutan. Bukan penghormatan, melainkan kepatuhan semu. Padahal agama dan budaya Bali justru tumbuh besar karena daya lenturnya, karena kemampuannya berdialog dengan zaman tanpa kehilangan akar.

Bagi saya, kawitan adalah tempat kembali ketika hidup terasa runtuh. Ia adalah ruang aman ketika dunia menolak. Ia adalah rumah dalam pengertian yang paling manusiawi. Dan Rumah Berdaya bagi saya adalah “kawitan” itu.

Maka ketika kata kawitan diperdebatkan hari ini, saya berharap perdebatan itu tidak berhenti pada siapa yang paling lantang memprotes, melainkan siapa yang paling bersedia menjelaskan. Bukan siapa yang paling cepat memanggil, tetapi siapa yang paling sabar mendidik. Sebab pada akhirnya, budaya tidak dijaga dengan kemarahan melainkan dengan kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan, seperti rumah, seharusnya selalu memberi ruang untuk pulang. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kawitanKota Denpasarmall
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

Next Post

‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

'Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang', Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co