SENJA di kawasan Sunset Road, Kuta, belum sepenuhnya tenggelam ketika pintu Recital Room Debeat Music perlahan terbuka, Senin, 26 Januari 2026. Pukul 17.30 Wita, satu per satu penonton dan undangan mulai mengisi ruangan tersebut. Di ruang itulah, lima remaja yang menamai diri mereka It’s Stellar merayakan langkah penting dalam perjalanan bermusiknya, yakni merilis single bertajuk ‘Berdansa dalam Cerita’ ─ menjadi penanda perjalanan yang berawal dari ruang kelas menuju dapur rekaman.
Bukan sekadar peluncuran lagu perdana. Sore itu juga menjadi momen perayaan persahabatan, kerja keras, dan mimpi yang tumbuh sejak mereka pertama kali dipertemukan di kelas band Debeat Music Course, 16 Juli 2024.
It’s Stellar terdiri dari Yoni (vokal), Ian (gitar), Feilyn (bass), Prana (drum), dan Kika (keyboard). Mereka datang dari latar yang berbeda, tetapi disatukan oleh satu kecintaan yang sama, yakni musik. Dari ruang latihan, mereka mulai merangkai identitas musikal dengan warna pop rock alternative, mereka banyak terinspirasi energi dari Paramore dan kompleksitas musik Snarky Puppy.
Nama ‘Stellar’ dipilih dengan penuh harap. Artinya Bintang ─ sebuah simbol bahwa mereka ingin terus bersinar, bahkan ketika berada di gelapnya malam. Lebih dari itu, mereka ingin menghadirkan kebahagiaan lewat nada.

Perjalanan mereka terbilang cepat, namun tidak instan. Dalam waktu kurang dari setahun sejak terbentuk, It’s Stellar mulai menorehkan prestasi di berbagai ajang kompetisi. Tahun 2025 menjadi tonggak penting ketika mereka keluar sebagai Juara 1 L2PS, sebuah kompetisi band pelajar bergengsi. Kemenangan itu terasa lengkap karena dibarengi penghargaan individu dalam ajang yang sama: Best Vocalist, Best Drummer, Best Bassist, serta Best Guitarist ─ menegaskan bahwa kekuatan mereka hadir baik secara kolektif maupun personal.
Momentum tersebut berlanjut lewat Juara 1 KSM Foursma 2025, menandai konsistensi performa mereka di tengah persaingan yang ketat. Di GMC Band Competition 2025, It’s Stellar kembali naik podium sebagai Juara 2, dengan Ian meraih Best Guitarist berkat permainan gitar yang matang dan penuh karakter.
Bahkan sejak 2024, langkah mereka sudah mulai terasa lewat raihan Juara 2 Senada Universitas Indonesia dan Sound Xemeton. Bagi band seusia mereka, capaian ini bukan sekadar deretan piala, melainkan proses panjang yang ditempa oleh latihan rutin, disiplin, dan keberanian naik panggung berulang kali.

Jam terbang itu kian terasah melalui berbagai penampilan, mulai dari Denpasar Festival, Sanur Festival, konser pelajar, acara komunitas, hingga panggung nasional seperti Java Jazz 2025. Mereka juga sempat berbagi ruang musikal dengan musisi senior dalam Andre Dinuth Intimate Concert. Semua pengalaman tersebut membentuk karakter It’s Stellar sebagai sebuah band. Bukan hanya piawai berlomba, tetapi juga mampu membangun interaksi dengan penonton, layaknya band yang sudah malang melintang di industri musik.
Maka ketika 2026 tiba, langkah menuju dapur rekaman terasa sebagai kelanjutan yang wajar. Di bawah label Analogue Music Production, It’s Stellar merilis single perdana berjudul ‘Berdansa dalam Cerita’. Lagu ini menjadi karya yang sangat personal. Menggambarkan perjalanan pertemanan mereka, mulai dari pertemuan pertama hingga keberanian meraih mimpi bersama.
Secara musikal, lagu ini diarahkan oleh Iwan, Krisna, dan Arel, direkam di DSR Recording Studio serta Debeat Music Studio, lalu di-mixing & mastered oleh Putu Deny Surya.
Hari itu di Recital Room Debeat Music, lagu tersebut dimainkan dengan versi akustik. Sekilas, gugup dan bangga tampak terselip di balik senyum mereka. Penonton dan undangan tidak hanya menyimak, tetapi ikut larut dalam suasana, seolah diajak masuk ke perjalanan lima remaja yang tengah belajar memaknai mimpi. Kini, ‘Berdansa dalam Cerita’ sudah bisa dinikmati di berbagai platform musik digital.
Pada akhirnya, It’s Stellar mengajak kita berdansa bukan hanya dengan nada, tetapi dengan cerita. Dan seperti arti nama yang mereka pilih, perjalanan mereka tampaknya baru saja mulai bersinar. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























