Di tengah pesatnya perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda, seni dan sastra kerap berada pada posisi yang terpinggirkan. Banyak remaja memandang sastra sebagai sesuatu yang kuno, jauh dari realitas kehidupan mereka saat ini. Namun, anggapan tersebut berusaha dipatahkan oleh Teater Remaja SMA Negeri 1 Kuta melalui penyelenggaraan Gelar Apresiasi Seni (GANAS) 2025, sebuah perhelatan seni dan sastra yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menyuguhkan proses panjang penuh makna, perjuangan, dan pembelajaran bagi seluruh pihak yang terlibat.
GANAS 2025 merupakan agenda tahunan terbesar yang diselenggarakan oleh Teater Remaja SMA Negeri 1 Kuta dan akan dilaksanakan pada Minggu, 21 Desember 2025, bertempat di Aula SMA Negeri 1 Kuta, pada pukul 10.00 Wita.
Tahun ini, GANAS mengusung tema “(CHOFENT) Echoes of Enchantment”, sebuah tema yang mengajak generasi muda untuk kembali menemukan keindahan, makna, dan nilai kehidupan melalui seni dan sastra. Tema ini merefleksikan bahwa keindahan tidak selalu hadir dalam hal-hal besar, melainkan dapat ditemukan dalam jejak masa lalu, bisikan alam, kenangan, dan pengalaman hidup yang sederhana namun sarat makna papar Maysia sebagai Ketua Teater Teras.

Di tahun penyelenggaraan yang ken7 GANAS 2025 memiliki tujuan yang komprehensif, baik bagi institusi pendidikan maupun bagi generasi muda secara luas. Kegiatan ini bertujuan untuk mempromosikan SMA Negeri 1 Kuta kepada masyarakat sebagai sekolah yang aktif mendukung pengembangan minat dan bakat siswa di bidang seni dan sastra, sehingga tetap menjadi sekolah favorit di Kabupaten Badung. Selain itu, GANAS juga bertujuan memberikan hiburan yang berkualitas dan edukatif bagi remaja kekinian, serta menyediakan wadah bagi siswa untuk menyalurkan kreativitas dan berpartisipasi aktif dalam dunia kesenian.
Tahun ini selain GANAS 2025 diarahkan untuk mengembangkan minat, bakat, dan kreativitas generasi muda, melahirkan bibit-bibit baru yang kreatif dan imajinatif dalam bidang seni dan sastra, serta mengembangkan kembali dunia puisi dengan diselenggarakan lomba baca puisi tingkat SMP se Bali yang dahulu hanya tingkat SMP se kabupaten Badung dan Denpasar.
Para peserta begitu antuaias datang datang hampir dari seluruh kabupaten se Bali. Ini merupakan kegiatan pendekatan yang kontekstual dan kreatif dengan harapan dapat kembali hidup dan relevan di tengah kehidupan generasi renaja.
Kegiatan ini sangat mendapat dukungan penuh sarin para dewan guru dan staf pegawai SMA Negeri 1 Kuta juga siswa-siswi SMA Negeri 1 Kuta.
Lebih lebih hasilnya siswa SMP se-Bali, yang tampil sebagai peserta. Dan peserta lomba yang menjadi pemenang hadir sebagai penampil dalam pembacaan puisi saat gelaran GANAS.

GANAS kali ini selain hadir pemenang sebagai penampil juga tampil monolog yang memainkan naskah Baju dari karya Ratna Indraswari Ibrahim dimainka Eva dari kelas X dan drama yang juga dimainkan oleh siswa kelas X yang disutradarai Ayu kelas XI dengan membawakan naskah berjudul Kristal Basah yang Tak Pecah karya Kandas Muis Darwiya JA yang mengisahakan tentang kenginan para renaja yang ingin hidup mandiri dengan segala konflik kepribadian yang dialami oleh Jessica.
Drama ini berkisah bagaimana seorang Jesica yang mengharapkan kehadiran sisik yang menjadi panutan. Pak Bram adalah guru muda yang memeiliki sikap idealis yang dicintai muridnya memeiliki kengininan agar anak anaknya tetap kuat dan punya sikap tanpa harus mengeluh dalam ketertekanan. Bram yang mengajarkan sikap agar anaka anak binaan teater memiliki sikap yang jujur, bertanggung jawab dan berani menghadapi resiko dan tantangan di tengah konsisi ditengah kekhawatiran dan kecemasan. Konflik kekhawatiran dan kecemasan semua memeiliki sifat dan karakter masing masing. Semua pemain dihadapkan pada persoalan sikap dan tuntutan.
Pemain yang terlihat diantaranya Agung Ayu sebagai Jesica, Rayhan sebagai Bram, Sintya sebagai Tania, Desvita sebagai Sarah, Dea sebagai Yati , Taksu sebagai Ibu Waka, Mahendra sebagai Jaka, juga Dina, Rai, dan Geg Pradnya sebagai Penari.
Dalam naskah Kristal Basah yang Tak Pecah bertindak sebagai sutradara Ayu yang ditemani Bintang sebagai Pimpinan Produksi. Menurut Ayu Yang merasa agak kesulitan menyutradarai sebab harus memutar otak karena padatnya kegiatan sekolah apa lagi sedang menghadapi suasan galungan dan Kuningan yang di susul ujian semester ganjil membuat agak sulit membagi waktu.
Kata Ayu, hampir 15 kali setelah selama 2 bulan merencanakan latihan. Kesulitan ini disisiasati dengan latihan via zoom meeting untuk mengingat kembali naskah. Ayu mengatakan bersyukur atas binaan yang diberikan pembina Teater TERAS (Teater Remaja SMAN 1 KUTA yang kerap hadir membina dan memberikan pengawasan. Sebuah Drama bisa dikatakan drama remaja yang dalamnya ada Dance dan lagu mengiringi di tengah Drama yang dinyanyikan Indri Latriana yang mencoba mengarransmen puisi Kardanis Mudawi Jaya berjudul Nyanyian ruang Kecil dengan caranya. Selain itu juga Indri beserta Rani, Intan, Angga, Rangga dan Agus ikut serta tampil bermusikalisasi.
Muda Wijaya sebagaimana dalam pengakuannya membenarkan bahwa anak anak diarahkan untuk belajar berkreativitas untuk membangun keberanian tanpa harus salah. Dan anak anak harus memang harus ditempa untuk mendayakan diri untuk hidup kuat ditengah sorotan bahwa Gen Z merupakan generasi yang dianggap mudah lemah yang sesungguhnya generasi yang justru lebih maju menerima informasi di tengah peradaban yang serba cepat dengan kehadiran IT dan AI.
Mereka butuh tempaan yang harus pelan-pelan menguatkan dan menemani mereka dengan sabar apalagi mereka ini merupakan generasi yang mencoba mandiri dan memberi asupan untuk menemukan karakter jiwa sportif dan berkarakter. Sebagai pembina dan pelatih memang tak mudah untuk bisa memberikan pemahaman tentang sebuah proses. Sebab perjalanan panjang sangat lah membosankan di tengah situasi yang serba cepat dan instan.

Sejalan dengan pernyataan Kepala sekolah SMAN 1 Kuta, I Made Kridalaksana, S.Pd.,M.Hum., yang memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia GANAS 7.0 dan berharap ajang ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat, kepercayaan diri, serta jiwa sportivitas. Melalui kegiatan ini, saya ingin seluruh peserta menunjukkan kemampuan terbaiknya sebagai generasi kreatif yang berkarakter, s buggyekaligus memperkuat rasa persaudaraan, disiplin, dan tanggung jawab di lingkungan sekolah kita.
Di akhir kata mewakili Teras Maysia yang juga sempat menjadi Putri Hijau Lingkungan Hidup dan Lanjita mengungkapkan terimakasih pada Kepala Sekola SMANSAKU beserta jajarannya serta para anggota Teater Teras juga pada orang tua serta undangan yang hadir yang telah memberikan dukungan pihak sekolah. Semoga seluruh rangkaian acara berjalan lancar, sukses, dan memberikan manfaat nyata bagi kita semua. [T][R]



























