LAMPU-lampu Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar, mulai menyala ketika senja berganti malam, Sabtu, 24 Januari 2026. Satu per satu penonton memenuhi kursi, sementara di balik panggung para mahasiswa sibuk menyiapkan kostum, alat musik, dan riasan terakhir. Tepat pukul 18.00 Wita, ruang pertunjukan itu menjelma menjadi wadah perayaan ‘Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni, Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali’.
Tahun ini, gelaran tersebut mengusung tema “Citta Nirbhana” ─ ruang pembebasan batin, tempat pikiran yang merdeka melahirkan ekspresi jujur, reflektif, dan transformatif. Lebih dari sekadar pementasan, acara ini merupakan representasi ujian akhir semester yang mengolaborasikan mata kuliah Teknik Tata Pentas di semester tiga, Program Magang di semester lima, serta Tari Nusantara di semester tujuh.


Gelar karya itu dibuka dengan tari kreasi “Widya Kandra”, ditampilkan oleh alumni Prodi Sendratasik yang berkolaborasi dengan Sanggar Gumiart. Karya ini menjadi simbol semangat mahasiswa Sendratasik dalam menjaga denyut kreativitas seni pertunjukan. Seusai pembukaan artistik tersebut, hadirin diajak berdoa bersama, dilanjutkan dengan mengumandangkan Indonesia Raya dan pembacaan teks Pancasila.
Ketua Program Studi Pendidikan Sendratasik, I Gede Gusman Adhi Gunawan, S.Sn., M.Sn., atau akrab disapa Wawan maupun Gusman, kemudian menyampaikan laporan kegiatan. Ia menjelaskan bahwa gelar karya ini merupakan hasil kolaborasi lintas mata kuliah.
“Kegiatan ini menampilkan empat karya pertunjukan musik, satu karya pertunjukan tari, serta fashion show rias pengantin Bali,” ujar Gusman. Ia menambahkan, sebanyak 136 mahasiswa terlibat dalam peristiwa artistik ini, dengan dukungan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) serta mahasiswa semester satu sebagai wujud solidaritas internal Prodi Pendidikan Sendratasik.

Gusman menuturkan, khusus untuk mata kuliah magang di semester lima, kegiatan ini menjadi implementasi kurikulum baru berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang diterapkan di UPMI Bali, dengan muara utama pada produk. Dalam program magang tersebut, mahasiswa berkolaborasi dengan berbagai mitra, antara lain Sanggar Cahya Art’s Baliqui, Praba Royal Bali Wedding, Sanggar Seni Jayatra Bali, Sanggar Dadong Rerod, Sanggar Dhanan Jaya, LKP Dewi Salon & Spa, serta Salon Aryan Mang. Hasil proses kreatif dari kolaborasi itu dipresentasikan langsung kepada audiens pada malam gelar karya tersebut.


Rangkaian kegiatan sebenarnya telah dimulai sedari pagi hari melalui Seminar Mahasiswa di Gedung Ksirarnawa. Seminar ini merupakan implementasi mata kuliah Seminar di semester tujuh, dengan pemateri Komang Dedy Kurniawan Putra (UPMI Bali), Ni Made Wulan Asmita Sari (UNHI Denpasar), serta I Gede Aditya Putra Nugraha S (ISI Bali). Kegiatan tersebut terwujud berkat kolaborasi bersama Prodi Pendidikan Tari dan Keagamaan UNHI Denpasar serta Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Bali.
Selain itu, terselenggara pula Seminar Pendidikan dengan menghadirkan praktisi sekaligus akademisi I Wayan Sudirana, S.Sn., M.A., Ph.D., sebagai narasumber, dan I Ketut Lanus, S.Sn., M.Si. (UPMI Bali) sebagai moderator. Mengangkat tema “Seni Pertunjukan Nusantara sebagai Wahana Literasi Multikultural dalam Pendidikan Seni”, seminar ini menjadi ruang berbagi gagasan sekaligus refleksi tentang peran seni pertunjukan Nusantara dalam membangun literasi multikultural.

Apresiasi datang langsung dari Rektor UPMI Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum. Dalam sambutannya, ia menyebut Prodi Pendidikan Sendratasik tampil mengesankan.
“Prodi Pendidikan Sendratasik keren. Saya acungi jempol. Pementasan ini memang luar biasa!” ujarnya disambut tepuk tangan dan sorak sorai penonton
Pembukaan resmi ditandai dengan pemukulan gong oleh Rektor UPMI Bali, didampingi Dekan FBS, perwakilan YPLP Perguruan Tinggi IKIP PGRI Bali, serta Kaprodi Pendidikan Sendratasik.

Selepas seremoni pembukaan, pertunjukan pertama dimulai melalui garapan karawitan “Kama Sukha Pradah”. Karya ini mengisahkan cinta sebagai anugerah suci yang melahirkan kebahagiaan sejati. ‘Kama’ sendiri bermakna cinta dan kasih, ‘sukha’ berarti kebahagiaan, dan ‘pradah’ adalah anugerah. Melalui komposisi musikalnya, karya ini merepresentasikan keharmonisan jiwa dan raga, sekaligus hubungan manusia dengan alam, seni, dan Sang Pencipta. Konsep garapan ini diangkat dari kisah nyata para penyaji, yaitu Putu Pande Raihanata Ransanaya, I Made Alit Praditya Putra, dan I Made Gede Putra Setiawan.

Panggung kemudian beralih ke peragaan busana karya mahasiswa semester lima konsentrasi Tata Rias Bali ─ hasil kolaborasi dengan para mitra magang. Penampilan pertama bertajuk “Dwi Taruna”, hasil kerja sama dengan LKP Dewi Salon & Spa. ‘Dwi’ berarti dua dan ‘Taruna’ bermakna muda-mudi. Karya ini mengisahkan perjalanan waktu, peralihan dari remaja menuju dewasa yang direpresentasikan melalui dua riasan: riasan wisuda bagi sepasang muda-mudi, serta riasan modifikasi dalam upacara metatah (potong gigi) atau manusa yadnya. Karya ini disajikan oleh Aswita Itchi Ndode dan Faustina Florida Rensiana Ani.

Masih dalam rangkaian peragaan busana, kolaborasi dengan Praba Royal Bali Wedding menghadirkan karya bertajuk “Prameswari Jagat”. Karya ini memadukan peragaan busana dengan kesucian jiwa yang merepresentasikan elemen api, air, dan tanah. Tiga riasan ditampilkan: Pertama, payas semi agung modifikasi bernuansa merah marun dan hitam sebagai simbol api. Kedua, payas modifikasi untuk resepsi dengan warna krem dan biru yang sederhana namun anggun. Ketiga, payas agung modifikasi dengan perpaduan warna ungu, hijau, dan emas yang merepresentasikan sepasang pengantin dalam balutan upacara sakral. Karya ini disajikan oleh I Kadek Wahyu Arianda, Ni Made Sri Maharani, dan Kadek Ocha Dwipayanti.

Peragaan busana dilanjutkan dengan kolaborasi bersama Salon Aryan Mang yang bertajuk “Ratna Mukha”. Karya ini menampilkan tiga tingkatan tata rias Bali, mulai dari payas Nista sebagai tingkat dasar yang belakangan kerap dimodifikasi, payas Madya yang mencerminkan keseimbangan dan harmoni ─ biasa digunakan dalam tradisi mungkah lawang (tradisi masyarakat dengan kasta tertentu), serta payas Mandala sebagai tingkatan tertinggi yang bersifat suci dan utama. Ketiga riasan tersebut merefleksikan konsep hierarki dalam tradisi Bali. Karya ini disajikan oleh Ni Komang Ayu Sawitri Dewi, I Kadek Aditya Adi Pramana, dan Ida Ayu Trianjani.

Setelah peragaan busana, gelar karya berlanjut kembali dengan garapan karawitan dengan judul “Tetaman” yang merupakan hasil kolaborasi dengan Sanggar Dhanan Jaya, Cemagi. Disajikan dalam format gong suling, karya ini menggambarkan ruang hidup atau alam yang sejuk dan penuh keindahan, sekaligus secara tidak langsung mengajak atau memberi pesan kepada audiens untuk menjaga dan merawat lingkungan. Penyaji karya ini adalah I Komang Agus Yudha Prawira, I Made Jaya Kusuma, dan Dewa Made Satria Dwipayana Putra.

Berikutnya tampil garapan karawitan dengan judul “Sekatian Pegoyalan”, hasil kolaborasi dengan Sanggar Seni Cahya Art’s Baliqui yang berangkat dari tradisi pegoyolan masyarakat Kerobokan, Badung, khususnya dalam upacara piodalan di pura Kahyangan Tiga. Pegoyolan merupakan inti prosesi upacara, saat pemangku (pemuka agama) menghaturkan banten dengan iringan tabuh bernuansa lembut yang dimainkan secara situasional. Tradisi inilah yang kemudian diturunkan menjadi tabuh Sekatian oleh I Gusti Lanang Raiditya Agung, I Komang Rafael Rede Mbabalu, I Nyoman Adi Cahya Putra, dan Putu Gede Satriya Arta Yasa.



Nuansa gelar karya kemudian bergeser ke musik modern melalui sajian “Etnova”, nama tersebut diambil dari kata ‘etnik’ dan ‘nova’ yang berarti akar budaya bertemu energi baru. Musik etnik dijadikan fondasi lewat instrumen tradisional, dipadukan dengan aransemen modern dan elemen electronic dance music (EDM). Hasilnya adalah warna musikal yang segar, dinamis, dan relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter budaya. Pertunjukan ini disajikan oleh mahasiswa semester lima Prodi Pendidikan Sendratasik.
Sebagai pamungkas, Tari Nusantara yang bertajuk “Permata Nusantara” menutup rangkaian malam itu. Karya ini merangkum keindahan dan keragaman budaya Indonesia dari Sabang hingga Merauke melalui perpaduan ragam gerak, iringan, dan karakter tari Nusantara. Disajikan oleh mahasiswa semester lima, karya ini menjadi penutup yang merangkum semangat ‘Citta Nirbhana’: pembebasan batin melalui seni.


Dengan berakhirnya “Permata Nusantara”, rangkaian Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Bali resmi ditutup. Melalui pementasan musik, tari, karawitan, hingga peragaan busana tata rias Bali, kegiatan ini menjadi ruang aktualisasi hasil pembelajaran lintas semester sekaligus implementasi kurikulum berbasis OBE. Gelar karya ini juga menandai keterlibatan aktif mahasiswa, dosen, mitra magang, serta jejaring antarlembaga dalam satu peristiwa artistik yang mempertemukan proses pendidikan dengan praktik seni pertunjukan di ruang publik. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























