3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Benarkah Gen Z di Titik Nol? Terlihat Tersambung, Nyatanya Terputus:  Refleksi Pendidikan di Era Serba Lapor

Ayu Sri Utami by Ayu Sri Utami
December 23, 2025
in Esai
Benarkah Gen Z di Titik Nol? Terlihat Tersambung, Nyatanya Terputus:  Refleksi Pendidikan di Era Serba Lapor

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Hidup di zaman yang segala hal bisa dilaporkan itu…..”

Mengubah semua teguran menjadi ancaman, juga tiap nasihat menjadi risiko

Dunia pendidikan sekarang seperti dilema eksistensial : guru takut untuk mendidik, sementara pandangan siswa kian kabur membedakan batas disiplin atau pelanggaran. Kita berjalan di ruang kaca yang terlihat jelas, tapi setiap langkah bisa memantul jadi kesalahan.

Keduanya terjebak dalam ruang ketakutan yang sama.

Terlihat tersambung? Kelihatannya iya. Namun nyatanya? Perlahan terputus.

Ruang belajar kini sunyi. Sunyi yang canggung. Sunyi yang tidak membentuk karakter. Mendengar secara waspada  bukan untuk memahami, namun mencari celah untuk menyalah. Seharusnya hubungan tumbuh dari ketulusan, namun mengapa seolah terbungkus curiga.

 “Apakah karena rasa yang dikenal nyaman itu nyatanya tidak aman..?”

Rasanya memang nyaman, setiap luka bisa diadukan, namun pelan-pelan seperti kehilangan ruang untuk tangguh. 

Rasa nyaman itu seolah dilegalkan oleh hukum. Bukan nyaman yang melindungi, namun yang menidurkan kesadaran

Idealisme perlindungan anak, tanpa disadari, menimbulkan miskonsepsi. Hukum yang seharusnya membangun moral, kini seolah menjadi benteng kaku yang menutup setiap ruang koreksi. Generasi tumbuh dalam tameng, kebal kritik, dan rasa tanggung jawab terganti oleh “rasa aman” yang dilegalkan hukum. Teguran dianggap penganiayaan. Kesalahan dianggap dosa besar.

Apakah hukum masih benar-benar melindungi, atau perlahan melemahkan mereka yang ingin mendidik dengan hati?

Undang-Undang Perlindungan Anak sejatinya lahir dari niat mulia memastikan setiap anak tumbuh tanpa kekerasan, tekanan, ataupun diskriminasi. UU No. 35 Tahun 2014 Pasal 76. Juga Pasal 80 yang melarang segala bentuk kekerasan, telah ditafsirkan secara ekstrem hingga meniadakan ruang wajar bagi otoritas mendidik yang sah (UU No. 14 Tahun 2005 Pasal 40 Ayat 2).

Atas nama perlindungan, apakah hukum sudah benar-benar berpihak pada pertumbuhan moral atau justru terjebak dalam formalitas tanpa makna?

Ironinya, perlindungan anak kini seperti pagar dingin yang menolak setiap koreksi. Tanggung jawab bergeser. Kesalahan tak lagi dianggap bagian proses belajar, tapi sesuatu yang harus selalu dimaafkan tanpa pembelajaran moral di baliknya.

Konflik normatif mendasar terjadi antara dua payung hukum. Undang Undang Perlindungan Anak (UUPA), dengan semangat absolut melindungi, sering menempatkan pendidik pada posisi berpotensi bersalah. Di sisi lain, UU Guru memberi hak guru untuk perlindungan hukum dan otoritas memberi sanksi sesuai kaidah pendidikan. 

Ironisnya payung hukum yang seharusnya memberikan otoritas mendidik kini justru menjadi sumber ketakutan terbesar pendidik itu sendiri.

Ketakutan pada lahirnya generasi yang cerdas secara akademik, namun rapuh menghadapi kritik terlintas dalam bayang seorang pendidik. Awalnya dimaksudkan memberi perlindungan, justru menciptakan “gelembung aman” menolak koreksi. Tumbuh dalam zona nyaman semu, setiap teguran jadi ancaman, batasan jadi menakutkan. 

Apakah benar ini membentuk karakter tangguh? Atau malah melahirkan generasi yang rapuh…..

Tugas pendidik pun berubah arah, bukan lagi soal mendidik namun memastikan laporan kosong dari keluhan. Siswa bukan lagi pembelajar yang berproses, melainkan objek perlindungan yang serba benar. 

Apakah hukum hanya melindungi pihak yang dianggap lemah tanpa menimbang konteks moral dan tanggung jawab?. 

Seolah nilai karakter bisa digantikan oleh sertifikat kegiatan sosial.

Mereka berjalan di ruang yang sama, tapi kehilangan arah yang sama pula

Ketakutan kolektif ini bukan tanpa alasan. Kekhawatiran ada pada miskonsepsi pendidikan humanis dan ketidakselarasan regulasi.

Permendikbud No. 46 Tahun 2023 (PPKSP) semakin memperparah dilema ini, memperluas definisi kekerasan bahkan membandingkan kemampuan akademik siswa bisa dianggap kekerasan psikis (Pasal 6 ayat 1). Pendidik kini berjalan di atas garis tipis antara niat mendisiplinkan mudah diterjemahkan sebagai pelanggaran

Kewaspadaan berlebihan inilah kerap bertabrakan dengan niat tulus guru untuk menegakkan disiplin. Kasus Supriyani, guru honorer di Konawe Selatan, niat mendidiknya berujung di meja persidngan, adalah potret nyata

Penelitian Noltemeyer et al. (2015) dan Bacher-Hicks, Deming, & Billings (2019) menunjukkan bahwa hukuman eksklusif seperti skorsing justru menurunkan prestasi akademik. Artinya, disiplin bukan soal menyakiti, tapi soal mencari cara konstruktif untuk menata ruang belajar,

Namun ruang yang mendidik, kini terasa makin sempit bagi pendidik…..

Laporan KPAI (2023) menyebut 17% kasus kekerasan di sekolah muncul dari salah paham antara disiplin dan pelanggaran etik. Survei PGRI (2024) terhadap 1.200 guru di 12 provinsi juga menemukan 68% guru takut menegur siswa karena khawatir dilaporkan.  Ketakutan ini menggambarkan lemahnya perlindungan struktural bagi pendidik.

Angka-angka itu bukan sekadar statistik, di baliknya ada guru yang bimbang, dan murid yang kehilangan arah.

Padahal, UU No. 14 Tahun 2005 Pasal 40 Ayat 2 menjamin hak guru atas perlindungan hukum, profesi, dan keselamatan kerja.

 Ironinya, dua payung hukum yang seharusnya saling melengkapi justru saling membatasi. Satu menekankan perlindungan anak secara absolut, satu lagi mengakui hak guru membentuk karakter. Seperti hidup dalam paradoks melindungi dengan membatasi, mendidik dengan ketakutan.

“Ketika perlindungan kehilangan empati, yang tersisa hanyalah tembok hukum yang dingin, kaku, jauh dari nurani.”

Dimensi moral pendidikan pun mulai tergerus. Pendidikan bukan lagi ruang kemanusiaan, melainkan arena legalitas.

Di Blora, PGRI menyampaikan keprihatinan semakin banyak guru enggan menegur murid karena takut dilaporkan.  Di sisi lain, Komisi X DPR RI mencatat meningkatnya laporan terhadap guru yang hanya menjalankan disiplin.  Beberapa guru bahkan memilih mundur, seperti di Deli Serdang (2025) semua bermula dari teguran karena merokok, berakhir dengan saling lapor antara guru dan orang tua.

Fenomena ini menyingkap paradoks yang getir antara guru takut mendidik, siswa bingung dididik. Forum #DiskriminasiGuru mulai menggema sebagai bentuk peringatan terhadap ketidakadilan struktural.

Perlindungan anak terasa absolut, sementara perlindungan pendidik penuh syarat.
 Guru dituntut ideal tapi dibatasi hukum, diminta membentuk karakter tapi kehilangan ruang untuk tegas, diharapkan sabar tapi tak diberi perlindungan emosional, diminta mendidik tapi otoritas moralnya dipertanyakan.

Ruang kelas pun berubah menjadi sunyi yang canggung, Sunyi yang lahir bukan dari hormat, tapi dari takut.

 Hubungan yang dulu dibangun dengan ketulusan kini terbungkus curiga takut disalahkan, takut disakiti. Pendidikan kehilangan jiwanya.  Bukan lagi tempat tumbuh bagi kemanusiaan, melainkan arena hukum yang dingin dan mengekang.

Pendidikan kini seperti kehilangan jiwanya.

Memang steril dari kekerasan, tapi juga steril dari keberanian moral.

HAM dijalankan seperti teks mati,  indah di atas kertas, tapi dingin di ruang kelas.  Niatnya mulia, tapi pelaksanaannya sering tak kenal konteks.  Sekolah bukan ruang steril. Ia hidup. Ia penuh tekanan, emosi, dan dinamika yang tak bisa selalu rasional.

Guru yang seharusnya jadi penjaga moral kini justru hidup dalam ketakutan hukum.  Setiap kata bisa disalahartikan, setiap teguran bisa dianggap pelanggaran. Padahal yang mereka bawa bukan kekerasan, tapi kepedulian yang kadang disalahpaham.

“Kan masih anak-anak,” begitu ungkap sang pembela dengan tameng kasih sayang

Ironi yang halus tapi nyata. Perlindungan yang seharusnya menyelamatkan justru membuat lupa tanggung jawab. Anak-anak tumbuh dalam “gelembung aman” yang rapuh kebal kritik, tapi mudah retak.

HAM seharusnya mengajarkan cara menghargai batas, bukan menghapus batas.

Tapi kini, batas itu seolah dihapus atas nama kebebasan.

Padahal disiplin dan HAM bukan dua musuh, tapi dua sisi yang harus berjalan beriringan.  Yang satu menjaga, yang lain menuntun. Tanpa keseimbangan itu, pendidikan kehilangan nadinya. Tak lagi menjadi ruang tumbuh bagi kemanusiaan, hanya ruang legalitas tanpa jiwa.

Dan di tengah semua ini, mari ingat pendidik bukan robot, mereka masih manusia.

Regulasi seperti Permendikbud No. 46 Tahun 2023, yang lahir dengan semangat melindungi anak, nyatanya masih kaku menilai konteks.  Kadang mereka menarik tangan, meninggikan suara, atau menatap tajam bukan karena benci, tapi karena peduli.

Dalam etika profesi, tindakan seperti ini mestinya dipahami sebagai “kekeliruan profesional,” bukan kejahatan moral.

Sayangnya, persimpangan hukum dan opini publik seringkali tak tahu bedanya. Refleks manusiawi disamakan dengan kekerasan yang disengaja. Dan di situlah letak luka pendidikan kita yang sesungguhnya. 

Kelas berubah menjadi ruang publik, setiap teguran bisa direkam, setiap kesalahan bisa viral, setiap tindakan bisa diadili sebelum dipahami.

Hidup dalam tekanan ganda antara dituntut menjadi teladan, tapi tidak boleh menyinggung. Sementara tumbuh miskonsepsi baru bahwa kuasa bisa dibalik cukup dengan laporan, cukup dengan video, cukup dengan kata “kekerasan.”

Hubungan yang dulu hierarkis kini cair, tapi juga rapuh. Ketika batas antara disiplin dan kekerasan kabur, semua orang saling menuduh, bukan saling memahami.

Barangkali inilah titik paling krusial pendidikan kita, ketika rasa takut menggantikan rasa tanggung jawab.

“Guru takut salah, siswa takut disalahkan.”

Di tengah ketakutan kolektif itu, yang perlahan hilang adalah jiwa untuk tumbuh itu sendiri keberanian untuk menegur, kesediaan untuk menerima teguran, dan niat tulus untuk tumbuh bersama.

Perlindungan anak tetap penting…..

Karena  tak bisa dipungkiri ada guru yang lupa bahwa didikan bukan berarti dominasi. Satu bentakan yang lahir dari amarah, satu sikap manipulatif yang disamarkan sebagai disiplin, bisa mengubah ruang kelas jadi arena kekuasaan. Namun di sisi lain, murid pun bisa tumbuh kebal, merasa tak tersentuh oleh teguran.

 Dua sisi yang sama-sama kehilangan kemanusiaan, “guru yang ditakuti, murid yang tak mengenal batas.”

Pendidikan seharusnya tidak menjadikan otoritas sebagai hak, tapi sebagai amanah. Menjadi guru bukan tentang siapa yang lebih tinggi, tapi siapa yang lebih sadar untuk berempati. Didikan tak boleh jadi pelampiasan lelah, dan sekolah tak boleh menutup mata terhadap kuasa yang salah arah.

 Karena begitu empati hilang, yang tersisa hanyalah kekuasaan tanpa jiwa.

Krisis ini membawa pendidikan ke titik nol, bukan untuk mencari apa akar masalahnya namun  merenungi setiap ruas yang telah terjadi.  Titik ketika semuanya harus berhenti sejenak, menatap cermin dan bertanya dalam heningnya :

“apakah kita benar-benar tersambung?”

Ketika guru merasa terancam, dan siswa merasa terluka, mereka tidak butuh untuk disalahkan. Namun perlahan memperbaiki tiap raga yang kehilangan empati.  Yang sibuk melindungi, tapi lupa memulihkan.  Yang pandai membuat aturan, tapi gagap memahami manusia.

Keadilan tanpa ketegasan adalah topeng, perlindungan tanpa empati hanyalah pagar dingin. Yang kita butuhkan bukan yang menghukum, melainkan yang memulihkan, memberi ruang bagi salah untuk menjadi pelajaran,  dan ruang bagi luka untuk disembuhkan.

Restorative Practices (Praktik Pemulihan) bukan sekadar metode, ia adalah cara baru untuk melihat manusia. Setiap kesalahan tak selalu butuh hukuman, kadang hanya butuh dipahami.  Tanggung jawab sejati lahir bukan dari rasa takut,  melainkan dari kesadaran moral untuk memperbaiki.

Perubahan sejati tak pernah lahir dari menyalahkan, Ia lahir dari dalam kesadaran diri.

Dari keberanian untuk mengakui, bukan sekadar menuntut. Dari kerendahan hati untuk belajar, bukan sekadar membela diri.   

 Sebab kesalahan bukan akhir dari proses, tapi permulaan untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih bijak. Bukan generasi yang bersembunyi di balik layar laporan, tapi generasi yang berani bicara dengan nurani.

“Kesadaran untuk memahami, bukan sekadar menghakimi.”

Ini bukan tentang kritiksasi yang menyalahi, tapi ruang kembali melalui refleksi.

Bukan soal siapa yang berapi-api untuk menang, namun siapa yang menyelesaikan dengan tenang. Saatnya berhenti berlari dari kegaduhan, namun sama-sama belajar menjadi manusia  

Inilah roh sejati yang diimpikan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara :

“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”

 Di sanalah pendidikan menemukan rohnya kembali, karena sejatinya, hubungan guru dan siswa bukan tentang siapa yang berkuasa,  melainkan dua manusia yang sama-sama belajar menjadi dewasa.

Kini saatnya menyatukan yang terputus, antara teguran dan empati atau antara hukum dan hati nurani.

Kedamaian lahir dari penerimaan, disanalah setiap jiwa menemukan rumahnya.

“Agar pendidikan kembali menemukan wajah kemanusiaannya, dan generasi mampu untuk berani tumbuh dalam terang” [T]

Penulis: Ayu Sri Utami
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gen ZguruPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Grand Final Duta GenRe SMANDA 2025/2026: Dari Degup Jantung hingga Selempang Kemenangan

Next Post

Petruk Jadi Ratu: Ketika Kekuasaan Menguji Kesadaran

Ayu Sri Utami

Ayu Sri Utami

Ketua Alis Mata Smanduta

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Petruk Jadi Ratu: Ketika Kekuasaan Menguji Kesadaran

Petruk Jadi Ratu: Ketika Kekuasaan Menguji Kesadaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co