3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Petruk Jadi Ratu: Ketika Kekuasaan Menguji Kesadaran

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 23, 2025
in Esai
Petruk Jadi Ratu: Ketika Kekuasaan Menguji Kesadaran

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM jagat pewayangan Jawa, Petruk adalah punakawan: sosok rakyat jelata, jenaka, lugu, namun menyimpan kebijaksanaan tersembunyi. Ia bukan kshatria, bukan brahmana, bukan pula pengusaha. Justru karena itulah Petruk diberi peran istimewa dalam lakon Petruk Dadi Ratu: sebuah eksperimen kosmis tentang apa yang terjadi bila kekuasaan jatuh ke tangan “orang biasa”.

Kisah ini biasanya bermula dari kekacauan kosmis atau permainan para dewa. Dalam satu versi, Petruk memperoleh kesaktian atau mandat kekuasaan secara tidak sengaja—kadang karena pusaka, kadang karena kutukan yang berbalik arah. Ia lalu naik tahta denngan abhiseka seorang Ratu, menjadi raja sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi.

Pada awal pemerintahannya, Petruk memerintah dengan niat baik. Ia masih membawa suara rakyat kecil: ingin keadilan, ingin kemakmuran, ingin kejujuran. Rakyat bersorak—karena akhirnya yang memerintah adalah “orang seperti mereka”. Di titik ini, lakon seolah hendak mengatakan: kekuasaan di tangan rakyat kecil menjanjikan harapan.

Namun, pelan tapi pasti, kekuasaan mulai menguji kesadaran Petruk.

Sebagai raja, ia disanjung, ditakuti, dilayani. Kata-katanya menjadi hukum. Keinginannya menjadi perintah. Di sinilah terjadi perubahan batin: Petruk mulai lupa bahwa ia hanyalah Petruk. Ia mulai melekat pada identitas baru: raja, penguasa, pusat dunia. Humor yang dulu membumi berubah menjadi ejekan. Kesederhanaan berubah menjadi keinginan untuk diakui.

Dalam beberapa versi, Petruk menjadi lalim—bukan karena ia jahat, tetapi karena kesadarannya belum siap menanggung beban kekuasaan. Kekuasaan yang seharusnya menjadi alat pelayanan berubah menjadi alat pemuasan ego. Pada akhirnya, para Dewa maupun Semar turun tangan. Kesaktian dicabut, tahta runtuh, dan Petruk kembali menjadi punakawan.

Namun lakon ini tidak pernah berakhir dengan penghukuman. Tidak ada tragedi berdarah. Yang ada adalah pemulihan kesadaran. Petruk sadar: tahta bukan tempatnya. Kekuasaan bukan tujuan hidup. Ia kembali ke peran sejatinya—penyambung suara kebijaksanaan rakyat dan penyeimbang kshatria.

Pelajaran Filosofis: Kekuasaan adalah Ujian Kesadaran

Lakon Petruk Jadi Ratu bukan cerita tentang kegagalan rakyat kecil, melainkan tentang bahaya kekuasaan yang melampaui tingkat kesadaran batin seseorang.

Dalam tradisi Jawa, kekuasaan (kasekten dan kalenggahan) hanya aman di tangan mereka yang sudah sepi ing pamrih, rame ing gawe—bekerja tanpa pamrih pribadi. Ketika pamrih masuk, kekuasaan berubah menjadi racun.

Di sinilah kisah ini bertemu secara sangat relevan dengan Peta Kesadaran David R. Hawkins.

Petruk dan Peta Kesadaran Hawkins

Menurut Hawkins, kesadaran manusia bergerak dari tingkat rendah ke tinggi:
Malu (20), Rasa Bersalah (30), Apati (50), Duka (75), Takut (100), Keinginan (125), Marah (150), Keberanian (200), Netralitas (250), Kerelaan (310), Penerimaan (350), Rasionalitas (400), Cinta (500), Sukacita (540), Damai (600), hingga Pencerahan (700–1000).

Petruk sebagai punakawan berada pada wilayah netralitas dan penerimaan. Ia tidak mengejar kekuasaan. Ia menerima hidup apa adanya. Ia menertawakan dunia, bukan menguasainya. Dalam posisi ini, Petruk justru menjadi kanal kebijaksanaan.

Namun ketika ia menjadi raja, kesadarannya tergelincir ke tingkat keinginan (125) dan kebanggaan tersembunyi (sekitar 175–190)—ingin dihormati, ingin diakui, ingin berkuasa. Kekuasaan memperbesar ego, bukan kesadaran. Maka vibrasi batinnya menurun, meskipun status sosialnya naik.

Wayang ingin menyampaikan pesan yang sangat halus namun tajam:
jabatan bisa naik, tetapi kesadaran bisa turun.

Sebaliknya, Semar—tokoh yang justru tampak paling sederhana—dalam kerangka Hawkins berada pada tingkat cinta tanpa syarat dan penerimaan total (500+). Ia tidak pernah ingin menjadi raja, tetapi semua raja bergantung padanya.

Relevansi Kekinian: Kritik Sosial yang Abadi

Kisah Petruk Jadi Ratu terasa sangat aktual. Banyak pemimpin naik dari rakyat biasa dengan niat baik, tetapi kemudian berubah setelah berkuasa. Bukan karena mereka jahat, melainkan karena kesadaran batin tidak bertumbuh seiring bertambahnya kuasa.

Wayang Jawa sudah lama memahami sesuatu yang baru disadari psikologi modern:

Kekuasaan tidak merusak karakter—ia menyingkapkannya.

Tanpa latihan batin, tanpa kebijaksanaan spiritual, kekuasaan akan menyeret siapa pun ke tingkat kesadaran yang lebih rendah: takut kehilangan, marah pada kritik, dan terikat pada citra diri.

Kembali Menjadi Petruk

Akhir kisah Petruk bukan tragedi, melainkan pembebasan. Ia kembali menjadi dirinya sendiri. Dalam bahasa Hawkins, ia kembali ke tingkat kesadaran yang lebih selaras dengan jiwanya.

Pesan terdalam lakon ini sederhana namun esensial:
lebih baik menjadi Petruk yang sadar daripada raja yang kehilangan jati diri.

Wayang tidak anti-kekuasaan, tetapi sangat tegas:
kekuasaan hanya layak di tangan mereka yang tidak membutuhkannya untuk memenuhi ambisi pribadi maupun kelompok, namun demi pelayanan semata.

Dan mungkin, di situlah letak kebijaksanaan Jawa yang paling sunyi namun paling tajam—bahwa pencerahan tidak duduk di singgasana, melainkan berjalan tanpa alas kaki, sambil tertawa, seperti Petruk. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaanPetrukwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Benarkah Gen Z di Titik Nol? Terlihat Tersambung, Nyatanya Terputus:  Refleksi Pendidikan di Era Serba Lapor

Next Post

Perempuan Buleleng Berkumpul, Lalu Deklarasikan Komunitas Perempuan Bali Utara: Berdaya, Bermakna, Berdampak

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan Buleleng Berkumpul, Lalu Deklarasikan Komunitas Perempuan Bali Utara: Berdaya, Bermakna, Berdampak

Perempuan Buleleng Berkumpul, Lalu Deklarasikan Komunitas Perempuan Bali Utara: Berdaya, Bermakna, Berdampak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co