PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru kendaraan, melainkan bunyi tok… tok… tok ─ kentongan kayu yang dipukul berirama. Itulah penanda Tipat Tahu Pak Mbung sudah datang.
Masih pagi buta, gerobak Pak Mbung didorong perlahan memasuki pasar. Suara roda beradu dengan tanah berpadu dengan kentongan yang ia pukul ─ kentongan yang sama sejak 1982. Bagi pelanggan setia, bunyi itu seperti alarm sarapan.
“Pak Mbung sudah datang. Tipat tahu satu, Pak. Makan sini, bungkus satu,” kalimat itu nyaris selalu menyambutnya saban hari.
Kentongan bukan sekadar alat pemanggil pembeli. Bagi Pak Mbung, kentongan adalah identitas. “Untuk keliling juga enak, dan kentongan identik khas Bali, ada di balai banjar. Kalau pakai mangkok, terlalu orang Jawa,” katanya sambil tertawa, ia berguyon ringan namun penuh keyakinan.
Begitu gerobak berhenti, aroma tahu goreng langsung menguar. Tahu yang masih panas dipotong dengan gunting, disandingkan dengan potongan tipat atau ketupat pulen yang dibuat sendiri di rumah. Taoge rebus ditambahkan, lalu diguyur bumbu kacang kental khas racikan Pak Mbung. Bumbu itu terbuat dari kacang tanah yang digiling halus, tepung beras sebagai pengental, serta bawang putih, garam, dan lada. Di atasnya, irisan cabai bisa ditambahkan sesuai selera, ditutup dengan kerupuk yang boleh diambil sesuka hati. Tipat tahu itu paling nikmat disantap hangat-hangat, langsung di pinggir pasar.

Pak Mbung mulai berjualan tipat tahu sejak 1976. Sebelumnya, ia adalah pedagang es roti ─ es potong berisi roti ─ yang kala itu banyak diminati. Namun persaingan makin ketat. “Dulu pedagang es banyak sekali, akhirnya saya beralih,” kenangnya. Peralihan itu bukan perkara mudah, tetapi Pak Mbung ingin tampil beda. Ia membuat gerobaknya sendiri, memproduksi tahu sendiri, dan meracik ketupat sendiri. Kini, tahu sudah dibeli dari perajin, namun cita rasa tetap dijaga.
Lapak Pak Mbung berada di sebelah utara Pasar Desa Adat Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung. Pelanggannya bukan hanya warga Blahkiuh, tetapi juga datang dari daerah lain, bahkan dari Kecamatan Petang. Ia mulai berjualan sejak pukul lima pagi hingga dagangan habis. Tak berhenti di pasar, siang hari Pak Mbung berkeliling ke arah barat, sekitar Balai Banjar Benehkawan dan Banjar Tengah. Sore hari, ia melanjutkan ke arah timur, dekat SD 2 Blahkiuh.

Dalam sehari, dari berkeliling sejak subuh hingga sore, Pak Mbung bisa meraih keuntungan sekitar Rp600 ribu. Seporsi tipat tahu dibanderol Rp10.000. “Dulu harganya lima rupiah, piring masih pakai seng,” ujarnya sambil tersenyum, mengingat perjalanan panjang usahanya.
Dari tipat tahu itulah Pak Mbung menyekolahkan anak dan cucunya hingga sarjana. Harapannya sederhana: dagangannya tetap laris dan pelanggan tak berpaling. “Yang awalnya tidak niat beli, jadi beli. Saya tidak banyak bicara, pembeli datang sendiri. Kalau tipat tahu, orang harus ingat Pak Mbung,” katanya mantap.
Dan setiap pagi, kentongan itu kembali berbunyi, menjaga ingatan kolektif warga Blahkiuh ─ tentang rasa, kerja keras, dan kesetiaan pada satu gerobak tipat tahu.
Reporter/Penulis: Vira Astri Agustini
Editor: Dede Putra Wiguna



























