14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Childfree dari Sudut Pandang Spiritual

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 24, 2025
in Esai
Melihat Childfree dari Sudut Pandang Spiritual

Ilustrasi tatkala.co | Canva

CHILDFREE adalah keputusan sadar sebuah pasangan untuk tidak memiliki anak. Keputusan ini bukan disebabkan oleh kendala biologis, melainkan pilihan hidup yang diambil setelah pertimbangan panjang. Istilah childfree mulai populer di Barat pada era tujuh puluhan, ketika pergerakan perempuan menempatkan kebebasan tubuh dan hak menentukan hidup sebagai bagian dari perjuangan mereka.

Namun jauh sebelum istilah ini mendapatkan nama yang formal, manusia di berbagai penjuru dunia sudah mengenal keputusan untuk tidak memiliki keturunan. Keputusan itu hadir pada para rahib, seniman, pemikir, dan kelompok spiritual yang hidup dengan pilihan berbeda dari arus utama masyarakat.

Di Indonesia, pembahasan mengenai childfree baru ramai dibicarakan setelah media sosial membuka ruang yang selama ini tertutup. Topik yang dahulu dianggap tabu kini dapat muncul tanpa harus bersembunyi di balik bahasa halus. Dalam masyarakat yang sejak lama memadukan pernikahan dan keturunan sebagai dua kewajiban yang seolah tak bisa dipisahkan, keputusan childfree sering dianggap aneh. Tidak sedikit pasangan yang mengaku harus menanggung pandangan miring dari keluarga maupun lingkungan sekitar, ketika menyatakan tidak ingin memiliki anak.

Meskipun begitu, beberapa tahun terakhir terlihat perubahan yang cukup menarik. Pasangan muda, terutama yang tinggal di kota besar, mulai mempertimbangkan hidup tanpa anak sebagai pilihan yang mungkin relevan dengan kondisi mereka.

Tekanan ekonomi, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, serta pengalaman masa kecil yang rumit membuat sebagian orang tidak ingin mengulang pola yang sama pada generasi berikutnya. Belum ada statistik resmi mengenai jumlah pasangan childfree di Indonesia, tetapi percakapan mengenai pilihan ini semakin luas dan tidak lagi berada di pinggir wacana publik.

Akan tetapi sebagian besar pembahasan childfree masih didominasi perspektif psikologis, sosial, atau ekonomi. Padahal dalam banyak kebudayaan keputusan memiliki atau tidak memiliki anak berkaitan erat dengan perjalanan spiritual seseorang. Ada hubungan antara luka keluarga, karma leluhur, dan pilihan untuk menghentikan siklus tertentu. Di sinilah pandangan Lia Lestari seorang spiritualis muda memberi sudut pandang yang lebih dalam bagi mereka yang ingin memahami childfree bukan sekadar keputusan pribadi, tetapi juga perjalanan jiwa.

Memutus Karma Leluhur

Menurut Lia, pasangan yang memilih childfree sebenarnya sedang mengambil keputusan penting untuk memutus karma leluhur yang selama ini diwariskan. Dulu keputusan childfree sering dihujat. Banyak orang menilai pasangan childfree egois, tidak mau memanfaatkan kodrat sebagai manusia, atau menolak norma yang telah berlaku selama turun temurun. Namun jika dilihat lebih dekat keputusan ini justru melibatkan kesadaran yang tinggi.

Banyak orang yang memilih childfree didorong oleh keinginan memutus rantai trauma dalam keluarga. Trauma tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari pola pengasuhan, kekerasan emosional yang tidak disadari, atau luka masa kecil yang tidak pernah sembuh. Trauma itu diwariskan dari orang tua, lalu dari kakek nenek, dan seterusnya. Ketika seseorang tumbuh dengan luka yang belum selesai, ada kemungkinan besar luka itu berpindah ke anak berikutnya.

Pasangan childfree menyadari hal ini. Mereka tahu bahwa jika luka dalam diri mereka belum benar benar sembuh, maka anak yang lahir berpotensi membawa beban yang sama. Dengan memutus siklus itu melalui keputusan tidak memiliki anak, mereka menghentikan warisan trauma pada generasi selanjutnya. Dulu cara berpikir seperti ini sering dianggap aneh. Kini semakin banyak orang yang memahami bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab spiritual.

Di mata Lia, keputusan childfree bukanlah keputusan yang lahir dari keegoisan. Justru di balik pilihan itu terdapat empati yang besar. Seseorang yang memilih childfree berani mengambil jalan yang berseberangan dengan standar sosial demi menghindarkan anak dari lingkungan emosional yang belum siap. Banyak orang mengikuti standar pernikahan tanpa benar benar memeriksa kesiapan batin mereka. Mereka menikah, lalu memiliki anak, lalu berusaha menjadi orang tua tanpa fondasi emosional yang cukup kuat.

Dalam masyarakat kita, menjadi orang tua sering dianggap sebagai hal yang otomatis. Padahal menjadi orang tua adalah proses spiritual dan emosional yang memerlukan kesiapan besar. Tidak semua orang punya kesempatan menyembuhkan luka masa kecilnya sebelum mengasuh anak. Namun norma sosial sering kali tidak memberi ruang untuk mempertanyakan kesiapan itu. Pasangan yang tidak ingin punya anak dinilai menyalahi aturan tidak tertulis yang telah diwariskan sejak lama.

Ironisnya, orang orang yang paling keras menghujat pasangan childfree sering kali adalah orang yang membawa luka pengasuhan yang belum terselesaikan. Mereka merasa keputusan memiliki anak adalah sebuah keharusan, padahal keputusan itu lahir dari tekanan sosial, bukan dari kesadaran diri. Pola pengasuhan yang keras atau dingin dianggap wajar karena sudah berlangsung selama bertahun tahun dalam keluarga. Akibatnya luka yang sama berpindah ke generasi berikutnya tanpa ada jeda untuk menyembuhkan.

Masyarakat kita tumbuh dengan berbagai norma yang dianggap suci dan tak boleh diganggu gugat. Salah satunya adalah keyakinan bahwa pernikahan tanpa anak bukanlah pernikahan yang utuh. Norma seperti ini mempersempit ruang berpikir seseorang. Norma membuat orang lebih takut pada penilaian masyarakat daripada takut melukai anak yang lahir dalam kondisi keluarga yang tidak sehat.

Ketika seseorang memutuskan childfree ia seolah menantang norma itu. Namun, tantangan tersebut bukan untuk melawan budaya, melainkan untuk mempertanyakan apakah norma tersebut masih relevan dan sehat. Dalam banyak kasus norma dibangun oleh generasi yang tidak pernah menyembuhkan luka mereka sendiri. Mereka mempertahankan pola asuh yang keras, tetapi tetap merasa memiliki anak adalah kewajiban. Padahal kondisi seperti itu berisiko melahirkan generasi baru yang memikul trauma lama.

Childfree mungkin dianggap langkah ekstrem tetapi ia membuka percakapan penting mengenai bagaimana manusia harus menyadari masa lalu mereka. Dengan keputusan childfree seseorang menarik garis tegas bahwa luka tidak boleh diwariskan lagi. Masyarakat boleh menghakimi tetapi mereka tidak menyadari beban emosional yang mungkin ditanggung oleh seseorang yang memilih jalan tersebut.

Membutuhkan Keutuhan

Esai ini tidak bermaksud mengajak siapa pun untuk memilih childfree. Setiap orang punya jalan masing masing dalam hidupnya. Namun keputusan childfree mengingatkan kita bahwa memiliki anak bukanlah sesuatu yang boleh diambil tanpa pertimbangan. Anak bukan simbol kesempurnaan pernikahan. Anak bukan alat kebanggaan keluarga. Anak adalah jiwa yang membutuhkan pengasuhan yang penuh cinta, kesabaran, dan kehadiran emosional yang utuh.

Jika seseorang memiliki anak hanya untuk memenuhi standar masyarakat maka yang paling menderita adalah anak itu sendiri. Banyak orang tumbuh dengan beban yang seharusnya tidak mereka pikul. Mereka menanggung kemarahan orang tua, rasa takut yang tidak bisa dijelaskan, atau rasa tidak layak yang sesungguhnya berasal dari luka generasi sebelumnya. Semua itu membuktikan bahwa keputusan memiliki anak seharusnya tidak diambil karena tekanan eksternal.

Childfree menawarkan perspektif sebaliknya. Perspektif bahwa tidak memiliki anak juga dapat menjadi bentuk kasih sayang. Bahwa seseorang memilih untuk menghentikan lingkaran penderitaan dan memberi waktu pada diri sendiri untuk menyembuhkan luka yang ada.

Trauma leluhur dan karma keluarga bukanlah konsep yang harus dipahami secara mistis. Dalam psikologi modern fenomena ini dikenal sebagai trauma antargenerasi. Luka bisa berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya bahkan tanpa kata kata. Trauma hadir dalam cara seseorang berbicara, mengasuh, marah, atau bahkan mencintai. Kalau tidak ada yang menghentikan pola itu maka pola tersebut akan terus hidup.

Dalam konteks ini childfree dapat dilihat sebagai keputusan spiritual yang mendalam. Ia bukan sekadar pilihan gaya hidup. Ia adalah bentuk penolakan terhadap warisan luka. Sebagian orang memilih untuk menyembuhkan luka mereka sambil tetap membesarkan anak. Sebagian lagi memilih tidak memiliki anak agar tidak ada lagi jiwa yang masuk ke dalam lingkaran itu. Keduanya sah. Yang penting adalah kesadaran diri dalam menjalani pilihan tersebut.

Childfree bukan tren dan bukan pula sikap melawan masyarakat. Ia adalah salah satu jalan hidup yang ditempuh sebagian orang. Jalan itu mungkin tidak mudah tetapi ia lahir dari refleksi yang dalam. Apa pun pilihan seseorang baik memiliki anak maupun tidak yang terpenting adalah kesadaran. Pilihan harus lahir dari pemahaman diri bukan dari tekanan sosial. Pilihan harus datang dari keterbukaan hati bukan dari rasa takut dianggap berbeda.

Pada akhirnya perjalanan spiritual manusia bukan tentang mengikuti apa yang dianggap wajar oleh masyarakat. Perjalanan itu tentang keberanian memilih jalan yang paling sesuai dengan pertumbuhan jiwanya. Dan dalam hal ini childfree adalah salah satu cermin untuk melihat sejauh mana seseorang benar benar memahami dirinya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: childfreeSpiritualsuami istri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setahun dalam Krisis Psikologis: Membaca Indonesia 2025, Menakar Ketahanan Mental 2026

Next Post

Tri Ratna dan Kebutuhan akan Living Master di Zaman Awakening Digital

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Tri Ratna dan Kebutuhan akan Living Master di Zaman Awakening Digital

Tri Ratna dan Kebutuhan akan Living Master di Zaman Awakening Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co