SUASANA ramai menyelimuti halaman depan balai Banjar Demulih, Desa Demulih, Bangli sejak pagi hari. Sukra Wage Medangsia tanggal 13 Desember 2025 merupakan hari penyineban ngusaba dalem yang jatuh setiap satu tahun sekali. Berdasarkan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun, serangkaian upacara penyineban selalu dilengkapi dengan pagelaran calonarang.
Setiap tahun pula krama adat selalu disibukan dengan serangkaian ngayah sehubung dengan persiapan calonarang. Generasi tua akan ditugaskan untuk membangun tragtag (tangga beralas untuk tempat keluar rangda), sementara generasi muda lebih banyak diberi tugas mendekor. Kaum muda yang terhimpun dalam Sekaa Taruna Murdha Citta bertanggung jawab mendekor berbagai elemen panggung termasuk bagian tragtag. Pelaksanaan ngayah dalam hal ini kemudian menjadi ruang kolaborasi antara kaum muda dengan golongan yang lebih tua.

Menariknya, serangkaian ngayah kali ini diikuti setidaknya oleh empat kelompok generasi. Generasi X, Milenial, Gen Z, hingga Alpha yang baru saja menginjak masa SMA tergabung bersama, bahu-membahu mengerjakan tugas bersama, yang harus diselesaikan kurang dari 1×12 jam.
Waktu pengerjaan yang agaknya terkesan tergesa-gesa sebetulnya amat sangat normal, paling tidak bukan karena rasa malas. Hal ini sehubung dengan piodalan ngusaba yang sangat padat dengan berbagai bakti yang berlangsung selama seminggu penuh. Persiapan calonarang kemudian baru bisa dilaksanakan di hari-H. Menyebabkan setiap orang yang terlibat harus berperan aktif dalam menyelesaikannya.
Perlu diingat pula bahwa krama STT juga harus mencari dan menggumpulkan berbagai tumbuhan berikut pohon pisang, pepaya, hingga palem peji sebagai hiasan pelengkap. Dalam hal ini, pohon-pohon tersebut perlu dicari diareal perbukitan dan tegalan milik warga setempat. Aktivitas ngayah selain sebagai ajang kolaborasi kemudian juga menjadi alasan untuk bertualang. Bergotong royong menyusuri area hijau sambil sesekali tergelicir dan tertawa dengan teman-teman.

Berbagai tumbuhan yang diperoleh kemudian dibawa dan dikumpulkan di depan balai banjar untuk selanjutnya dipasang sebagai ornamen hiasan, juga untuk meramaikan pinggiran tragtag. Sekelompok pemuda juga mengerjakan kepidpid (semacam ornamen gantungan yang terbuat dari daun kelapa dan bunga gumitir) yang nantinya digunakan untuk menghias berbagai tanaman yang telah dipasang. Ngayah sebagai kegiatan kolektif kemudian berjalan sesuai fungsinya sebagai penguat solidaritas serta ruang pendidikan agama dan kearifan lokal. Mempertemukan generasi penerus, melampaui batas waktu dan prioritas.

Setelah semua tumbuhan terpasang pada tempatnya, juga tak lupa menghiasi bagian tragtag. Kaum muda kemudian memasang ornamen pelengkungan di pintu pura desa yang sekaligus menjadi pintu panggung. Krama STT bahu-membahu memasang ornamen anyaman yang telah dipersiapkan sebelumnya. Menghias areal depan pura menjadi indah nan megah dengan memanfaatkan bahan-bahan alam dan metode pengerjaan tradisional.
Secara personal, penulis lebih memaknai ornamen-ornamen ini sebagai kebanggaan bersama, menjaga warisan leluhur, sekaligus menjadi tempat menuangkan kreatifitas alih-alih hedonisme atau Rajasika Yadnya. Biar bagaimanapun, kegiatan ngayah lebih sebagai ruang bertutur dan berbagi, juga transfer pengetahuan akan produk budaya leluhur. Yang mengajarkan keharmonian antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam/lingkungannya, serta manusia dengan tuhannya.

Berbagai persiapan tadi tidak dapat diselesaikan tanpa keselarasan antar ketiganya. Ornamen pelengkungan mungkin tidak selesai tanpa kerjasama antar generasi muda yang mengerjakannya, Tragtag dan kalangan ngigel mungkin tidak seram dan ramai tanpa tumbuh-tumbuhan yang menghiasnya, juga serangkaian ngayah tidak akan berjalan lancar tanpa karunia-nya.
Last but not least, I Kadek Yuda Dwipayana (23), Kelihan Sekaa Taruna Murdha Citta Demulih meminta penulis untuk menyampaikan ungkapan terimakasihnya kepada setiap pihak yang terlibat.
”Untuk semangat teman-teman hari ini pokoknya terimakasih banyak, dan terimakasih juga kepada para pemilik lahan yang bersedia memberikan pohon-pohonnya untuk menghias tempat pementasan calonarang. Untuk pendanaan dari adat yang konsisten dan full support untuk teman-teman berkereasi, semoga tetap konsisten,” kata Yuda Dwipayana.
Setelah serangkaian dekorasi selesai, krama STT Murdha Citta bersama generasi tua masih harus melanjutkan ayah-ayahnya pada pementasan malam ini. [T]
Penulis: I Nengah Teguh Wahyu Pranata
Editor: Adnyana Ole



























