2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ambisi yang Mencabut Akar Etika

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 21, 2025
in Esai
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin

DALAM panggung politik, ada satu kenyataan yang nyaris menjadi klise: ambisi sering membuat manusia lupa budi. Lupa siapa yang pernah mengulurkan tangan, siapa yang pernah membuka jalan, siapa yang pernah memberi ruang untuk naik ke panggung kekuasaan. Seakan-akan kekuasaan itu sendiri menjadi pusat orbit, dan segala hubungan kemanusiaan berputar mengikutinya, hingga ketika ambisi memuncak, masa lalu pun mudah dihapus seperti coretan pensil.

Fenomena ini bukan hal baru. Namun ketika kecenderungan tersebut muncul kembali dalam dinamika politik hari ini, melalui fitnah, rekayasa opini, serta upaya menggiring persepsi publik, ia menjadi pengingat betapa politik sering kali bergerak tanpa etika ketika kekuasaan menjadi tujuan tunggal.

Ketika seorang politisi menapaki jalur kariernya, jarang ia berjalan sendirian. Ada sosok-sosok yang mendukung, memberikan kesempatan, bahkan mengangkatnya ke posisi strategis.

Namun, tidak sedikit yang kemudian menjadikan dukungan itu sebagai batu loncatan semata, bukan nilai moral yang harus dikenang.

Fenomena “lupa budi” ini tampak pada banyak kasus, termasuk ketika seseorang yang pernah diberi kepercayaan di jabatan tinggi kini justru menyerang atau merendahkan, sosok yang dulu memberinya ruang untuk berkiprah.

Dalam beberapa narasi publik, bahkan terlihat upaya terstruktur untuk membangun stigma seperti tuduhan palsu, narasi ijazah, rekayasa gerakan seolah satu kelompok yang menggugat, padahal mereka melakukannya dengan berbagi tugas beberapa tim dalam satu komando, dan lain-lain.

Dalam dunia politik, hal semacam itu mudah dikemas sebagai “strategi,” tetapi sesungguhnya ia mencerminkan kegagalan moral.

Kita bisa menyebutnya dengan banyak istilah: pengkhianatan budi, oportunisme, atau ambisi buta. Semuanya merujuk pada satu inti, bahwa kekuasaan dianggap lebih tinggi daripada nilai luhur kemanusiaan.

Ketika Fitnah Menjadi Alat Politik

Salah satu wajah paling buruk dari ambisi politik adalah ketika fitnah digunakan sebagai senjata. Fitnah bukan sekadar menyebarkan informasi palsu; ia adalah tindakan moral yang menghancurkan martabat manusia.

Fitnah bekerja dengan merusak persepsi publik, menempelkan citra negatif pada seseorang, dan mengubah persoalan politik menjadi drama yang bersandar pada dusta.

Dalam iklim demokrasi yang rentan polarisasi, fitnah bekerja seperti api di padang ilalang: cepat, liar, dan sulit dikendalikan. Ketika sebuah partai atau kelompok politik diduga sengaja menggulirkan narasi tertentu, apalagi yang bersifat menyerang pribadi, menyudutkan, atau menodai reputasi seseorang, hal itu menunjukkan bahwa politik telah kehilangan substansi etisnya.

Padahal, demokrasi hanya sehat bila kontestasi dilakukan dengan gagasan, bukan dengan kebohongan.

Rekayasa Opini dan Konspirasi Politik

Salah satu pola yang kerap muncul menjelang kontestasi besar, termasuk pemilihan presiden, adalah rekayasa opini. Ada narasi yang terus diulang, dihembuskan melalui sosial media, digoreng oleh buzzer, dan disulap menjadi “kebenaran” lewat pengeras suara digital.

Ketika sebuah narasi palsu dibangun secara sistematis, publik sedang diarahkan pada satu persepsi yang menguntungkan pihak tertentu.

Jika itu dilakukan hanya untuk menjegal seseorang agar tidak maju di kontestasi berikutnya, maka republik sedang dibawa mundur. Demokrasi bukan lagi soal memilih yang terbaik, melainkan soal siapa yang lebih lihai memanipulasi informasi.

Lebih berbahaya lagi bila pelakunya adalah kelompok dekat seorang tokoh yang sedang disiapkan untuk bertarung di 2029 nanti. Bila hipotesis seperti itu benar, maka sesungguhnya bukan sekadar problem etika politik, tetapi tanda kemerosotan karakter kepemimpinan. Seorang pemimpin yang baik tidak membutuhkan kebohongan untuk naik ke tampuk kekuasaan.

Sebuah Seruan

Artikel ini bukan bermaksud memvonis pihak mana pun. Namun refleksi perlu disampaikan, terutama kepada para politisi yang saat ini sedang berada dalam pusaran kekuasaan.

Karena sejarah telah berulang kali membuktikan: kekuasaan yang dibangun dengan fitnah tidak akan melahirkan kepemimpinan yang kuat; ambisi yang mengabaikan budi baik hanya akan meninggalkan jejak luka di masa depan; Strategi yang menghalalkan segala cara pada akhirnya merusak diri sendiri; Politik tanpa etika hanyalah panggung sandiwara tanpa makna.

Bila seseorang pernah diangkat, diberi kepercayaan, disokong dalam kariernya, tetapi kemudian membalasnya dengan serangan atau penghinaan, maka hal itu bukan lebih dari sekadar strategi politik, itu adalah cermin karakter yang sangat tidak terpuji.

Dan bangsa ini membutuhkan pemimpin yang karakternya utuh, bukan mereka yang mudah menghapus masa lalu demi ambisi jangka pendek.

Demokrasi Membutuhkan Jiwa Besar

Demokrasi Indonesia akan menghadapi kontestasi besar pada 2029. Masih ada waktu empat tahun, masih terlalu jauh untuk sudah dibungkus dengan fitnah, konspirasi, dan intrik kotor.

Bangsa ini membutuhkan; Politisi yang bijak, bukan yang pendendam; pemimpin yang mampu menjaga martabat, bukan menjatuhkan orang lain; Tokoh yang ingat budi, bukan yang memperdagangkan loyalitas; Pemimpin yang memenangkan hati, bukan memenangkan algoritma.

Para politisi seharusnya merenungkan kembali: apakah ambisi mereka akan meninggalkan manfaat bagi publik, atau justru menambah luka dalam sejarah demokrasi? Pada akhirnya, kekuasaan itu sementara. Tetapi nilai, integritas, dan budi baik, itulah yang akan dikenang jauh lebih lama daripada jabatan mana pun. Seperti kata Gus Dur dalam tautsiahnya, tidak ada jabatan yang harus dipertahankan mati-matian, dan setinggi apa sih jabatan presiden itu? [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasiPolitikpolitisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

GANAS 2025: Perjalanan Panjang Generasi Muda Merawat Seni, Menyatukan Imajinasi, dan Menyalakan Harapan

Next Post

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co