24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ambisi yang Mencabut Akar Etika

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 21, 2025
in Esai
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin

DALAM panggung politik, ada satu kenyataan yang nyaris menjadi klise: ambisi sering membuat manusia lupa budi. Lupa siapa yang pernah mengulurkan tangan, siapa yang pernah membuka jalan, siapa yang pernah memberi ruang untuk naik ke panggung kekuasaan. Seakan-akan kekuasaan itu sendiri menjadi pusat orbit, dan segala hubungan kemanusiaan berputar mengikutinya, hingga ketika ambisi memuncak, masa lalu pun mudah dihapus seperti coretan pensil.

Fenomena ini bukan hal baru. Namun ketika kecenderungan tersebut muncul kembali dalam dinamika politik hari ini, melalui fitnah, rekayasa opini, serta upaya menggiring persepsi publik, ia menjadi pengingat betapa politik sering kali bergerak tanpa etika ketika kekuasaan menjadi tujuan tunggal.

Ketika seorang politisi menapaki jalur kariernya, jarang ia berjalan sendirian. Ada sosok-sosok yang mendukung, memberikan kesempatan, bahkan mengangkatnya ke posisi strategis.

Namun, tidak sedikit yang kemudian menjadikan dukungan itu sebagai batu loncatan semata, bukan nilai moral yang harus dikenang.

Fenomena “lupa budi” ini tampak pada banyak kasus, termasuk ketika seseorang yang pernah diberi kepercayaan di jabatan tinggi kini justru menyerang atau merendahkan, sosok yang dulu memberinya ruang untuk berkiprah.

Dalam beberapa narasi publik, bahkan terlihat upaya terstruktur untuk membangun stigma seperti tuduhan palsu, narasi ijazah, rekayasa gerakan seolah satu kelompok yang menggugat, padahal mereka melakukannya dengan berbagi tugas beberapa tim dalam satu komando, dan lain-lain.

Dalam dunia politik, hal semacam itu mudah dikemas sebagai “strategi,” tetapi sesungguhnya ia mencerminkan kegagalan moral.

Kita bisa menyebutnya dengan banyak istilah: pengkhianatan budi, oportunisme, atau ambisi buta. Semuanya merujuk pada satu inti, bahwa kekuasaan dianggap lebih tinggi daripada nilai luhur kemanusiaan.

Ketika Fitnah Menjadi Alat Politik

Salah satu wajah paling buruk dari ambisi politik adalah ketika fitnah digunakan sebagai senjata. Fitnah bukan sekadar menyebarkan informasi palsu; ia adalah tindakan moral yang menghancurkan martabat manusia.

Fitnah bekerja dengan merusak persepsi publik, menempelkan citra negatif pada seseorang, dan mengubah persoalan politik menjadi drama yang bersandar pada dusta.

Dalam iklim demokrasi yang rentan polarisasi, fitnah bekerja seperti api di padang ilalang: cepat, liar, dan sulit dikendalikan. Ketika sebuah partai atau kelompok politik diduga sengaja menggulirkan narasi tertentu, apalagi yang bersifat menyerang pribadi, menyudutkan, atau menodai reputasi seseorang, hal itu menunjukkan bahwa politik telah kehilangan substansi etisnya.

Padahal, demokrasi hanya sehat bila kontestasi dilakukan dengan gagasan, bukan dengan kebohongan.

Rekayasa Opini dan Konspirasi Politik

Salah satu pola yang kerap muncul menjelang kontestasi besar, termasuk pemilihan presiden, adalah rekayasa opini. Ada narasi yang terus diulang, dihembuskan melalui sosial media, digoreng oleh buzzer, dan disulap menjadi “kebenaran” lewat pengeras suara digital.

Ketika sebuah narasi palsu dibangun secara sistematis, publik sedang diarahkan pada satu persepsi yang menguntungkan pihak tertentu.

Jika itu dilakukan hanya untuk menjegal seseorang agar tidak maju di kontestasi berikutnya, maka republik sedang dibawa mundur. Demokrasi bukan lagi soal memilih yang terbaik, melainkan soal siapa yang lebih lihai memanipulasi informasi.

Lebih berbahaya lagi bila pelakunya adalah kelompok dekat seorang tokoh yang sedang disiapkan untuk bertarung di 2029 nanti. Bila hipotesis seperti itu benar, maka sesungguhnya bukan sekadar problem etika politik, tetapi tanda kemerosotan karakter kepemimpinan. Seorang pemimpin yang baik tidak membutuhkan kebohongan untuk naik ke tampuk kekuasaan.

Sebuah Seruan

Artikel ini bukan bermaksud memvonis pihak mana pun. Namun refleksi perlu disampaikan, terutama kepada para politisi yang saat ini sedang berada dalam pusaran kekuasaan.

Karena sejarah telah berulang kali membuktikan: kekuasaan yang dibangun dengan fitnah tidak akan melahirkan kepemimpinan yang kuat; ambisi yang mengabaikan budi baik hanya akan meninggalkan jejak luka di masa depan; Strategi yang menghalalkan segala cara pada akhirnya merusak diri sendiri; Politik tanpa etika hanyalah panggung sandiwara tanpa makna.

Bila seseorang pernah diangkat, diberi kepercayaan, disokong dalam kariernya, tetapi kemudian membalasnya dengan serangan atau penghinaan, maka hal itu bukan lebih dari sekadar strategi politik, itu adalah cermin karakter yang sangat tidak terpuji.

Dan bangsa ini membutuhkan pemimpin yang karakternya utuh, bukan mereka yang mudah menghapus masa lalu demi ambisi jangka pendek.

Demokrasi Membutuhkan Jiwa Besar

Demokrasi Indonesia akan menghadapi kontestasi besar pada 2029. Masih ada waktu empat tahun, masih terlalu jauh untuk sudah dibungkus dengan fitnah, konspirasi, dan intrik kotor.

Bangsa ini membutuhkan; Politisi yang bijak, bukan yang pendendam; pemimpin yang mampu menjaga martabat, bukan menjatuhkan orang lain; Tokoh yang ingat budi, bukan yang memperdagangkan loyalitas; Pemimpin yang memenangkan hati, bukan memenangkan algoritma.

Para politisi seharusnya merenungkan kembali: apakah ambisi mereka akan meninggalkan manfaat bagi publik, atau justru menambah luka dalam sejarah demokrasi? Pada akhirnya, kekuasaan itu sementara. Tetapi nilai, integritas, dan budi baik, itulah yang akan dikenang jauh lebih lama daripada jabatan mana pun. Seperti kata Gus Dur dalam tautsiahnya, tidak ada jabatan yang harus dipertahankan mati-matian, dan setinggi apa sih jabatan presiden itu? [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasiPolitikpolitisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

GANAS 2025: Perjalanan Panjang Generasi Muda Merawat Seni, Menyatukan Imajinasi, dan Menyalakan Harapan

Next Post

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co