25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Childfree dari Sudut Pandang Spiritual

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 24, 2025
in Esai
Melihat Childfree dari Sudut Pandang Spiritual

Ilustrasi tatkala.co | Canva

CHILDFREE adalah keputusan sadar sebuah pasangan untuk tidak memiliki anak. Keputusan ini bukan disebabkan oleh kendala biologis, melainkan pilihan hidup yang diambil setelah pertimbangan panjang. Istilah childfree mulai populer di Barat pada era tujuh puluhan, ketika pergerakan perempuan menempatkan kebebasan tubuh dan hak menentukan hidup sebagai bagian dari perjuangan mereka.

Namun jauh sebelum istilah ini mendapatkan nama yang formal, manusia di berbagai penjuru dunia sudah mengenal keputusan untuk tidak memiliki keturunan. Keputusan itu hadir pada para rahib, seniman, pemikir, dan kelompok spiritual yang hidup dengan pilihan berbeda dari arus utama masyarakat.

Di Indonesia, pembahasan mengenai childfree baru ramai dibicarakan setelah media sosial membuka ruang yang selama ini tertutup. Topik yang dahulu dianggap tabu kini dapat muncul tanpa harus bersembunyi di balik bahasa halus. Dalam masyarakat yang sejak lama memadukan pernikahan dan keturunan sebagai dua kewajiban yang seolah tak bisa dipisahkan, keputusan childfree sering dianggap aneh. Tidak sedikit pasangan yang mengaku harus menanggung pandangan miring dari keluarga maupun lingkungan sekitar, ketika menyatakan tidak ingin memiliki anak.

Meskipun begitu, beberapa tahun terakhir terlihat perubahan yang cukup menarik. Pasangan muda, terutama yang tinggal di kota besar, mulai mempertimbangkan hidup tanpa anak sebagai pilihan yang mungkin relevan dengan kondisi mereka.

Tekanan ekonomi, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, serta pengalaman masa kecil yang rumit membuat sebagian orang tidak ingin mengulang pola yang sama pada generasi berikutnya. Belum ada statistik resmi mengenai jumlah pasangan childfree di Indonesia, tetapi percakapan mengenai pilihan ini semakin luas dan tidak lagi berada di pinggir wacana publik.

Akan tetapi sebagian besar pembahasan childfree masih didominasi perspektif psikologis, sosial, atau ekonomi. Padahal dalam banyak kebudayaan keputusan memiliki atau tidak memiliki anak berkaitan erat dengan perjalanan spiritual seseorang. Ada hubungan antara luka keluarga, karma leluhur, dan pilihan untuk menghentikan siklus tertentu. Di sinilah pandangan Lia Lestari seorang spiritualis muda memberi sudut pandang yang lebih dalam bagi mereka yang ingin memahami childfree bukan sekadar keputusan pribadi, tetapi juga perjalanan jiwa.

Memutus Karma Leluhur

Menurut Lia, pasangan yang memilih childfree sebenarnya sedang mengambil keputusan penting untuk memutus karma leluhur yang selama ini diwariskan. Dulu keputusan childfree sering dihujat. Banyak orang menilai pasangan childfree egois, tidak mau memanfaatkan kodrat sebagai manusia, atau menolak norma yang telah berlaku selama turun temurun. Namun jika dilihat lebih dekat keputusan ini justru melibatkan kesadaran yang tinggi.

Banyak orang yang memilih childfree didorong oleh keinginan memutus rantai trauma dalam keluarga. Trauma tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari pola pengasuhan, kekerasan emosional yang tidak disadari, atau luka masa kecil yang tidak pernah sembuh. Trauma itu diwariskan dari orang tua, lalu dari kakek nenek, dan seterusnya. Ketika seseorang tumbuh dengan luka yang belum selesai, ada kemungkinan besar luka itu berpindah ke anak berikutnya.

Pasangan childfree menyadari hal ini. Mereka tahu bahwa jika luka dalam diri mereka belum benar benar sembuh, maka anak yang lahir berpotensi membawa beban yang sama. Dengan memutus siklus itu melalui keputusan tidak memiliki anak, mereka menghentikan warisan trauma pada generasi selanjutnya. Dulu cara berpikir seperti ini sering dianggap aneh. Kini semakin banyak orang yang memahami bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab spiritual.

Di mata Lia, keputusan childfree bukanlah keputusan yang lahir dari keegoisan. Justru di balik pilihan itu terdapat empati yang besar. Seseorang yang memilih childfree berani mengambil jalan yang berseberangan dengan standar sosial demi menghindarkan anak dari lingkungan emosional yang belum siap. Banyak orang mengikuti standar pernikahan tanpa benar benar memeriksa kesiapan batin mereka. Mereka menikah, lalu memiliki anak, lalu berusaha menjadi orang tua tanpa fondasi emosional yang cukup kuat.

Dalam masyarakat kita, menjadi orang tua sering dianggap sebagai hal yang otomatis. Padahal menjadi orang tua adalah proses spiritual dan emosional yang memerlukan kesiapan besar. Tidak semua orang punya kesempatan menyembuhkan luka masa kecilnya sebelum mengasuh anak. Namun norma sosial sering kali tidak memberi ruang untuk mempertanyakan kesiapan itu. Pasangan yang tidak ingin punya anak dinilai menyalahi aturan tidak tertulis yang telah diwariskan sejak lama.

Ironisnya, orang orang yang paling keras menghujat pasangan childfree sering kali adalah orang yang membawa luka pengasuhan yang belum terselesaikan. Mereka merasa keputusan memiliki anak adalah sebuah keharusan, padahal keputusan itu lahir dari tekanan sosial, bukan dari kesadaran diri. Pola pengasuhan yang keras atau dingin dianggap wajar karena sudah berlangsung selama bertahun tahun dalam keluarga. Akibatnya luka yang sama berpindah ke generasi berikutnya tanpa ada jeda untuk menyembuhkan.

Masyarakat kita tumbuh dengan berbagai norma yang dianggap suci dan tak boleh diganggu gugat. Salah satunya adalah keyakinan bahwa pernikahan tanpa anak bukanlah pernikahan yang utuh. Norma seperti ini mempersempit ruang berpikir seseorang. Norma membuat orang lebih takut pada penilaian masyarakat daripada takut melukai anak yang lahir dalam kondisi keluarga yang tidak sehat.

Ketika seseorang memutuskan childfree ia seolah menantang norma itu. Namun, tantangan tersebut bukan untuk melawan budaya, melainkan untuk mempertanyakan apakah norma tersebut masih relevan dan sehat. Dalam banyak kasus norma dibangun oleh generasi yang tidak pernah menyembuhkan luka mereka sendiri. Mereka mempertahankan pola asuh yang keras, tetapi tetap merasa memiliki anak adalah kewajiban. Padahal kondisi seperti itu berisiko melahirkan generasi baru yang memikul trauma lama.

Childfree mungkin dianggap langkah ekstrem tetapi ia membuka percakapan penting mengenai bagaimana manusia harus menyadari masa lalu mereka. Dengan keputusan childfree seseorang menarik garis tegas bahwa luka tidak boleh diwariskan lagi. Masyarakat boleh menghakimi tetapi mereka tidak menyadari beban emosional yang mungkin ditanggung oleh seseorang yang memilih jalan tersebut.

Membutuhkan Keutuhan

Esai ini tidak bermaksud mengajak siapa pun untuk memilih childfree. Setiap orang punya jalan masing masing dalam hidupnya. Namun keputusan childfree mengingatkan kita bahwa memiliki anak bukanlah sesuatu yang boleh diambil tanpa pertimbangan. Anak bukan simbol kesempurnaan pernikahan. Anak bukan alat kebanggaan keluarga. Anak adalah jiwa yang membutuhkan pengasuhan yang penuh cinta, kesabaran, dan kehadiran emosional yang utuh.

Jika seseorang memiliki anak hanya untuk memenuhi standar masyarakat maka yang paling menderita adalah anak itu sendiri. Banyak orang tumbuh dengan beban yang seharusnya tidak mereka pikul. Mereka menanggung kemarahan orang tua, rasa takut yang tidak bisa dijelaskan, atau rasa tidak layak yang sesungguhnya berasal dari luka generasi sebelumnya. Semua itu membuktikan bahwa keputusan memiliki anak seharusnya tidak diambil karena tekanan eksternal.

Childfree menawarkan perspektif sebaliknya. Perspektif bahwa tidak memiliki anak juga dapat menjadi bentuk kasih sayang. Bahwa seseorang memilih untuk menghentikan lingkaran penderitaan dan memberi waktu pada diri sendiri untuk menyembuhkan luka yang ada.

Trauma leluhur dan karma keluarga bukanlah konsep yang harus dipahami secara mistis. Dalam psikologi modern fenomena ini dikenal sebagai trauma antargenerasi. Luka bisa berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya bahkan tanpa kata kata. Trauma hadir dalam cara seseorang berbicara, mengasuh, marah, atau bahkan mencintai. Kalau tidak ada yang menghentikan pola itu maka pola tersebut akan terus hidup.

Dalam konteks ini childfree dapat dilihat sebagai keputusan spiritual yang mendalam. Ia bukan sekadar pilihan gaya hidup. Ia adalah bentuk penolakan terhadap warisan luka. Sebagian orang memilih untuk menyembuhkan luka mereka sambil tetap membesarkan anak. Sebagian lagi memilih tidak memiliki anak agar tidak ada lagi jiwa yang masuk ke dalam lingkaran itu. Keduanya sah. Yang penting adalah kesadaran diri dalam menjalani pilihan tersebut.

Childfree bukan tren dan bukan pula sikap melawan masyarakat. Ia adalah salah satu jalan hidup yang ditempuh sebagian orang. Jalan itu mungkin tidak mudah tetapi ia lahir dari refleksi yang dalam. Apa pun pilihan seseorang baik memiliki anak maupun tidak yang terpenting adalah kesadaran. Pilihan harus lahir dari pemahaman diri bukan dari tekanan sosial. Pilihan harus datang dari keterbukaan hati bukan dari rasa takut dianggap berbeda.

Pada akhirnya perjalanan spiritual manusia bukan tentang mengikuti apa yang dianggap wajar oleh masyarakat. Perjalanan itu tentang keberanian memilih jalan yang paling sesuai dengan pertumbuhan jiwanya. Dan dalam hal ini childfree adalah salah satu cermin untuk melihat sejauh mana seseorang benar benar memahami dirinya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: childfreeSpiritualsuami istri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setahun dalam Krisis Psikologis: Membaca Indonesia 2025, Menakar Ketahanan Mental 2026

Next Post

Tri Ratna dan Kebutuhan akan Living Master di Zaman Awakening Digital

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Tri Ratna dan Kebutuhan akan Living Master di Zaman Awakening Digital

Tri Ratna dan Kebutuhan akan Living Master di Zaman Awakening Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co