Namaku Kafir.
Begitulah orang-orang memanggilku sejak kecil. Tak ada yang tahu siapa orang tuaku. Tidak ada yang pernah mengaku melahirkanku. Konon, mereka penyembah berhala: memuja gunung, sungai, pohon, batu, burung gagak, bahkan Mister Semal alias tupai yang sering lewat di halaman rumah, bermain di antara pepohonan, meminta sejumput nasi, karena pohon kelapa dan tanaman berbuah banyak yang ditebang digantikan beton. Rumor berkembang seperti benalu: bahwa aku dibuang karena dianggap membawa sial. Bahwa aku lahir dari persetubuhan terlarang. Bahwa aku anak iblis. Semua orang bebas memilih versi dan narasi yang paling seksi.
Aku sendiri tidak peduli. Karena sejak ingatanku yang paling awal, yang memeliharaku hanyalah alam. Hutan menjadi dinding rumahku. Sungai adalah tempatku mandi dan minum. Angin mengusap tubuh kecilku ketika demam. Matahari menghangatkanku saat kedinginan. Jika orang-orang menyebut kedua orang tuaku penyembah berhala, mungkin mereka benar. Tapi bagiku, alamlah yang membesarkanku. Aku adalah anak pohon, anak air, anak cahaya.
Kadang aku bertanya: pantaskah aku membandingkan diriku dengan Hanuman, yang konon beribu Dewi Anjani? Tentu saja tidak. Tetapi siapa lagi yang bisa kupakai sebagai pembanding? Hanuman memiliki wujud ilahi, setengah dewa. Aku hanya bocah dekil yang hidup dari “sela metunu” (ubi jalar yang dibakar di atas bara) yang menjadi makanan utamaku. Tapi ada satu kesamaan: kami sama-sama dibesarkan oleh alam. Itu kutahu dari buku Sindhunata: Anak Bajang Menggiring Angin.
Sejak kecil pula, aku merasa rumah Tuhan ada di mana-mana. Aku bisa sembahyang di pura di bawah pohon beringin, ikut jamaah subuh di masjid tua dekat pasar, berlutut di gereja kecil tempat para gadis kecil bernyanyi riang, duduk hening di vihara sambil mendengar suara lonceng yang menenangkan, atau sekadar membakar hio di klenteng sambil menatap patung-patung yang menurut orang berhala.
Bagiku, semua itu rumah Dia. Yang satu adanya.
Dari buku Suara Kebangkitan yang kubaca, Vivekananda juga mengajarkan hal serupa. Bahwa semua jalan menuju Tuhan adalah sama. Bahwa kebenaran adalah satu, meski disebut dengan banyak nama. Aku sempat bangga—bahkan pongah. Pantaskah aku membandingkan diri dengan sosok yang menggemparkan Parlemen Agama Sedunia di Chicago? Tentu saja tidak. Namun, bisakah aku menolak rasa keakraban itu? Seolah aku mengenal semangatnya sejak lama.
Barangkali itu awal mula dosa terbesarku: merasa dekat dengan mereka yang agung.
Pengalaman spiritual pertamaku terjadi di tempat yang paling tidak suci menurut kebanyakan orang: kamar mandi. Pagi-pagi sekali, saat perutku mulas karena semalam salah makan begul—alias BE GULing—aku duduk jongkok, berkeringat, dan merintih pelan.
Di tengah perjuangan itu, tiba-tiba aku merasakan kehadiran-Nya.
Sunyi.
Dalam.
Tanpa wujud.
Tanpa nama.
Tanpa ritual.
Aku hanya duduk, napas teratur, tubuh melepas segala beban—secara harfiah.
Saat itulah aku merasakan kebahagiaan paling jujur dalam hidupku. Tidak ada doa panjang. Tidak ada dupa. Tidak ada kitab suci. Hanya tubuh yang telanjang adanya, tanpa topeng, tanpa kemunafikan. Dan aku tertawa. Tawa yang keluar begitu saja, tulus seperti bayi menemukan dunia.
Sejak itu, aku yakin: Tuhan hadir bahkan di tempat paling bau. Barangkali di situ letak keadilan-Nya. Tak ada yang mampu berpura-pura suci di kamar mandi.
Julukan “Kafir” awalnya diberikan dengan penuh kebencian. Orang-orang risih melihatku berdoa di mana saja. Mereka mencaci: “Dasar kafir!” “Murtad!” “Tidak punya agama!” “Mencampur-adukkan semua agama!” Tapi lama kelamaan, aku menyukainya. Kata itu terasa seperti pakaian yang nyaman. Aku bahkan mulai merasa nama itu keren. Tapi kalah tenar dibandingkan sobat fb-ku Muhammad Amin yang bikin cerpen: Ziarah ke Makam Tuhan.
Lalu seseorang menambahkan: “Murtad!” Jadilah aku: Si Kafir Murtad.
Aku merasa itu sebuah kemewahan. Nama yang sempurna. Nama yang membuatku bebas dari semua label sekaligus terikat pada satu label yang paling dibenci.
Aku membaca Nietzsche—atau tepatnya, aku membaca terjemahan lusuh yang kubeli dari pedagang buku bekas di kios buku Palasari Bandung, sebelum terbakar. Nietzsche, menurutku, adalah makhluk paling sakti di dunia. Seorang diri, dia mampu membunuh “Hantu yang terbalik”. Bukan hantu gentayangan berselendang putih, tetapi hantu yang jauh lebih menakutkan: hantu kepercayaan buta. Ketika membaca kalimatnya, aku merasa seperti disambar petir: “Tuhan telah mati.” Tapi semakin kupikirkan, semakin aku yakin: yang mati adalah konsep Tuhan, bukan Dia, yang Maha Tidak Terkonsepkan.
Lalu muncul pemikiran yang lebih berbahaya: jika Tuhan bisa mati dalam konsep manusia, bukankah itu berarti manusia yang menciptakan konsep tersebut? Dan jika manusia menciptakan konsep, bukankah manusia juga bisa menghancurkannya?
Aku pun menyimpulkan dengan gegabah—atau jenius, tergantung sudut pandang: Tuhan tidak membutuhkan agama. Manusialah yang membutuhkan agama.
Itu membuatku semakin dibenci.
Suatu hari, saat duduk di bawah pohon randu besar, beberapa pemuda, juga pemudi datang menghampiriku. Mereka penasaran. Mereka lelah dengan perdebatan agama yang tak kunjung usai. Mereka jenuh dengan pepesan kosong janji surga, dan ancaman api neraka. Mereka ingin kebebasan, tapi tidak tahu harus mencari ke mana.
Mereka bertanya: “Apa agamamu?”
Aku menjawab: “Sanatana dharma atau kebenaran abadi tanpa label. Kebenaran abadi yang bisa menerima kemuliaan dari sumber manapun, dari tokoh tercerahkan manapun”
Mereka saling pandang. Tidak mengerti.
Salah satu bertanya lagi: “Siapa Tuhanmu?”
Aku menunjuk ke dada. “Dia ada di sini. Dan juga di hati kalian semua. Pertanyaannya adalah: apakah kalian menyadariNya atau tidak? Sesimpel itu. Terkadang, saat lapar tingkat dewa, makanan pun adalah Tuhan, Annam Brahman. Saat serasa mau mati karena sulit bernafas, Prana adalah Tuhan, Pranam Brahman.”
Mereka tertegun.
Keesokan harinya, mereka datang lagi. Kali ini membawa teman. Lalu datang lagi. Dan lagi. Hingga tanpa kusadari, setiap sore ada puluhan orang duduk mengelilingiku di bawah pohon itu, mendengarkan aku bicara tentang kebebasan, cinta universal, dan Tuhan yang hadir dalam segala sesuatu. Di laut, di sungai di gunung dan pada setiap comberan.
Aku tidak pernah meminta mereka datang. Aku tidak pernah menyuruh mereka mendengarkan. Tapi mereka datang juga.
Tiba-tiba, aku menjadi guru.
Awalnya aku senang. Siapa yang tidak mau dihormati? Mereka mencium tanganku. Mereka memanggilku “Guru.” Mereka menuliskan kata-kataku di buku catatan. Mereka mengutip ucapanku di media sosial. Mereka memberiku segala macam upeti, dari buku filsafat sampai Holland Bakery, padahal sudah jelas makananku masih “sela metunu”.
Rasanya seperti terbang.
Aku yang dulu dipanggil “Kafir” kini menjadi sumber kebijaksanaan.
Namun perlahan, keganjilan muncul.
Seseorang berkata: “Guru, ajarilah kami cara sembahyang yang benar.”
Aku menjawab: “Tidak ada yang benar atau salah. Ikuti hati nurani kalian. Kalian harus bisa bedakan mana agama personal dan mana agama institusional atau agama terorganisir.”
Lalu kuberikan kopian ringkas satu halaman yang kubuat sendiri dari buku William James: The Varities of Religous Experience.
Tetapi mereka tetap menunggu instruksi.
Ada yang bertanya: “Guru, bolehkah kami memuja fotomu?”
Aku terkejut. “Untuk apa?”
“Agar kami merasa dekat denganmu.”
Aku menolak. Tapi diam-diam, mereka tetap melakukannya.
Puncaknya terjadi ketika salah satu pengikut berdiri dengan penuh semangat dan berteriak:
“Saudara-saudara! Mulai hari ini, kita mendeklarasikan komunitas baru: Pengikut Guru Kafir Murtad!”
Sorak sorai dan tepuk tangan membahana.
“Hidup Guru Kafir Murtad!” seseorang memberi komando. Serentak yang lainnya berteriak lantang: “Hidup!”
Aku tercengang. Mereka mengangkatku ke atas bahu, seperti pahlawan yang baru pulang dari medan perang. Mereka membawa spanduk bertuliskan: “Kebebasan atau Mati!” Mereka lalu membuat ritual membakar buku setebal kitab suci, aku tidak melihat persis judulnya—bukan sebagai penghinaan, tetapi sebagai simbol kebebasan.
Saat itu aku merasakan sesuatu yang sangat menakutkan.
Aku yang menolak berhala… sedang dijadikan berhala.
Aku yang menertawakan pemimpin agama… sedang diposisikan sebagai pemimpin agama baru.
Aku yang merasa bebas… sedang menciptakan penjara baru.
Malam itu, aku duduk sendiri di bawah pohon randu. Angin berhembus pelan. Bulan tampak pucat di kejauhan. Dadaku sesak. Aku bertanya pada diri sendiri:
“Apa yang telah kulakukan?”
Namun tak ada jawaban.
Aku ingin membebaskan mereka dari dogma. Tapi kini mereka memperlakukanku sebagai dogma.
Aku ingin menghancurkan berhala. Tapi kini aku dijadikan berhala baru.
Aku ingin menjadi bebas. Tapi kini aku terikat oleh penghormatan mereka.
Air mataku jatuh.
Di kejauhan, terdengar suara seseorang membaca doa malam dari masjid. Lalu suara lonceng gereja. Lalu lonceng berdentang di vihara. Lalu suara denting genta dari pura, bercampur aroma dupa.
Semua suara itu berpadu menjadi satu harmoni yang menyayat hati.
“Betapa bodohnya aku,” bisikku.
Aku teringat pengalaman paling jujur dalam hidupku: saat pagi-pagi beol di kamar mandi. Saat semua topeng jatuh. Saat tubuh dan jiwa telanjang tanpa pretensi.
Saat itu aku merasakan Tuhan.
Kini?
Yang kurasakan hanyalah diriku sendiri.
Keesokan paginya, orang-orang kembali berkumpul di bawah pohon randu. Mereka menunggu. Mereka berharap aku berkata sesuatu yang agung. Mereka ingin deklarasi resmi.
Aku berdiri.
Menghela napas.
Lalu berkata dengan suara pelan:
“Saudara-saudaraku, hari ini aku baru menyadari sesuatu. Berhala terakhir yang harus dihancurkan… adalah diriku sendiri.”
Hening.
Tak ada sorak sorai.
Tak ada tepuk tangan.
Mereka saling pandang, bingung.
Aku tersenyum, lalu berjalan pergi tanpa menoleh.
Entah ke mana. Bahkan aku sendiri tidak tahu.
Yang kutahu hanya satu:
Jika Tuhan benar-benar hadir dalam segala sesuatu, maka aku akan menemukannya lagi—di mana pun, bahkan mungkin di kamar mandi paling bau sekali pun.
Namaku Kafir.
Dan inilah ziarahku.
Menuju kehancuran berhala terakhir: diriku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar bebas. Bebas untuk tidak menjadi siapa-siapa.
Inilah akhir perjalananku, sekaligus awal perjalanan berikutnya, dalam sunyi, seorang diri. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole



























