6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Moch. Anil Syidqi by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
in Ulas Pentas
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Foto: Sumiati bersama tokoh Rempeg Jagapati dan Sayu Wiwit

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan.

Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Ditampilkan dan diproduksi oleh Rumah Kreatif Damar Art (Banyuwangi) pada perayaan Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi [HARJABA] ke-254 di Gesibu, Komplek Taman Blambangan, Banyuwangi (20/12/2025).

Karya ini hadir dari tangan dingin Eko Ari Bawanto [sutradara], Echa Puri Albatiruna [penulis naskah], Lista Dewi Ramadhaningrum [Koreografer]. Empat lainnya, ada Achzana Ilhamy [komposer etnik], Ananda Mahardika Putra [komposer modern], Mirza Prastyo [Ilustrator], dan Moh. Faris Efendi [Animator]. Tim artistik diisi kombinasi apik Arini Mai Sela, Fahrina Aulia, Shinta Maulidya, Ellysa Nanda, dan Anggi Dinda. Sementara itu, para pemusik adalah keluarga besar Rumah Kreatif Damar Art.

Turut tampil para artis ternama Banyuwangi, dari Yon’s DD, Wandra, hingga Sumiati. Masing-masing menampilkan lagu andalan mereka. Yon’s DD dengan Suling Montro. Wandra dengan Sawangen. Sumiati dengan Isun Lare Using.

Para penari, prajurit pembawa bendera merangkap pasukan alap-alap diperankan oleh Bagus Ponco, Arinda Afrionika, Zhivana Inezya, Zahra Asfa’ullya, Yuarma Auldy, Bintang Ahmad. Prajurit gandewa diperankan oleh Rifa’i, Wiji Amelia, Arletha Bhineka, Mauren Putri, Putu Evinka Prancylia, Anwarul Maulah. Penari bedhaya adalah Bunga Sintia, Denisa Meta, Jihan Ceysa, Dwi Zahra, Rachel Ervio. Kedua tokoh utama adalah Sayu Wiwit dan Rempeg Jagapati. Masing-masing diperankan oleh Wahyu Suri Marwani [Sayu Wiwit] dan Romi Romansyah [Rempeg Jagapati].

Sajian Karya

Cahaya merah merona memenuhi ruang pertunjukan. Ilustrasi musik drone muncul bersama lenyapnya sorot lampu. Dari layar tengah, tersaji ilustrasi berlatar merah berapi, menarasikan sinopsis karya.

Dari darah yang tumpah di Blambangan, lahirlah banyuwangi yang berdaya menjaga tradisi, menoreh prestasi, mengibarkan cahaya dari timur Nusantara.

Para penari memasuki panggung sembari mengibarkan bendera dalam cahaya merah redup menuju terang. Mereka berlari berputar. Sekian kali, mengitari panggung persegi panjang yang terbatas ruang. Tak sampai berhenti, penari lain masuk. Menyusul setelahnya sebuah formasi dengan penataan rapi, berpola segitiga meruncing ke depan.

Baris belakang diisi oleh prajurit pembawa bendera [prajurit alap-alap]. Sebaris di depannya adalah prajurit gandewa. Para penari bedhaya dan tokoh Sayu Wiwit mengisi baris kedua dan ketiga dari depan. Sementara tokoh Rempeg Jagapati berada pada barisan terdepan.

Sembari bernyanyi serempak, para pemain berpose. Ada yang menggerakkan bendera atau meletakkan tangan menyilang dada tanpa gerak berarti. Kecuali tokoh Mas Rempeg yang mengalun merespons musik.

Mereka menyanyikan tembang pembukaan. Sebuah penghormatan pada penonton dan permohonan keselamatan pada Tuhan.

Apakah kita akan membiarkan dada kita diinjak-injak? Kata Jagapati menyemangati pasukannya. Kalimat ini memantik lonjakan emosi sajian. Dada adalah bagian tubuh. Menginjak dada sama halnya merendahkan harkat martabat. Maka responnya adalah melawan atau mati.

Peperangan antara dua belah kelompok pun tak dapat terhindarkan. Pasukan bercelurit pimpinan Tumenggung Alap-alap dengan pasukan bergandewa pimpinan Rempeg Jagapati. Berjalan selama beberapa waktu, koreografi dan musik menyatu padu menyajikan gambaran peperangan yang sengit. Tak tampak ada yang kalah atau menang.

Buummm! Waktu seolah berhenti. Para penari mematung pada pose terakhirnya. Terbagi dalam kelompok kecil, dua sampai tiga penari. Ada yang berdiri dan jongkok setengah badan.

Musik berganti untuk masuk ke sajian lagu. Yon’s DD, salah satu artis yang tampil pada drama musikal ini, masuk perlahan. DD menyanyikan lagu Suling Montro. Lagu yang diciptakannya bersama Elvin Hendratha pada 2022.

Nyeja isun yara mula nyeja

Ngirim dilah giningna manteb

Nggawa atinrika liwat lawang ngarep

Melebuwa manjinga nong atinisun kelawan reda

Syair tersebut adalah mantra. Sebuah permohonan untuk membuka hati seseorang (perempuan). Agar hatinya luluh, menyatu ikhlas dengan perasaan sang pemantra.

Usai lagu, musik kembali naik. Suasana wingit terbangun dengan puncak pelafalan doa oleh Yon’s DD.

Pembacaan

Kurang lebih begitulah gambaran sajian drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Secara keseluruhan tampilan, karya ini sangat menarik. Namun, ada satu catatan penting yang mungkin terlewatkan oleh para kreator. Ini utamanya soal kesesuaian lagu dengan narasi yang ingin dibangun. Sedari awal pembacaan sinopsis, jelas menegaskan bahwa drama ini mengisahkan perjuangan Rempeg Jagapati dan Sayu Wiwit dalam perlawanan di Tanah Bayu.

Sayangnya, dari tiga lagu kunci yang dipilih, hanya satu (yaitu Isun Lare Using) yang memang sesuai dengan alur cerita. Karena itu karya ini menjadi semacam kepingan tema yang disusun dan disisipi satu narasi. Perjuangan.

Suling Montro, misalnya. Di tengah jalannya cerita, lagu ini seolah berdiri sendiri sebagai intermeso. Secara tema, ia tidak sesuai. Hanya saja, dinamika musik masih melebur dengan bangunan suasana. Terlebih saat DD merapalkan doa keselamatan untuk perayaan Hari Jadi Banyuwangi ke-254. Bukan hal yang keliru. Namun, itu semakin melebarkan konteks dengan kisah yang ingin diungkap.

Kasusnya sama seperti Suling Montro. Penyematan Sawangen [Wandra] justru mematahkan bangunan tema yang dibangun kuat sejak awal sajian. Di titik ini, kreator tampak ingin memunculkan kebimbangan Sayu Wiwit akan situasi di Bayu. Secara koreografi dan visual, itu berhasil. Namun tidak dengan lagu sebagai sorot utama. Sawangen di sini menyuarakan kisah patah hati dalam hubungan dua sejoli [kekasih]. Yang secara syair, bersimpangan dengan cinta terhadap negara.

Secara keseluruhan, patahan-patahan ini samar tertutupi oleh bangunan musik, koreografi, dan visual yang ciamik. Emosinya cukup. Tidak kurang apalagi berlebihan. Terlepas dari keterlewatan yang mungkin tak disengaja itu, drama musikal ini cukup berhasil mendobrak batasan kekaryaan yang biasa dilakukan di Banyuwangi. Memadukan dua kutub peradaban ilustrasi visual modern dan musik digital, dengan elemen etnik tari, musik, dan sejarah.

Di perayaan HARJABA ke-254, Damar Art menawarkan gebrakan baru di panggung seni tradisi Banyuwangi. [T]

Penulis: Moch. Anil Syidqi
Editor: Adnyana Ole

Tags: banyuwangiDramadrama musikalkesenian banyuwangi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Next Post

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Moch. Anil Syidqi

Moch. Anil Syidqi

Mahasiswa S2 di Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta. Pernah mengajar gamelan jawa di berbagai tingkatan sekolah di Surabaya dan sekitarnya. Memupuk konsistensi sebagai nilai hidup.

Related Posts

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

by I Putu Ardiyasa
January 23, 2026
0
Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di...

Read moreDetails

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

by Agus Arta Wiguna
December 25, 2025
0
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan...

Read moreDetails

Berlari Bersama Denpasar: Kota yang Berlari, Saya yang Tertinggal Sedikit

by Devy Gita
November 28, 2025
0
Berlari Bersama Denpasar: Kota yang Berlari, Saya yang Tertinggal Sedikit

November, “Ber”nya apa?  Berkutat dalam Denpasar Bercerita.  Denpasar Bercerita digelar pada 22 November 2025 lalu di Hall 2B Graha Yowana...

Read moreDetails
Next Post
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Sisi Lain 1965 : 'Surat dari Praha' (2016)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co