24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Petruk Jadi Ratu: Ketika Kekuasaan Menguji Kesadaran

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 23, 2025
in Esai
Petruk Jadi Ratu: Ketika Kekuasaan Menguji Kesadaran

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM jagat pewayangan Jawa, Petruk adalah punakawan: sosok rakyat jelata, jenaka, lugu, namun menyimpan kebijaksanaan tersembunyi. Ia bukan kshatria, bukan brahmana, bukan pula pengusaha. Justru karena itulah Petruk diberi peran istimewa dalam lakon Petruk Dadi Ratu: sebuah eksperimen kosmis tentang apa yang terjadi bila kekuasaan jatuh ke tangan “orang biasa”.

Kisah ini biasanya bermula dari kekacauan kosmis atau permainan para dewa. Dalam satu versi, Petruk memperoleh kesaktian atau mandat kekuasaan secara tidak sengaja—kadang karena pusaka, kadang karena kutukan yang berbalik arah. Ia lalu naik tahta denngan abhiseka seorang Ratu, menjadi raja sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi.

Pada awal pemerintahannya, Petruk memerintah dengan niat baik. Ia masih membawa suara rakyat kecil: ingin keadilan, ingin kemakmuran, ingin kejujuran. Rakyat bersorak—karena akhirnya yang memerintah adalah “orang seperti mereka”. Di titik ini, lakon seolah hendak mengatakan: kekuasaan di tangan rakyat kecil menjanjikan harapan.

Namun, pelan tapi pasti, kekuasaan mulai menguji kesadaran Petruk.

Sebagai raja, ia disanjung, ditakuti, dilayani. Kata-katanya menjadi hukum. Keinginannya menjadi perintah. Di sinilah terjadi perubahan batin: Petruk mulai lupa bahwa ia hanyalah Petruk. Ia mulai melekat pada identitas baru: raja, penguasa, pusat dunia. Humor yang dulu membumi berubah menjadi ejekan. Kesederhanaan berubah menjadi keinginan untuk diakui.

Dalam beberapa versi, Petruk menjadi lalim—bukan karena ia jahat, tetapi karena kesadarannya belum siap menanggung beban kekuasaan. Kekuasaan yang seharusnya menjadi alat pelayanan berubah menjadi alat pemuasan ego. Pada akhirnya, para Dewa maupun Semar turun tangan. Kesaktian dicabut, tahta runtuh, dan Petruk kembali menjadi punakawan.

Namun lakon ini tidak pernah berakhir dengan penghukuman. Tidak ada tragedi berdarah. Yang ada adalah pemulihan kesadaran. Petruk sadar: tahta bukan tempatnya. Kekuasaan bukan tujuan hidup. Ia kembali ke peran sejatinya—penyambung suara kebijaksanaan rakyat dan penyeimbang kshatria.

Pelajaran Filosofis: Kekuasaan adalah Ujian Kesadaran

Lakon Petruk Jadi Ratu bukan cerita tentang kegagalan rakyat kecil, melainkan tentang bahaya kekuasaan yang melampaui tingkat kesadaran batin seseorang.

Dalam tradisi Jawa, kekuasaan (kasekten dan kalenggahan) hanya aman di tangan mereka yang sudah sepi ing pamrih, rame ing gawe—bekerja tanpa pamrih pribadi. Ketika pamrih masuk, kekuasaan berubah menjadi racun.

Di sinilah kisah ini bertemu secara sangat relevan dengan Peta Kesadaran David R. Hawkins.

Petruk dan Peta Kesadaran Hawkins

Menurut Hawkins, kesadaran manusia bergerak dari tingkat rendah ke tinggi:
Malu (20), Rasa Bersalah (30), Apati (50), Duka (75), Takut (100), Keinginan (125), Marah (150), Keberanian (200), Netralitas (250), Kerelaan (310), Penerimaan (350), Rasionalitas (400), Cinta (500), Sukacita (540), Damai (600), hingga Pencerahan (700–1000).

Petruk sebagai punakawan berada pada wilayah netralitas dan penerimaan. Ia tidak mengejar kekuasaan. Ia menerima hidup apa adanya. Ia menertawakan dunia, bukan menguasainya. Dalam posisi ini, Petruk justru menjadi kanal kebijaksanaan.

Namun ketika ia menjadi raja, kesadarannya tergelincir ke tingkat keinginan (125) dan kebanggaan tersembunyi (sekitar 175–190)—ingin dihormati, ingin diakui, ingin berkuasa. Kekuasaan memperbesar ego, bukan kesadaran. Maka vibrasi batinnya menurun, meskipun status sosialnya naik.

Wayang ingin menyampaikan pesan yang sangat halus namun tajam:
jabatan bisa naik, tetapi kesadaran bisa turun.

Sebaliknya, Semar—tokoh yang justru tampak paling sederhana—dalam kerangka Hawkins berada pada tingkat cinta tanpa syarat dan penerimaan total (500+). Ia tidak pernah ingin menjadi raja, tetapi semua raja bergantung padanya.

Relevansi Kekinian: Kritik Sosial yang Abadi

Kisah Petruk Jadi Ratu terasa sangat aktual. Banyak pemimpin naik dari rakyat biasa dengan niat baik, tetapi kemudian berubah setelah berkuasa. Bukan karena mereka jahat, melainkan karena kesadaran batin tidak bertumbuh seiring bertambahnya kuasa.

Wayang Jawa sudah lama memahami sesuatu yang baru disadari psikologi modern:

Kekuasaan tidak merusak karakter—ia menyingkapkannya.

Tanpa latihan batin, tanpa kebijaksanaan spiritual, kekuasaan akan menyeret siapa pun ke tingkat kesadaran yang lebih rendah: takut kehilangan, marah pada kritik, dan terikat pada citra diri.

Kembali Menjadi Petruk

Akhir kisah Petruk bukan tragedi, melainkan pembebasan. Ia kembali menjadi dirinya sendiri. Dalam bahasa Hawkins, ia kembali ke tingkat kesadaran yang lebih selaras dengan jiwanya.

Pesan terdalam lakon ini sederhana namun esensial:
lebih baik menjadi Petruk yang sadar daripada raja yang kehilangan jati diri.

Wayang tidak anti-kekuasaan, tetapi sangat tegas:
kekuasaan hanya layak di tangan mereka yang tidak membutuhkannya untuk memenuhi ambisi pribadi maupun kelompok, namun demi pelayanan semata.

Dan mungkin, di situlah letak kebijaksanaan Jawa yang paling sunyi namun paling tajam—bahwa pencerahan tidak duduk di singgasana, melainkan berjalan tanpa alas kaki, sambil tertawa, seperti Petruk. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaanPetrukwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Benarkah Gen Z di Titik Nol? Terlihat Tersambung, Nyatanya Terputus:  Refleksi Pendidikan di Era Serba Lapor

Next Post

Perempuan Buleleng Berkumpul, Lalu Deklarasikan Komunitas Perempuan Bali Utara: Berdaya, Bermakna, Berdampak

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan Buleleng Berkumpul, Lalu Deklarasikan Komunitas Perempuan Bali Utara: Berdaya, Bermakna, Berdampak

Perempuan Buleleng Berkumpul, Lalu Deklarasikan Komunitas Perempuan Bali Utara: Berdaya, Bermakna, Berdampak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co